Blog Contest Dema Health Health Tips Kids Health Maxy Our Kids Parenting Parenting Tips Product Review Review & Contest Tips & Opinion Transpulmin

Menyamankan Anak yang Terkena Batuk dan Pilek dengan Balsam Transpulmin

Bunda, aku pilep. Pilep, tissue mana, tissue mana?” keluh Dema, anak kedua saya, suatu sore. “Pilep” itu maksudnya adalah “pilek”.

Saya melihat bagian hidung Dema memang berair. Dema juga mendadak jadi sangat rewel. Saya segera mengambilkan tissue untuk Dema. Dema menerima tissue yang saya ulurkan kepadanya, kemudian menyeka hidungnya sambil terbatuk-batuk.

Waduh, kena batuk pilek juga deh, Si Dema. Ketularan Maxy,” batin saya.

Beberapa hari sebelumnya, memang anak pertama saya Maxy sempat beringus hidungnya dan batuk-batuk juga. Saat ini sih, Maxy sudah sembuh. Sayangnya, setelah si kakak sehat, virusnya beralih ke adiknya.

Kalau sudah begitu, biasanya yang saya lakukan adalah memberikan minuman hangat kepada anak-anak. Kalau Dema, sukanya susu hangat. Sedangkan kakaknya lebih suka teh hangat.

Kemudian, saya mencegah anak-anak melakukan permainan yang menyita fisik dan tenaga. Bahkan sebisa mungkin, saya mendorong anak-anak untuk beristirahat dengan tiduran di bed.

Tak pernah ketinggalan juga, setiap anak-anak mengalami batuk dan pilek, saya mengoleskan balsam Transpulmin ke bagian dada, leher, dan punggung mereka, setelah mandi dan sebelum tidur. Tujuannya untuk menyamankan anak-anak dari batuk dan pilek yang dideritanya.

Sejak anak-anak masih bayi, jika mereka batuk pilek, saya terbiasa menyamankan mereka dengan mengolesi balsam Transpulmin.

Kebiasaan tersebut sudah saya lakukan semenjak anak-anak masih bayi. Biasanya, tak butuh waktu lama, batuk dan pilek anak-anakakan mereda.

Sebelum saya bercerita mengapa saya memilih balsam Transpulmin untuk menyamankan anak-anak yang sedang batuk dan pilek, izinkan saya sharing dulu mengenai batuk dan pilek, ya teman-teman 🙂 .

Batuk dan pilek “penyakit” khas musim pancaroba

Batuk dan pilek. Keduanya adalah “penyakit” yang sering menyerang anggota keluarga, terutama yang masih berusia anak-anak. Apalagi, jika cuaca sedang tidak menentu, seperti yang sedang terjadi saat musim pancaroba sekarang ini. Kadang matahari begitu terik, namun beberapa waktu kemudian, mendadak berganti menjadi hujan lebat.

Perubahan cuaca, meliputi perubahan kondisi dan temperatur udara, sedikit banyak memang bisa mempengaruhi tubuh. Perubahan tersebut cenderung mendadak, sehingga tubuh jadi bekerja keras menyesuaikan suhunya dengan suhu sekitar (suhu ruang). Akibatnya, daya tahan tubuh berkurang dan membuat tubuh rentan terkena virus maupun bakteri.

Salah satu pertahanan yang dilakukan oleh tubuh saat virus maupun bakteri menyerang adalah dengan cara membersihkan saluran pernafasan. Proses pembersihan saluran pernafasan tersebut menimbulkan gejala berupa batuk dan pilek, yang oleh masyarakat awam seperti saya disebut “penyakit”.

Anak saya mengalami batuk dan pilek karena influenza atau common cold?

For your information, biasanya penyebab munculnya gejala batuk dan pilek pada anggota keluarga saat musim pancaroba, kalau enggak virus influenza ya virus common cold. Gejala penyakit yang disebabkan oleh kedua virus tersebut memang mirip. Batuk dan pilek, misalnya.

Namun, sebenarnya, common cold lebih ringan gejalanya dibandingkan influenza. Kalau terkena common cold, biasanya anak jarang mengalami demam dan tiba-tiba batuk dan pileknya sembuh, begitu aja. Sedangkan, kalau terkena influenza, maka sekitar 3-4 hari kemudian anak tiba-tiba mengalami demam yang tinggi.

Perbedaan virus Influenza (kanan) dengan Common Cold (kiri). Sumber gambar: https://zulliesikawati.files.wordpress.com/.

Batuk yang dialami oleh anak yang terkena virus influenza biasanya juga lebih berat. Selain itu, anak biasanya lemas, mengeluh pusing, mengalami nyeri, dan badannya pegal-pegal. Sebaliknya, anak yang mengalami common cold, biasanya kalau hidungnya meler dan batuk-batuk dikit, si anak masih aktif bermain.

Meski demikian, kita sebagai orang tua enggak perlu khawatir dengan kedua penyakit tersebut. Sebab, berdasarkan beberapa artikel dan buku tentang kesehatan yang pernah saya baca, baik influenza maupun common cold tidak membutuhkan obat. Kedua penyakit itu akan sembuh dengan sendirinya, seiring menguatnya daya tahan tubuh.

Bahkan, kalau menurut dokter spesialis anak (DSA) yang mengimunisasi anak-anak saya dulu, “Tidak menjadi masalah apabila kedua diagnosis penyakit tersebut tertukar. Sebab, secara prinsip, baik influenza maupun common cold disebabkan oleh virus dan enggak butuh antibiotik tertentu.”

Lalu bagaimana jika anak kita terserang batuk dan pilek akibat kesenggol virus influenza atau common cold?

Menangani anak yang terkena batuk dan pilek

Sebagai seorang ibu dari dua anak yang masih belia, saya menyadari bahwa batuk dan pilek, baik yang disebabkan oleh virus influenza maupun common cold, merupakan “penyakit” langganan anak. Hal tersebut sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa anak-anak, terutama balita, akan sering mengalami batuk dan pilek dibandingkan orang dewasa. Bahkan, dalam setahun, balita bisa terkena batuk dan pilek sebanyak delapan kali.

Penyebabnya tak lain adalah daya tahan tubuh balita yang masih lemah. Namun, kita sebagai orang tua, sebaiknya enggak perlu khawatir. Sebab, seiring dengan bertambahnya usia anak, maka daya tahan tubuhnya pun akan makin meningkat dan anak akan jarang terkena batuk dan pilek lagi. Teorinya sih begitu ya?

Jadi, saat anak mengalami batuk dan pilek, sebaiknya sebagai orang tua kita melakukan langkah-langkah berikut ini:

Jangan panik

Saya bersyukur, sejak masih memiliki satu anak sudah langsung dipertemukan dengan DSA yang paham sekali mengenai rational use of medicine (RUM). DSA tersebut mengedukasi saya mengenai beberapa penyakit langganan anak, termasuk penyakit yang gejalanya berupa batuk dan pilek tadi.

DSA tersebut selalu menekankan bahwa, “Batuk dan pilek yang disebabkan oleh virus tidak berbahaya. Obat yang dibutuhkan cuma satu, kesabaran orang tuanya, terutama ibunya, ketika anaknya rewel.”

Sehingga tiap anak-anak mengalami batuk dan pilek, saya berusaha tenang, mencari tahu penyebabnya, dan mengamati kondisi anak, baru kemudian mengambil tindakan.

Amati kondisi anak

Meskipun, secara teori sudah ngerti betul kalau batuk dan pilek karena virus (influenza atau common cold) enggak berbahaya, tetap saja sebagai orang tua, saya enggak tega kalau melihat hidung anak terus-menerus meler. Belum lagi, kalau anaknya mengeluh pusing, nyeri, lemas, dan enggak mau makan.

Maka, saran saya tetap amati kondisi anak. Terutama, jika muncul demam. Meskipun demam ini sebenarnya bagus sih. Demam menunjukkan bahwa tubuh juga tengah melakukan pertahanan diri, berusaha mengusir virus.

