Blogger Reporter Events Health

Minum Obat Generik ketika Sakit? Ampuh Enggak Sih?

Obat generik. Hmmm, kalau mendengar nama obat tersebut, saya jadi teringat percakapan antara budhe dengan ibu saya dulu, sewaktu mengantar eyang saya yang sakit kontrol ke dokter. Kebetulan, budhe saya dulu seorang perawat di sebuah rumah sakit di Surabaya.

Nanti, tebusnya obat generik aja enggak apa-apa,” kata budhe.

Apa tidak apa?” tanya ibu saya.

Enggak apa-apa kandungan obatnya sama aja,” jawab budhe saya.

Alhasil, sampai sekarang pun, kalau misalnya ibu sedang enggak enak badan. Setiap ke dokter, ibu saya mintanya obat generik. Alhamdulillah, obatnya ampuh-ampuh aja, sih. Punya efek menyembuhkan penyakit yang enggak kalah ampuhnya dengan obat bermerk.

Nah, saya tahu kalau kandungannya sama. Saya juga ngerti kalau obat generik punya kemampuan menyembuhkan penyakit yang sama juga. Cuma, waktu itu, hal yang belum terjawab adalah, mengapa kok harga obat generik jauh lebih murah?

Sampai beberapa waktu kemudian, pertanyaan saya tersebut akhirnya terjawab. Tepatnya pada tanggal 13 November 2017 lalu, ketika saya menghadiri acara blogger gathering di PT Hexpharm Jaya Laboratories (Hexpharm Jaya Labs). Blogger gathering tersebut berupa presentation dan factory tour.

Di depan  PT Hexpharm Jaya Laboratories Cikarang.

Selayang pandang PT Hexpharm Jaya Labs

Saat acara presentation, para blogger disambut dengan hangat oleh jajaran manajemen dan staf PT Hexpharm Jaya. Hadir sebagai perwakilan perusahaan, sekaligus narasumber yang melakukan presentasi, yang menjelaskan kepada kami yang awam-awam tentang obat ini, yakni: Group Product Manager Bapak Boni Anom, Departement Medical Head dr. Artati, dan Kepala Pabrik Bapak Parlindungan DS.

Group Product Manager Bapak Boni Anom memperkenalkan perusahaan.

Berdasarkan presentasi dari Bapak Boni Anom saya mengetahui bahwa PT Hexpharm Jaya Labs merupakan salah satu perusahaan farmasi di Indonesia. Perusahaan ini tergabung dalam Kalbe Group. Kalau Kalbe Group udah enggak asing kan ya?

Kayaknya produk-produk Kalbe Group, terutama produk makanan (nutrisi), farmasi, minuman, sering deh kita konsumsi sehari-hari. Sedangkan, PT Hexpharm Jaya Labs ini memproduksi obat-obatan baik obat branded, maupun generik. Khusus hari itu, kami blogger diajak membahas mengenai obat generik yang berlogo.

Apakah obat generik itu?

Dalam kesempatan itu, Bapak Boni Anom juga memberi pengantar mengenai perbedaan antara obat paten dan obat generik.

Obat paten itu obat yang dibuat sebuah perusahaan yang menghabiskan banyak waktu untuk melakukan penelitian tentang suatu obat. Setelah itu perusahaan tersebut menjadi satu-satunya yang memegang paten obat tersebut selama 20 tahun. Setelah 20 tahun, patennya habis, maka perusahaan lain boleh memproduksi obat sejenis yakni obat generik,” kata Bapak Boni Anom.

Berdasarkan penjelasan Bapak Boni Anom tersebut, saya menyimpulkan bahwa dalam kurun waktu 20 tahun itu, perusahaan yang memproduksi obat paten bisa dikatakan memonopoli harga. Enggak ada pesaingnya. Makanya, “suka-suka aja” mematok harga tinggi untuk obat yang masih satu-satunya ada itu.

Selain itu, tentu saja proses produksi obat paten yang melalui serangkaian penelitian-penelitian juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Sehingga, wajar aja sih, apabila perusahaan mengambil keuntungan semaksimal mungkin.

Untungnya sih hak paten tersebut terbatas. Suma 20 tahun. Setelah 20 tahun, perusahaan-perusahaan produsen obat yang lain boleh memproduksi obat serupa. Namun, enggak pakai melakukan penelitian yang serumit dan berjangka waktu yang lama kayak saat obat patennya pertama kali diproduksi. Sehingga, wajar, jika obat generik lebih murah.

Bagaimana kualitas dan keampuhan obat generik?

Setelah Bapak Boni Anom, gantian dr. Artati menjelaskan lebih lanjut mengenai perbedaan antara obat paten dan obat generik. Dr. Ariati membenarkan apa yang dikatakan oleh Bapak Boni Anom, bahwa salah satu hal yang membuat obat paten lebih mahal, ya memang penelitian-penelitian itu.

Lamanya penelitian bahkan bisa mencapai 40 tahun hanya untuk menemukan satu obat. Mulai dari menentukan formulanya, diujicobakan pada hewan (biasanya tikus), kemudian melakukan uji coba kepada manusia, sampai akhirnya dinyatakan bahwa obat tersebut aman dikonsumsi, berkhasiat, dan layak dipasarkan kepada masyarakat.

Khusus untuk obat generik, ada beberapa tes yang dilakukan sampai akhirnya obat generik itu dinyatakan sama khasiatnya dengan obat paten. Tes-tes yang dilewati antara lain tes Biovaliabilitas dan Biokuivalensi.

Dr. Artati juga menjelaskan bahwa selain enggak membutuhkan penelitian yang panjang lagi, faktor lain yang membuat obat generik lebih murah adalah:

  • Obat generik enggak perlu melakukan promosi besar-besaran.
  • Pemerintah sudah menetapkan batas harga untuk obat generik.

Tak lupa, dr. Artati menyampaikan bahwa kemasan obat paten dan obat generik boleh berbeda, namun bentuk sediaannya harus sama.

Jadi kalau patennya kapsul, ya generiknya kapsul, Kalau tablet ya tablet,” kata dr. Ariati.

Setelah menjelaskan mengapa obat generik bisa lebih murah harganya, dr. Ariati kemudian menjelaskan bagaimana cara kerja obat di dalam tubuh manusia. Ketika, ada peserta gathering yang bertanya mengenai keampuhan obat generik, dr. Ariati menjawab bahwa yang namanya obat itu baru bereaksi setelah dua jam kita mengkonsumsinya. Jadi, enggak langsung sembuh setelah minum obat.

Dr. Artati menjelaskan perbedaan obat paten dengan obat generik.

Mengenai khasiat obat itu sendiri, dr. Artati mengatakan bahwa hal tersebut sebenarnya dipengaruhi oleh tiga faktor, yakni: genetik, jenis kelamin, dan kehamilan. Contoh secara genetik, misalnya orang Asia dengan orang Afrika. Orang Afrika enggak bisa cuma minum satu tablet Paracetamol, mereka butuh dosis lebih. Misal kalau orang Asia cuma butuh satu, orang Afrika butuh tiga sekaligus.

Jadi, seorang pasien itu lekas sembuh atau enggaknya, setelah minum obat, tergantung pada ketiga faktor tadi. Bukan karena pasien ini minum obat paten lalu sembuh, sebaliknya saat minum obat generik kok enggak sembuh-sembuh 😀 .

Jadi, mitos mengenai obat paten lebih manjur dan lekas sembuh mesti ditangkal. Semuanya itu bergantung pada kondisi tubuh seseorang,” tegas dr. Artati.

Berdasarkan pemaparan dr. Artati tersebut saya lagi-lagi menarik kesimpulan bahwa obat generik memang berkhasiat. Kelebihannya harganya murah. Lha, kalau ada yang murah, ngapain beli yang mahal ya? Mending, kalau udah sembuh, duit buat beli obatnya buat traveling aja, hehe.

BTW, meski obat generik murah, namun bukan berarti diproduksi secara asal-asalan, lho. Presentasi ketiga dari Kepala Pabrik Bapak Parlindungan DS, makin meyakinkan saya bahwa obat generik, terutama obat yang diproduksi oleh PT Hexpharm Jaya Labs itu benar-benar bagus.

