Beberapa waktu lalu ada orang di Threads bahas tentang Warung Tuman, salah satu rumah makan yang keknya orang se-BSD dan Serpong udah kenal. Trus, saya nanya, “Apakah masih perlu ngantre kalau makan di sana?” Soalnya, waktu ke sana akhir tahun 2022 lalu (lama banget, yeee? 😛 ), saya menunggu hampir satu jam, wkwk. Lalu, dijawab, “Nggak.” Ooo, berarti udah lebih nyaman nih kalau ke sana 😀 .
Yes, Warung Tuman yang katanya berdiri sejak 2019 ini, emang heits banget sekitar tahun 2021-2022-an. Orang-orang menyebut rumah makan ini sebagai hidden gems. Salah satu yang membuatnya disebut “hidden” karena lokasinya yang masuk ke perkampungan penduduk, menyusuri gang sempit, bahkan melewati area pemakaman (bener-bener komplek kuburan tanpa pagar). Kek, menantang banget gitu cuma buat makan aja, wkwkwk 😛 .
Foto keluarga di depan Warung Tuman.
Denger-denger orang-orang kalau ke sana tuh pada nyari telur dadarnya. Telur dadar gaek, namanya. Bukan telur dadar ala Jawa, tapi katanya lebih ke Minang. Yup, mulanya saya pikir konsepnya rumah makan Jawa tapi kok ada Minang-Minangnya? Hmmm, yoweslah 😀 .
Oh ya, selain menu makanan dan lokasinya yang unik, hal lain yang membuat rumah makan Warung Tuman ramai dikunjungi orang adalah karena menawarkan konsep outdoor yang menonjolkan suasana kampung di tengah kota. Di sini, pengunjung bisa makan di bawa rerimbunan pohon bambu dan pohon-pohon besar lainnya. Kemudian, interior bangunannya dibuat ala-ala dapur nenek di kampung, dengan banyak perabotan dari kayu, serta piring makan dan gelas dari bahan enamel yang bergaya vintage.
Datang dadakan ke Warung Tuman
BTW, sebenarnya saya tuh tipe orang yang nggak terlalu tertarik nyobain yang viral-viral, kecuali buat kebutuhan job content 😀 . Waktu itu, saya mengira kalau viralnya rumah makan ini udah mulai reda, sehingga kepengen, deh, ke sana.
Kalau nggak keliru sehari sebelumnya tuh ada temen yang sempat makan di sana juga. Tapi Ya Allah, saya kok bisa lupa siapa, seeehh… hiks. Entah waktu itu ngobrol via IG atau FB atau WA atau bahkan X, gitu, trus intinya dia menyarankan buat kontak dulu ke CS Warung Tuman.
Waktu itu, entah, Sabtu atau Minggu, gitu, pokoknya wiken, saya bertanya di kolom komentar IG-nya, apakah kalau mau ke sana perlu reservasi dulu atau nggak. Ternyata admin IG-nya cukup responsif, langsung dijawab. Katanya, langsung datang saja tanpa reservasi. Makanya, saya mengira udah redaan nih viralnya.
Kami ke sana naik moda transportasi KRL turun di Stasiun Rawabuntu (BSD lama). Dari situ, kami naik taksi online menuju Warung Tuman. Sayangnya dapat driver yang nggak tahu lokasi rumah makan viral ini.

Melewati kuburan.
Jadi, sebenarnya kalau udah ketemu area jalan bernama Loka-Loka-an yang ada di BSD tuh, tinggal nyari jembatan kuning (warnanya waktu itu), turun sana aja. Ternyata, driver-nya mengikuti map online yang menyarankan masuk melalui perkampungan. Kami juga baru ngeuh sama jembatan ini ketika pulangnya. Lha, lebih dekat ke jalan raya utama kalau melalui jembatan ini. Yawdalah, kalau nggak gitu nggak tahu hehe.

Pintu masuk ke rumah makan (kiri) dan area makan dengan atap (kanan).
Kalau tidak keliru kami diturunkan di gang kecil, kemudian berjalan kaki menuju Warung Tuman. Aksesnya memang jalan kampung antara aspal biasa, paving block, hingga tanah dengan rerumputan. Kecil aja. Hanya bisa dilewati roda dua. Kalaupun ada yang datang naik mobil, ini nanti parkiranya juga agak jauh dari lokasi rumah makannya.
Jalannya nanti melewati area pemakaman yang tidak ada pagarnya. Kalau sekarang nggak tahu ya dipagarin atau nggak, tapi kayaknya nggak, deh, karena kuburannya nyatu sama jalan yang kami lalui.

Bisa pilih lesehan.

Makan di bawah pohon-pohon.
Tak jauh dari komplek makam, akhirnya kami menemukan Warung Tuman ini. Nggak sulit menemukannya, karena terlihat pohon-pohon dan pagar bambu yang menjadi salah satu ciri khas rumah makan ini.
Sampai sana, ternyataaaa, ruameeeee gaeess, hahaha. Selain kami juga ada beberapa orang lainnya yang baru datang. Akhirnya oleh petugasnya, seorang mas-mas yang pakai semacam udeng dan kain jarik. Pegawai rumah makan ini memang mengenakan dresscode kebaya dan kain, gitu. Nama kami didata, lalu diminta menunggu. Untung ada kek bangku-bangku dari kayu buat duduk.

Masnya kasi nomor antrean.
Di bawah pohon bambu yang cukup besar tampak sekelompok musikus atau grup band memainkan musik. Yaaa, mayan lha buat hiburan yang lagi nunggu giliran makan.

Live music di bawah pohon bambu.
Sembari menunggu, kami juga menyaksikan satu demi satu makanan disajikan di semacam gubug yang ada di dekat tempat kami duduk. Baik aroma maupun penampilan makanannya begitu menggoda, haha. Mana udah laper, karena sudah melewati jam makan siang yang normal. Alhamdulillah anak-anak juga nggak crancky, karena nunggu mayan lama. Seperti yang saya bilang di atas tadi, hampir satu jam lamanya.

Mau makan ngantre wkwk.

Sambil ngliatin makanan orang lain yang mau diantar wkwk 😛 .
Gubug tempat mereka menyajikan makanan memang ada yang berlokasi di depan. Ada kompor juga, sepertinya khusus buat menghangatkan makanan atau untuk menggoreng camilan-camilan, karena saya perhatikan di area tengah kebun yang ada di rumah makan itu juga ada dapurnya, dengan beberapa kompor gas warna pink diletakkan berjajar.

Dapur di area tengah-tengah.
Setelah nama suami dipanggil, kami pun akhirnya bisa masuk ke area pemesanan makanan. Waktu itu konsepnya begitu dapat giliran bisa langsung melihat menu di spanduk yang berisi list menu makanan, kemudian memesan ke petugas.

Memesan makanan di sini.
Saya melirik ada serba ikan, aneka masakan berbahan dasar daging ayam, juga bebek. Buat pendampingnya ada beberapa gorengan, seperti bakwan, tempe mendoan, pisang goreng, tahu selimut, dan tak ketinggalan telur dadar gaek yang sudah saya mention sebelumnya.

Dapur yang selalu ngebul.

Melihat tempe mendoan digoreng.
Setelah selesai memesan makanan, petugas akan mengantar ke meja yang ready. Oh ya, untuk minuman sepertinya dipesan di gubug lain yang lokasinya agak di tengah kebun. Jadi, setelah dapat duduk, kami baru order minumannya.

Tempat buat order minuman.
Area makannya ada beberapa pilihan, ada yang di bawah atap, ada yang di semacam saung, serta ada yang bener-bener di outdoor di kebun, di bawah pepohonan yang rindang. Kami kebagian di tempat yang saya sebut terakhir.
Gimana ya menjelaskan konsep desain rumah makan ini? Hmmm, jadi rumah makan ini tuh pada dasarnya sebuah kebun yang luas dengan beberapa bangunan semacam gubug-gubug kayu gitu. Ada gubug buat dapur, ada gubug buat makan, dll. Kemudian di kebun juga banyak bangku dan kursi buat makan. Untuk fasilitas toilet dan mushola ada juga, tetapi waktu saya nggak menggunakannya, sih, sehingga tidak bisa cerita lebih jauh tentang kedua fasilitas itu.
Lalu, ada juga area beli durian di bagian belakang. Cuma, waktu itu, kami nggak beli, sih.

Makan di kebon 😀 .
Untuk lokasi tempat kami duduk, sebenarnya enak, sih. Anginnya semilir, udaranya sejuk, dan walaupun kami ke sana siang-siang (jelang sore) tempatnya adem karena banyak pepohonan rindang. Asal nggak pas turun hujan aja, haha.
Minusnya ada nyamuk dan serangga lainnya aja. Namun, kalau ke sana baju lengan panjang kayaknya aman. Bila perlu bawa saja lotion antinyamuk buat jaga-jaga.

Peralatan makan diwadahin wakul.
Setelah kami duduk di meja, ada semacam wadah bakul yang diantarkan ke kami. Kirain isinya apaan, nasi atau apa, gitu, ternyata sendok garpu haha. Untuk mangkuk kobokan keknya nggak ada ya, karena mereka menyediakan wastafel yang aliran airnya lumayan kenceng, lengkap dengan sabun cuci tangannya.
Makanan dan minuman yang kami nikmati di Warung Tuman
Untuk makanan yang kami pesan hari itu, ternyata kebanyakan, haha 😛 . Namun, saya lupa apa ya makanan yang nggak habis, pokoknya ada deh yang kami bungkus sebelum pulang. Uniknya, kalau nggak salah inget, rumah makan ini tuh ada gubug khususnya untuk melayani bungkus-membungkus makanan yang tidak habis ini. Kalau tidak keliru lokasinya tak jauh dari kasir. Kalau sekarang nggak tahu ya, masih ada atau nggak.

Makanan yang kami pesan waktu itu.
Makanan yang kami pesan waktu itu: satu porsi mangut pari, satu dendeng batokok, satu biji (bukan ekor 😛 ) ayam kampung goreng, satu mangkuk sup ayam kampung, seporsi tepe mendoan, satu telur dadar gaek, dan empat piring nasi. Buat minumnya tiga gelas es teh manis dan satu jeruk hangat. Oh ya, kami juga memesan peyek kacang.
Lalu, ada juga sambal merah. Cuma saya lupa, sebenarnya sambalnya ini free atau beli waktu itu. Soalnya di struk (foto struk 😛 ) nggak ada tulisan sambalnya, sementara sebenarnya masing-masing sambal tuh dijual terpisah dengan harga Rp5.000,-. Bisa juga karena sudah termasuk paketan dari lauk yang kami pesan. Tapi mungkin juga bonus karena pesanan kami lumayan banyak apa ya? Haha au deh, lupa.
Kembali ke makanan yang kami pesan, pertama ada telur dadar gaek. Telur ini tuh mirip dengan telur barendo yang digoreng garing dan teksturnya tebal. Ini yang tadi saya maksud terinspirasi dari kuliner khas Minang tadi.

Telur dadar gaek.
Rasa telur dadar gaek ini renyah dan ada serabut-serabutnya. Kebetulan waktu itu melihat sendiri cara menggorengnya, yakni digoreng dengan minyak yang banyak, sewajan, dengan minyak yang puanaaass.
Meskipun bagian luarnya garing dan renyah, ternyata bagian dalam telur dadarnya masih lembut, lho. Bumbunya juga nggak sekadar asin doank, tetapi cukup kaya rasa. Ada sedikit pedas-pedasnya, tetapi bukan pedas sambal. Pedas berbumbu, gitu, lho. Trus,agak berminyak, sih. Namanya juga dicemplungin ke minyak yang seabreg-abreg, yekan, haha.
Untuk ayam kampung gorengnya, kami mendapatkan bagian paha ayam yang cukup gedhe. Ayam goreng ini disajikan dengan kremesan berwarna kuning cerah dan lalapan mentimun. Bisa jadi sambal merah yang saya pesan tadi juga pendamping menu ini.

Ayam goreng kampung.
Tekstur dagingnya padat berisi, tetapi tidak keras. Mudah dicuwil juga dari tulangnya. Rasanya sangat gurih 😀 .
Lalu, untuk mangut parinya, denger-denger menu ini merupakan salah satu menu yang banyak dicari pelanggan Warung Tuman juga. Mangut pari ini disajikan dengan kuah santan yang cukup kental.

Mangut pari asap.
Aroma smoky dari ikan ini sangat terasa. Daging ikannya cukup berserat dan empuk. Sementara, rasa santannya gurih dan sedikit pedas.
Dendeng batokoknya disajikan bersama sambal cabai ijo yang sepertinya diuleg kasar. Dagingnya empuk, tidak alot, mudah sekali digigit dan dikunyah. Rasanya cenderung gurih dan pedas.

Dendeng batokok dan sambal merah.
Kemudian sup ayam kampungnya, sebenarnya isiannya seperti masakan sup di rumah kita ((KITA)), sih. Maksudnya isiannya cukup “sederhana”, yakni potongan wortel, kentang, daun bawang, lengkap dengan taburan bawang goreng. Bedanya ada irisan daging dan tulang ayam kampung.

Sup ayam kampung.
Kuahnya agak hitam, tetapi tidak kental, lebih ke cair banget. Cita rasa dari kuah kaldu ayamnya begitu terasa menonjol. Rasa kuah kaldunya yang segar menjadi penyeimbang ketika memakan mangut yang berkuah santan pekat dan dendeng batokok yang pedas berlemak.
Sup ini tidak pedas sama sekali. Cocok buat pengunjung yang membawa anak kecil atau yang memang tidak suka pedas.
Makanan penutupnya atau sebut aja camilan lha ya yakni tempe mendoan. Potongan tempenya tipis tetapi lebar banget. Teksturnya lebih ke lembut, agak lembek, enggak renyah, dan sedikit berminyak. Baluran tepungnya diberi irisan daun bawang sehingga aromanya enak.

Minuman dan mendoan.
Tempe mendoan ini disajikan dengan sambal kecap yang diberi irisan cabai rawit yang segar. Buat orang yang suka pedas, wajib banget nih, makan tempe mendoannya sambil dicocol ke sambal kecap ini.
Terakhir adalah peyek kacang. Ini kami dapat sebungkus lumayan banyak. Peyek kacang ini kacangnya bukan kacang tanah, melainkan kacang hijau. Rasanya renyah banget. Cocok dinikmati bersama hidangan utama.
Setelah makan semua menu makanan di atas udah paling enak minum minuman sederhana kek es teh haha (dokter gizi nanges, GPP ya, Dok, sesekali aja 😛 ). Es tehnya tuh teh tubruk gitu, bisa request manis atau tanpa gula. Es jeruk juga cucok, tapi waktu itu kami memesan jeruk anget karena lagi flu 😀 .

Porsi nasi putihnya lumayan banyak.
Untuk semua makanan yang kami pesan kami membayar total Rp212.200,- sudah termasuk pajak sekitar Rp19000,-an. Menurut saya worth it, sih, karena porsinya lumayan banyak, kami juga sempat membungkus karena ada makanan yang tidak habis (sekali lagi, walau saya lupa apaan yang nggak habis waktu itu, hahaha 😛 ).
Itulah teman-teman cerita keluarga kami makan siang dadakan di Warung Tuman BSD yang duluuuu viral. Menurut saya, rumah makan ini juga cocok buat makan bersama keluarga. Kapan-kapan kalau ada keluarga berkunjung ke rumah, mungkin, mau kami ajak ke sana juga, ah. Asal nggak ngeluh jalan kakinya jauh aja hihihi. Nggak kok, buat yang suka jalan kaki, jarak parkir mobil ke rumah makannya nggak sejauh itu #imho 😀 .
Oh ya, FYI, alamat lengkap Warung Tuman di sini ya.
Warung Tuman BSD ini buka pagi hingga sore aja, malam udah kukut. Horor kali ya, kalau buka malam secara kebonan xixixi. Lalu, selama Bulan Ramadan kek sekarang ini, mereka tutup, baru buka lagi setelah lebaran. Bisa cek Instagramnya di @warung_tuman_bsd ya. Semoga info ini bermanfaat! 😀
April Hamsa


Warung Tuman ini memang hidden gem yang legendaris ya. Membayangkan makan telur dadar gaek dan mangut pari di bawah pohon bambu yang rindang rasanya adem banget, apalagi ada live music-nya.
Meskipun harus melewati area pemakaman dan antre sejam, sepertinya terbayar tuntas dengan suasana “dapur nenek” dan rasa masakannya yang otentik. Ternyata sekarang sudah tidak perlu antre lama ya? Jadi pengen ke sana juga buat merasakan sensasi makan di “kebon” tengah kota.
iya mas, ikut seneng karena rumah makan ini bertahan. Iyaaa, ini bener2 kek makan di kebon hahaha.
Aku pengin lah ada yang ngajakin ke Warung Tuman. Akutuh hampir seminggu sekali ke BSD, tapi Suami selalu nolak diajakin ke sini setelah diinfoin kalau parkiran ga ada, pakai jalan kaki, antri pula…Mau makan aja kok repot katanya , huwaaa.
Kupikir sejak lama viral udahan ramenya , ternyata tetep antriiii ya. Padahal menggoda tuh menunya, murah pula harganya. Kapan-kapan deh sama teman aja aku kesininya
Nah, sekarang katanya gak pakai ngantre mbak, coba aja ke sana hehe.
Itu harga tahun 2022 sih,mungkin sekarang ada beberapa harga naik.
Iya, parkiran mobil ke rumah makannya kudu jalan kaki dulu tapi ya cuma berapa meter gitu kok. Kalau parkiran motor ada di dekat rumah makannya persis.
Pantas Warung Tuman ini ramai dan harus pakai nomor antrean ya, Mbak karena memang suasananya seasyik itu makan di tengah pohon bambu. Bahkan hits beberapa tahun yang lalu. Serasa masuk ke masa tempo Doeloe ya Mbak. Sampai piring dan gelasnya juga yang kaleng. Dari fotonya. Telur dadarnya memang paling menarik hati. Itu dicocol sambal dengan nasi hangat, wih.. sudah juara Mbak hehehe. Nah saya juga sempat salfok dengan foto pertama Mbak. Itu mainan kuda-kudaan kok ditaruh di atas atap? Padahal bisa dimainin anak-anak kecil pas sedang nungguin antre
Ini sama banget sama suami aku, udah paling males kalau diajak ke yang viral2, apalagi rame dan antri sampai sejam gitu. Wah, udah gak selera makan dia.
Tapi salut sih, gak cuma di awal buka aja dia viral dan ramai, tapi sampai sekarang pun. Berarti emang worth it, ya suasananya, ya rasa makanannya. Plus harganya juga yang terjangkau.
Aku suka tempat makan yang kelihatannya sederhana tapi rasanya nggak main-main. Biasanya justru yang seperti itu bikin pengen balik lagi. Dari ceritanya kelihatan kalau tempat ini memang punya ciri khas sendiri. Ngiler banget dendeng batokonya yng disajikan sama sambel ijo,, hmmm yummy
Ini beneran hidden gem, sampe lewatin area pemakaman segala. Salutnya viral long lasting. Mungkin karena rasa makanan, minuman, kenyamanan dan harga juga sengaruh itu ya buat narik pelanggan.
Aku suka sih konsepnya, berandai bila dekat sama Bogor hehehe. Pengen sekali mampirin apalagi ada yang jual durian segala ???
Mendoannya, menggugah selera banget sih, kebayang nikmat lezat. Fotbar keluarga di depan warung tuman, indah nian. Masha Allah sekali, resep melihatnya.
Konsep antri sambil lihatin makanan, wadidaw, makin laper aja dong hehehee.
Warung Tuman BSD ini rekomen dan jujurly kalau suatu hari bisa kesana pastinya happy dannn iya kenapa minumnya es teh wkkwkw dokter gizi langsung geleng kepala.
Iya ya Mbak sepakat
Kalau saya lebih ke printilan makanannya masih pakai piring seng yang bener bener nikmat vibes-nya makan di situ
Ah, kapan ya diajak ke Warung Tuman
Namanya aja lucu, wkwkwkw
Bagus konsep rumah makannya, vintage dan suasana kampungnya dapet banget. Tapi saya agak kepikiran juga nih, itu kan di kebun gitu yaa terus tanahnya gak ada rumputnya, kalau hujan apa gak becek yaa jadinya. Makanannya terlihat menggoda enak-enak, saya pengen mangut ikan itu ada santannya yaa sepertinya. mendoannya juga enak banget itu dimakan panas-panas sama teh tawar anget, aduuh mantaap. Cuma saya gimana yaa rasanya itu lewatin kuburan hehehe,,,,tapi warungnya gak buka malam kan? kalau malam-malam lewatin kuburan takut hehehe,,, Jadi bener yaa kalau tempat kuliner tuh meskipun akses menuju ke tempatnya bisa dibilang jauh dan harus effort lah jalan gitu yaa tapi kalau rasa makanan dan pelayanan oke, orang akan banyak ang datang,,,,karena makanannya enak dan layanan bagus jadi seneng deh.
Iya mbak aku bayangin kalau hujan. Kayaknya agak gimana gitu terus kan jalannya ngelewatin makam juga, cumaaa dari kekhawatiran itu udahlah. Terpenting tempatnya oke banget ya, bikin enjoy, makannya variatif juga. Salut aku sama owner-nya dan kalau banyak yang balik lagi, artinya ini warung tuman sangat disukai dan rekomen. Aku penasaran sih pengen kesana.
saya salfok denga foto pertama, Mbak April. Itu kenapa mainan kuda-kudaan kayu ditaruh di atap ya? Padahal bisa dimainin anak-anak kecil pas nunggu antrean hehehe.
Tapi wajar saja kalau Warung Tuman ini tetap ramai dan hits bebeberap tahun lalu. Soalnya suasananya asyik. Sangat pedesaan. di tengah pohon bambu. Apalagi perjalanan ke sana cukup menantang juga ya. Dari fotonya, terlur dadarnya memang paling menarik hai nih, Mbak. dicocol sambal dengan nasi putih hangat dan lalapan, itu sudah juara hehehe.
Setuju sama Pak Bams, lokasinya apik. Sejuk ini buat datang bareng keluarga ke sana. Cuma kayaknya pas puasa begini bakal ramai banget kali ya.
Nah mungkin kuda-kudaannya buat mainan anabul Pak hehe. Siapa tahu kan ada anabul di sana, dan bisa juga sebagai petunjuk bahwa itulah Warung Tuman, jadi dari jauh udah kelihatan gitu.
Gak bakal rame mbak, kan tutup selama puasaan hahahaha, di hari biasa pun mereka nggak buka malam, cuma sampai sore 😛
Viral dari beberapa tahun lalu tapi sampai sekarang masih rame ya, Mba, berarti selain makanannya enak, harga terjangkau, tempatnya juga nyaman meski harus melewati area perumahan dan kuburan dulu sebelumnya. Para pegawainya pakai baju khas Jawa jadi berasa banget ya lagi makan di Jawa ditambah area makannya outdoor saya suka sih tempatnya
Serius tempat ini sempat viral?
Tapi kalau tempatnya kayak gini, rindang terus hijau, nggak heran viral karena beneran hidden gems.
Aku malah salfok ngelewati kuburan lho.. Bener² nyempil poll tempat e.. ??
Wah beberapa kali baca ulasannya menarik banget yaa jadi pengen cobain tapi kalau musim liburan kebayang ramenya.. mana suasana warungnya syahdu banget hihi berasa di desa mana di Jawa..
Tuman ini artinya kebiasaan gitu nggak sih? Kayak “dasar tuman” gitu bilangnnya. Ini bisa jadi doa juga ya buat rumah makannya biar yang datang jadi sering makan di sana
Aku belum pernah ke siniii.. Nanti coba deh pas liburan.. Ternyata menunya khas Nusantara dengan pilihan lauk tradisional yang banyak banget ya Mbaaa.., Bikin ngiler ini mangut ikan pari asap, nila calabalatuik, dan telor dadar gaek …. Suasana outdoor lengkap pohon bambu yang rindang plus live music bikin makan di sana pastinya makin asik buat quality time bareng keluarga atau teman. Porsinya juga ternyata cukup ramah di kantong,…
Unik ya warung ini
Emang hidden gem ya
Agak horor, kudu lewat kuburan
Ini konsep vintage di tengah-tengah BSD yang modern ya
Masakannya bikin tuman pengen datang lagi nggak?
Mbak, kok sabar banget menunggu sampai 1 jam, kalau aku sepertinya bakal ngabur aja deh wkwkwk
Btw mungkin alasan nakam tutup karena jalurnya melewati makam ya, jadikan horor kalau lewat situ
Memang unik konsep yang ditawarkan dan menunya menggoda euy. Duh salah waktu baca nih aku, jadi pengen wkwkwk
Kelihatan sekali vibesnya nyaman dan seperti dikampung ini. Terus harga makanannya juga relatif terjangkau. Cocok untuk bukber bersama keluarga ❤️❤️
Keren euy, padahal viralnya tuh 3 tahun yang lalu. Tapi sampe sekarang masih rame terus, berarti emang tempatnya oke dan makanannya juga enak ya mbak.
Dn pas lihat foto-foto makanannya, beuh.. emang syedap betull itu sih. Ngeliat sambel ijonya, terus dadar telornya juga mekar sempurna ya. Saya pernah nyobain dadar telor begini, gagal mele. Endingnya malah gosong separo, hahahaha
Dan dari pas awal baca aku udah kepikiran, “apa gak banyak nyamuk tah?” Ternyata benerrr ya, kudu sedia soffel yang banyak.
Nganu, kalo ini buka sampe malem. Saya bungkus aja ya, hahaahaha
Sepertinya warung tuman ini viralnya long lasting. Pinter juga management menjaga tempat dan kenyamanan para konsumen untuk bisa balik lagi dan menceritakan testimoni secara natural karena merasa nyaman dan enjoy saat makan disana.
Aku kalau punya kendaraan rasanya pengen meluncur dan nyobain aneka makannya. Manalah tempatnya unik sekali kan. Maka tak heran kalau sampai hari ini tetap ramai dan disukai.
Wah, April udah 2x dong ya makan di Warung Tuman, 2022 dan 2026. Aku belooom hahaha… Telur gaek jadi andalan rupanya. Eh, ada menu bebek juga? Mantap makanan rumahan di warung ini. Vibes nya beda ya sama di rumah. Melewati kuburan juga hehehe. Senangnya ga antre panjang kayak dulu ya. Foto keluarganya bagus ?? Kayaknya kalau niat makan di sini, ga usah saraoan dulu ahahaha..biar puas.
Hahaha baru sekali doank mbak 2022 itu ke sananyaaaa 😀
Aku kesini 2022 kalau ga salah. Perlu cek tulisan di blog lagi ??. Awalnya tertarik Krn mangut pari nya, secara aku doyan bangetttt mangut mba. Apalagi pake pari.
Trus Krn baca ada yg komplain berat, bilang macem2 ttg warung tuman. Tempat jin buang anak lah, tempat makan ga proper dll. Padahal setelah lihat sendiri, ya elaaaah memang konsepnya begini, si complainer aja yg ga paham.masa mengharapkan fine dining dlm hutan ???
Utk makanan aku suka mangut parinya, kopinya dan jus jeruk. Tp telur gaek ga terlalu sesuai seleraku, Krn oily nya bangetttttt mba. Pas aku kesana kayak banjir minyak. Ntah ga ditiris atau gimana. Jadi aku cukup makan sesuap. Tp menu lainnya pas ????.
Pengeeen deh balik lagi kesana. Cuma memang jauh ??
Lha, samaaan kitaaaa, ke sana 2022 wkwkwk.
Wah ternyata mangut pari di Warung Tuman rekomen sekali ya mbak? Keren lho mbak Fanny udah kesana juga pas 2022. Aku makin penasaran pengen kesana juga deh. Cuma harus pake kendaraan pribadi atau pesan ojol kayaknya kalau secara rute. Serta memastikan datangnya nggak pas musim hujan. Biar enakeun makan di outdoor di temani angin sepoi-sepoi, aduhai. Apalagi menunya variatif dan secara rasa oke punya ya.
Bacanya bikin lapar sekaligus hangat hehehe. Ada sesuatu yang selalu menyenangkan dari menemukan tempat makan yang sederhana tapi berkesan. Dari cara Kak April bercerita, rasanya bukan cuma soal makanannya, tapi juga pengalaman yang menyertainya. Itu yang biasanya bikin kita ingin kembali lagi.
Nah iya bener. Bahkan rela menunggu agak lumayan lama demi makan dengan vibes khas dan telur dadarnya bikin ngiler banget deh.
Juara ya, tempat makan yang satu ini. Menyatu dengan alam disuguhi view yang cakep. Kalau hujan agak bingung emang. Selebihnya oke punya deh. Menunya sangat variatif juga.
Kasih pengalaman lebih bermakna. Apalagi ini makan bareng keluarga tercinta. Rasanya bisa balik berkali-kali, terutama yang pakai kendaraan pribadi. Lokasi hidden nya pun beneran hidden sangat.
Kalau dekat, udah aku datangi sih. Sekarang masih masuk wish list dulu.
Warung tuman tuh deket dengan rumah kakak di Serpong. Pernah beberapa kali mau nyoba tapi berhubung aku sama dirimu yang kurang suka dengan viral-viral. Karena biasanya ngantri. Sedangkan aku itu paling tidak suka mengantri urusan makan.
Jadilah ke skip terus. Mau nyobain untuk sekedar menjadi pengalaman, tetapi nunggu ga antri alias sepi. Tetapi ketika membaca semua tentang warung tuman sampai sekarang masih antri jadilah ya sudahlah yaa. Kecuali ada keperluan mengantar orang atau keluarga, okelah manut untuk antri hihi.
Nggak mbak, nggak ngantre kok katanya warga Threads. Ini pengalamanku tahun 2022 haha. Aku belum pernah ke sana lagi 😀
Aku yang baca juga manggut². Emang berasa banget hidden gems, tempatnya nyelempit dan lewat² jalan perkampungan gitu. Mana sekelilingnya juga rindang banget.. ❤️❤️
Tapi beneran, aku sampe sekarang kalau makan di tempat rindang² dan rimbun gitu, selalu bawa raket nyamuk mbak portable. Untungnya raketnya kecil jadi bisa dibawa kemana². Karena ya tempat² gitu pasti rawan nyamuk². ?
Aku penasaran sama telur dadar gaek. Kayak apa ya rasae.. ??
Bener2 perjuangan bgt ya menuju lokasi hidden gem-nya. Mulai dari jalanan rame, setapak hingga jalur kecil dekat kuburan. Untungnya kuburannya terang, auranya jg enak. Ga ada syeremmm-syereemnya.
Aku menduga nama Tuman ini sengaja dipilih biar gampang diingat. Lagian kosakata ini sering dipake oleh org Jawa, terutama utk mengekspresikan sesuatu, entah krn terbiasa/ketagihan tp dlm konotasi negatif siih.
Pas aku baca menu-nya, emg ada sih bberapa menu yg khas Jawa. Tp rata2 emg dr Minang. Uniknya, pakaian pelayannya justru mengacu khas Sunda. Eksterior dan penataan dapur jg khas Jawa. Pokoknya ini perpaduan bgt deh.
Yg pasti kalo ke situ lagi, jgn sampe tuman (kapok) yak. Hehe.
Berawal dari warung makan viral tapi bisa bertahan sampai sekarang, itu keren sih, berarti memang menu-menunya banyak yang cocok di lidah custumer, ya.
Ini suasananya kaya balik kampung banget, adeemm. Didukung banget konsepnya dengan banyaknya pepohonan dan tanaman di sekitar area warung tuman
Ya Allah. Nunggunya sampai sejam-an. Lumayan itu. Seharusnya, adminnya bilang ya. Nggak bisa reservasi. Tapi, langsung datang saja. Tapi lagi ada kemungkinan rame gitu ya
Biar pengunjung bisa mengantisipasi kebosanan saat menunggu. Hehehe
Warung Tuman ini emang legendaris banget ya hidden gem-nya, sampai harus melewati “kompleks masa depan” alias kuburan dulu buat makan enak, haha.
Salut banget anak-anak hebat nggak cranky nunggu sejam. Tapi kayaknya terbayar tuntas ya sama Telur Dadar Gaek dan Mangut Parinya yang menggoda itu. Konsep piring enamel dan makan di bawah pohon bambu emang juara sih buat healing tipis-tipis di tengah kota. Kudu , banget, harus masukin dalam list
Beneran yang lewatin tengah pemakaman ya mbaa…aku bayangin kalo malam pasti agak2 gimana gitu gak sie soalnya warungnya sendiri juga agak terpencil trus banyak pepohonan dan harus lewatin kuburan pulakk hahaha…tapi beneran ini bener2 sebuah hidden gems sesungguhnya sie hehe…
Suasanyanya tu kayak semacam di desan gitu karena semua serba kayu cuma repotnya kalo ujan nie bisa2 langsung bubar karena sptnya banyakan area terbukanya ya mba dan gak ada area indoor nya…
Makanannya juga lengkap, beneran asik klo ajak keluarga besar cuma kalau berame2 sepertinya lebih bagus klo reservasi dulu yaa biar gak kelamaan nunggunya
Kalau ngantre gitu, berarti kudu ciamik nih datangnya. Terbilang gercep ya petugasnya langsung kasih nomor antrean biar gak rebutan.
Yang bikin asiknya itu, kitanya bisa memilih ya makannya di area yang mana.
Kepikiran kalau lagi nggak hujan, pasti seru banget makan di area outdoor. Apalagi pas momen buka puasa hehe
Warung Tuman ibu termasuk salah satu warung yang sempat viral di sosial media. Dan konsepnya yang kebon banget dengan berbagai hidangan yang tradisional dan juga tampaknya lezat sekali. Cuman kalau malem serem ya. Wkkwkw. Siang aja
Saya langsung jatuh cinta dengan suasananya
Ingat sama desa almarhum bapak
Sekarang kalau mau cari tempat seperti ini tuh hidden gems
Kudu viral dulu baru ketahuan itu pun kadang ketinggalan
Sepakat Mbak Rahmah. Suasana di Warung Tuman ini memang bikin jatuh cinta. Serasa pulang kampung ke rumah nenek kakek. Asri banget.
Semakin hiden gem, semakin bikin penasaran dan pengen kita cari. Apalagi menu-menu dan harganya masih reasonable, ya
Menarik ya tempat makannya. Kampung banget gitu auranya. Pantesan banyak dicari, terutama sama orang kota. Berasa makan di desa jaman dulu. Apalagi makanannya juga menggoda.
Harga 200rb an itu tahun 2022 ya, kemungkinan besar sudah naik, secara harga bahan-bahan juga sudah berkali-kali naik selama empat tahun terakhir.
Aku juga nggak begitu suka nyoba tempat makan viral, apalagi yang sampai antri-antri. Keburu lapar ?
Bisa-bisanya aku baca ‘Warung Taman’ BSD hampir sepertiga artikel, efek kepala nyambungin sendiri dengan ‘Taman BSD’ *dasar kepala dan mata main menyimpulkan aja*wkwk.
Cerita pertama kali mengunjungi Warung Tuman seru, menunggu kebagian temapt, dan ternyata anak-anak betah ya, berarti tempat makan yang memang bikin adem hati yang berkunjung mau bersantap. Telur dadar gaek (berarti maksudnya telur dadar buatan orangtua kali ya, secara kita orang Minang mengistilahkan orangtu=gaek).
Kalo ke main ke BSD kudu mampir nih ke Warung Tuman ini, untuk menuntaskan penasaran.
Warung Tuman ini bisa dijadikan destinasi short escape orang kota yang pingin kabur aja dulu melipir ke suasana kampung. Interiornya mantep ke pulang kampung ke rumah nenek, perabotannya kayu tuh uda kek vintage bener. Mana suasana pohon bambunya keliatan adem trus ada music yang nemenin sambil nunggu makanan dateng. Menunyaaaa duhh mantep bener!
Memang sungguhan tersembunyi dan menantang sih ya lokasinya ???????? mana lewat kuburan segala. Tapi kayake memang amat menggoda menunya.
Warung Tuman asyik juga ya. Kalau lihat tuh jadi teringat konsep Pasar dari Kemenpar dulu yang sempat ramai karena ada di tiap daerah. Dan makan di tempat kaya gini, lihat masak langsung, rasanya makin nambah selera
Review yang sangat informatif! Warung Tuman BSD sepertinya punya suasana hidden gem yang tenang dan asri, sangat cocok untuk makan bersama keluarga sambil melepas penat dari hiruk pikuk kota.
Noted nih bagian yang banyak nyamuknya. Apalagi suami dan anak saya kalau udah kena nyamuk kebon suka bentol gede. Gatel banget. Jadi harus bawa lotion anti nyamuk. Biar semakin menikmati suasana dan makanannya.
Saat baca cerita kuliner ini, yang saya bayangkan itu melewati pemakaman yang gak ada pagarnya. Kebayang kalau malam kesananya gmana ya ? Atau magrib aja, hahaha… Pastinya serem.
Tapi meskipun begitu saya suka sama tempatnya. Benar-benar suasananya Sunda banget. Bangunan tradisional, suasana yang alami dan makanan yang menarik. Saya tertarik dengan Telur Dadar Gaeknya. Pernah makan telur jenis ini kalau mampir di Rumah Makan Padang. Telurnya berbumbu dan renyah. Jadi laper baca ceritanya kak. Hahaha
Saking hidden-nya sampai buat menuju ke sana pun cukup menantang perjalanannya yaaa … Tapi kalau menyimak secara keseluruhan, memang worth it sih ya. Sebagai penyuka telur, aku paling penasaran sama telur dadar gaek-nya. Mangut kayaknya juga bakal jadi incaran karena suami pasti bakal membandingkan sama yang asli di kampung halamannya, hehehe.
Wajar sih ya dibilang hidden gems, selain emang nyumput tempatnya, tapi otentiknya itu yang jadi value utama. Saya kan kenalnya atau tahunya BSD itu area perkantoran mewah, eh ternyata ada juga tempat makan yang masih tradisional.
Anyway, kalau saya penuh gini, biasanya nggak sabar nunggu. Tapi kalau pun nggak jadi, tanggung ya.
Eh seruuu…jadi berasa makan di warung-warung di kampung gitu tapi bedanya ini terkonsep dan lebih tertata yaa mbak. Kalau di Lombok tuh kayak gini namanya Pasar Bambu Bonjeruk.
BTW, tentang memastikan tempat makan sudah tidak ramai tuh, wah kita sama mbak! Malas banget datang kalau lagi viral dan ramai gitu. Jadi tidak bisa menikmati. Better nunggu momen tenangnya, tunggu sepi, kadang sampai lupa dan udah berlalu begitu lama.
Cukup perjuangan ya ke rumah makannya, apalagi kalau mau ngantri. Waduh. Kayaknya bukan buat aku yang malas nunggu lama buat dapat tempat duduk hehehhe. Tapi kalau lihat makanannya memang nampaknya lezat ya dan harganya masih relatif wajar. Suka dengan nama tempat makannya, Tuman, jadinya bisa jadi kayak kebiasaan ya, atau dilakukan lebih dari sekali. Salam hangat kak April.
Ini beneran kata orang hidden gems kuliner di daerah BSD, tempatnya nyempil banget ya sampe masuk kedalam lewat kuburan. Tapi asli konsepnya apik banget, apalagi ada live musik dibawah pohon bambu adem banget liatnya
Oooh itu telur dadar barendo khas padang yang kriuk kriuk enaaak!
Walah segininya yaa makan di tempat viral, mana lewatin kuburan dulu trus antre sejam. Anak-anak kok gak tantrum hahah…
ini pakai masker karena sisa pandemi atau gimana sih? mungkinkah orang udah jengah dengan pandemi, begitu ada resto konsep unik langsung gas ngeeeng
jadi pengen cobain Mangut Pari Asap, pasti enak 😀
Seiring bertambahnya umur, aku udah bye bye aja kl lokasinya jauh kyk di BSD, PIK. kyk mikirin kendaraan ke sana aja udah bisa bikin nyawa ilang separuh. Wkwkwkwk… Padahal tempatnya menarik juga ya, kyknya temen blogger kita Fanny udah pernah ke sini nih.
Salut aku sama anak2nya, sabar nungguin pas ngantri sebelum bisa menikmati makanan ya. GAk usah anak2,org dewasa pun bisa setipis tissue kesabarannya kl kelamaan antri. Yg plg menarik nih menunya buat aku, mangut pari. Gak pernah bisa bilang TIDAK deh kl sama ikan ^_^
Pril
ini rada2 mirip Kopi Klotok Jogja ya vibes-nyaaa.
bedanya makanan boleh di-take away.
klo kopi klotok kan kagak nyediakan bungkus
aku rada nyesel pas thn 2024 kan main ke BSD…kenapa ga ngajakin iparku makan di sini aja yhaa.
seruuu nihh warung (sing nggarai) tuman
Legendaris banget nih warung tuman sebagai hidden game. Kayanya sih yang jadi daya tariknya bukan hanya soal kulinernya ya, tapi lokasinya itu kaya orang lagi nyantai makan di sawah yang asri. Wkwkwk, mau makan enak aja harus merenungi dosa dulu ya. Pulang makan, langsung teringat lagi. Lewati kuburan ternyata, ehehe.
Wait, membaca deskripsinya, kayaknya mbak Fanny pernah ke sini juga. Hidden gem yang sudah tidak lagi hidden ya, haha.
Ah, aku suka telur seperti itu, yang digoreng garing dan ada serabut-serabutnya. Jadi menunya itu paduan Jawa dan Minang ya, sampai ada dendeng batokok segala.
Buat saya, tempat seperti ini malah bikin “capek” dan less-homey karena luas, banyak orang, kesannya kayak di hajatan, jadi sisi introvert saya lelah hahaha
Aku pikir karena udah lama viral jadi sekarang nggak ramai dan penuh lagi, ternyata masih rame-rame aja ya? Hoho. Pernah juga mempertimbangkan mau mampir ke sana, tapi liat aksesnya kudu lewat kuburan, nggak jadi. Jyakakak..
Emang kalo ke rumah makan saya juga lebih prefer yang nggak viral. Kadang di sini viral-viral tapi ternyata pihak restonya belum siap dengan keviralannya itu malah jadi zonk di berbagai aspek.