Blog Contest Health Kids Activity Kids Health Product Review Review & Contest Tips & Opinion

Membuat Anak Nyaman dan Aman Bermain di Luar Ruangan

Kedua anak saya Maxy (4,5 yo) dan Dema (2,5 yo) memiliki tumbuh kembang yang unik. Ada beberapa fase milestone mereka yang agak melenceng dari teori. Sehingga, sempat membuat saya sebagai orang tuanya khawatir.

Maxy, misalnya, sudah bisa duduk pada usia lima bulan. Namun, Maxy baru bisa merangkak saat usia 12 bulan (sebelumnya hanya merayap dengan dada) dan berjalan lancar pada usia 18 bulan kurang 2 minggu. Sedangkan, Dema bisa duduk tegak saat usianya mendekati 7 bulan, merangkak pada usia lebih dari setahun setelah puas duduk ngesot untuk berpindah tempat, dan baru bisa berjalan ketika sudah berusia 18 bulan lebih 2 minggu.

Saat Maxy dan Dema masih kecil.

Hal tersebut sepertinya enggak lepas dari masalah kesehatan yang mereka miliki sejak lahir ke dunia. Maxy terlahir sebagai bayi dengan Berat Badan Bayi Rendah (BBLR), cuma 2,1 kg saja kala itu. Lalu, saat masa-masa awal kehidupannya sempat mengalami slow growth karena kesulitan menyusu.

Sedangkan Dema, baru lahir sudah langsung masuk Neonatal Intensive Care Unit (NICU) karena saat lahir enggak menangis. Kemudian, saat usianya 9 bulan, Dema terdeteksi terkena anemia defisiensi zat besi (ADB).

Saya sebagai ibu sempat stress juga sih dengan kondisi anak-anak yang seperti itu. Namun, masa-masa itu sudah berlalu. Alhamdulillah, saya mendapatkan bantuan tenaga medis dan support group yang luar biasa. Sehingga, anak-anak saya mampu mengejar ketertinggalan tumbuh kembangnya dengan baik.

Sekarang, anak-anak saya terlihat seperti anak-anak “normal” lain yang seumuran dengan mereka. Enggak ada yang mengira kalau anak-anak saya itu pernah mengalami masa-masa susah duduk sendiri tanpa dipegangi, telat merangkak, maupun lambat berjalan.

Mendukung tumbuh kembang anak dengan membiarkannya bermain di luar ruangan

Supaya tumbuh kembang anak-anak bisa lebih optimal lagi, maka saya berusaha membuat mereka selalu bergerak. Maksudnya, segala aktivitas mereka, saya usahakan aktivitas yang membuat mereka aktif.

Jadi, kalau anak-anak bergerak kesana kemari, panjat-panjat pagar, main loncat-loncatan di sofa maupun bed saya justru bersyukur. Soalnya, saat mereka enggak bisa ngapa-ngapain dulu, saya selalu berharap mereka bisa aktif bergerak.

Salah satu hal yang saya upayakan agar mereka terus bergerak adalah mendorong mereka bermain di luar ruangan. Kebetulan, rumah yang kami tempati saat ini halamannya cukup luas, jauh dari jalan raya yang bising, serta masih asri karena banyak pepohonan. Kondisi lingkungan yang semacam itu sangat mendukung untuk anak-anak bermain di luar ruangan.

Jadilah, anak-anak saya sekarang, dari bangun tidur sudah merengek minta keluar rumah. Hampir tiap hari mereka bermain di luar rumah. Sampai kata “main” yang melekat dalam pikiran mereka itu artinya “keluar dari rumah”. Jika, mereka sudah mengatakan, “Bunda, mau main.” Itu artinya mereka mau keluar rumah, hehe.

Beragam aktivitas yang dilakukan anak-anak di luar ruangan.

Kegiatan yang paling sering anak-anak saya lakukan saat berada di luar ruangan antara lain bermain sepeda, ayunan, dan main tendang bola. Kadang, mereka kakak adik bermain sendiri. Kadang, juga bermain bersama anak-anak tetangga.

Satu lagi, mereka paling suka bermain dengan kucing-kucing liar yang selalu datang ke rumah. Kebetulan saya suka kucing. Saya juga percaya dengan statement yang menyatakan bahwa anak-anak yang tumbuh dekat binatang mamiliki sistem imun yang lebih kuat dalam menahan infeksi. Jadi, saya pun enggak ragu membiarkan anak-anak saya bermain dengan kucing.

Jika ada kesempatan liburan, sebisa mungkin saya akan mengajak anak-anak melakukan aktivitas luar ruangan lainnya di tempat wisata/ rekreasi. Misalnya, mengajak anak-anak bermain di taman atau ruang terbuka hijau, mengajak berenang, atau kalau bisanya cuma ke mall biasanya saya memilih mall yang ada playground-nya.

Bermain di luar ruangan sangat banyak manfaatnya untuk anak-anak

Selain dapat mengoptimalkan tumbuh kembangnya, bermain di luar ruangan juga memiliki banyak manfaat untuk anak-anak, antara lain:

  • Membuat anak lebih sehat

Menurut beberapa talkshow kesehatan dan parenting yang pernah saya hadiri, membiarkan anak-anak lebih banyak bermain di luar ruangan justru membuat anak-anak lebih sehat. Katanya sih karena anak sering terpapar bakteri dan organisme lainnya yang berada di ruang luaran yang justru membuat sistem imunnya menjadi lebih kebal.

Dengan lebih banyak bermain di luar ruangan, penglihatan anak-anak katanya sih juga akan lebih bagus. Mereka akan sering berlatih melihat dengan fokus obyek-obyek, baik jauh maupun dekat. Juga, mata anak akan sering terpapar cahaya alami dari sinar matahari yang justru baik buat penglihatan anak, dibandingkan terkena cahaya/ warna dari televisi atau gadget.

Selain itu, dengan banyak bermain di luar ruangan, anak-anak akan menjadi lebih banyak bergerak sehingga terhindar dari obesitas. Anak-anak memang lucu jika gemuk, namun jika obesitas maka akan memiliki risiko sakit diabetes atau jantung saat dewasa kelak. Bahaya bukan?

  • Membuat anak lebih mahir bereksplorasi

Dengan banyak bermain di luar ruangan maka anak akan menjumpai hal-hal baru dan cenderung mau belajar hal-hal baru. Caranya dengan mengeksplorasi hal-hal yang mereka temukan itu. Anak juga akan lebih cepat tumbuh daya imajinasinya, serta menjadi lebih kritis karena sering bertanya. “Bunda ini apa?” atau “Bunda, kok, batunya berwarna hitam, sih?”

  • Meningkatkan kemampuan anak dalam berinteraksi sosial

Bermain di luar ruangan juga bisa meningkatkan kemampuan anak dalam berinteraksi sosial. Pernah tidak teman-teman menemani anak bermain di taman atau playground, lalu melihat anak-anak ngobrol dengan sesama anak-anak lain yang kebetulan bermain di sana juga?

Betapa cepatnya anak-anak tersebut saling berinteraksi dengan sesamanya, bahkan yang baru saja dikenalnya saat itu. Jika, sering dibiarkan bermain di luar ruangan, maka anak akan bertemu orang-orang baru, sehingga anak bisa tampil lebih berani di hadapan orang lain dan jadi lebih peka terhadap lingkungannya.

Dengan segambreng manfaat yang akan didapat oleh anak jika mereka lebih banyak bermain di luar ruangan, maka saya makin yakin dengan keputusan saya mendorong mereka lebih banyak bermain di luar rumah.

Memastikan anak nyaman dan aman bermain di luar ruangan

Meski membebaskan anak-anak bermain di luar ruangan, bukan berarti saya melepaskan anak begitu saja tanpa pengawasan dan pengamanan. Bagaimanapun anak-anak masih kecil, sehingga saya harus memastikan anak nyaman dan aman bermain di luar ruangan.

Berikut adalah beberapa cara yang selalu saya lakukan pada saat anak tengah bermain di luar ruangan:

  • Mendampingi anak ketika bermain

Area luar ruangan atau luar rumah bagaimanpun enggak seaman di rumah. Banyak faktor yang bisa membuat anak celaka. Misalkan, anak terjatuh di tanah yang keras, tersandung batu, tergigit serangga, bertemu orang asing yang berniat jahat, dan lain-lain.

Ketika mendampingi anak-anak berenang.

Namun, jangan sampai risiko tersebut jadi membuat kita overprotektif terhadap anak. Kalau anak-anak saya nih justru kalau mereka jatuh, lalu kita berkomentar, “Eh, ati-ati” atau cuma menyebut “Aduh” gitu, justru mereka akan menangis. Sebaliknya, kalau saya pura-pura enggak melihat (setelah sebelumnya memastikan mereka baik-baik saja), mereka akan bangun berdiri sendiri, lalu melanjutkan permainannya kembali.

Saat saya mendampingi anak-anak bermain, tentu saja saya enggak pasif menunggui. Sesekali jika melihat anak berhasil menendang bola, misalnya, saya berusaha memberi pujian kepada anak-anak. Pujian tersebut kata seminar-seminar parenting sih bisa menumbuhkan semangat dan kepercayaan diri anak.

  • Memeriksa kondisi tempat bermain di luar ruangan

Sebelum anak-anak bermain di luar ruangan, saya berusaha memeriksa kondisi tempat bermain mereka. Misalkan, anak mau bermain ayunan di halaman rumah. Padahal, semalam abis hujan lebat. Biasanya ayunan basah. Jadi, saya keringkan dulu ayunannya.

Contoh lain, misal bila anak mau main di taman, saya berusaha memastikan di sana enggak ada serangga berbahaya atau pun tempatnya terlalu jorok/ kotor. Pokoknya, saya memastikan dulu bahwa tempatnya nyaman dan aman untuk dipakai anak bermain.

  • Memakaikan pakaian dan perlengkapan yang nyaman

Sebelum anak bermain di luar ruangan, saya akan memakaikan pakaian yang nyaman. Terutama bawahan ya, saya akan memakaikan anak celana panjang yang menutup kakinya. Tujuannya kalau mereka terjatuh, enggak menimbulkan luka, sebab terlindungi oleh pakaiannya.

Enggak cuma pakaian. Memilih sandal jepit yang enggak licin juga penting, Juga, kalau anak-anak mau bermain agak sorean di luar ruangan biasanya kan sudah mulai muncul nyamuk tuh, maka saya mengoleskan minyak telon antinyamuk. Kalau, misalnya anak-anak minta keluar rumah agak siangan, maka tak lupa saya pakaikan topi. Jadi, penting untuk selalu memastikan bahwa pakaian dan perlengkapan yang dipakai anak bermain saat di luar ruangan, nyaman.

  • Membatasi waktu bermain

Meskipun bermain di luar ruangan seru dan banyak manfaatnya bagi anak, tetap saja saya enggak membiarkan anak-anak seharian bermain di luar ruangan. Saya tetap membatasi waktunya. Misalnya, kalau matahari sudah terlalu naik atau sudah mau tenggelam, saya minta anak-anak kembali ke rumah. Juga, jika tiba-tiba gerimis mau hujan, anak-anak saya minta masuk kembali ke dalam rumah.

  • Menyediakan obat-obatan

Jatuh, kecapekan, tertulalar virus common cold merupakan risiko-risiko yang enggak bisa dihindari saat lebih banyak membiarkan anak lebih banyak bermain di luar ruangan. Oleh sebab itu, di rumah saya selalu menyediakan berbagai obat-obatan untuk anak.

Obat-obatan yang selalu tersedia untuk anak-anak di rumah, antara lain:

  • Obat gatal: Saya selalu sedia obat gatal yang berbentuk lotion atau gel. Biasanya saya mengoleskan obat ini kalau anak mengeluh gatal-gatal entah karena digigit serangga, ruam karena terkena debu atau udara yang panas.
  • Obat luka terbentur: Anak sering terjatuh atau terbentur saat bermain di luar ruangan, sehingga obat luka terbentur saya butuhkan sebagai penanganan awal untuk mengatasi luka/ benjolan yang mungkin akan muncul akibat jatuh atau benturan.
  • Rivanol: untuk mencuci luka anak jika anak terjatuh/ terbentur dan menimbulkan luka berdarah.
  • Obat antiseptik: untuk membuat luka anak cepat kering.
  • Plester luka: untuk membungkus luka anak sehingga lukanya terlindungi dari kuman.
  • Kasa: untuk membungkus luka anak jika lukanya agak besar.
  • Obat demam: biasanya saya berikan jika suhu anak lebih besar dari 38 derajat Celcius dan penyebabnya adalah common cold. Ciri-ciri demam karena common cold adalah demam yang muncul pada saat anak batuk dan/ atau pilek.

Obat demam yang selalu tersedia rumah adalah Tempra Paracetamol. Saat anak-anak kecil sebelum usianya setahun dulu sih minumnya yang Tempra Drops. Tapi, saat udah agak besar seperti sekarang minumnya Tempra Syrup. Tempra ini obat demam yang direkomendasikan oleh Dokter Spesialis Anak (DSA) yang biasa mengimunisasi anak-anak.

Tempra Syrup andalan saat anak-anak demam.

Saya masih setia dengan Tempra Syrup untuk mengatasi demam anak-anak karena:

  • Anak-anak menyukai rasa manis anggur dari Tempra Syrup. Jadi, kalau minum Tempra saya enggak perlu memaksa-maksa, mereka sudah mangap sendiri.
  • Tempra Syrup bebas alkohol, jadi aman untuk anak-anak.
  • Pengalaman memakai Tempra Syrup untuk menurunkan suhu tubuh anak-anak yang meninggi karena demam, biasanya sih demamnya lekas turun.
  • Kemasan Tempra Syrup aman. Saat pertama kali membeli obat demam ini, kotak kemasannya tertutup rapat. Begitu pula jika kita membuka tutup botolnya, ada segel khusus di atas bibir botolnya.
  • Tutup Tempra Syrup membutuhkan cara khusus untuk membukanya, yakni ditekan lalu diputar. Sehingga, jika enggak sengaja terpegang oleh anak-anak, tidak akan mudah tumpah.
  • Tersedia gelas takaran yang ada ukurannya untuk minum Tempra Syrup jadi saya enggak perlu khawatir akan kelebihan atau kekurangan dosis.
  • Dengan gelas takaran untuk minum Tempra Syrup, saya lebih mudah meminumkannya kepada anak, ketimbang jika memakai sendok takar.
  • Penyimpanannya Tempra Syrup cukup mudah. Tinggal simpan di suhu kamar antara 25-30 derajat Celcius.
  • Tempra Syrup mudah didapatkan di apotek maupun minimarket dekat rumah.
  • Tempra Syrup tersedia dalam kemasan ekonomis, sehingga kita bisa membeli Tempra Syrup untuk persediaan dengan harga yang terjangkau pula.

Bagaimana, teman-teman? Enggak ragu lagi kan jika anak-anak kita lebih suka bermain di luar ruangan ketimbang di dalam ruangan? Asalkan mereka sudah terlindungi dengan baik, biarkan saja mereka mengeksplorasi lingkungan luar sana! InsyaAllah kenangan kegembiraan mereka saat bermain di luar ruangan akan terekam dalam memori sampai mereka besar kelak! 🙂

April Hamsa

Note: Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog Tempra yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Taisho. Artikel ditulis berdasarkan pengalaman dan opini pribadi. Artikel ini tidak dapat menggantikan hasil konsultasi dengan tenaga kesehatan profesional.