Usahakan tiap jam mengukur suhu tubuh anak dengan termometer. Jangan sekali-sekali menggunakan “tanganmeter”, sebab sentuhan tangan tidak akan akurat mengukur suhu tubuh. Kompres bagian lipatan-lipatan tubuh anak atau dahi anak dengan air hangat, untuk memberi rasa nyaman.

Selain, mengamati suhu tubuh anak, perhatikan pula kondisi bagian tubuh anak, apakah anak lemas, apakah wajahnya pucat, atau matanya cekung. Namun, kalau si anak masih bisa merengek (rewel), sebaiknya bersyukurlah. Bukan bersyukur karena si anak sakit ya? Melainkan bersyukur bahwa kalau anak rewel itu artinya kondisi kesadaran anak masih oke. 

Bawa anak ke dokter, jika anak demamnya mencapai 72 jam, hidung masih meler dan batuk sampai tiga minggu enggak sembuh-sembuh.

Berikan anak banyak asupan cairan

Pesan DSA anak-anak dulu, “Kalau anak batuk pilek, kasi minum, minum, dan minum. Kalau anak banyak minum nanti akan membuat lendir dan ingus jadi encer, sehingga mudah dikeluarkan.”

Kalau anak kecil kan paling susah tuh mengeluarkan dahak? Anak saya saja, sangat takut dahaknya keluar, dipikirnya itu seperti muntah, gitu. Kalau lendir dan ingusnya encer, maka anak akan mengalami ingus meler. Itu malah bagus. Sebab, tubuh sedang mengeluarkan virus melalui ingus meler tersebut.

Itulah sebabnya, kalau anak-anak sedang batuk dan pilek, asupan air putihnya saya perbanyak. Kalau anak enggak terlalu suka air putih, kita bisa memberikan anak asupan cairan lainnya, terutama yang anget-anget, seperti kuah kaldu hangat, susu hangat, teh hangat, jeruk nipis hangat, jahe hangat, dan makanan/ minuman hangat lainnya. Makanan dan minuman yang hangat tersebut, akan menyamankan bagian dalam tenggorokan anak yang batuk dan pilek.

Kalau anak tetap susah minum, biasanya jalan terakhir saya kasi es krim. Lha, kok, malah diberi es krim? Iya, lagi-lagi sesuai saran DSA anak-anak dulu, memberikan es krim kepada anak yang sedang batuk dan pilek bisa membantu meredakan sakit pada tenggorokan anak. Selain itu, es krim juga berperan memberikan asupan kalori yang kurang, pada saat anak males makan.

Olesi tubuh anak dengan Transpulmin

Saat pertama kali saya memulai menulis artikel ini, saya kan sebenarnya mau cerita tentang kebiasaan saya memberikan Transpulmin saat anak-anak batuk dan pilek ya?

Saya mengenal Transpulmin, terutama Transpulmin BB, sejak pertama kali memiliki anak pertama, Maxy. Transpulmin BB direkomendasikan oleh salah seorang tetangga saya, ketika Maxy yang saat itu berusia sekitar enam bulanan meler alias pilek. Ternyata, DSA mengamini pemberian Transpulmin BB terhadap Maxy yang waktu itu masih bayi. Saya pun keterusan mengoleskan Transpulmin untuk anak-anak, saat mereka sedang batuk pilek, sampai sekarang.

Balsam Transpulmin untuk anak, amankah?

Produk balsam Transpulmin ada dua macam, yakni Transpulmin BB dan Transpulmin Family. Balsam Transpulmin sudah diproduksi sedemikian rupa melalui clinical research yang menyesuaikan dengan usia dan kebutuhan anak. Itulah sebabnya, Transpulmin terdiri dari dua varian produk.

Dua varian produk Transpulmin, Transpulmin BB (kemasan box putih) dan Transpulmin Family (kuning).

Kedua varian produk Transpulmin kemasannya sama-sama berbentuk tube yang mungil. Sehingga, mudah dibawa bepergian kemana-mana, tinggal masukin ke dalam saku baju atau dompet. Ada dua ukuran, yakni 10 dan 20 gram.

Transpulmin BB

BB itu katanya kependekan dari “Baby Balsam”. Saat iseng-iseng membuka website Transpulmin di www.transpulmin.co.id, ternyata emang beneran itu singkatannya, hehe. Transpulmin BB ini, sepengetahuan saya, sangat direkomendasikan untuk baby mulai newborn hingga usia dua tahun.

Transpulmin BB direkomendasikan dokter anak untuk bayi di bawah usia dua tahun.

Mengapa Transpulmin BB? Sebab, Transpulmin BB tidak mengandung bahan mentol dan kamfer. Komposisi utama Transpulmin BB hanya terdiri dari Eucalyptus Oil dan Ekstrak Bunga Chamomile.

Ada sebuah penelitian yang saya ketahui dari membaca milis kesehatan bahwa aroma mentol tidak baik buat anak di bawah usia dua tahun. Sebab, akan mempengaruhi pernafasan anak. Sedangkan, bahan kamfer juga tidak baik untuk anak under dua tahun, sebab bisa mengakibatkan gangguan kulit.

Itulah sebabnya, produsen Transpulmin memformulasikan Transpulmin BB khusus untuk bayi under dua tahun. Tujuannya untuk kesehatan, sekaligus keselamatan anak di bawah usia dua tahun.

Lalu bagaimana Transpulmin BB bekerja baik untuk menyamankan anak? Komposisi Transpulmin BB memiliki manfaat:

  • Eucalyptus Oil: Memberikan efek relaksasi dan anti-inflamasi (anti radang).
  • Ekstrak Bunga Chamomile: Melegakan gangguan pernafasan seperti batuk dan pilek, serta menghangatkan badan.

Menurut saya, Transpulmin BB yang berupa cream ini baik digunakan untuk bayi di bawah usia dua tahun, sebab enggak lengket dan mudah diserap oleh kulit bayi. Transpulmin BB, menurut saya, juga bisa menyamankan anak karena aroma bunga Chamomile-nya yang enak. Selain itu, kehangatannya sangat pas, sehinga bisa meredakan nyeri dan sakit kepala yang diderita oleh anak.

Kita bisa mengoleskan Transpulmin BB dua sampai empat kali sehari kepada bayi kita di bagian dada, leher, dan punggung, lalu mendiamkannya selama beberapa menit. Bahan aktif dari komposisi Transpulmin BB akan menyamankan bayi kita, sehingga mengurangi kerewelannya pada saat batuk dan pilek.

Transpulmin Family

Transpulmin Family ini direkomendasikan untuk anak-anak di atas usia dua tahun. Berbeda dengan Transpulmin BB yang komposisi utamanya hanya mengandung Eucalyptus Oil dan Ekstrak Bunga Chamomile, Transpulmin Family dilengkapi dengan Sage Oil, serta bahan Menthol dan Camphor dengan komposisi yang tepat dan aman buat anak-anak.

Apakah manfaat Sage Oil, Menthol, dan Camphor? Berikut adalah manfaat ketiga bahan komposisi Transpulmin Family tersebut:

  • Sage Oil: Memberikan efek aromaterapi yang membuat tubuh menjadi rileks.
  • Menthol: Meringankan gejala pilek dan gangguan pernafasan lainnya.
  • Camphor:Menghangatkan badan.

Transpulmin Family juga berbentuk cream yang enggak lengket di tangan, cepat diserap oleh kulit, dan aromanya sangat menyegarkan. Lebih strong dari Transpulmin BB karena bahan Sage Oil dan Menthol-nya.

Transpulmin Family untuk anak berusia di atas dua tahun.

Cara pemakaiannya, kita bisa mengoleskan 1-4 cm balsam Transpulmin Family ke tangan, lalu mengusapkannya ke bagian dada, leher, dan punggung anak, diamkan selama beberapa menit. Bisa juga, memasukkan beberapa cm balsam Transpulmin Family ke dalam baskom berisi seliter air panas, lalu menaruhnya di pojok kamar, supaya uapnya bisa terhirup oleh anak.

Namun, saran saya, awasi baskom ini baik-baik ya, teman-teman. Khawatirnya, si anak iseng mengobok-obok baskom berisi air panas tersebut, bisa berbahaya.

Satu hal lagi yang paling penting untuk teman-teman ingat, bahwa baik Transpulmin BB maupun Transpulmin Family adalah obat luar. Jangan sampai tertelan oleh anak. Sebaiknya juga, jangan mengoleskan Transpulmin ke bagian tubuh anak, selain dada, leher, dan punggung. Patuhi petunjuk pemakaiannya ya! Sudah tertulis jelas di kemasan dan kertas petunjuk pemakaian di dalam box kemasan Transpulmin kok.

Semoga artikel kesehatan dan review mengenai balsam Transpulmin yang saya andalkan saat anak-anak batuk dan pilek ini bermanfaat ya, teman-teman. Semoga, anak-anak kita juga selalu terlindungi dari segala penyakit, sehat-sehat terus, aamiin!

***

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog Transpulmin dan Kumpulan Emak Blogger.

April Hamsa

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

82 Comments

  1. Risalah Husna 22 September, 2017
    • April Hamsa 22 September, 2017
  2. @nurulrahma 22 September, 2017
  3. Rach Alida Bahaweres 22 September, 2017
    • April Hamsa 22 September, 2017
  4. hisafu 22 September, 2017
    • April Hamsa 22 September, 2017
  5. desy jayanti 22 September, 2017
    • April Hamsa 22 September, 2017
  6. Nova Violita 22 September, 2017
    • April Hamsa 22 September, 2017
  7. Khairiah 22 September, 2017
    • April Hamsa 22 September, 2017
  8. Rahmi 22 September, 2017
    • April Hamsa 22 September, 2017
  9. Nathalia DP 22 September, 2017
    • April Hamsa 22 September, 2017
  10. andyhardiyanti 22 September, 2017
    • Okti 22 September, 2017
  11. Kang Alee 22 September, 2017
    • April Hamsa 29 September, 2017
  12. Natalia Bulan 23 September, 2017
    • April Hamsa 29 September, 2017
  13. lendyagasshi 23 September, 2017
    • April Hamsa 29 September, 2017
  14. Eni rahayu 23 September, 2017
    • April Hamsa 29 September, 2017
  15. Utie adnu 23 September, 2017
    • April Hamsa 29 September, 2017
  16. Eni martini 23 September, 2017
  17. Diah Kusumastuti 23 September, 2017
    • April Hamsa 29 September, 2017
  18. Helena 23 September, 2017
    • April Hamsa 29 September, 2017
  19. desy yusnita 23 September, 2017
    • April Hamsa 29 September, 2017
  20. Naqiyyah Syam 23 September, 2017
  21. cputriarty 23 September, 2017
    • April Hamsa 29 September, 2017
  22. Amanda Destya 23 September, 2017
    • April Hamsa 29 September, 2017
  23. Nurul Fitri Fatkhani 23 September, 2017
    • April Hamsa 29 September, 2017
  24. Jiah 23 September, 2017
    • April Hamsa 29 September, 2017
  25. Fania surya 23 September, 2017
    • April Hamsa 29 September, 2017
  26. Fania surya 23 September, 2017
  27. Yesi Intasari 23 September, 2017
    • April Hamsa 29 September, 2017
  28. Yulia 23 September, 2017
  29. Zefy 23 September, 2017
    • April Hamsa 29 September, 2017
  30. Liza 23 September, 2017
    • April Hamsa 29 September, 2017
  31. Susindra 23 September, 2017
    • April Hamsa 29 September, 2017
  32. Liza 23 September, 2017
    • April Hamsa 29 September, 2017
  33. Dikki Cantona Putra 23 September, 2017
    • April Hamsa 29 September, 2017
  34. Mahadewi 23 September, 2017
    • April Hamsa 29 September, 2017
  35. erinajulia 23 September, 2017
    • April Hamsa 29 September, 2017
  36. Alma Wahdie 24 September, 2017
    • April Hamsa 29 September, 2017
  37. Nchie Hanie 25 September, 2017
    • April Hamsa 29 September, 2017
  38. Grace Melia 25 September, 2017
    • April Hamsa 29 September, 2017
  39. D I J A 28 September, 2017
  40. Ahmad Kumaedi 1 Oktober, 2017
  41. yurmawita 5 Oktober, 2017

Leave a Reply

Instagram