Kanker Serviks. Apa yang terbayang di benak teman-teman ketika mendengar nama penyakit itu disebut? Kalau saya, terus terang begidik ngeri. Bagaimana tidak merasa takut? Penyakit yang menyerang leher rahim perempuan itu kerap menyebabkan kematian.

Mungkin teman-teman masih ingat almarhumah artis Jupe yang meninggal karena kanker serviks, setahun lalu? Nah, sebenarnya apa yang menimpa Jupe itu cuma fenomena gunung es aja. Kalau teman-teman mau melihat datanya, baik itu data di rumah sakit atau Kementerian Kesehatan, teman-teman akan terkejut mendapati bahwa di luar sana, banyak sekali kasus penderita kanker serviks.

Prihatin, sekaligus peduli dengan tingginya angka kejadian kanker serviks, Felancy, brand pakaian dalam perempuan, mengadakan acara edukasi tentang kanker serviks untuk mom blogger. Acara edukasi yang digelar pada tanggal 31 Juli lalu di Harlequin Bistro, Kemang, Jakarta Selatan itu terdiri dari talkshow dan workshop.

Acara ini salah satu wujud kepedulian Felancy pada kanker serviks.

Mengapa Felancy menyasar mom blogger untuk kegiatan edukatifnya tersebut? Tak lain tak bukan, karena Felancy ingin edukasi tentang kanker serviks tersebut bisa sampai ke masyarakat, khususnya ke perempuan-perempuan di luar sana. Ya, tentu saja melalui tulisan-tulisan mom blogger di blog-nya.

Alhamdulillah, siang itu saya menjadi salah satu dari mom blogger yang berkesempatan mengikuti acara tersebut. Maka, melalui blogpost ini, saya mau sharing pengetahuan tentang kanker serviks yang saya dapatkan dari acara itu ya teman-teman…

Saya saat menghadiri acara edukatif tentang kanker serviks yang diselenggarakan oleh Felancy.

Tentang kanker serviks dan upaya menghindari penyakit ini

Pengetahuan mengenai kanker serviks saya dapatkan dari dr. Ferry Darmawan SpOG (dr. Ferry), dokter kandungan yang berpraktik di RSIA Budhi Jaya, Jakarta Selatan. Dr. Ferry merupakan narasumber dalam talkshow yang merupakan bagian dari acara edukatif Felancy, hari itu. Dalam kesempatan itu dr. Ferry menyampaikan bahwa masyarakat, khususnya Kaum Hawa, sangat perlu mengenal kanker serviks.

Dr. Ferry Darmawan SpOG dari RSIA Budhi Jaya.

Mengapa sih kita perlu mengenal kanker serviks? Menurut dr. Ferry, kita perlu mengenal kanker serviks supaya tahu bahwa:

  • Saat ini angka kejadian dan kematian yang disebabkan oleh kanker serviks sangat tinggi.
  • Kanker serviks dapat dicegah.
  • Kanker serviks dapat dideteksi dini.

Sehingga, masyarakat (kita) bisa lebih aware lagi terhadap penyakit kanker serviks ini. Apalagi, kanker serviks ini merupakan pembunuh nomor dua di Indonesia. Menurut dr. Ferry, setiap jam, ada satu orang perempuan Indonesia yang meninggal dunia karena kanker serviks ini.

Dulu kanker serviks nomor satu, sekarang sudah turun jadi nomor dua. Ini juga berkat informasi dari ibu-ibu semua yang suka menulis, menyebarkan informasi melalui tulisannya, tentang bahaya kanker serviks ini,” kata dr. Ferry.

Lalu, sebenarnya, apa sih yang menyebabkan terjadinya kanker serviks? Dr. Ferry mengatakan bahwa kanker serviks terjadi karena sel-sel di leher rahim atau serviks perempuan berubah menjadi tidak normal. Perubahan tersebut disebabkan karena virus human papiloma atau HPV. HPV, khususnya HPV 16 dan 18, inilah yang menyerang serviks kemudian membuat sel-sel-nya tumbuh tidak normal.

Presentasi dr. Ferry tentang bagaimana terjadinya kanker serviks.

Serviks yang normal itu warnanya pink,” kata dr. Ferry sambil menunjukkan gambar serviks yang normal. “Kemudian, kalau ada lesi atau lecet, virus bisa masuk bagian paling bawah. Virus itulah yang membuat perubahan sel-sel serviks. Sel-sel tersebut kemudian terus tumbuh dan mendesak kemana-mana. Bahkan bisa pindah kemana-mana, termasuk ke paru-paru,” lanjut dr. Ferry sambil menunjukkan gambar serviks yang berubah jadi abnormal.