76 Comments

  1. Murtiyarini 18 Juni, 2017
    • April Hamsa 18 Juni, 2017
  2. Primastuti satrianto 18 Juni, 2017
  3. Dian farida 18 Juni, 2017
    • April Hamsa 26 Juni, 2017
  4. farida 18 Juni, 2017
  5. Witri Prasetyo 18 Juni, 2017
    • April Hamsa 26 Juni, 2017
  6. Vety Fakhrudin 18 Juni, 2017
    • April Hamsa 14 Juli, 2017
  7. Kang Alee 18 Juni, 2017
    • April Hamsa 26 Juni, 2017
  8. Rach Alida Bahaweres 18 Juni, 2017
    • April Hamsa 14 Juli, 2017
  9. Pritahw 18 Juni, 2017
    • April Hamsa 14 Juli, 2017
  10. Ihwan H 18 Juni, 2017
    • April Hamsa 14 Juli, 2017
  11. Rahmi 18 Juni, 2017
    • April Hamsa 14 Juli, 2017
  12. Arni 18 Juni, 2017
    • April Hamsa 14 Juli, 2017
  13. Anggi Putri 18 Juni, 2017
    • April Hamsa 14 Juli, 2017
  14. Anisa Ae 18 Juni, 2017
  15. Esti Sulistyawan 18 Juni, 2017
    • April Hamsa 14 Juli, 2017
  16. Wulan Kenanga 18 Juni, 2017
    • April Hamsa 14 Juli, 2017
  17. ira duniabiza 19 Juni, 2017
    • April Hamsa 14 Juli, 2017
  18. Grace Melia 19 Juni, 2017
    • April Hamsa 14 Juli, 2017
  19. Naqiyyah Syam 19 Juni, 2017
    • April Hamsa 14 Juli, 2017
  20. Rusydina Tamimi 19 Juni, 2017
  21. Yurmawita 19 Juni, 2017
  22. Yulia Marza 19 Juni, 2017
  23. rina 19 Juni, 2017
  24. Said Rahman 19 Juni, 2017
    • April Hamsa 14 Juli, 2017
  25. Shine 19 Juni, 2017
  26. Nurul Fitri Fatkhani 19 Juni, 2017
    • Nurul Fitri Fatkhani 21 Juni, 2017
  27. Ratna Dewi 19 Juni, 2017
  28. lendyagasshi 20 Juni, 2017
  29. Utie adnu 20 Juni, 2017
  30. Dita Indrihapsari 20 Juni, 2017
  31. Liza Fathia 20 Juni, 2017
  32. Pu 20 Juni, 2017
  33. Jiah 20 Juni, 2017
  34. unggulcenter 21 Juni, 2017
  35. Yulia 21 Juni, 2017
  36. Miranti 21 Juni, 2017
  37. atanasia rian 21 Juni, 2017
  38. Tukang Jalan Jajan 21 Juni, 2017
  39. Widya Herma 21 Juni, 2017
  40. Fandhy Achmad Romadhon 21 Juni, 2017
  41. William Giovanni 21 Juni, 2017
  42. Tomi Purba 21 Juni, 2017
  43. hani 21 Juni, 2017
  44. Tomi Purba 21 Juni, 2017
  45. Noni Rosliyani 21 Juni, 2017
  46. Mahadewi 21 Juni, 2017
  47. Andhika Manggala 21 Juni, 2017
  48. ira duniabiza 21 Juni, 2017
    • April Hamsa 14 Juli, 2017
  49. Bela 22 Juni, 2017
    • April Hamsa 14 Juli, 2017
  50. Diah indri 22 Juni, 2017
    • April Hamsa 14 Juli, 2017
  51. Ria 22 Juni, 2017
    • April Hamsa 14 Juli, 2017

Leave a Reply

Instagram