Berawal dari mengikuti challenge menulis blog dengan tema food and travel selama beberapa bulan terakhir, belakangan saya ketagihan bikin konten kuliner. Selain tulisan, tentu saja foto-foto juga menjadi pelengkap konten blogpost tersebut.

Namun, seiring waktu, saya jadi suka bikin video juga. Soalnya, konten video tuh lebih menggambarkan mengenai makanan atau minuman yang tengah saya cicipi. Apalagi, sekarang eranya konten Reels di Instagram dan video di Tiktok, gitu, lho, yang lebih cepat menarik perhatian orang πŸ˜€ .

Meski demikian, terus terang, saya enggak mau disebut food blogger maupun video vlogger. Saya lebih sreg dianggap sebagai food enthusiast alias orang yang suka makan yang sharing pengalaman kepada orang lain.

Tujuan bikin konten kuliner

Jadi, tujuan saya bikin konten kuliner tuh lebih ke kepengen sharing info aja, β€œEh, di sini ada makanan enak, lho.” Lalu, kebetulan, karena saya udah lama ngeblog dan punya beberapa media sosial, ya, akhirnya sharingnya melalui media-media itu, deh.

Selain itu, tentu saja konten kuliner tersebut untuk menyimpan memori. Khususnya, ketika makan di luar bareng keluarga maupun teman-teman yang suka kulineran juga.

Sampai sekarang, saya masih suka merasa takjub kalau diingetin oleh robot media sosial mengenai kegiatan kulineran saya beberapa waktu lalu. Apalagi, kalau bareng keluarga ya. Saya jadi bisa melihat dari masa ke masa, keluarga saya, khususnya anak-anak tumbuh. Dari mereka makan di luar masih disuapin, hingga udah bisa duduk dan makan mandiri 😊.

Suka duka bikin konten kuliner

Yup, saya biasanya bikin konten kuliner tuh ketika makan-makan di luar rumah. Misalnya ketika makan di restoran mana, gitu.

Meski demikian, menurut saya pribadi, yang namanya konten kuliner enggak melulu mengenai makan di luar rumah, sih. Bisa juga bikin konten mengenai review makanan yang kita beli dari layanan pesan antar. Saya pun kerap melakukannya, kok πŸ˜€ .

Malahan, menurut saya, kalau bikin konten kuliner di rumah tuh lebih bebas mengekspresikan pendapat kita mengenai makanan atau minuman tersebut. Berbeda dengan kalau berada di tempat makan/ restoran gitu.

BTW, kalau ada pertanyaan apakah saya izin atau enggak ketika ngontenin makanan/ minuman di suatu tempat makan? Hmmm, jawabannya adalah enggak selalu.

Terus terang awal-awal saya bikin konten, khususnya kalau memotret atau shooting video gitu, saya masih suka malu-malu, sehingga lebih sering sembunyi-sembunyi. Namun, makin ke sini, saya jadi lebih percaya diri dan bodo amat dengan pandangan orang-orang di sebelah-sebelah ketika saya foto-fotoin makanan dulu sebelum makan. Dengan catatan, kegiatan saya tersebut enggak mengganggu orang lain yaaa.

Hehehe, yeah, emang kalau bikin konten di tempat umum seperti restoran gitu, salah satu syaratnya adalah percaya diri. Kadang ada aja, lho, yang suka nyeletuk, β€œIni gaes, makanan enak, gaes,” saat kita memotret/ memvideokan.

Kezel enggak sih digituin? Seolah-olah tuh menyindir? Eh, atau saat itu sayanya yang baper ya? Xixixi.

Tapi, sekarang saya udah B aja. Saya senyumin, aja, kalau ada yang nyeletuk begitu. Namun, alhamdulillah perbandingan antara yang suka tiba-tiba komen gitu dengan yang cuek saja, selama ini lebih banyak yang cuek, sih. Bahkan, beberapa kali makan di restoran atau rumah makan, ada juga yang sedang bikin konten, sama kayak saya πŸ˜€ .

Balik lagi ke soal izin. Biasanya, saya izin mengambil gambar saat butuh detail foto atau gambar seperti saat penjual atau koki meracik makanannya. Sejauh ini sih alhamdulillah diizinkan kalau dapurnya memang yang terbuka, gitu.

Bahkan, pernah ada yang pernah mempersilakan saya masuk ke dapur yang di dalam, lho. Mungkin, karena pengusaha restoran zaman sekarang juga udah melek media sosial ya, sehingga malah seneng kalau restorannya di-up di media sosial. Itung-itung dapat promosi gratis, review-nya organik pula.

Apalagi, kalau restonya tuh udah viral di media sosial. Viral dalam artian positif ya, maksudnya terkenal karena makanan enak, suasana resto-nya asyik, dll πŸ˜€ . Namun, terus terang saya jarang sih jarang ke resto yang sedang viral-viralnya. Biasanya menunggu kondisi viralnya agak reda dulu, baru ke sana.

Alasannya supaya lebih leluasa saat membuat konten saja, sih, karena resto yang viral cenderung ramai dan rasanya kalau makan di tempat viral kayak gitu, berasa diburu-buru #imho. Berbeda dengan tempat yang agak sepi. Syukur-syukur kalau konten saya bisa membuat tempat makan itu jadi lebih ramai, kan? Aamiinin aja, dulu πŸ˜€ .

Dari sekadar posting tanpa beban, eh, jadi cuan

Tak terasa, postingan bertema kuliner di blog maupun media sosial saya pun makin bertambah. Alhamdulillah, ada aja yang terbantu buat mencari referensi kuliner.

Lalu, tanpa saya sadari, ternyata ada beberapa brand atau owner/ pengusaha kuliner yang melirik konten-konten kuliner saya tersebut. Ada yang kemudian menghubungi saya melalui email maupun message di media sosial untuk endorse.

Wuaaahh, padahal, seperti yang saya bilang tadi di atas, saya buka food blogger atau food vlogger. Saya juga dengan jujur menjelaskan kalau saya bukan reviewer yang sebaik almarhum Pak Bondan Winarno, gitu. Eh, rata-rata pada jawab, β€œEnggak masalah.” Beberapa menyebutkan alasannya justru lebih terlihat sebagai review yang organik.

Untuk endorse kayak gitu, ada yang memberikan imbalan berupa voucher makan, ada pula yang memberikan fee sesuai rate card saya sebagai blogger. FYI, selama ini saya memang ngeblog, namun enggak fokus ke kuliner. Alhamdulillah, kalau ada yang suka dengan cara saya mereview. Bener-bener enggak menyangka, dari yang sekadar posting konten kuliner tanpa beban, eh ke sini-ke sini malah jadi cuan πŸ˜€ .

Posting konten kuliner pakai jaringan internet IndiHome

Untung aktivitas posting konten, baik di blog maupun di media sosial biasanya lebih sering saya lakukan di rumah, soalnya jaringan internet di rumah cukup wus-wus ya, lancar.

Kalau ada yang bertanya, saya pakai internet provider apa, jawabannya adalah saya pakai IndiHome. Alhamdulillah, selama ini lancar-lancar aja memakai IndiHome, jarang ada kendala yang berarti.

Dahulu banget, memutuskan memakai IndiHome karena memiliki beberapa paket sesuai kebutuhan. Saya kan suka nonton Drama Korea, khususnya channel KBS, jadi memilih paket internet sekaligus tayangan televisi favorit. Seiring berjalannya waktu, saya kemudian berlangganan layanan streaming juga yang juga telah disediakan oleh IndiHome. Jadi, jaringan internet buat beraktivitas dapet, hiburan-hiburannya juga.

Keberadaan jaringan internet IndiHome ini juga makin bikin betah di rumah, sehingga auto bikin jarang mencari hiburan di luar rumah. Lha, gimana, semua udah bisa didapatkan di rumah kalau ada ada jaringan internet yang mumpuni kayak IndiHome ini.

Mau makan, tinggal ambil smartphone, buka aplikasi layanan antar makanan, pesan, deh. Mau nonton, mager ke bioskop, streaming film atau drama aja. Mau belanja, ya online aja via marketplace. Masih banyaaakk banget kegiatan online-online berkat keberadaan IndiHome di rumah. Yang paling penting, IndiHome sangat mendukung aktivitas seperti bekerja (work from) home dan sekolah yang masih bisa blended learning.

Memang ya, zaman now, yang namanya internet tuh udah masuk ke dalam kebutuhan pokok. Setuju enggak, sih?

Kalau teman-teman setuju, saya sih merekomendasikan provider IndiHome sebagai #InternetnyaIndonesia untuk membantu teman-teman melakukan #AktivitasTanpaBatas.

Semoga postingan tentang bagaimana cerita saya membuat konten kuliner dan #BerkontenRiaBersamaIndiHome ini bermanfaat ya 😊.

April Hamsa

#IndiHomeVideoCompetition

Categorized in: