Yeaaahh, mendadak Blok M. Soalnya, kalau di-planning biasanya malah nggak jadi haha 😛 .
FYI, saya tuh sebenarnya tipe orang rumahan yang kalau nggak bener-bener perlu, males keluar rumah. Beda dengan suami dan anak-anak saya yang sering ngeluh, “Bosen di rumah mulu”, rrrrhh. Makanya, pas beberapa waktu lalu ada long wiken, saya maunya di rumah aja, dah, eh, pada pengen keluar rumah. Akhirnya, hari terakhir long wiken jadi deh kami sekeluarga mendadak OTW Blok M.
Itupun kami berangkatnya udah siang banget, selepas sholat Dhuhur dan makan siang, xixixi. Satu lagi, siang itu awannya pundung plus hujan mulai rintik.
Namun, karena mood emaknya (baca: saya 😛 ) lagi bagus, yawda GASSS, BUDHAL!!!
Kami ke Blok M-nya naik commuter line (KRL) turun di Stasiun Kebayoran Lama, kemudian lanjut jalan kaki melalui Skywalk Kebayoran Lama yang sering dijuluki “jembatan sirotol mustaqim” oleh orang-orang 😛 .

Skywalk Kebayoran.
BTW, sebenarnya jembatan ini tuh nggak panjang-panjang amat, sih. Gugling-gugling katanya nggak sampai 500 meter jaraknya dari ujung ke ujung. Cumaaan, mungkin karena lantai jembatannya tidak datar, ada naik turunnya. Ini kayaknya yang bikin capek.

Suasana skywalk.
Sampai ujung jembatan, kami turun ke bawah buat memesan kendaraan online. Eh, lha ndalah, hujan deres, donk, wkwk. Mana deket tempat kami menunggu ada penjual gorengan. Ya ampun, menggoda syekaleee 😀 .
Untungnya, nggak pakai lama, mobil yang kami pesan datang. Alhamdulillahnya lagi Ya Allah, dari skywalk ke Blok M jalanan lancar, walau ada genangan dikit. Justru macetnya malah di dalam kawasan Blok M-nya. Andai tidak hujan mungkin kami minta diturunkan di gerbang saja. Untungnya driver-nya baik dan menawarkan mau langsung nganter depan Gramedia Jalma persis.
Cendol di Gramedia Jalma
Yes, tujuan utama kami hari itu emang Gramedia Jalma. Dengan harapan hujan-hujan gini plus udah long wiken, mungkiiiiinnn, nggak terlalu banyak pengunjung. Eh, ya, tibake sik akeh wae pengunjungeeee, wkwk. Cendol-cendol, deh. Ramai tapi masih mayan lha bisa gerak 😛 .

Gramedia Jalma di kawasan Blok M.
Begitu masuk, batin saya, “Kok kecil ya Gramedianya?” Ternyata, kudu masuk ke dalam semacam Lorong di mana kanan kiri lorong adalah ruangan-ruangan yang disekat, gitu. Di ujung lorong baru, deh, Gramedianya terlihat lebih legaan.
Isinya yaaa sepanjang dinding adalah rak buku. Bedanya, interiornya cakep, bikin pengunjung betah nongkrong. Gramedia ini menyediakan banyak bangku, bahkan meja lengkap dengan colokan.


Bisa membaca buku dan buka laptop di sini.
Mereka yang duduk-duduk di bangku tersebut juga bisa membaca buku-buku yang disediakan untuk dibaca pengunjung. Ada rak khusus buat buku-buku ini. Jadi, yang mereka baca bukan buku baru ya, kan nggak boleh nyobek sampul plastik buku-buku yang dijual (kecuali izin), hehe.

Buku-buku yang ada di sini boleh dibaca di tempat.
Lalu, di bagian belakang ada kafe yang terkoneksi dengan Gramedia itu. Saya lupa nama kafenya, karena nggak minat masuk juga, karena full, keliatan dari kaca jendela.

Area buku anak.
Di tengah-tengah ruangan Gramedia yang luas tadi, terdapat semacam jembatan penghubung yang menghubungkan lantai yang agak rendah dengan ruang yang penuh bangku/ meja tadi yang levelling-nya lebih tinggi. Jembatan ini dihias dengan bunga-bunga artisan yang sepertinya berbentuk bunga Sakura, sehingga menambah semarak dekorasinya. Banyak orang saya lihat berfoto-foto di sini. Tapi, waktu itu saya nggak mood berpose di sana, haha.

Jembatan dengan bunga-bunga artisan.
Palingan setelah memilih buku, saya ngajakin anak-anak dan bapake berfoto di depan cermin cembung, apa to namane, yang biasa ada di prapatan jalan itu, lho? Convex mirror?
Di Gramedia itu soalnya tersedia beberapa cermin cembung. Banyak yang selfie-selfie gemes di depan cermin itu juga.
Memang, dari segi interior, Gramedia Jalma ini asyik banget buat pepotoan. Di ruang-ruang bersekat yang tadi saya ceritakan, dekorasinya juga menarik.

Pepotoan dulu.
Satu lagi yang tak kalah menarik perhatian adalah spot papan harapan. Jadi di sana disediakan sticky notes yang boleh bebas ditulisin apa saja. Kalau saya baca sih rata-rata menuliskan keinginan dan impian-impiannya. Di antara kami berempat cuma anak saya Dema doank yang nulis, haha. Tadinya saya mau menulis “Semoga rezim sekarang segera tumbang” wkwkwk 😛 , tapi wurung, hahahahahaha. Dahlah, emaknya nulis impian dan cita-cita pas tahajud wae #uhuks #benerinsarung 😛 .

Papan harapan.
BTW, ngobrolin tentang tulis-menulis, di Gramedia Jalma ini ternyata ada tukang bikin puisi dengan mesin ketik jadul, lho. Awalnya, ketika kami masuk toko, nih orangnya tidak ada di lokasi, sehingga saya pikir mesin ketiknya hanya bagian dari interior toko saja. Ternyata, saat saya masuk ke dalam salah satu area koleksi buku, di sebelahnya ada mbak-mbak lagi curhat, trus ada mas-mas di depan mesin ketik tadi sedang mendengarkan mbaknya, sembari sesekali nanya-nanya.

Area lorong.
Setelah mbaknya curhat, sepertinya masnya mengetik sesuatu pakai mesin ketik tadi. Ternyata, hasilnya adalah puisi berdasarkan kisah curhatan tadi.
Saya nggak tahu jasa bikin puisi itu free atau berbayar, karena nggak ada keterangannya juga di area mesin ketik itu, saya juga males nanya, hihihi 😛 .
Puas melihat-lihat seisi Gramedia Jalma dan memilih beberapa buku untuk dibawa pulang, kami pun keluar toko buku itu.
Makan sore di Pujasera Blok M
Namun, kami tak langsung pulang, donk. Kondisinya juga masih gerimis, apalagi keknya belum ke Blok M rasanya kalau belum kulineran di sana, yekan? 😀
Tadinya, saya tuh kepengennya ke tempat kekinian yang sering disebut-sebut orang sebagai M Bloc itu, lho. Cuma, saya tidak tahu ini tuh di mana. Katanya di sana banyak kafe-kafe kekinian, gitu. Ya nggak, sih?
Yaweslah, karena hujan juga, saya memutuskan untuk masuk area yang kami kenal saja, yakni Pasaraya Blok M. Lokasinya persis di seberang Gramedia Jalma, jadi tinggal nyeberang aja.
Buat saya dan keluarga ini bukan pertama kalinya kami masuk pasaraya ini. Saya sendiri sepertinya udah 3-4 kali keknya ke sana. Kalau buat anak-anak udah dua kali ini. Dulu pertama kali mereka saya ajak ke sini buat nyari buku-buku bekas yang ada lapaknya di sana (masih satu lantai dengan pujasera).

Kedai Rukun Yakarta.
Saya kemudian ngide buat ngajakin suami dan anak-anak makan di pujasera Blok M saja di area bawah (kalau nggak keliru pokoknya turun tangga dua kali dari area terasnya pujasera), buat makan di Kedai Rukun Yakarta. Dulu saya pernah kulineran di sana bareng teman-teman blogger Depok. Sepertinya belum sempat saya review, keburu ilang dokumentasinya dari HP saya haha 😛 . Yawda, makan sekaligus pepotoan lagi.

Waktu ke sana dengan teman-teman blogger Depok.
Awalnya saya lupa-lupa ingat di mana lokasi kedainya. Ingatnya cuma dekat salah pintu masuk pujasera (ada beberapa pintu) dan di dekat pintu itu ada tabung pemadam kebakaran dicantolin. Tapi kok nggak nemu-nemu ya.
Kami pun muter-muter dari satu kedai ke kedai lain yang emang banyak di sana. Udah hampir menyerah buat nyari, dahlah makan di tempat lain aja, eh, ternyata kata suami dan anak-anak, kami udah muterin lokasi itu dua kali, wkwk. Mata nih meleng ke mana aja, sih? Kok nggak nyadar kalau dah dilewati 😛 .
Suasana bangku-bangku depan kedai itu cukup ramai, tetapi masih ada meja kosong yang bisa kami tempati. Untuk order-nya bisa langsung ke kedainya, lalu nanti makanan akan diantar ke meja, dan konsepnya bayar belakangan.
Makan bareng keluarga.
Saya kemudian memesan beberapa makanan yaitu garang asem, mangut lele, oseng mercon, tempe goreng, dan empat nasi. Buat minumnya sebenarnya saya kepengen banget es tapenya, tapi sayangnya katanya sedang nggak dijual.
Dulu waktu ke sana sama teman-teman blogger Depok saya pernah order es tape itu. Rasanya enak, nggak terlalu manis.
Karena minuman yang saya cari tidak ada akhirnya saya ambil dua botol air mineral saja. Sementara suami saya membeli es pisang ijo dari kedai yang tak jauh dari sana.
Dulu, awal-awal pujasera ini ngehits, Kedai Rukun Yakarta ini termasuk salah satu resto yang viral. Makanan yang paling terkenal katanya dadar kriwilnya atau apa gitu dan garang asemnya. Cuma hari itu saya nggak memesan telurnya.
Garang asamnya ini segar, gurih, dan mayan comforting dimakan di cuaca hujan-hujan. Isinya dua potongan besar sayap ayam dengan kuah santan yang cenderung encer. Ada potongan tomat hujau dan belimbing wuluh juga yang memberikan rasa asem segar. Rasanya nggak terlalu pedes, sehingga aman dimakan anak-anak.

Garang asem.
Mangut lelenya ini merupakan hidangan satu ekor lele dengan ukuran yang lumayan gede disajikan dengan santan yang juga encer. Rasanya gurih, pedas, tetapi pedasnya bukan yang nyegrak gitu. Pas saja kok rasanya. Anak saya, Maxy, suka banget makanan ini. Kebetulan dia juga penyuka pedas.

Mangut lele.
Untuk oseng merconnya, ini tuh sepertinya daging sapi yang ditumis dengan bumbu pedas. Tekstur dagingnya empuk, sehingga tidak susah dikunyag. Bumbunya juga meresap ke dagingnya. Walaupun pedas, tetapi lagi-lagi levelnya nggak sampai menutupi rasa gurih rempahnya.

Oseng mercon.
Lalu, tempe gorengnya, saya lupa dapat dua atau tiga potongan tempe yang digoreng tepung dengan ukuran yang lumayan gedhe. Sayangnya, hari itu tempenya kurang hangat. Mungkin karena datang kesorean kali ya?

Tempe goreng.
Terakhir, es pisang ijonya, awalnya saya curiga bakal manis banget. Nggak minat makan juga, karena sedang mengurangi makanan manis. Ternyata, setelah nyobain dikit, manisnya cukup OK. Pisang ijonya juga ukuran porsinya cukup gedhe, dahlah menyang, deh hehe.

Es pisang ijo.
Saya lupa es pisang ijo ini harganya berapa, karena suami yang ngide beli sendiri haha. Namun, kalau untuk makanan dan minuman di Kedai Rukun Yogyakarta, kami membayar Rp109.000 untuk semua makanan dan air mineral tadi.

Tempat beli es pisang ijo.
Lho, kok murah? Biasanya kami makan berempat tuh minimal banget habis 200 ribuan. Saya sampai menyebutkan ulang pesanan saya apa saja ke masnya, khawatir masnya salah ngitung, kata masnya tetep harga yang dibayar segitu, hehe.
Pasalnya, beda dengan dulu, sekarang tuh di kedai itu nggak dicantumin harga makanannya. Saya pede aja makan di sana, karena udah pernah kan? Nah, pas bayar itu saya kelupaan minta copyan struk karena udah sore banget, mana belum sholat Ashar 😀 .
Melihat Kabah di sore hari yang mendung
Waktu itu keknya udah hampir jam 5 sore, kami buru-buru mencari masjidnya. Denger-denger masjid di sana yang namanya Masjid Nurul Iman tuh suka ngadain kajian-kajian ngundang ustad-ustad terkenal. Peminatnya juga membludak, gitu. Sampai kadang katanya tidak kebagian tempat duduk. Sore itu sih nggak ada kajian, sehingga relatif sepi.
Masjid Nurul Iman ini berada di lantai 7 pasaraya. Kalau mau ke sana ternyata naik ke lantai 5 dulu, lift-nya mentok sampai lantai itu, lalu lanjut ke lantai 7-nya pakai elevator.
Sampai di lantai yang dituju, nanti kita akan menemukan tangga menuju ke masjid. Setelah naik tangga, masyaAllah ngimpi apa, kami langsung melihat Kabah 😀 . Maksudnya, di sana ada miniatur Kabah. Ternyata masjid ini sering dijadikan sebagai tempat latihan manasik oleh orang-orang.

Tempat buat latihan manasik haji.
Yaaa, semoga nanti bisa lihat Kabah beneran Ya Allah. Aaminin duluuu 😀 .
Masjid ini memisahkan tempat sholat jamaah cowok dan cewek. Kalau cowok ada di sebelah kiri miniatur Kabah tadi, sedangkan cewek di sebelah kanannya.
Lha, kalau sholat berjamaah gimana?
Kalau sholat jamaah, di bagian tempat sholat cewek ada layar segede gaban yang merekam imam pemimpin sholat dari ruangan cowok.

Vibesnya kek masjid-masjid di Tanah Suci yaaa :D .
Masjidnya adem banget AC-nya. Beberapa ornament dirancang menyerupai masjid-masjid di Makkah dan Madinah. Dominasi warna putih emas, dengan pilar-pilar ikonik yang sering kita lihat di gambar-gambar masjid di tanah suci gitu.
Tempat wudhunya resik, airnya melimpah, adem. Nyaman, deh. Lalu, di sepanjang lorong area jamaah cewek ada beberapa orang berjualan aksesoris muslim juga jajanan.
Pulang dari Blok M
Setelah sholat Ashar, kami pun keluar dari pasaraya. Tadinya mau cari jajanan apa gitu. Nemunya toko donat viral, sayangnya saya lihat sepertinya di etalase kayak udah banyak yang habis. Apa masih manggang/ goreng lagi, entahlah, karena suasana juga crowded kami memutuskan pulang saja.
Kali ini kami nggak naik mobil langsung ke Stasiun Kebayoran, melainkan mau naik MRT saja. Planningnya bisa naik KRL dari Stasiun Tanah Abang supaya dapat kursi buat duduk sejak awal keberangkatan. Plus, bisa numpang Maghriban di Stasiun MRT Dukuh Atas atau Stasiun KRL Tanah Abang yang musholanya lebih nyaman.

Kawasan Blok M dilihat dari Stasiun MRT.
Kami pun berjalan menyusuri trotoar yang ramai dengan orang, terutama anak-anak muda. Sayangnya, sepanjang jalan, ada aja orang ngebul alias merokok atau ngevape. Menjadikan kawasan ini kurang ramah keluarga huhu.
Apalagi parkir mobil dan motor yang semrawut, weleeehh. Menurut saya kawasan Blok M ini akan lebih potensial kalau lebih diatur lagi. Apalagi, kayaknya wisatawan asing, kayak orang-orang Malaysia, bahkan beberapa kali saya dengar artis-artis Korea, juga suka main ke Blok M. Kayak sayang aja gitu, tempat yang begitu potensial menjadi ikon Jakarta masih kurang tertata.

Semoga di masa mendatang Blok M bisa ditata lebih bagus lagi.
Mungkin bisa dimulai dengan menyediakan parkir kendaraan yang lebih proper kali ya? Trus, trotoar yang rusak diperbaiki, jadi nggak belang bentong, sehingga kalau hujan banyak genangan dan nggak ramah pejalan kaki. Kalau perlu ada larangan merokok juga lebih oke, tuh. Yaweslah, selebihnya biar pemkot DKI saja yang mikir hahaha 😛 .
Harapan saya sebagai rakyat jelata sih semoga ikon jalan-jalannya orang Jakarta sejak dulu kala ini makin bagus dari masa ke masa 😀 .
Adakah teman-teman yang suka main ke Blok M juga? Share pengalamanmu ya 😀 .
April Hamsa


Wah asyik ya di kota.. salam dari desa