Lalu, apa sebenarnya faktor risiko yang yang menyebabkan seorang perempuan mudah terserang penyakit kanker serviks? Dr. Ferry menyebutkan beberapa faktor, antara lain:

  • Hubungan sex di usia yang masih muda.
  • Free sex.
  • Berhubungan seksual dengan lebih dari satu orang.
  • Punya anak banyak.
  • Perempuan yang merokok.

Diingat baik-baik ya teman-teman, supaya kita semua bisa menghindari faktor risiko penyebab kanker serviks tersebut.

Kemudian, dr. Ferry menjelaskan bahwa tahapan kanker serviks ada empat Stadium yakni Stadium I, II, III, dan IV. Ketika seseorang menderita kanker serviks Stadium I dan II, maka dia masih punya harapan sembuh melalui operasi, maupun radioterapi. Namun, jika sudah mencapai Stadium III dan IV, maka harapan hidupnya sangat tipis. Dr. Ferry bahkan menggambarkan, saking parahnya, penderita kanker serviks Stadium III dan IV akan benar-benar menderita nyeri yang sangat hebat, serta enggak bisa buang air kecil.

Jika masih stadium satu biasanya emang belum bergejala. Jika sudah stadium dua biasanya muncul keputihan dan bau. Namun, jika sudah parah sekali, stadium ketiga dan keempat, ciri-cirinya nyeri hebat dan tidak bisa kencing,” kata dr. Ferry.

Dr. Ferry kemudian menunjukkan gambar yang menceritakan bagaimana perjalanan pernyakit pada kanker serviks. Dalam gambar tersebut terlihat bentuk serviks yang normal, kemudian mengalami pra-kanker dimana pra-kanker ini terdiri dari lesi derajat rendah yang bisa berubah menjadi lesi derajat tinggi, kemudian bisa berubah lagi jadi karsinoma in situ yang merupakan kondisi serviks sudah terserang kanker.

Perjalanan penyakit kanker serviks. Presentasi dr. Ferry.

Maka, sebelum serviks berubah menjadi abnormal, maka dr. Ferry sangat menganjurkan para perempuan untuk melakukan deteksi dini. Apa saja deteksi dini yang bisa atau sebaiknya kita, perempuan, lakukan?

Kita bisa melakukan deteksi dini dengan:

  • Melakukan screening sitologi seperti Pap Smear

Siapa saja yang sebaiknya melakukan Pap Smear? Mereka yang sebaiknya melakukan Pap Smear adalah semua perempuan berusia 21-65 tahun yang sudah pernah berhubungan seksual. Sangat dianjurkan untuk melakukan Pap Smear setiap tahun, baik di dokter umum, dokter kandungan, atau bidan. Syarat melakukan Pap Smear adalah hari ke-9 haid (sudah bersih) dan dua hari sebelumnya enggak memakai cairan apapun ketika berhubungan seksual.

  • Melakukan screening non sitologi secara visual seperti Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA), Servikografi, Spekuloskopi dan secara non visual seperti tes DNA HPV.
  • Melakukan Kolposkopi, yakni menggunakan alat semacam mikroskop khusus untuk melihat ke vagina dan serviks.

Setelah melakukan deteksi dini, apabila ditemukan ada masalah, maka dianjurkan melakukan prompt treatment, yakni melakukan pengobatan segera. Tak lupa, dr. Ferry juga menyarankan supaya melakukan vaksinasi untuk HPV.

Vaksinasi untuk HPV sebaiknya dilakukan sebanyak tiga kali suntikan. Mereka yang dianjurkan untuk vaksin HPV adalah:

  • Perempuan usia 10-55 tahun.
  • Belum pernah berhubungan seksual.
  • Bukan/ tidak/ belum menderita kanker serviks.
  • Tidak hamil atau belum mau hami selama minimal enam bulan mendatang.

Itulah teman-teman, materi atau pengetahuan mengenai kanker serviks yang disampaikan oleh dr. Ferry dalam acara hari itu. Kalau saya ringkas, kesimpulan dari paparan dr. Ferry adalah sebagai berikut ya teman-teman:

  • Kanker serviks kejadiannya sering.
  • Kanker serviks sangat berbahaya dan menjadi pembunuh nomor dua perempuan Indonesia.
  • Kanker serviks bisa dicegah, asalkan kita menghindari faktor risikonya, mau melakukan deteksi dini, dan melakukan vaksinasi HPV.

Oh iya, teman-teman, for your information, dr. Ferry bukan satu-satunya narasumber dalam talkshow yang diadakan oleh Felancy pada hari itu. Selain dr. Ferry, hadir pula sebagai narasumber dalam talkshow tersebut, Ibu Untung Endang Suryani (Ibu Endang), member dari komunitas Cancer Information and Support Center (CISC).