Kepala Pabrik Bapak Parlindungan DS, mengatakan bahwa perusahaan yang sudah berdiri sejak tahun 1971 (waktu itu pabriknya masih di Cipanas) ini, memiliki beberapa keunggulan sebagai produsen obat generik, yakni antara lain:

Mutu produknya terjamin

Perusahaan yang berlokasi di Cikarang ini telah memegang sertifikat yang berstandar internasional dalam hal mutu produk, antara lain:

  • Good manufacturing practice yang terkini dengan standar Pharmaceutical Inspection Convection/ Scheme (PIC/S).
  • Sistem manajemen mutu ISO 9001:2015 mengahsilkan produk sesuai spesifikasi yang ditetapkan.
  • Sistem kesehatan dan keselamatan kerja OHSAS 18001: 2007.
  • Sistem manajemen lingkungan ISO 14001: 2004.
  • Lean manufacturing dan Total productive Management (TPM).

Dengan standar-standar mutu yang tinggi seperti itu, maka tak heran jika produk obat generik PT Hexpharm Jaya Labs ini juga diekspor ke luar negeri. Produk obat generik PT Hexpharm Jaya bisa kita jumpai di rumah sakit atau apotek di negara-negara tetangga, seperti Singapura, Kamboja, Myanmar, dan Hongkong.

Memiliki infrastruktur yang andal dan memadai

Infrastruktur yang lengkap sudah dimiliki oleh PT Hexpharm Jaya Labs, antara lain:

  • Mesin-mesin dengan teknologi mutakhir yang telah sesuai dengan ketetapan Good Manufacturing Practice.
  • Perusahaan yang baru saja melaunching kemasan barunya ini juga memiliki fasilitas laboratorium yang andal.
  • Tak ketinggalan, PT Hexpharm Jaya Labs juga memiliki sistem penunjang seperti HVAC, PWG, Clean Steam, dan IPAL. Sistem penunjang tersebut lah yang menjamin proses produksi berjalan sesuai spesifikasi dan hasil produksi pabrik enggak mencemari lingkungan sekitar.

Bapak Parlindungan DS menjelaskan tentang produksi obat generik yang mengedepankan kualitas.

Jadi, sebagai sebuah perusahaan, PT Hexpharm Jaya Labs tidak hanya memikirkan keuntungan semata, namun juga memikirkan bagaimana supaya produknya bisa berhasil memberikan kesembuhan bagi orang yang membutuhkan, plus tetap menjaga lingkungan.

Supaya saya dan teman-teman blogger lainnya benar-benar yakin mengenai standar mutu PT Hexpharm Jaya Labs, maka kami juga diajak melihat langsung proses produksi obat generik.

Melihat proses produksi obat generik di pabrik

Sebelum masuk ke area produksi, kami mendapatkan penjelasan mengenai tata cara masuk area produksi. Ruangan yang boleh kami kunjungi adalah area F yang warna lantainya hijau dan area E yang warna lantainya biru.

Seorang staf PT Hexpharm Jaya Labs menjelaskan syarat dan kondisi yang harus kami patuhi jika ingin masuk ke kedua are tersebut. Syarat dan kondisi tersebut, antara lain:

  • Matikan sinyal internet.
  • Lepas semua perhiasan dan benda logam lain yang melekat di tubuh.
  • Memakai pakaian khusus. Ada dua jenis pakaian berbeda yang masing-masing kami kenakan di dua area yang berbeda. Pakaiannya seperti pada gambar di bawah ini:

Pakaian yang wajib dikenakan di area F.

Cara berpakaian di area E yang lebih tertutup lagi.

Setelah kami para blogger, memahami syarat dan kondisi yang ditetapkan, kami dibagi menjadi dua kelompok. Kebetulan saya masuk ke kelompok satu yang dipandu “jalan-jalan” oleh Staf PT Hexpharm Jaya Labs Ibu Titis.

Namun, Ibu Titis enggak langsung mengajak kami ke area-area yang berwarna hijau dan biru tadi, melainkan mampir ke laboratorium Quality Control (QC) terlebih dahulu. Meskipun cuma ke laboratorium, tapi kami juga diwajibkan memakai pakaian khusus.

Di laboratorium kami bertemu dengan Bapak Haryanto yang menjelaskan cara kerja di laboratorium. Bapak Haryanto juga menunjukkan kemasan baru obat generik produksi PT Hexpharm Jaya Labs yang berwarna biru. Sebelumnya, kemasan obat generiknya berwarna putih.

Suasana di laboratorium QC.

Bapak Haryanto menunjukkan kemasan baru dan komputer yang canggih.

Analis menunjukkan cara kerja alat untuk memeriksa keaslian bahan obat generik.

Tak lupa, Bapak Haryanto memamerkan kepada kami beberapa alat canggih untuk mengetes kualitas, mutu, dan keaslian bahan obat-obatan. Ada yang dites secara manual oleh analis, ada pula yang dites oleh komputer khusus. Jadi, bahan-bahan tersebut tinggal dimasukkan ke dalam CPU komputer, kemudian komputer yang akan membaca bahan-bahan tersebut.

Bapak Haryanto juga menunjukkan kran-kran air yang hanya mengeluarkan air yang sudah dimurnikan. Jadi, airnya tuh sudah enggak mengandung mineral lagi. Mengapa pabrik obat membutuhkan air yang mineralnya dihilangkan?

Instalasi air yang tidak mengandung mineral.

Bapak Haryanto menjawab, “Khawatirnya mineral-mineral dalam air akan bercampur dalam bahan-bahan obat yang mungkin mengandung mineral yang sama. Nanti, bahan-bahannya jadi berlebihan.”

Wah, sampai detail seperti itu ya memastikan kualitas bahan-bahan obatnya? Meskipun “cuma” obat generik, bukan berarti diproduksinya sembarangan.

Melihat para blogger telah puas mengelilingi laboratorium QC, Ibu Titis kemudian mengajak kami menuju area hijau dan biru untuk melihat proses produksi obat. Di sana kami berganti pakaian lagi. Bahkan, saat pindah ke area biru, pakaian kami di-double-in, sehingga benar-benar tertutup rapat.

Mengapa sih, harus pakai pakaian khusus? Alasannya adalah khawatir pakaian yang kami kenakan dari rumah mengandung partikel apa gitu yang bisa mencemari bahan obat-obatan di area-area tersebut.

Saya dalam pakaian khusus saat factory tour.

Sebelum melihat proses produksi obat, Ibu Titis menjelaskan mengenai keamanan sistem masuk dan keluar tiap area. Menurut ibu Titis tidak semua orang bebas masuk. Hanya mereka yang terdata dalam sistem yang bisa masuk. Sistem tersebut keamanannya juga berlapis dan terintegrasi. Lalu, di area biru, kami diajak melihat bagaimana bahan-bahan obat generik ditimbang, lalu dicek lagi dan dilabeli, kemudian disaring, dikemas, dikontrol oleh mesin, sampai masuk box packaging.

Ibu Titis menjelaskan sistem keamanan perusahaan.

Bahan-bahan baku obat ditimbang.

Bahan-bahan baku obat yang siap diolah menjadi obat generik.

Penyaringan bahan-bahan obat generik.

Mesin canggih yang bisa mendeteksi produk cacat.

Saat melihat proses produksi obat, satu hal yang menarik perhatian adalah ketika Ibu Titis menjelaskan mengenai kerja salah satu mesin. Jadi, ada salah satu mesin buatan negara Jerman yang bisa mengecek apakah kemasan produk obat sudah sempurna atau belum. Saat saya melihat mesin itu, rasanya kok takjub ya, ada mesin secanggih itu, bisa memilah-milah mana produk bagus, mana produk cacat.

Pengemasan obat generik.

Namun, hal yang membuat proses produksi obat generik di PT Hexpharm Jaya Labs lebih menarik lagi adalah ternyata enggak semua mesin di sana buatan Jerman, lho. Bahkan, sebagian besar mesin di sana adalah produksi anak negeri.

Inilah bedanya kami PT Hexpharm Jaya Labs dengan pabrik lain. Kami melakukan kerja sama dengan industri-industri mesin lokal. Kami meminta mereka mesin yang kami inginkan untuk membuat obat. Prinsipnya kalau kita bisa bikin sendiri, kualiatsnya sama, buat apa memakai mesin buatan asing,” kata ibu Titis.

Wah wah, saya sendiri enggak menyangka lho, kalau banyak mesin buatan negeri sendiri di sana. Berarti emang ciptaan anak bangsa ini enggak kalah bersaing dengan buatan asing ya?

Saya jadi membayangkan, kalau banyak pabrik obat seperti PT Hexpharm Jaya Labs yang mau menggandeng produsen-produsen mesin lokal, mungkin akan makin banyak lagi biaya produksi yang ditekan. Masyarakat juga yang diuntungkan, sebab harga obat juga makin murah.

Mengakhiri, factory tour, ibu Titis mengatakan bahwa, salah satu yang membuat obat generik PT Hexpharm Jaya Labs bisa lebih murah adalah karena mereka selalu melakukan perawatan mesin, sehingga mencegah kerusakan mesin. Kalau mesinnya lancar terus, biaya perbaikan juga akan zero, sehingga perusahaan hanya memikirkan mutu dari obat yang diproduksi saja.

Ah, seneng banget, hari itu dapat banyak ilmu tentang perusahaan farmasi. Pertanyaan yang selama bertahun-tahun ada di benak saya, mengenai mengapa harga obat generik bisa jauh lebih murah pun terjawab.

Mengapa harus minum obat generik yang diproduksi PT Hexpharm Jaya Labs.

Terima kasih PT Hexpharm Jaya Labs telah sharing mengenai proses produksi obat generik-nya. Semoga kemasan barunya yang berwarna biru, yang katanya sengaja dipilih karena memiliki arti “menyamankan/ menenangkan” makin mendapat tempat di hati masyarakat. Mungkin juga, sebagian konsumennya adalah pembaca blog ini, hehe.

Jadi, gimana, masih ragu dengan keampuhan obat generik? 😀

April Hamsa

52 Comments

  1. Ria Buchari 18 November, 2017
    • April Hamsa 27 November, 2017
  2. sulis 18 November, 2017
    • April Hamsa 27 November, 2017
  3. Ria Bilqis 19 November, 2017
  4. Ria Bilqis 19 November, 2017
  5. Ade UFi 19 November, 2017
    • April Hamsa 27 November, 2017
  6. Rach Alida Bahaweres 19 November, 2017
    • April Hamsa 27 November, 2017
  7. Nurul Sufitri 19 November, 2017
    • April Hamsa 27 November, 2017
  8. gita siwi 20 November, 2017
    • April Hamsa 27 November, 2017
  9. Kurnia amelia 20 November, 2017
  10. lianny hendrawati 20 November, 2017
    • April Hamsa 27 November, 2017
  11. Arni 20 November, 2017
    • April Hamsa 27 November, 2017
  12. ayunovanti 20 November, 2017
    • April Hamsa 27 November, 2017
  13. nhie 20 November, 2017
  14. Anita d'Caritas 20 November, 2017
    • April Hamsa 27 November, 2017
  15. Okti 20 November, 2017
    • April Hamsa 27 November, 2017
  16. Diah Kusumastuti 20 November, 2017
    • April Hamsa 27 November, 2017
  17. Ata 21 November, 2017
  18. Dian Radiata 21 November, 2017
  19. Tetty Hermawati 21 November, 2017
  20. rani yulianty 21 November, 2017
  21. Cerita Bunda 21 November, 2017
  22. yurmawita 21 November, 2017
  23. ivonie 21 November, 2017
  24. Anindita Ayu 21 November, 2017
  25. Irni Irmayani 21 November, 2017
  26. hani 21 November, 2017
  27. Tuty Queen 21 November, 2017
  28. bekasicity 21 November, 2017
  29. Dian Safitri 21 November, 2017
  30. Rizka Edmanda 23 November, 2017
    • April Hamsa 3 Desember, 2017
  31. Helena 23 November, 2017
    • April Hamsa 3 Desember, 2017
  32. Miranti 27 November, 2017
    • April Hamsa 3 Desember, 2017
  33. Melinda Niswantari 27 November, 2017
    • April Hamsa 3 Desember, 2017

Leave a Reply

Instagram