Yeaaayy, akhirnyaaa, setelah sekian lama keturutan juga ngidam saya, eh, maksudnya keinginan saya untuk makan di resto Bandar Djakarta Ancol, hehe. Bomat dianggap norak. Ini harus diabadikan di blog wkwkwk 😛 . Makluuumm, biasanya kalau ke Ancol, keasyikan seharian di tempat-tempat rekreasinya, trus akhirnya kalau laper ya makan di tenant-tenant yang ada di sana aja sekalian. Hampir tidak pernah ada kesempatan makan di resto ini heuheu.

Perdana makan di Bandar Djakarta Ancol.

Makan siang kesorean

Nah, pas kemarin saya dan keluarga mengunjungi Ocean Dream Samudera, kebetulan hanya satu tempat itu saja yang dituju, sehingga rencananya kami keluar agak siang, lalu udah di-plot makan siangnya di Bandar Djakarta. Eh, ternyataaa, keasyikan nonton pertunjukan dan main wahana di Samudera, kami malah keluarnya sore, wkwkwk 😛 . Apalagi siangnya sempat ngemil banyak roti-rotian, sehingga kayak masih kenyang, gitu.

Restoran Bandar Djakarta Ancol bagian depan.

Begitu nyadar kalau sudah kelewat dari jam 3 sore, kami pun bergegas keluar Samudera dan otw ke Bandar Djakarta naik shuttle bus Wara Wiri. Sampai depan resto-nya, kesan pertama, “Kok kecil yaaaa.”

Eh, ternyata saya keliru, karena begitu masuk ke dalam, restoran ini ternyata luas banget. Dari depan ke belakang, dari ujung ke ujung. Bahkan ada yang dekat atau mefet laut. Bisa banget malah kalau mau sunsetan di resto ini.

Area makan di bagian paling depan.

Galfok juga sama bentuk atapnya resto Bandar Djakarta ini yang seperti atap tenda atau kanopi tebal gitu. Apa biar menyerupai suasana kapal atau gimana? 😀

Di area makannya terdapat beberapa akuarium berisi ikan-ikan. Saya lupa itu ikan hias atau ikan laut yang bisa dimakan juga, hehe. Kemudian, ada panggung mini yang sepertinya buat live music. Namun, sore itu, kayaknya saking luasnya area itu malah keliatan sepi. Area yang ramai justru di bagian belakang yang semi outdoor dengan pemandangan laut Ancol.

Asyiknya memilih ikan segar

Akhirnya, kami nggak ngetag meja, melainkan menuju ruangan sebelah area makan itu yang ternyata penuh dengan akuarium, box container, dan kolam. Kata mbak-mbak petugasnya, kami disarankan boleh memilih ikan atau bahan makanan lain yang masih segar. Walau sebenarnya bisa aja, sih, langsung duduk di meja dan memesan berdasarkan menu. Namun, buat experience kan lebih enak ya, kalau memilih bahan makanan segar. Dijamin lebih nikmat juga pastinya 😀 .

Pilih bahan makanan dulu di sini.

Kami pun berkeliling kolam dan akuarium, juga ngecekin box container, melihat satu per satu hewan laut maupun darat yang ada di sana. Ada ikan, kepiting, lobster, kerang-kerangan, dll.

Pandangan saya tertuju pada Alaska King Crab yang harganya Rp420 ribu per 100 gram. Nah, itu raja kepiting aja gedenya segede babon #hallah 😛 , berapa tuh harganya yaaa. Yang pasti, kaum mendang-mending kayak kami ini melipir duluuuu xixixi.

Nanti kalau ada rezeki mau makan ini Ya Allah 😀 .

Setelah menimbang-nimbang akhirnya pilihan kami jatuh pada ikan senangin. FYI, kalau kata Tante AI (tetangganya Mbah Google), ikan senangin ini sebenarnya nggak hanya hidup di laut, tetapi juga ada yang hidup di air payau. Ikan senangin ini sering disebut sebagai “ikan bandeng laut” karena rasanya sangat enak, dagingnya banyak, tetapi durinya lebih sedikit.

Ceritanya, ikan senangin ini berasal dari perairan Indo-pasifik. Ikan-ikan ini kemudian menjelajahi bumi, mulai dari Teluk Persia hingga ke Jepang Selatan dan Australia. Kalau di Indonesia, ikan senangin ini banyak di temukan di Laut Jawa, Kalimantan. Sumatera Selatan dan Sumatera Timur. Ikan ini biasanya hidup di sungai besar dan muara pantai.

Kontainer-kontainer yang penuh seafood segar.

Saya lupa waktu itu ikan senangin yang kami pilih berapa gram atau kg beratnya. Ingetnya cuma waktu itu kami request ke petugas resto-nya minta ikan itu dibumbui dan dibakar.

Lalu, sebagai pelengkap, tadinya kami ingin makan udang, secara udah beberapa bulan tidak makan udang. Ini tuh gara-gara kasus udang tercemar zat radioaktif dari pabrik yang ada di Kabupaten Tangerang itu, lho. Makanya kami menghindari makan udang. Nah, mumpung di Ancol yang agak jauh dari Tangerang, jadi kami berminat makan udang haha.

Di tengah-tengah memilih udang, pandangan saya tertuju pada kemasan ikan shisamo yang merupakan ikan kecil-kecil atau pindangnya Jepang. Tepatnya berasal dari perairan Hokkaido yang popular karena perutnya penuh dengan telur. Makanya, kadang orang-orang menyebutnya “ikan hamil”.

Saya pertama kali mengetahui ikan ini karena viral sebagai menu makanan salah satu anak aktris yang di era sekarang ini lebih terkenal sebagai “juragan laundry”, tapi yang dicuci bukan baju itu, lho 😛 . Waktu itu kan sempat viral kalau anaknya makan ikan shisamo, karena memang ikan mungil ini kaya akan Omega-3, protein, kalsium, vitamin, dan yang paling penting ikan ini rendah kolesterol.

Area makan belakang.

Dulu, saya pernah beli, sih, tapi buat keponakan, malah belum pernah makan sendiri, haha. Yawda, akhirnya dari udang, kami memilih ikan sashimo saja. Satu pack berisi delapan ekor ikan. Kami cuma minta ikan tersebut digoreng saja.

Setelah memilih ikan, kami kemudian ke kasir untuk menimbang ikan tadi, lalu seperti yang saya jelaskan tadi, di sinilah kami request mau dimasak apa. Setelah ketahuan berat ikannya, baru deh membayarnya. Oh ya, di kasir kami juga memesan makanan lain yakni tumis kangkung dan nasi untuk empat orang. Kalau buat minumannya ternyata order-nya bisa langsung dari meja.

BTW, maaf banget saya lupa persisnya harga makanan dan minuman yang kami pesan totalnya berapa persisnya. Namun, kalau tidak salah inget total semuanya 375 ribuan. Menurut saya dengan menu yang tidak terlalu banyak memang agak mahal dari resto kayak D’Cost gitu, tetapi dengan bahan pangan utama (ikan) yang bisa memilih sendiri dan masih segar. Menurut saya worth it aja.

Menikmati makanan di pinggir laut

Sambil menunggu ikan-ikan dimasak, kami meminta rekomendasi ke mbak-mbak petugasnya untuk duduk dekat view laut. Sayangnya, waktu itu yang pinggir laut banget ada tulisan “reserved” hiks. Namun, entah kenapa, hingga kami selesai makan, kok tamunya nggak nongol-nongol.

Kami dapat tempat di seberang meja-meja itu, dekat kolam ikan. Yaweslah, lumayan dapat nuansa gemericik air kolam. Trus, ternyata di tiang-tiang yang ada di sebelah meja makan ada colokan. Jadi, memudahkan kalau mau ngecharge gadget. Masih bisa lihat laut juga walau dari pandangannya kudu melewati meja-meja kosong tadi.

Area tempat kami makan.

Setelah kami duduk, ada mas-mas pelayan memberikan kami buku menu. Lalu, kami pun order minuman. Anak-anak memesan es milo, saya es cendol, lalu suami es teh.

Saat membuka buku menu, ternyata ada beberapa menu makanan lain selain yang bisa kita pesan di depan tadi. Namun, waktu itu kami tidak menambah makanan. Saya cuma nanyain ada sambal atau nggak, karena saya paling nggak bisa makan kalau makanannya tidak pedas.

Eh, ternyata, sambalnya boleh bebas ambil sendiri. Mas-mas tadi menunjukkan di mana lokasi sambal. Ada beberapa pilihan, seperti sambal bawang, sambal terasi, sambal matah, dan sambal mangga. Suami saya waktu itu mengambil sambal bawang dan sambal terasi.

Makanan dan minuman yang kami pesan.

Tak lama kemudian minuman dan makanan yang kami pesan pun datang. Untuk makanan menunggu lumayan sih ya, 20 menitan lebih. Namun, nggak masalah sebanding dengan hasil masakan yang sesuai keinginan kami. Ikan senangin bakar yang disajikan dengan sambal kecap, tumis kangkung, serta ikan shisamo goreng.

Nasinya ternyata bisa buat lima orang, hehe.

Untuk porsi nasinya, kami diberikan satu mangkuk besar nasi. Lumayan banyak porsinya. Kebetulan saya dan suami sedang proses ngurang-ngurangin makan. Waktu itu udah pada ngambil nasi semua ternyata masih nyisa. Mana lupa bawa kotak buat ngewadahin makanan sisa. Untungnya anak-anak mau diminta menghabiskan, karena kami berusaha menghabiskan makanan yang kami pesan supaya tidak food waste. Salah satu keuntungan punya anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan, hehe.

Ikan senangin bakar.

Ikan senangin bakar mengeluarkan aroma asap yang khas dan menggugah selera kami. Karena ikannya tadi masih hidup, maka dagingnya begitu lembut dan tidak bau tanah. Bumbunya ikannya perpaduan antara gurih, manis, dan sedikit pedas. Makin enak lagi ketika dagingnya dicocol dengan aneka sambal yang kami ambil.

Shisamo goreng yang bergizi.

Lalu, untuk ikan shisamo gorengnya, walaupun cuma digoreng rasa dagingnya lembut. Ada sedikit kerenyahan karena sepertinya ada baluran tepung saat digoreng. Trus, seperti yang saya sebutkan sebelumnya “ikan hamil” ini telurnya banyak banget. Gurih rasanya, lembut di mulut.

Tumis kangkung.

Untuk tumis kangkungnya, rasa bawang putihnya begitu kuat. Tidak terlalu pedas sehingga mudah diterima lidah anak-anak. Tekstur kangkungnya masih krenyes-krenyes. Nggak terlalu banyak kuahnya.

Es cendol pesanan saya.

Untuk es cendol pesanan saya, karena disajikan dengan daun pandan jadi tercium aroma pandan, hehe. Santannya lumayan kentel, dengan cendol atau kalau orang Surabaya nyebutnya “janggelan”, potongan-potongan gitu, lumayan melimpah. Lalu, yang paling saya suka, es cendolnya ini manisnya nggak lebay. Cocok lha saya memang nggak terlalu suka rasa manis yang over.

Es milo pesanan anak-anak.

Kayaknya itu saja sih yang bisa saya komentarin. Kalau es teh sama es milo, yaaa, standar yang biasa kita minum.

Buat sambal-sambalnya, enak-enak semua. Seneng deh kalau sambalnya bisa ambil dan refill sendiri kayak gitu 😀 .

Tempat mengambil sambal.

Setelah makan, sebelum pulang, kami memutuskan buat sholat Ashar di mushola resto. Ternyataaa, musholanya gede banget. Senengnya lagi, ruangan sholat buat laki-laki dan perempuan dipisah. Kalau perempuan ada di lantai bawah, sedangkan laki-laki di atas. Jadi, nggak nyampur.

Tempat wudhunya juga OK sekali. Lega gitu. Musholanya resik, mukena dan sajadah juga sepertinya rutin dicuci. Udah gitu, musholanya adem hehe.

Mushola khusus cewek yang luas.

Saya nggak tahu di lantai atas masih ada area buat makan lagi atau nggak. Tapi kalau ada, wah, emang gede banget sih ini restoran Banda Djakarta Ancol haha.

Setelah makan, lalu kami berfoto-foto. Bisa foto-foto di semacam dek kayu yang ada di pinggiran resto juga, lho. Saya melihat beberapa pengunjung lain melakukan hal yang sama.

Dari dek kayu itu bisa pepotoan atau melihat laut/ kapal.

Setelah itu, kami pun pulang dengan hati dan perut yang full bahagia hahaha. Alhamdulillah, keturutan juga makan di resto Bandar Djakarta Ancol.

Oh ya, kalau tidak salah sebenarnya restoran satu ini enggak cuma ada di Ancol, melainkan juga ada di Jakarta area perkotaan (nggak tahu di mana 😛 ) bahkan di Bekasi. Wah, kapan-kapan kudu nyobain juga, nih 😀 .

Teman-teman ada yang pernah makan di Bandar Djakarta juga? Yang udah pernah juga, certain juga ya pengalamanmu, terutama menu yang sekiranya direkomendasikan di sana 😀 .

April Hamsa

Categorized in: