Beberapa waktu lalu ada orang di Threads bahas tentang Warung Tuman, salah satu rumah makan yang keknya orang se-BSD dan Serpong udah kenal. Trus, saya nanya, “Apakah masih perlu ngantre kalau makan di sana?” Soalnya, waktu ke sana akhir tahun 2022 lalu (lama banget, yeee? 😛 ), saya menunggu hampir satu jam, wkwk. Lalu, dijawab, “Nggak.” Ooo, berarti udah lebih nyaman nih kalau ke sana 😀 .

Yes, Warung Tuman yang katanya berdiri sejak 2019 ini, emang heits banget sekitar tahun 2021-2022-an. Orang-orang menyebut rumah makan ini sebagai hidden gems. Salah satu yang membuatnya disebut “hidden” karena lokasinya yang masuk ke perkampungan penduduk, menyusuri gang sempit, bahkan melewati area pemakaman (bener-bener komplek kuburan tanpa pagar). Kek, menantang banget gitu cuma buat makan aja, wkwkwk 😛 .

Foto keluarga di depan Warung Tuman.

Denger-denger orang-orang kalau ke sana tuh pada nyari telur dadarnya. Telur dadar gaek, namanya. Bukan telur dadar ala Jawa, tapi katanya lebih ke Minang. Yup, mulanya saya pikir konsepnya rumah makan Jawa tapi kok ada Minang-Minangnya? Hmmm, yoweslah 😀 .

Oh ya, selain menu makanan dan lokasinya yang unik, hal lain yang membuat rumah makan Warung Tuman ramai dikunjungi orang adalah karena menawarkan konsep outdoor yang menonjolkan suasana kampung di tengah kota. Di sini, pengunjung bisa makan di bawa rerimbunan pohon bambu dan pohon-pohon besar lainnya. Kemudian, interior bangunannya dibuat ala-ala dapur nenek di kampung, dengan banyak perabotan dari kayu, serta piring makan dan gelas dari bahan enamel yang bergaya vintage.

Datang dadakan ke Warung Tuman

BTW, sebenarnya saya tuh tipe orang yang nggak terlalu tertarik nyobain yang viral-viral, kecuali buat kebutuhan job content 😀 . Waktu itu, saya mengira kalau viralnya rumah makan ini udah mulai reda, sehingga kepengen, deh, ke sana.

Kalau nggak keliru sehari sebelumnya tuh ada temen yang sempat makan di sana juga. Tapi Ya Allah, saya kok bisa lupa siapa, seeehh… hiks. Entah waktu itu ngobrol via IG atau FB atau WA atau bahkan X, gitu, trus intinya dia menyarankan buat kontak dulu ke CS Warung Tuman.

Waktu itu, entah, Sabtu atau Minggu, gitu, pokoknya wiken, saya bertanya di kolom komentar IG-nya, apakah kalau mau ke sana perlu reservasi dulu atau nggak. Ternyata admin IG-nya cukup responsif, langsung dijawab. Katanya, langsung datang saja tanpa reservasi. Makanya, saya mengira udah redaan nih viralnya.

Kami ke sana naik moda transportasi KRL turun di Stasiun Rawabuntu (BSD lama). Dari situ, kami naik taksi online menuju Warung Tuman. Sayangnya dapat driver yang nggak tahu lokasi rumah makan viral ini.

Melewati kuburan.

Jadi, sebenarnya kalau udah ketemu area jalan bernama Loka-Loka-an yang ada di BSD tuh, tinggal nyari jembatan kuning (warnanya waktu itu), turun sana aja. Ternyata, driver-nya mengikuti map online yang menyarankan masuk melalui perkampungan. Kami juga baru ngeuh sama jembatan ini ketika pulangnya. Lha, lebih dekat ke jalan raya utama kalau melalui jembatan ini. Yawdalah, kalau nggak gitu nggak tahu hehe.

Pintu masuk ke rumah makan (kiri) dan area makan dengan atap (kanan).