Sharing dari penyintas kanker serviks Ibu Endang

Ibu Endang ini bukan sekadar seseorang yang kebetulan memiliki pengetahuan tentang kanker serviks sekaligus member CISC semata lho. Namun, beliau juga seorang penyintas kanker serviks. Yup, Ibu Endang ini telah mengalami sendiri bagaimana sakitnya menderita kanker serviks dan setelah kondisi beliau pulih seperti sekarang, beliau aktif melakukan sharing dan edukasi tentang kanker serviks.

Awalnya saat Desember 2016 saya mengalami keputihan. Tak lama kemudian saya mengalami mens seperti biasa. Namun, setelah selesai mens saya tetap keputihan,” kata Ibu Endang ketika memulai sharing-nya di hadapan mom blogger yang hadir.

Waktu itu, kondisi Ibu Endang, sudah tidak aktif secara seksual. Kemudian, ketika curhat ke salah seorang teman, teman beliau ini mengatakan, “Ooo, mungkin karena mau menopouse.” Kemudian, teman Ibu Endang menganjurkan beliau untuk minum jamu. Ibu Endang pun menuruti nasihat temannya dan rutin minum jamu, tapi keputihannya enggak kunjung berhenti.

Sampai akhirnya Januari 2017 ternyata Ibu Endang mengalami menstruasi lagi, lalu setelah selesai ternyata masih keputihan. Pada bulan berikutnya (Februari) Ibu Endang mengalami menstruasi lagi dengan darah yang keluar volumenya lumayan banyak, meski hanya berlangsung empat hari. Saat itu setelah selesai menstruasi, Ibu Endang lagi-lagi mengalami keputihan. Lalu, pada Maret dan April, Ibu Endang tidak menstruasi, baru Mei dapat lagi.

Menstruasi di bulan Mei itu awalnya darah yang keluar sedikit-sedikit aja, namun hari ketiga volumenya jadi banyak banget. Kemudian ketika berhenti menstruasi, Ibu Endang masih mengalami gejala keputihan. Meski demikian, Ibu Endang enggak curiga kalau terkena kanker serviks. Soalnya, menurut Ibu Endang, beliau enggak merasakan gejala sakit apapun. Meskipun, mesntruasi atau keputihannya saat itu enggak normal. Ibu Endang hanya melanjutkan usahanya meminum jamu, seperti sebelumnya.

Ibu Endang saat sharing tentang kanker serviks yang pernah dideritanya.

Singkat cerita, pada awal Bulan Ramadan tahun 2017, Ibu Endang mengalami flek-flek, trus ada hari dimana Ibu Endang enggak bisa bangun. Dengan diantar saudaranya, Ibu Endang akhirnya cek ke rumah sakit. Ternyata Ibu Endang divonis suspect kanker serviks Stadium II B.

Waktu itu saya enggak ngrasain apa-apa. Hb saya ternyata rendah. Hb saya cuma dua saat itu. Lalu saya dapat transfusi delapan kantong. Lalu naik hanya jadi delapan,” cerita Ibu Endang.

Ibu Endang juga menceritakan bagaimana kondisinya saat benar-benar drop, yang membuat saya terharu, sekaligus merinding. Betapa enggak enaknya, menderita penyakit kanker serviks, yang sebenarnya bisa dicegah itu.

Semenjak saat itu Ibu Endang menjalani perawatan, baik itu disinar luar, kemoterapi, dan pengobatan lainnya, hingga sekarang kondisinya bisa membaik. Mulanya Ibu Endang takut menghadapi semua itu. Namun, keluarga, dokter, dan perawat sangat mendukung beliau melakukan semua pengobatan dan terapi itu. Akhirnya, bismillah, Ibu Endang menguatkan hati dan fisik untuk ikhtiar kesembuhannya, sampai sekarang kondisinya sudah membaik. Semua pengobatan kanker serviks yang dijalani oleh Ibu Endang, alhamdulillah dicover oleh BPJS.

Saya sampai menggunduli rambut saya. Jadi, kalau rontok karena kemo, saya enggak terlalu kepikiran,” kata Ibu Endang.

Sebelum mengakhiri sesinya, Ibu Endang mengatakan bahwa saat ini ibu beliau ternyata juga menderita kanker serviks. Ibu Endang berharap enggak ada lagi perempuan yang menderita seperti beliau dan sang ibu. Aamiin, ya teman-teman… kita sebisa mungkin jauh-jauh dari penyakit ini… Tadi, beberapa saran untuk mencegah penyakit kanker serviks ini sudah saya ulas yaaa… Catatan untuk kita semua supaya menghindari faktor risiko, segera melakukan deteksi dini, dan vaksin.

Workshop bersama Felancy

Setelah talkshow tentang kanker serviks selesai, acara dilanjutkan dengan workshop membuat kata-kata mutiara dan membingkainya. Namun, sebelumnya, Marketing Manager Felancy Ibu Agnes Dewi menyampaikan presentasinya tentang Felancy.

Ibu Agnes Dewi dari Felancy.

Ibu Agnes Dewi memulai presentasinya dengan menceritakan bahwa Felancy yang sudah diproduksi sejak tahun 1993 ini berasal dari Singapura dan pada mulanya merupakan produsen baju tidur perempuan. Kemudian, menurut Ibu Agnes, seiring waktu, Felancy berkembang menjadi produsen pakaian dalam wanita. Produk-produk Felancy sangat komplit, antara lain berupa bra, panty, korset, body suit, sport, dan tentu saja, baju tidur.

Produk-produk Felancy.

Felancy, masuk ke Indonesia pada tahun 1999 dengan lisensi di bawah naungan PT Megariamas Santosa. Hingga saat ini, Felancy yang memiliki tagline “Feel the Comfort” ini telah memiliki lebih dari 400 outlet yang tersebar di seluruh Indonesia dan tentu saja akan terus berkembang.

Ibu Agnes dalam kesempatan itu mengatakan bahwa Felancy mengadakan acara ini karena peduli dengan kanker serviks. Sebagai produsen pakaian dalam (khususnya produk panty), Ibu Agnes menjelaskan bahwa Felancy menyediakan produk panty yang dibuat senyaman dan seaman mungkin untuk perempuan.

Oh iya, berkaitan dengan panty atau celana dalam dalam hal pencegahan kanker serviks, dr. Ferry mengatakan, meskipun celana dalam enggak ada kaitan langsung dengan kanker serviks, namun memang sebaiknya perempuan memilih celana dalam yang nyaman. Salah satunya dengan memilih bahan pakaian dalam yang gampang menyerap basah.

Dr. Ferry juga menyarankan supaya perempuan mengganti celana dalam minimal tiga kali sehari. Trus, kalau bisa jangan menggunakan pantyliner soalnya akan bisa berpotensi menjadi penyebab keputihan. Kalau terlanjur keputihan maka sebaiknya bersihkan dengan tissue sampai kering setelah selesai buang air. Dr. Ferry juga menyarankan supaya mencuci kemaluan setelah selesai buang air dengan sabun yang pH-nya sesuai kuman menguntungkan yang ada di area kewanitaan.

Setelah penjelasan tentang celana dalam, Ibu Agnes Dewi juga memberikan bonus berupa tips bagaimana mengetahui bra yang kita gunakan sudah tepat atau belum. Kemudian, mom blogger diminta bersama-sama melakukan pengukuran area dada supaya tahu ukuran bra yang tepat.

Begini cara mengukur bra supaya tahu bra mana yang cocok untuk kita pakai.

Selain itu, Ibu Agnes Dewi juga memberikan pengetahuan mengenai bentuk-bentuk buah dada dan bra apa yang sebaiknya dikenakan sesuai dengan bentuk buah dada (payudara) yang seperti itu. Eits, ini bukan ngomongin hal-hal jorok ya teman-teman. Ini pengetahuan penting 😀 .

Bra yang cocok sesuai bentuk payudara.

Setelah presentasi Ibu Agnes Dewi dan kegiatan ukur-mengukur selesai, mom blogger kemudian diberi challenge untuk membuat kata-kata mutiara/ penyemangat berdasarkan talkshow sebelumnya. Kata-kata mutiara itu kemudian dimasukkan ke dalam bingkai yang juga telah dihias oleh mom blogger. Bingkai dan kata-kata mutiara terbaik kemudian dipilih oleh Ibu Endang dan mom blogger yang membuatnya berhak mendapat hadiah.

Mom blogger saat challenge menghias bingkai.

Ternyata, hampir semua mom blogger yang hadir terinspirasi dengan keikhlasan dan semangat Ibu Endang saat menghadapi penyakit kanker serviks. Maka, siang itu, banyak bingkai-bingkai indah yang membingkai kata-kata mutiara yang enggak kalah indahnya, karangan mom blogger. 

Bingkai-bingkai berisi kata-kata mutiara karya mom blogger.

Karya saya, hehe. Ini maksudnya supaya memotivasi diri saya sendiri untuk menghindari faktor risiko kanker serviks dan segera melakukan deteksi dini 😀 .

Harapannya, semoga kata-kata mutiara tersebut menjadi penyemangat kita semua untuk senantiasa menjaga kesehatan dan aware terhadap bahaya-bahaya penyakit, salah satunya kanker serviks. Aamiin, usaha dan doa sama-sama, ya teman-teman…

Semoga, cerita saya mengenai acara edukatif mengenai kanker serviks yang diselenggarakan oleh Felancy ini menginspirasi teman-teman semua yaaa… 🙂

April Hamsa