Lebaran 2023 sudah lewat, namun alhamdulillah kenangannya tetap melekat. Bagaimana tidak? Soalnya, setelah tiga tahun lamanya enggak mudik lebaran, akhirnya tahun ini saya dan keluarga bisa berlebaran di kampung halaman lagi.

Jujur, sebenarnya, saya tuh enggak membuat tradisi mudik lebaran di keluarga kecil saya. Soalnya, saya lebih suka mudik ke kampung halaman pada saat hari biasa atau kalaupun hari besar, saya pilih saat Hari Raya Iduladha.

Ada beberapa alasan mengapa begitu. Pertama, karena enggak terlalu nyaman dengan keramaian orang yang beramai-ramai mudik. Kedua, kalau mudik saat lebaran, banyak kerabat atau teman sibuk dengan keluarganya masing-masing, sehingga agak susah ditemui untuk silaturahmi. Alasan terakhir, kemungkinan besar banyak destinasi hiburan di dalam kota yang tutup, sehingga bingung mau maen ke mana ya selain ke mall?

Namun, karena dapat rezeki bisa mudik lebaran tahun ini, ya jelas, saya enggak menolak, donk. Malah bersyukur, karena bagaimanapun vibes mudik saat lebaran Idulfitri memang berbeda.

Singkat cerita, saya sekeluarga mudik ke Surabaya via jalur tol Jakarta-Surabaya. Ini sebenarnya juga enggak terduga, karena rencananya kami naik kereta api. Meski demikian, saya sih bersyukur saja, karena diberi rezeki pengalaman baru bisa mudik melalui jalur darat. Mengingat selama ini kalau enggak lewat rel ya lewat jalur udara.

Sampai Surabaya sudah malam, akhirnya berhasil juga ketemu orang tua, adik, adik ipar yang sekali doank ketemu ketika mereka menikah, serta keponakan yang cepet banget tiba-tiba berumur hampir 3 tahun. Anak-anak saya pun terlihat bahagia karena bisa bertemu kakek, nenek, serta sepupu satu-satunya.

Sejak hari pertama, saya langsung mendokumentasikan banyak foto dan video aktivitas kami ketika mudik. Terutama aktivitas anak-anak ketika bermain dengan sepupu dan bercengkerama dengan kakek neneknya. Ada rasa haru yang membuncah, sehingga saya enggak mau melewatkan momen-momen tersebut.

Selain bertemu dengan keluarga inti, lebaran kali ini saya fokus untuk mengunjungi kerabat, khususnya pakdhe, budhe, serta sepupu-sepupu yang lama tak bersua. Gimana lagi, karena pandemi, selain karena alasan biaya, kami juga khawatir kalau pulang kampung malah membawa virus.

Makanya, kami benar-benar pulang pada saat berita-berita penularan virus Covid-19 mulai mereda. Biar enggak overthinking, mikirin si virus πŸ˜› . Alhamdulillah, dapat rezeki tahun ini buat mudik.

Memang ya, Tuhan itu paling tahu apa yang sedang dibutuhkan oleh umat-Nya. Mudik tahun ini tuh rasanya dimudahkan sekali.

Bertemu dengan keluarga besar pun asyik-asyik, kok. Enggak ada tuh ceritanya seperti yang digambarkan oleh orang-orang di media sosial, yang kalau mudik ntar ditanyain macem-macem, lho.

Tidak ada begitu-begitu sama sekali. Yang ada cuma nanyain kabar, kemudian hanyut dengan cerita mengenang masa lalu, waktu saya dan saudara-saudara masih piyik.

Trus, karena lama enggak bertemu dan entah kapan ketemu kembali, kami kemudian banyak berfoto. Senang banget sih, karena semuanya masih bisa berkumpul lengkap. Sama seperti lebaran pada tahun-tahun sebelum Covid-19 menyerang.

Tak ketinggalan, saya dan keluarga juga mencicipi berbagai makanan yang disajikan oleh kerabat. Saya yang sedang seneng-senengnya bikin konten kuliner di media sosial tentu tak melewatkan kesempatan begitu saja.

Waktu itu, salah seorang kerabat menyajikan masakan entog, yang masih satu ras dengan bebek itu. Uniknya entog itu enggak dibeli dari pasar, melainkan dari orang yang masih bau-bau saudara juga yang rumahnya tinggal berdekatan. Entog itu baru disembelih sebelum dimasak, sehingga rasa dagingnya masih sangat fresh.

Daging entog ini dibumbuin kemudian disajikan dengan nasi kuning dan beragam gulai. Sebenarnya, masakan kayak gitu baru saya jumpai kali ini, sih hehe. Sepertinya tradisi keluarga kerabat saya tersebut.

Berbeda cerita dengan ketika mampir ke rumah saudara saya yang satu lagi. Kali ini, benar-benar dikasi suguhan berupa hidangan khas Surabaya, yakni rujak cingur.

Wuaaahh, happy bener, karena sudah lama enggak makan rujak cingur yang asli. Pernah sih, makan rujak cingur beli di Bogor, tetapi rasanya kurang nendang,

Mungkin juga faktor dari yang nguleg beda. Kalau di Surabaya, emak-emak yang biasa nguleg rujak memang enggak perlu dipertanyakan lagi kemampuannya. Kalau kata orang Surabaya, β€œlekoh” deh, jadinya tuh rujak.

Bersama rujak, waktu itu kami juga bisa menikmati es janggelan. Pada dasarnya es janggelan ini adalah cincau yang hitam itu. Namun, es janggelannya bening, enggak pakai santan.

Rujak cingur dan es janggelan, aaahhh, nikmat bener dinikmati saat cuaca panas, apalagi di Surabaya πŸ˜€ . Coba deh, bayangin, hehe.

Satu lagi yang khas di Surabaya. Ini pengalaman saya pribadi ya. Kalau lebaran tuh jarang ada opor dan ketupat, yang ada malah bakso. Kalau beruntung baksonya disajikan dengan ketupat/ lontong, hehe. Di Surabaya, orang-orang biasanya baru bikin opor dan ketupat seminggu setelah Hari Idulfitri πŸ˜€ . Namanya β€œKupatan”.

Semua hasil kulineran ketika keliling rumah saudara dan juga yang saya makan di rumah makan atau restoran di Surabaya tentu saya foto dan videoin. Foto dan video tersebut kemudian cepat-cepat saya upload di media sosial saya., agar updatean-nya enggak kelamaan πŸ˜› .

Selama di Surabaya, saya enggak kesulitan update media sosial maupun blog saya. Pasalnya, di rumah orang tua sudah terpasang jaringan internet IndiHome, sehingga tak ada masalah dengan sinyal untuk posting-posting kenangan bersama orang-orang tersayang saat lebaran. Jadi selama lebaran tuh saya masih bisa #BerkontenRiaBersamaIndiHome, lha.

Saya juga bisa sharing-sharing hasil foto dan video ke grup WhatsApp keluarga. Mereka yang belum bisa berjumpa, karena ada urusan pekerjaan atau bepergian ke kota lain jadi bisa update juga.

Memang kalau ada jaringan internet di rumah yang wus wus, tuh bikin happy yaaa. Soalnya, yang namanya internet tuh udah jadi semacam kebutuhan pokok buat saya sekeluarga. Tanpa internet, dunia sepertinya berbeda banget.

Apalagi, sebagai freelancer yang enggak mengenal liburan meski hari besar, saya ke mana-mana tetap harus mantengin kerjaan. Begitu pula suami, yang juga harus stand by, apabila sewaktu-waktu orang kantor menghubunginya. Maka, kami ke mana-mana ya bawa laptop dan pastinya butuh sekali yang namanya jaringan internet.

Alhamdulillah, karena ada WiFi IndiHome #InternetnyaIndonesia di rumah ortu, kami terbantu. Balas-balas dan kirim-kirim email pun lancar, meski suasana masih lebaran, hehe πŸ˜› . Yaaa, berkat sinyal IndiHome di rumah #AktivitasTanpaBatas lancar, deh. Selain bekerja, saya juga bisa memanfaatkan WiFi IndiHome untuk menghibur diri dengan menonton drama dan film di layanan streaming, saat sedang suntuk.

Ketika mulai senggang, saya pun memindahkan cerita mudik lebaran tahun ini ke blog saya. Harapannya, bisa mengikat kenangan mudik yang menyenangkan di tahun ini. Aamiin.

Adakah teman-teman yang tahun ini, untuk pertama kalinya setelah pandemi usai, mudik juga ke kampung halamannya? Bagaimana pengalaman mudiknya? Share ya di kolom komentar 😊.

April Hamsa

#IndiHomeVideoCompetition

#IndiHomePhotoCompetition

#IndiHomeBlogCompetition

Categorized in: