Sedang viral Ketua BEM UGM yang dikata-katain “Cuma anak Paket C”, seolah-olah Paket C sehina itu. Namun, buat mereka yang paham, justru kalimat tersebut ya bakal diketawain aja. Malah sebagian orang kagum karena ada anak dengan ijazah Paket C bisa tembus UGM. Itu artinya lulusan Paket C nggak kalah donk ya dengan sekolah formal, bisa bersaing masuk perguruan tinggi favorit juga.
Beberapa alasan anak belajar di PKBM
Ngobrolin tentang Paket C, di era sekarang, terutama sejak zaman Covid-19, udah sangat jauh bedanya. Kalau dulu, Paket C kerap dijadikan pilihan terakhir oleh orang-orang yang mungkin secara ekonomi tidak mampu sekolah. Namun, sekarang, Paket C, terutama melalui PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat), telah menjadi alternatif pendidikan.
PKBM pun beragam. Ada PKBM yang menggunakan kurikulum luar negeri seperti Cambridge, IB, atau kurikulum AS yang dikombinasikan dengan program kesetaraan dalam negeri. PKBM seperti ini biasanya dipilih karena si anak ingin melanjutkan sekolah di luar negeri. Ada pula PKBM berbentuk Sekolah Alam yang menggunakan lingkungan sebagai bahan pembelajaran utama. Masih banyak bentuk-bentuk PKBM lainnya. Ada yang biayanya terjangkau, tetapi juga ada yang “biaya sekolahnya” sama aja dengan biaya sekolah-sekolah bergengsi.
Beragam alasan mengapa orang tua menyekolahkan anak ke PKBM.
Intinya di zaman now, dari sisi kemudahan akses, pengakuan ijazah, hingga gengsinya (mungkin?) yaaa udah nggak jauh beda dengan sekolah formal. Jadi, kalau ada yang mengejek Paket C, fix deh, wawasannya kurang luas 😀 .
Alasan sebuah keluarga (orang tua) memutuskan untuk membuat anak-anaknya belajar di PKBM pun beragam. Ada orang tua yang percaya pada PKBM karena sistem pendidikan yang mengecewakan. Ada pula orang tua yang menyukai fleksibilitas belajar di PKBM, karena ingin anak-anaknya fokus di bidang tertentu. Kebetulan di PKBM tempat anak-anak belajar, ada anak-anak yang sudah beraktivitas menjadi atlet professional, aktor, pengusaha, musikus, dll. Mereka sejak usia dini sibuk dengan dunianya, tetapi tetap butuh ijazah, sehingga memilih PKBM.
Kebetulan anak-anak saya juga belajar di PKBM. Kalau kami alasannya selain fleksibilitas, juga karena nggak terlalu akademik banget. Belajar dari pengalaman zaman sekolah dulu, semua dihafalin tapi nggak semua terpakai, jadi mending belajar dengan happy dan begitu ketemu apa yang disukai, mari fokus ke situ saja.
Masih banyak alasan-alasan lain yang mendasari orang tua menyekolahkan anak-anaknya ke PKBM. Panjang kalau dibahas hehe.
Belajar pakai aplikasi Sekolah.mu
Kalau di PKBM anak-anak saya menggunakan Kurikulum Merdeka dalam pembelajarannya. Meski demikian, Bahasa Inggris sudah dimasukkan ke dalam pelajaran wajib.
Untuk media belajarnya menggunakan platform aplikasi digital yang bernama Sekolah.mu. Aplikasi Sekolah.mu ini memfasilitasi Blended Learning Management System untuk kebutuhan institusi pendidikan, salah satunya PKBM tempat anak-anak saya belajar. Sebut saja namanya Sekolah Murid Merdeka (SMM). Sistem tersebut memungkinkan SMM ini melakukan kegiatan belajar secara hybrid, bisa online maupun offline.
Sekolah.mu ini juga memungkinkan ribuan guru, professional di bidang pendidikan, serta murid-murid bisa terintegrasi dalam satu platform ini. Dengan demikian maka ide-ide terkait pendidikan berkualitas lebih mudah sampainya ke banyak orang.

Platform Sekolah.mu.
Selain SMM dan mungkin beberapa institusi pendidikan lainnya, Sekolah.mu juga menyediakan program belajar Living English dan Siap Kuliah.
Living English merupakan program belajar Bahasa Inggris untuk anak usia dini hingga SMA kelas 12 yang basic-nya menggunakan Kurikulum Cambridge. Anak-anak saya kebetulan mengambil program ini juga untuk melengkapi pelajaran Bahasa Inggris-nya.
Kemudian, ada juga program Siap Kuliah yang menyediakan program persiapan kuliah baik di dalam maupun di luar negeri. Program ini bisa diikuti oleh anak SMA start dari kelas 9.
Cara memakai Sekolah.mu untuk belajar di SMM
Jika terdaftar menjadi murid PKBM SMM auto udah punya akun Sekolah.mu, yang juga memiliki paket kelas SMM. Nanti, setelah memiliki aplikasi Sekolah.mu di gadget, maka bisa login ke platform ini menggunakan email dan password yang digunakan saat pendaftaran.
Oh ya, kalau di SMM, semua orang menyebut aplikasi Sekolah.mu ini sebagai LMS, singkatan dari Learning Management System. Sebenarnya, Sekolah.mu ini multiplatform access, artinya bisa diakses melalui handphone, tablet, hingga browser (laptop dan komputer).
Okey, lanjut setelah login tadi…
Setelah masuk ke aplikasi, nanti akan ada akses “Kelasku” di dashboard Sekolah.mu untuk melihat program belajar yang aktif. Kalau di aplikasi anak saya, yang terlihat adalah program belajar SMM, Living English, serta kegiatan add on/ program tambahan, seperti ekskul, kelas-kelas tambahan yang diikuti, dll.

LMS yang digunakan anak-anak untuk belajar.
Nanti di aplikasi bisa klik salah satu program kelas ini. Semua materi belajar sudah tersedia di aplikasi, sehingga di “sekolah” anak-anak tidak lagi menggunakan buku-buku pelajaran.
Materi pembelajaran biasanya berupa slide presentasi, modul interaktif, audio, dan video. Untuk assessment ada yang berbentuk upload tugas-tugas (bisa foto, pdf, link drive, dll), ada pula yang berbentuk kuis-kuis.
Di dalam setiap paket belajar, ada ruang diskusi secara daring yang diakses orang tua maupun murid. Jadi, di SMM tidak ada grup WA korlas ya, komunikasi hanya pakai fitur chat ini dan sesekali menggunakan telegram sesuai kesepakatan.
Selain fitur komunikasi, aplikasi Sekolah.mu ini juga menyediakan fitur laporan perkembangan belajar anak. Semua raport anak bisa diunduh langsung dari sini.
Kemudian, ada juga fitur kalender, yang membuat anak maupun orang tua bisa mengatur waktu dan mengingat jadwal pelajaran, pengumpulan tugas, hingga ujian. Biasanya ada notifikasinya juga.
Kesimpulan penggunaan Sekolah.mu
Menggunakan platform Sekolah.mu atau LMS sebagai media belajar membuat anak-anak bisa menggabungkan cara belajar yang fleksibel dan mandiri, tetapi bermakna/ berkualitas ketika sesi tatap muka. Tatap muka ini bisa dilakukan secara online maupun offline, tergantung kebutuhan. Fleksibilitas sangat terjamin di sini.
Sekolah.mu ini juga memungkinkan anak-anak belajar sesuai minat, bakat, dan kecepatan belajar masing-masing. Anak memegang kendali atas pengalaman pendidikan mereka masing-masing. Hal ini mendukung kemandirian belajar anak yang bisa diaplikasikan ke kehidupan sehari-harinya juga.
Satu lagi keuntungan memakai Si LMS ini adalah materi pembelajaran bisa dibuka bebas kapan saja dan di mana saja. Hanya saja kelemahannya, kalau tidak ada jaringan internet, ya, susah sih membuka Sekolah.mu ini, hehe.
Nah, itulah teman-teman sedikit cerita pengalaman belajar anak dengan menggunakan platform aplikasi Sekolah.mu atau dikenal dengan LMS ini. Udah canggih kan ya? Nggak ketinggalan zaman kan ya, sehingga agak gimana gitu kalau diremehkan “Ih, ijazah paket, doank”? Hihihi 😀 . Yaaa, begitulah hidup, setiap hari kita akan belajar hal-hal baru, karena dunia juga nggak statis, melainkan dinamis. Apalagi yang namanya teknologi, khususnya terkait pendidikan, semua berkembang, bahkan kadang sangat cepat 😀 . Setuju tak? 😀
April Hamsa


Aku suka banget cara April ngangkat isu “Paket C” yang lagi rame itu dengan sudut pandang yang adem tapi tetap tegas. Kadang orang memang terlalu cepat menilai tanpa benar-benar paham konteks. Padahal justru fakta bahwa lulusan Paket C bisa tembus kampus besar seperti Universitas Gadjah Mada itu bukti kalau jalur pendidikan alternatif juga punya kualitas dan daya saing ????
Penjelasan tentang PKBM juga lengkap dan membuka wawasan. Banyak orang mungkin masih stuck dengan stigma lama, padahal sekarang pilihannya makin beragam dan sistemnya makin modern. Apalagi dengan dukungan platform seperti Sekolah.mu yang sudah pakai sistem LMS dan blended learning, kelihatan banget kalau pendidikan non-formal juga nggak kalah canggih.
Overall berdoa sepenuh hati agar di jaman now banyak orang ga lagi merendahkan sistem pendidikan jalur manapun.. kalo perlu, jalur langit juga dihargai :)))
Yang menghujat mungkin mikirnya hanya diujung jempol kali ya, secara Ketua BEM selain lulus paket C yang tembus UGM, kepilih pula jadi Ketua BEM UGM, dikira siapa yang mau maju bisa kepilih gitu? Benar-benar yg komen mainnya kurang jauh.
Padahal, banyak banget pilihan sekolah yang keren2 yg bukan sekolah formal dan itu pilihan, seperti melalui aplikasi sekolah.mu ini ya.
Selain itu, ijazah Paket C tanda kelulusan resmi dan ijazahnya asli, dan kemampuannya bisa ‘diadu’ atau bersaing dengan lulusan sekolah lain.
Lha Ibu Susi juga lulusan Paket C, kurang hebat apa pemilik Susi Air ini
Eniwei emang Ibu Susi dan Tiyo gak ujug-ujug hebat, ada proses yang harus dilalui
salah satunya bisa menggunakan aplikasi Sekolah.mu yang akan membantu peserta didik menyelesaikan proses belajar dengan lebih mudah dan nyaman
Beneran. Yang menganggap PAKET C dan berbagai fasilitas PKBM kurang bahkan mungkin tak layak tuh perlu dibina …binasakan hahahaha. Banyak loh keponakan, anak keponakan, dan teman-temannya yang punya prestasi gemilang di PAKET C. Mereka juga membesar dengan kualitas yang ok. Malah banyak yang tangguh saat saya ajak diskusi dengan penguasaan bahasa Asing yang jempolan. Yang penting mereka-mereka ini lulus saat diuji, memenuhi standarisasi negara. Sesimpel itu sebenarnya.
Berkaca pada Tiyo (Ketua BEM UGM). Garing amat yak ada yang mempermasalahkan dia lulusan PAKET C. Pengen gue geplak hahahaha. Sadari aja. Yang lulus sekolah formal aja belum tentu keterima di UGM. Kalo berhasil lolos kan berarti kualifikasinya layak untuk masuk ke universitas yang melegenda itu. Kecuali ya orang yang berijazah palsu itu (ngekek)
Mungkin karena kalau sekolah paket C tuh nggak selama kalau belajar di sekolah kayak biasa. Padahal memang nggak ada yang salah dengan paket C. Aplikasi sekolahmu ini membantu banget
Aku ketawa aja waktu Ketua BEM UGM dihujat gara-gara ijazahnya hanya Paket C. Lha, harusnya malah disanjung tuh, hebat berarti, bisa tembus UGM, artinya lulusan PKBM punya standar yang sama dengan sekolah formal lainnya. Orang-orang pada enggak update tuh ya..hhhh
Btw, sekolah anakku Al Azhar Kembangan juga pakai LMS mba, dan gadget sekolah pakai iPad..(enggak semua sekolah Al Azhar pakai aplikasi ini, karena ada yang belum wajib iPad – terutama yang di luar Jakarta) Karena itu tadi, kekurangannya kalau koneksi internetnya kurang ya terhambat KBM nya
Oh itu seperti LMS ya?
Daku pernah ikut pelatihan dan belajarnya itu pakai LMS. Berarti bisa dibayangkan gambaran bentuk aplikasi Sekolah.mu ini.
Buat siapa saja sih, sebenarnya mengenyam pendidikan dimana aja seharusnya bukan dipermasalahkan, bahkan sampai seperti direndahkan begitu. Sebab perjuangan orang yang belajar itu, yang bisa saja tidak bisa dicapai oleh banyak orang
iya ih, gemes banget sama yang ngehujat perkara paket C. Padahal ya setiap orang punya jalur dan tahapan belajarnya sendiri. Dan yang terpenting adalah: tidak berhenti belajar. Itu yang ngehujat dasar emang belum tahu aja sih tentang Paket C.
Sekarang paket C menjadi pilihan yang sudah dianggap biasa oleh masyarakat. Kalau dulu kan, yang engga sekolah formal, paket C dianggap pilihan kepepet.
Buat orang tua yang anak-anaknya homeschooling, paket C adalah solusi untuk studi lebih lanjut.
Wah kak TRIms aku jadi tahu ada aplikasi ini yang sangat bermanfaat nih, aku share buat kakak iparku ah pas banget anaknya di usia sekolah ini penting banget pasti
Kadang suka gedeg aja dengan yang say ‘ih cuma paket C’. Yang bilang rasanya mainnya kurang jauh.
Padahal kalau yang tahu, paket c tuh bukan ujian ketertinggalan, tapi juga penyetaraan bagi anak² yang homeschooling. Daann yang bikin merinding adalah cukup banyak anak orang² kaya ternyata memilih homeschooling demi mendapatkan fleksibilitas waktu lho. ????
Nah setuju Kak, kan gak ada salahnya bila seseorang itu belajar mau itu Paket A, B, C atau mereka mengambil langkah homeschooling.
Sebab pastinya mereka itu ada alasannya kenapa bisa memilih itu, karena tiap orang punya kesibukannya masing-masing dan juga terkait rejekinya juga kan
sekarang pilihan sekolah jadi lebih beragam ya mba gak hanya sekolah di sekolahan yang kayak kita dulu namun skrg juga ada sekolah alam dan lain2…
kalo sekolah diluar jalur sekolah offline ini kalo misal suatu saat ingin memutuskan masuk ke sekolah pada umumnya sistemnya bagaimana ya mba? apakah tetap saama saja anak mendaftar menggunakan ijasah yang sudah diterima atau ada jalur khususnya? maaf tanya2 sekalian buat referensi nanti nya 🙂
hooo, kudet akuh. Aku pernah dgr soal paket C (tidak terkait dengan keributannya) tapi tidak pernah memikirkannya lebih jauh. Setelah mencari tahu, oh paket C ini untuk ijazah setara dengan SMA. Tapi saat ini paket C sama sekali tidak bisa diremehkan ya. Karena terbukti mengikuti perkembangan jaman dengan menyediakan apa yang dibutuhkan oleh para siswa. Bisa untuk yang berniat sekolah ke luar negeri pula. Plus sekarang pun ada aplikasi khusus juga sehingga semakin fleksibel untuk mengikuti pelajarannya. Jd tidak benar kalau paket C kualitasnya jelek dan tidak bisa diremehkan.
pengen ketawa guling guliingg kalo lihat orang yg under-estimate PKBM.
btw, di jogja ada SMA PRAXIS , coba googling Pril. kali kali ntar cocok buat Maxy or Dema.
btw, app sekolah.mu ciamiikk banget ya. pastinya memenuhi ekspektasi para ortu wali murid SMM
Mbaaaa, ini aplikasinya berbayar kah? Dan kalau bukan anak SMM, bisa juga ga pakai ini? Sekedar utk nambah2 bahan materi sekolah.
Menariiiiik ini. Dulu aku punya impian pengen anak homeschooling atau belajar bebas begini. Tp suami ga mau. Wajib sekolah regular. Tapi dipikir2 aku juga ga punya kesabaran untuk mengajari dan mendampingi anak, apalagi dulu kerja kantoran .
Padahal kalau sekarang ini , fasilitas untuk mendukung anak SMM udh banyak yaaa. Apalagi nanti setara juga setelah ikut ujian paket. ????????????
Andai saja semua bisa sekolah dilakukan dengan cara melihat bakat dan minat anak, mungkin tidak ada yang terlantar dalam hal skill. Semua bisa mendapatkan pekerjaan yang layak karena sudah ditempa dengan baik
Setuju sekali April, kalau hidup itu dinamis segala sesuatu terus berubah. Satu bukti keadilan hidup untuk memberi kesempatan pada semua orang untuk setara. Contohnya dengan hadirnya teknologi membuka batas-batasan dan banyak orang bisa belajar. Apalagi dengannya adanya aplikasi sekolahmu. Itu lengkap banget, sampai ada kalender yang mengatur kebutuhan orang tua dan murid.
Aku sering heran sama orang-orang yang suka memandang sebelah mata soal katagori. Karena seperti yang dirimu tulis kalau semuanya dinamis, tentu dengan itu memungkin sekali yang terlihat golongan yang tersisih akan menjadi unggulan di lain waktu.
Aah manusia, memang suka sekali terkecoh dengan alur waktu.
Nah sekolah tuh seharusnya ngebebasin muridnya utk berkreasi sesuai bakat dan minat yak daripada dipaksa utk memahami kurikulum skrg. Makanya beda bgt kurikulum zaman now dan zaman saat kita kecil.
Berasa smua ilmu masih tercantol di otak meski kdg ada sedikit lupa alias ga ingat. Sistem pendidikan di PKBM seharusnya jd pedoman sekolah lain. Daripaa ntr ditanya2 oleh TikToker, eh anak kalian ga bs jawab. Kan berabe yak.
Dengan ramainya ketua BEM yang dinyinyirin gegara lulusan paket C banyak membuka mata sebagian masyarakat yang berpemikiran terbuka bahwa memang lulusan Paket C sekarang ga bisa dianggap sebelah mata, tapi sebaliknya, kualitas lulusannya bisa setara, bahkan lebih dari sekolah formal. Di sisi lain, kita pun tak bisa memaksakan pemikiran sebagian yang lain yang menganggap kalau paket C itu tak berkualitas, karena di lapangan memang masih banyak PKBM abal-abal yang tak menyelenggarakan pembelajaran, hanya ujian formal untuk mengeluarkan ijazah saja.
Makanya penting juga untuk para orang tua atau anak yang mau mengambil paket C untuk memilih dan memilah PKBM terbaik dan berkualitas agar out put nya pun berbanding lurus
Sedih ya kalau hari gini masih ada yang memandang sebelah mata ijazah Paket C. Padahal, perjuangan dan kemandirian anak-anak PKBM itu luar biasa. Apalagi dengan sistem blended learning lewat LMS seperti Sekolahnya, cara belajar mereka justru sudah sangat futuristik dan relevan dengan dunia kerja digital.
Buktinya nyata, lulusannya bisa tembus UGM! Itu menunjukkan kurikulumnya nggak main-main. Fleksibilitas di PKBM justru jadi ruang buat mereka mengasah bakat spesifik yang nggak didapat di sekolah formal. Keep sharing ya, biar makin banyak yang melek kalau jalur pendidikan itu beragam dan semuanya keren!
Ehhhh demi apaaa, aku baru tau istilah PKBM ini mbak. Jadi Sekolah Murid Merdeka (SMM) itu tuh setara kayak kejar paket C ya? Kukira selama ini teh samaaaaa… Kebetulan salah satu cabangnya ada di daerah Bekasi, tepatnya di Sentrakota, Jatibening.
Ngeliat luarnya kok kayak keren gituu. Eh ternyata pembelajarannya pun gak kalah kerennya ya, pake konsep hybrid.. dan bisa pake pembelajaran digital juga.
Cuma memang, salah satu tantangan terbesar ikut kejar paket C atau PKBM ini, ada di pertimbangan orang tua si. Khususnya, karena ini kelas hybrid.. mereka interaksinya gimana? Takutnya jadi kurang interaksi, dan sulit bersosialisasi.
Ya walaupun di sekolah biasa pun masalahnya ada di sosialisasi ya. Takut, nantinya ajaran kita dipatahin sama pergaulan dan gaya hidup ga jelas dari para anak yang parentingnya ga jelas juga.
lama bngeutt enggak nengok dunia edukasi hehe , soal paket c yg lagi rame belum tahu aja sistem nya. Makanya diadakan paket c juga itu udah by research. jadi kalau ada yang komen atau nyinyir ijazah paket c itu tidak berlandaskan pengetahuan
Hehehe. Emang kenapa paket C? Zaman dulu sama sekarang tentu beda. Malah zaman sekarang anak-anak lulusan PKBM itu jauh jauh jauh lebih cerdas. Banyak banget kasus begitu.
Dan anak saya yang kembar, itu malah saya masukin PKBM, bukan SD nasional atau SDIT seperti kakak perempuannya. Kurikulumnya Cambridge dan 12 Kompetensi. Alasannya karena anak-anak PKBM benar-benar ditempa dengan banyak kompetensi, mulai dari pendalaman public speaking, kemandirian, wawasan, sampai kreatifnya.
Sebagai ibu saya bisa membandingkan si adik yang di PKBM dengan si kakak yang SDIT. Beda-beda kelebihan, tapi yang saya tahu kemampuan public speaking adiknya sangat jauh di atas kakaknya.
Di sekolah anakku yang bungsu, ada anak yang masuk meski sekolahnya di PKBM, malah dia lolos lewat jalur prestasi, bukan berdasarkan nilai.
Di ujian masuk perguruan tinggi, kalau enggak salah ada pilihan PKBM dari asal sekolah.
Tapi kalau di perkotaan sih udah jarang ketemu gangguan internet seperti di kampung saya sini ya. Jadi gak khawatir tidak bisa belajar, kecuali emang kehabisan kuota ponsel nya aja
Kalau di kampung sini kan cuaca buruk aja bisa mempengaruhi kecepatan internet. Belum kalau listrik mati, internet ya ikut mati.
Udah pasti gak bisa leluasa buka LSM sekolah.mu nya itu
Insight banget mbak isinya. saya jadi tahu kalau ternyata paket C melalui PKBM ada beragam jenis pilihan lagi bahkan ada khusus untuk yg keluar negeri juga ya.
Sejak kenal teman-teman yang anaknya homeschooling, wawasan saya tentang jalur pendidikan semakin terbuka. Bahkan baru tahu, kalau anak-anak HS itu nantinya ijazahnya paket C. Sebelumnya saya tahunya ya paket C dan sejenisnya hanya untuk anak yang putus sekolah.
Aku juga sempat tertarik SMM waktu anak pertama mau masuk TK. Pengin anak homeschooling aja. Secara anak cuma satu. Bisa lha aku fokus ngurusin dia. Eh begitu tahu hamil, apalagi hamil kembar dengan segala dramanya, aku merasa nggak snaggup kalau anakku HS. Akhirnya ya udah masuk sekolah formal aja. Mungkin memang sudah jalannya begitu ????
Sekolah.mu banyak kegiatan seru. Aku sampai lupa ada aplikasi ini saking sibuknya dengan peran ibu anak dua. Hahahaha… Ntar coba aku intip-intip lagi. Setahuku ada kegiatan yang bebas diikuti umum juga.
Saya juga heran pada orang yang memandsnh sebelah mata psd paket C. Justru Dengan ada anak yang lolos UMG dengan ijazah paket C, justru ibu jadi motivasi tersendiri bagi anak lain ya Mbak. Bahwa paket C bisa menembus pendidikan tinggi juga. Bahkan sampai keluar negeri karena kurikulumnya sudah disesuaikan. Kini paket C tidak dipandang sepele atau dijadikan pilihan pendidikan terkahir lagi m
Salut mbak, sepakat saya, saya pun kagum dengan anak yang paket C tapi tembus Universitas Negeri, duh namanya sekarang susah sampai belibet saya, kalau dulu UMPTN
Ga hanya UGM kok, yang tembus UI juga ada, btw A Fuadi penulis Negeri 5 Menara juga tembus Unpad kok
Bukan kualitas sekolah yang menentukan prestasi anak tapi kemauan dan kemampuan anak serta ridho Ortu dan Allah la yang membuat seorang anak sukses akademik maupun hal lainnya
wah ternyata sekolahmu ini bisa buat belajar gitu ya dan ini berarti gratis kah, pril? Aku kok kayaknya pernah ya anakku disuruh daftar di sekolahmu ini cuma nggak pernah digunakan gitu. Kalau soal ijazah paket C memang sampai sekarang masih ada stigma negatif ya tentang ini dipikirnya anaknya putus sekolah padahal sekarang banyak anak pintar yang ternyata ijazahnya di Paket C karena homeschooling
Kyknya semua bisa punya aplikasi ini tetapi kalau mau akses materinya berbayar.