Kalau tidak keliru kami diturunkan di gang kecil, kemudian berjalan kaki menuju Warung Tuman. Aksesnya memang jalan kampung antara aspal biasa, paving block, hingga tanah dengan rerumputan. Kecil aja. Hanya bisa dilewati roda dua. Kalaupun ada yang datang naik mobil, ini nanti parkiranya juga agak jauh dari lokasi rumah makannya.

Jalannya nanti melewati area pemakaman yang tidak ada pagarnya. Kalau sekarang nggak tahu ya dipagarin atau nggak, tapi kayaknya nggak, deh, karena kuburannya nyatu sama jalan yang kami lalui.

Bisa pilih lesehan.

Makan di bawah pohon-pohon.

Tak jauh dari komplek makam, akhirnya kami menemukan Warung Tuman ini. Nggak sulit menemukannya, karena terlihat pohon-pohon dan pagar bambu yang menjadi salah satu ciri khas rumah makan ini.

Sampai sana, ternyataaaa, ruameeeee gaeess, hahaha. Selain kami juga ada beberapa orang lainnya yang baru datang. Akhirnya oleh petugasnya, seorang mas-mas yang pakai semacam udeng dan kain jarik. Pegawai rumah makan ini memang mengenakan dresscode kebaya dan kain, gitu. Nama kami didata, lalu diminta menunggu. Untung ada kek bangku-bangku dari kayu buat duduk.

Masnya kasi nomor antrean.

Di bawah pohon bambu yang cukup besar tampak sekelompok musikus atau grup band memainkan musik. Yaaa, mayan lha buat hiburan yang lagi nunggu giliran makan.

Live music di bawah pohon bambu.

Sembari menunggu, kami juga menyaksikan satu demi satu makanan disajikan di semacam gubug yang ada di dekat tempat kami duduk. Baik aroma maupun penampilan makanannya begitu menggoda, haha. Mana udah laper, karena sudah melewati jam makan siang yang normal. Alhamdulillah anak-anak juga nggak crancky, karena nunggu mayan lama. Seperti yang saya bilang di atas tadi, hampir satu jam lamanya.

Mau makan ngantre wkwk.

Sambil ngliatin makanan orang lain yang mau diantar wkwk 😛 .

Gubug tempat mereka menyajikan makanan memang ada yang berlokasi di depan. Ada kompor juga, sepertinya khusus buat menghangatkan makanan atau untuk menggoreng camilan-camilan, karena saya perhatikan di area tengah kebun yang ada di rumah makan itu juga ada dapurnya, dengan beberapa kompor gas warna pink diletakkan berjajar.

Dapur di area tengah-tengah.

Setelah nama suami dipanggil, kami pun akhirnya bisa masuk ke area pemesanan makanan. Waktu itu konsepnya begitu dapat giliran bisa langsung melihat menu di spanduk yang berisi list menu makanan, kemudian memesan ke petugas.

Memesan makanan di sini.

Saya melirik ada serba ikan, aneka masakan berbahan dasar daging ayam, juga bebek. Buat pendampingnya ada beberapa gorengan, seperti bakwan, tempe mendoan, pisang goreng, tahu selimut, dan tak ketinggalan telur dadar gaek yang sudah saya mention sebelumnya.

Dapur yang selalu ngebul.

Melihat tempe mendoan digoreng.

Setelah selesai memesan makanan, petugas akan mengantar ke meja yang ready. Oh ya, untuk minuman sepertinya dipesan di gubug lain yang lokasinya agak di tengah kebun. Jadi, setelah dapat duduk, kami baru order minumannya.

Tempat buat order minuman.

Area makannya ada beberapa pilihan, ada yang di bawah atap, ada yang di semacam saung, serta ada yang bener-bener di outdoor di kebun, di bawah pepohonan yang rindang. Kami kebagian di tempat yang saya sebut terakhir.

Gimana ya menjelaskan konsep desain rumah makan ini? Hmmm, jadi rumah makan ini tuh pada dasarnya sebuah kebun yang luas dengan beberapa bangunan semacam gubug-gubug kayu gitu. Ada gubug buat dapur, ada gubug buat makan, dll. Kemudian di kebun juga banyak bangku dan kursi buat makan. Untuk fasilitas toilet dan mushola ada juga, tetapi waktu saya nggak menggunakannya, sih, sehingga tidak bisa cerita lebih jauh tentang kedua fasilitas itu.

Lalu, ada juga area beli durian di bagian belakang. Cuma, waktu itu, kami nggak beli, sih.

Makan di kebon 😀 .

Untuk lokasi tempat kami duduk, sebenarnya enak, sih. Anginnya semilir, udaranya sejuk, dan walaupun kami ke sana siang-siang (jelang sore) tempatnya adem karena banyak pepohonan rindang. Asal nggak pas turun hujan aja, haha.

Minusnya ada nyamuk dan serangga lainnya aja. Namun, kalau ke sana baju lengan panjang kayaknya aman. Bila perlu bawa saja lotion antinyamuk buat jaga-jaga.

Peralatan makan diwadahin wakul.

Setelah kami duduk di meja, ada semacam wadah bakul yang diantarkan ke kami. Kirain isinya apaan, nasi atau apa, gitu, ternyata sendok garpu haha. Untuk mangkuk kobokan keknya nggak ada ya, karena mereka menyediakan wastafel yang aliran airnya lumayan kenceng, lengkap dengan sabun cuci tangannya.

Makanan dan minuman yang kami nikmati di Warung Tuman

Untuk makanan yang kami pesan hari itu, ternyata kebanyakan, haha 😛 . Namun, saya lupa apa ya makanan yang nggak habis, pokoknya ada deh yang kami bungkus sebelum pulang. Uniknya, kalau nggak salah inget, rumah makan ini tuh ada gubug khususnya untuk melayani bungkus-membungkus makanan yang tidak habis ini. Kalau tidak keliru lokasinya tak jauh dari kasir. Kalau sekarang nggak tahu ya, masih ada atau nggak.

Makanan yang kami pesan waktu itu.

Makanan yang kami pesan waktu itu: satu porsi mangut pari, satu dendeng batokok, satu biji (bukan ekor 😛 ) ayam kampung goreng, satu mangkuk sup ayam kampung, seporsi tepe mendoan, satu telur dadar gaek, dan empat piring nasi. Buat minumnya tiga gelas es teh manis dan satu jeruk hangat. Oh ya, kami juga memesan peyek kacang.

Lalu, ada juga sambal merah. Cuma saya lupa, sebenarnya sambalnya ini free atau beli waktu itu. Soalnya di struk (foto struk 😛 ) nggak ada tulisan sambalnya, sementara sebenarnya masing-masing sambal tuh dijual terpisah dengan harga Rp5.000,-. Bisa juga karena sudah termasuk paketan dari lauk yang kami pesan. Tapi mungkin juga bonus karena pesanan kami lumayan banyak apa ya? Haha au deh, lupa.

Kembali ke makanan yang kami pesan, pertama ada telur dadar gaek. Telur ini tuh mirip dengan telur barendo yang digoreng garing dan teksturnya tebal. Ini yang tadi saya maksud terinspirasi dari kuliner khas Minang tadi.

Telur dadar gaek.

Rasa telur dadar gaek ini renyah dan ada serabut-serabutnya. Kebetulan waktu itu melihat sendiri cara menggorengnya, yakni digoreng dengan minyak yang banyak, sewajan, dengan minyak yang puanaaass.

Meskipun bagian luarnya garing dan renyah, ternyata bagian dalam telur dadarnya masih lembut, lho. Bumbunya juga nggak sekadar asin doank, tetapi cukup kaya rasa. Ada sedikit pedas-pedasnya, tetapi bukan pedas sambal. Pedas berbumbu, gitu, lho. Trus,agak berminyak, sih. Namanya juga dicemplungin ke minyak yang seabreg-abreg, yekan, haha.

Untuk ayam kampung gorengnya, kami mendapatkan bagian paha ayam yang cukup gedhe. Ayam goreng ini disajikan dengan kremesan berwarna kuning cerah dan lalapan mentimun. Bisa jadi sambal merah yang saya pesan tadi juga pendamping menu ini.

Ayam goreng kampung.

Tekstur dagingnya padat berisi, tetapi tidak keras. Mudah dicuwil juga dari tulangnya. Rasanya sangat gurih 😀 .

Lalu, untuk mangut parinya, denger-denger menu ini merupakan salah satu menu yang banyak dicari pelanggan Warung Tuman juga. Mangut pari ini disajikan dengan kuah santan yang cukup kental.

Mangut  pari asap.

Aroma smoky dari ikan ini sangat terasa.  Daging ikannya cukup berserat dan empuk. Sementara, rasa santannya gurih dan sedikit pedas.

Dendeng batokoknya disajikan bersama sambal cabai ijo yang sepertinya diuleg kasar. Dagingnya empuk, tidak alot, mudah sekali digigit dan dikunyah. Rasanya cenderung gurih dan pedas.

Dendeng batokok dan sambal merah.

Kemudian sup ayam kampungnya, sebenarnya isiannya seperti masakan sup di rumah kita ((KITA)), sih. Maksudnya isiannya cukup “sederhana”, yakni potongan wortel, kentang, daun bawang, lengkap dengan taburan bawang goreng. Bedanya ada irisan daging dan tulang ayam kampung.

Sup ayam kampung.

Kuahnya agak hitam, tetapi tidak kental, lebih ke cair banget. Cita rasa dari kuah kaldu ayamnya begitu terasa menonjol. Rasa kuah kaldunya yang segar menjadi penyeimbang ketika memakan mangut yang berkuah santan pekat dan dendeng batokok yang pedas berlemak.

Sup ini tidak pedas sama sekali. Cocok buat pengunjung yang membawa anak kecil atau yang memang tidak suka pedas.

Makanan penutupnya atau sebut aja camilan lha ya yakni tempe mendoan. Potongan tempenya tipis tetapi lebar banget. Teksturnya lebih ke lembut, agak lembek, enggak renyah, dan sedikit berminyak. Baluran tepungnya diberi irisan daun bawang sehingga aromanya enak.

Minuman dan mendoan.

Tempe mendoan ini disajikan dengan sambal kecap yang diberi irisan cabai rawit yang segar. Buat orang yang suka pedas, wajib banget nih, makan tempe mendoannya sambil dicocol ke sambal kecap ini.

Terakhir adalah peyek kacang. Ini kami dapat sebungkus lumayan banyak. Peyek kacang ini kacangnya bukan kacang tanah, melainkan kacang hijau. Rasanya renyah banget. Cocok dinikmati bersama hidangan utama.

Setelah makan semua menu makanan di atas udah paling enak minum minuman sederhana kek es teh haha (dokter gizi nanges, GPP ya, Dok, sesekali aja 😛 ). Es tehnya tuh teh tubruk gitu, bisa request manis atau tanpa gula. Es jeruk juga cucok, tapi waktu itu kami memesan jeruk anget karena lagi flu 😀 .

Porsi nasi putihnya lumayan banyak.

Untuk semua makanan yang kami pesan kami membayar total Rp212.200,- sudah termasuk pajak sekitar Rp19000,-an. Menurut saya worth it, sih, karena porsinya lumayan banyak, kami juga sempat membungkus karena ada makanan yang tidak habis (sekali lagi, walau saya lupa apaan yang nggak habis waktu itu, hahaha 😛 ).

Itulah teman-teman cerita keluarga kami makan siang dadakan di Warung Tuman BSD yang duluuuu viral. Menurut saya, rumah makan ini juga cocok buat makan bersama keluarga. Kapan-kapan kalau ada keluarga berkunjung ke rumah, mungkin, mau kami ajak ke sana juga, ah. Asal nggak ngeluh jalan kakinya jauh aja hihihi. Nggak kok, buat yang suka jalan kaki, jarak parkir mobil ke rumah makannya nggak sejauh itu #imho 😀 .

Oh ya, FYI, alamat lengkap Warung Tuman di sini ya.

Warung Tuman BSD ini buka pagi hingga sore aja, malam udah kukut. Horor kali ya, kalau buka malam secara kebonan xixixi. Lalu, selama Bulan Ramadan kek sekarang ini, mereka tutup, baru buka lagi setelah lebaran. Bisa cek Instagramnya di @warung_tuman_bsd ya. Semoga info ini bermanfaat! 😀

April Hamsa

Categorized in: