Tips dan Etika Melakukan Reportase Ala Blogger

Dear Rekan Blogger,

Greetings from Brand Susu Anak

Mengawali tahun 2017, kami sebagai produsen susu anak turut mendukung perkembangan IQ anak melalui kampanye “Let’s Play Together!” bersama dr. Selamet Sentousa, SpA. Untuk itu Brand Susu Anak mengundang rekan Blogger untuk dapat hadir dalam acara yang diselenggarakan pada:

Hari: Selasa, 24 Januari 2017

Waktu: 09.00-12.00 WIB

Tempat: Restoran Enak, Jl. Beji Timur, Depok

Besar harapan kami rekan Blogger dapat meluangkan waktu untuk dapat hadir dalam kegiatan ini. Untuk informasi lebih lanjut dan konfirmasi kehadiran, rekan-rekan dapat membalas email ini.

Atas perhatiannya, kami ucapkan terima kasih.

Best Regards,

Humas Brand Susu Anak

***

Teman-teman blogger pasti pernah mendapatkan email semacam itu, bukan? Belakangan ini, blogger sering diundang oleh agensi atau brand untuk mengahadiri acara-acara yang diselenggarakan dalam rangka promosi produknya. Keberadaan blogger bagi brand bagaikan oase di tengah gurun pasir. Mengingat saat ini biaya iklan makin tinggi dan kerap tak sebanding dengan keuntungan yang didapat. Jadi dengan mengundang blogger, brand berharap nanti produknya akan ditulis di blog. Sehingga, nanti informasi mengenai produknya dapat lebih cepat diketahui oleh masyarakat.

Meski demikian, penyelenggara acara bukannya mendapatkan ulasan mengenai produknya secara gratis dari para blogger. Sebagai imbal balik, biasanya brand juga memberikan “privilage” kepada para blogger, entah itu berupa fee transport atau door prize/ hadiah-hadiah menarik. Namun, ada kalanya harapan brand terhadap blogger tidak sesuai dengan kenyataan. Masih banyak tulisan-tulisan reportase yang belum sesuai dengan permintaan. Misalkan, tulisan copy paste persis dari press release atau blogger terlalu lama menulis reportase, padahal acaranya sudah berakhir. Hal-hal semacam itu membuat brand kecewa. Dampaknya nama blogger yang bersangkutan pun di-blacklist. Sama-sama rugi, bukan?

Kejadian semacam itu rupanya membuat Komunitas Blogger Reporter ID (BRID) tergerak untuk mengadakan in house training mengenai “Menulis Reportase Ala Blogger Reporter”. Kebetulan saya berkesempatan mengikuti in house training yang diselenggarakan pada Sabtu tanggal 28 Januari kemarin itu. In house training yang mengambil tempat di Wisma Riat Jl. Pengadegan Utara Jakarta Selatan itu menghadirkan pemateri utama blogger dan co-founder BRID Ani Berta. Selain Ani Berta, hadir pula founder BRID Hazmi Fitriyasa dan owner Jakarta Nasi Tumpeng Wahyu Vidyanto. Para pemateri bergantian sharing mengenai bagaimana caranya melakukan reportase ala blogger yang benar agar tidak mengecewakan pihak penyelenggara acara.

indexPemateri in house training BRID. Dari kiri ke kanan: Ani Berta, Hazmi Fitriyasa, dan Wahyu Vidyanto.

Sebelum materi utama dimulai, Hazmi Fitriyasa menjelaskan sekilas mengenai BRID dan Wisma Riat. Hazmi Fitriyasa juga memberikan selayang pandang mengenai acara in house training pada hari itu, serta memperkenalkan para pemateri yang datang. Owner Jakarta Nasi Tumpeng Wahyu Vidyanto pun juga mengawali perkenalan mengenai bisnis yang dikelolanya secara singkat dan memberi gambaran bagaimana usahanya bisa eksis hingga sekarang. Wahyu Vidyanto yang memiliki nama panggilan Vidi ini juga mempromosikan bisnisnya kepada peserta training. Kalau saya simpulkan, Wahyu Vidyanto yang juga owner Royal Sandwich ini mengatakan bahwa kelebihan bisnis yang dikelolanya terletak pada: situs bisnisnya mudah ditemukan, customer service yang andal, produk yang berkualitas, dan aftersales service dimana admin menjaga kedekatan dengan pelanggan.

Tips dan etika yang penting diketahui blogger saat melakukan reportase

Materi pertama dari Ani Berta. Perempuan berhijab yang akrab dipanggil Teh Ani ini terlebih dahulu menjeaskan mengenai “Reportase”. Apakah yang dimaksud dengan reportase? Reportase merupakan suatu kegiatan mengumpulkan informasi dari suatu kejadian yang tengah diliput. Kegiatan ini berdasarkan atas fakta yang kita saksikan dan dengar di lapangan/ lokasi acara. Supaya reportase makin akurat maka sebaiknya dilengkapi dengan data, survey, dan pernyataan-pernyataan dari narasumber maupun khalayak ramai.

Reportase adalah pekerjaan yang biasa dilakukan oleh para jurnalis. Biasanya para jurnalis melakukan reportase kemudian segera menuangkannya ke dalam bentuk laporan langsung atau tulisan, misalnya berupa live streaming, berita online, televisi, atau media cetak. Para jurnalis dilarang keras memasukkan opini pribadi ke dalam reportase mereka. Ada pakem jurnalis yang harus mereka taati.

Lalu bagaimana dengan reportase yang dilakukan oleh blogger? Teh Ani yang juga seorang Social Media Consultant ini menjelaskan bahwa reportase ala blogger tidak sama dengan reportase ala jurnalis. Teh Ani menyebutkan bahwa reportase ala blogger memiliki ciri sebagai berikut:

  • Tidak sepenuhnya terikat pakem jurnalistik.
  • Bahasanya menggunakan bahasa personal, namun jangan alay.
  • Panjang atau durasi reportase tidak dibatasi. Blogger bisa menceritakan laporan secara detail.
  • Blogger punya kebebasan melakukan self editor pada hasil reportasenya.
  • Blogger bisa melakukan promosi (self promote) atas tulisan/ foto/ video reportasenya. Misalkan dengan cara sharing link blogpost di media-media sosial yang dimilikinya.

Untuk poin terakhir, Teh Ani berpesan supaya kita enggak ragu-ragu ataupun malu mempromosikan hasil reportase kita. Tujuannya supaya banyak yang membaca.

Kemudian, untuk melakukan reportase Teh Ani mengatakan blogger juga harus memiliki perlengkapan reporter. Perlengkapan reporter antara lain:

  • Notes: supaya bisa mencatat peristiwa yang dilihat.
  • Kamera DSLR: untuk mengabadikan momen. Cocok dibawa saat acara liburan.
  • Kamera poket: untuk mengambil gambar juga, namun lebih simple bentuknya.
  • Voice Recorder: untuk merekam suara pemateri atau wawancara narasumber.
  • Smartphone: untuk mengambil foto, untuk live di media sosial, untuk merekam, dan lain-lain.
  • Powerbank: untuk berjaga-jaga jika baterai smartphone atau kamera habis.
  • Pen: untuk menulis
  • Cable data: supaya mempermudah transfer data tulisan atau foto.

Alhamdulillah, dari beberapa perlengkapan tersebut saya sudah punya semua, kecuali voice recorder. Ternyata voice recorder memang penting, sebab kalau blogger mengandalkan handphone untuk melakukan reportase biasanya terkendala durasi rekaman yang tidak bisa panjang. Kadang malah saat merekam, eh, ada telepon masuk. Hal itu sangat mengganggu jalannya reportase.

Teh Ani dalam kesempatan itu juga membagikan tips menulis reportase ala blogger. Tips-nya antara lain:

  • Dalam tulisan reportase harus selalu ada 5W 1H (what, who, when, where, why, dan how). Menurut Teh Ani sebenarnya dengan rumus ini blogger reporter sudah bisa mendapatkan enam paragraf, lho.
  • Sisipkan kalimat aktif berupa pernyataan dari narasumber atau pengisi acara atau kutipan dari sumber lainnya yang menghadiri acara tersebut.
  • Jangan sampai salah menuliskan gelar dan nama narasumber/ pengisi acara. Jika tidak tahu, minimal kita bisa bertanya kepada panitia yang menyelenggarakan acara.
  • Sebelum menulis reportase sebaiknya kita melakukan riset kecil-kecilan sebagai bahan komparasi atau verifikasi data yang benar.
  • Usahakan untuk melakukan live tweet, baik ada maupun tidak ada hadiah. Tujuannya untuk arsip bahan tulisan reportase kita nanti. Jangan lupa menggunakan hastag supaya kita mudah mencarinya kembali saat mau menulis.
  • Blogger reporter harus membiasakan diri melakukan pekerjaan multitasking. Ya, mengambil foto, menulis poin-poin wawancara, memvideokan acara, sampai live tweet.
  • Saat menulis reportase di blog sebaiknya menggunakan foto milik sendiri. Menurut Teh Ani ini penting supaya konten kita berbeda dan foto kita bisa punya nilai credit tersendiri. “Biar jelek-jelek asal foto kita sendiri, deh. Itu lebih baik,” kata Teh Ani.
  • Selalu sediakan notes dan pen atau aplikasi voice recorder atau gadget lain untuk merekam ulasan yang disampaikan oleh narasumber.
  • Tuliskan reportase maksimal H+1 atau H+3. Hal tersebut akan membuat pihak penyelenggara pun senang terhadap kinerja kita sebagai blogger reporter. Jangan sampai event-nya sudah selesai, kita baru menulis. Nanti, akan berakibat seperti yang sudah saya ceritakan sekilas di atas.
  • Link artikel bagikan ke sosial media dan jangan lupa untuk mention akun brand yang mengundang kita.

Terkait dengan press release yang biasanya diberikan oleh penyelenggara acara, Teh Ani memberikan penjelasan bahwa biasanya press release tersebut disediakan sebagai acuan dalam menuliskan berita. Sebaiknya blogger engak terpatok kepada press release. Blogger harus bisa menggali data lebih dalam reportasenya. Fungsi press release yang sebenarnya hanya untuk mengetahui nama dan gelar narasumber acara yang benar, sejarah brand, serta intisari acara.

Salah satu cara menggali data adalah dengan melakukan wawancara. Wawancara tidak harus dilakukan secara formal, bisa juga nonformal, seperti bercakap-cakap saja. Teh Ani juga memberikan beberapa contoh wawancara yang pernah dilakukannya untuk mendapatkan informasi sebagai bahan reportasenya.

Menutup materinya, Teh Ani memberitahu etika apa saja yang wajib dimiliki blogger saat berada di suatu acara/ kegiatan reportase:

  • Usahakan hadir tepat waktu. Ini menunjukkan bahwa kita menghargai pihak pengundang dan kita bisa punya kesempatan menggambil foto venue acara.
  • Menyimak jalannya acara. Meski di suatu acara kita biasanya ketemu sama sesama blogger atau teman, sebaiknya tetap memperhatikan acara, jangan mengobrol sendiri. Reuni/ gathering-nya bisa dilakukan nanti selepas acara.
  • Menyampaikan pertanyaan. Teh Ani kemudian menjelaskan bahwa biasanya ada jurnalis juga yang diundang ke acara tersebut, maka blogger sebaiknya juga memberikan kesempatan kepada jurnalis untuk bertanya. Jangan semua pertanyaan diborong oleh blogger.
  • Terakhir, Teh Ani berpesan bahwa kita harus bisa membuat reportase yang sesuai dengan harapan brand yang mengundang kita.

Makan siang bersama Jakarta Nasi Tumpeng

Kehadiran owner Jakarta Nasi Tumpeng Wahyu Vidyanto ke in house training bukan tanpa alasan. Setelah materi dari Teh Ani selesai, para peserta training diajak oleh Wahyu Vidyanto menikmati nasi tumpeng yang diolah di dapurnya. Rupanya Jakarta Nasi Tumpeng adalah sponsor dari acara training kala itu. Nasi tumpeng produk Jakarta Nasi Tumpeng rasanya menurut saya enak. Tidak terlalu gurih, tapi juga enggak terlalu asin. Menurut Wahyu Vidyanto, nasi tumpengnya memang sudah disesuaikan dengan lidah orang Jakarta.

Bagaimana Wahyu Vidyanto bisa mengetahui selera orang Jakarta? Menurut Wahyu Vidyanto, hal tersebut diketahuinya setelah melakukan beberapa riset, sampai akhirnya menemukan bumbu olahan yang tepat. Ketika ditanya mengapa berbisnis nasi tumpeng? Wahyu Vidyanto yang telah setahun berbisnis tumpeng ini menjelaskan bahwa saat itu dirinya melihat potensi banyaknya pendatang dari Jawa yang datang ke Ibu Kota. “Meskipun tinggal di Jakarta tapi orang-orang masih banyak yang memesan tumpeng untuk acara-acara seperti ulang tahun atau acara kantor,” kata Wahyu Vidyanto.

3Nasi tumpeng dari Jakarta Nasi Tumpeng.

Wahyu Vidyanto kemudian menjelaskan pula bagaimana Jakarta Nasi Tumpeng sangat mudah ditemukan di search engine. Rupanya selain jago berbisnis makanan, Wahyu Vidyanto juga ahli bermain Search Engine Optimization (SEO). Sama juga seperti para blogger yang berlomba-lomba supaya artikelnya masuk ke page one, bukan? Hehe. Tak lupa Wahyu Vidyanto berpromosi, kalau mau memesan nasi tumpengnya bisa order via website: www.jakartanasitumpeng.com atau melalui WhatsApp 081294309199. Sayangnya, saat ini Jakarta Nasi Tumpeng hanya melayani area Jakarta saja. Sebab, Jakarta Nasi Tumpeng menjaga layanan free delivery-nya. Harapan saya, semoga sebentar lagi penghuni Depok seperti saya bisa order tumpeng juga dari sana 😀 .

Materi tambahan dari founder BRID

Setelah perut kenyang, ternyata ada sedikit materi tambahan dari founder BRID Hazmi Fitriyasa. Anehnya, kalau biasanya setelah makan siang peserta training kan ngantuk, ternyata peserta in house training BRID masih bersemangat menyimak materi.

Hazmi Fitriyasa menjelaskan pentingnya story telling dalam tulisan reportase. Menurut Hazmi Fitriyasa kalau kita mempunya kemampuan menulis cerpen (fiksi) atau minimal mau membaca tulisan fiksi, biasanya story telling ini akan terasah. Story telling ini biasanya disukai oleh juri-juri lomba blog. Banyak juara lomba blog dipiih berdasarkan story telling-nya yang bagus. Hazmi Fitriyasa juga menyisipkan tips memenangkan lomba blog. Menurut Hazmi Fitriyasa yang perlu kita lakukan adalah mengetahui siapa jurinya. Dengan mengetahui siapa jurinya, kita akan tahu selera jurinya seperti apa. Ada yang suka menilai isi artikel saja, namun juga ada yang suka jika artikel tersebut dilengkapi dengan foto, infografis, maupun video.

4

Bagaimana story telling bisa terbentuk.

Menurut Hazmi Fitriyasa, ciri konten blog yang menarik adalah yang memiliki hal-hal di bawah ini:

  • Ide cerita yang unik dan berbeda dari yang lain.
  • Tulisan memiliki plot yang menarik.
  • Blogger melakukan riset saat menulis artikelnya.
  • Selalu cantumkan 5W 1H ditambah dengan user experience.
  • Buat tulisan yang naratif dan mengalir.
  • Lakukan penyesuaian platform sosia media.
  • Lengkapi tulisan dengan gambar dan video.
  • Usahakan tulisan kita SEO friendly, namun tetap ingat bahwa “content is the king”.

Terakhir, Hazmi Fitriyasa kembali mengingatkan bahwa pekerjaan blogger reportase tidak lepas dari “twitting + posting + linking” jadi lakukan ketiga hal tersebut saat reportase acara.

5Founder, co-founder, dan admin BRID.

FB_IMG_1485625867779

Peserta dan panitia in house training BRID berfoto bersama. Sumber foto: Hazmi Fitriyasa (BRID).

Bagaimana teman-teman, materinya menarik, bukan? Katanya sih BRID akan rutin dua bulan sekali mengadakan in house training. Semoga in house training berikutnya saya bisa ikutan lagi dan bisa sharing materinya lagi untuk teman-teman yang membaca blog ini. Kita sama-sama belajar, ya! 🙂

April Hamsa

46 Comments

  1. Wah materinya penting banget ya. Supaya materi tulisan yang dibuat para blogger juga makin baik dan brand juga mendapatkan manfaat yang positif.

  2. Wah acara yang menarik nih mbak April. Belajar reportase oleh blogger yaa. Pasti hasil tulisannya bakalan seru krn memadukan cara blogger dan cara jurnalis yang menurut saya beda penyajiannya 🙂

    Sangat bermanfaat terutama untuk pihak brand supaya bisa puas dengan ulasan blogger yang sesuai keinginan mereka ya mbak 🙂

    * salam kenal kembali 🙂

  3. Ery Udya

    Ilmu yang sangat bermanfaat. Thanks for sharing,Mbak.
    Dan yang jelas, saya belum berani melakukan reportase ala-ala blogger.
    Hihihi, masih malu-malu gitu 😀

  4. Menarik banget. Alhamdulillah, saya pernah bertemu dengan para admin BRId sewaktu mereka ke Makassar. Senang, deh 🙂

    Oya Mbak, yang ini … Selalu cantumkan 5W 1H ditambah dengan user experiment. –> user experiment atau user experience, yah?

    Peralatan yang disebutkan Teh Ani, lengkap banget tapi saya pikir blogger yang modal HP biasa kayak saya (jadul pula hehe) jangan sampai jadi jatuh mental. Bisa juga kita melakukan reportase dengan peralatan yang kita punya asalkan benar-benar menyimak jalannya acara dengan baik.

    Sayangnya, masih ada yang kurang memperhatikan, bila diundang ke sebuah acara, belum tentu menuliskan ttg acara tersebut. Padahal kalau dari reportase ini, seharusnya menuliskannya ya walaupun tanpa diminta oleh pihak pengundang? Kalau saya, alhamdulillah menuliskan acara2 yang saya hadiri, kalau diundang sebagai blogger.

    Terima kasih sharing-nya, Mbak 🙂

    • Di catatan sih bilangnya experiment, mungkin jg maksudnya experience, lupa gk nanya 🙁

      Btw saya juga masih mengandalkan smartphone sih mbak utk hadir ke suatu event + note dan pulpen

      Ideeemm, saya jg suka menulis meski tanpa diminta, ya meski kadang eventnya kapan, nulisnya kapan, hiks kudu belajar disiplin yak

      sama2 makasih jg sharingnya mbak 😀

  5. sharingnya berguna banget nih mbak April, terima kasih ya
    jadi menulisnya bisa pakai acuan dari sini, semoga artikel reportaseku jadi lebih baik nantinya

  6. Naaahh bener kan camera DSLR jadi salah satu yang wajib dibawa. *pembelaan *buruburumecahincelengan . Hehehe

    Aku sering keteteran loh mba antara foto2 dan nyatet poin2 penting. Gak kepikiran klo bisa pake voice recorder ya..

  7. Ilmunya bagus banget! Noted! Aku masih suka maksimal h+7 nih kalo nulis event.
    Voice recorder tuh iya penting. Tapi aku juga blom punya. Padahal aku ini lupaan.

  8. Wah sekalian saya evaluasi ini. Langsung cek harga voice recorder, haha… Untuk foto, ternyata foto pribadi se-jelek2nya lebih disukai pengundang ya. Tapi tetap ya mesti hasil yang terbaik. Nasi tumpengnya keren ya. Tumpeng sih untuk moment2 penting banyak kok yang butuh, karena memang atributnya banyak, jadi mending beli aja.

  9. Punya voice recorder tapi aku malah jarang pake mba. Hehehe. Seringnya rekam via henpon aja. Soal harus bisa multitasking itu masih peer banget di aku. Kadang susah bagi konsentrasinya😀.

  10. Melinda Niswantari

    Reportasenya lengkap, detail…mencerahkan saya yang masih banyak belajar menulis reportase hehe. Smoga BRID sering2 ngadain event kece begini ya 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *