“Kalau liburan ke Braga, Bandung, beli oleh-olehnya di mana ya?” Hmmm, kata orang-orang, sih, belum sah main ke Braga, Bandung, jika belum beli oleh-oleh di Toko Kue Lakker. Makanya, ketika liburan ke Braga awal tahun 2025 lalu, saya langsung memasukkan toko kue yang katanya udah berdiri sejak tahun 1986 ini ke list tempat-tempat yang wajib dikunjungi. Apalagi, ketika mengecek di peta online, jarak toko kue ini dari hotel tempat saya menginap sangat dekat.
Sekilas tentang Toko Kue Lakker
Beneran, deh, udah merasa kek berjodoh aje, ketika saya jalan kaki dari Warung Kopi Purnama menuju hotel, saya langsung ketemu Toko Kue Lakker ini. Fasad bangunannya tuh berbentuk jendela kaca besar yang memungkinkan orang dari luar bisa sedikit mengintip ke area dalamnya. Saya bisa langsung melihat rak etalase yang penuh jajanan dan banyak orang-orang berbelanja di dalam.
Namun, waktu itu saya nggak langsung masuk, sih, soalnya udah capek, hehe. Pokoknya udah tahu lokasinya di mana, tandain, dulu, deh.
Saya dan keluarga baru mengunjungi Toko Kue Lakker ini keesokan harinya, sebelum kami meninggalkan Braga. Yup, buat membeli oleh-oleh yang bisa kami bawa pulang ke rumah 😀 . Hari itu kami ke sana sekitar pukul 11 siang. FYI, Toko Kue Lakker ini buka sejak pukul 7 pagi dan tutup jam 8-9nan malam.

Tampak depan Toko Kue Lakker di Braga.
BTW, tahu nggak, sih, hal yang lucu? Jadi, awalnya saya mengira toko kue ini dinamai “Lakker” karena berasa dari “kue leker” yang juga berasal dari Bahasa Belanda “lekker” yang artinya “enak”, ternyata, saya keliru. Penamaan “Lakker” ini ternyata akronim dari “laku keras”. Harapan owner-nya supaya toko kuenya banyak yang beli. Emang bener yaa, nama adalah doa, maka tak heran Toko Kue Lakker ini menjadi destinasi jujugan wisatawan yang main Braga.
Begitu masuk ke dalam toko kue, kami langsung disuguhi desain interior vintage. Sebelumnya, saya sudah mendengar dari orang-orang kalau Toko Kue Lakker ini memang bisa membawa kita ke kenangan jaman dulu.
Selain rak etalase jajanannya yang terkesan jadul, ada beberapa meja yang terlihat tua diletakkan di beberapa sudut. Tak ketinggalan beberapa lukisan/ foto juga jam dinding jadul menghiasi tembok toko ini. Hiasan paling unik adalah sepeda onthel jadul yang diletakkan di atas salah satu rak. Entah, sepeda siapa itu, hehe.

Area buat makan jajanan di toko.
Kejadulan Toko Kue Lakker ini sebenarnya tak hanya terletak di desain interior tokonya aja, lho, melainkan juga jajanannya. Kue-kue yang dijual di Toko Kue Lakker tuh kebanyakan merupakan jajanan pasar yang sepertinya akan mengingatkan pengunjung, khususnya remaja milenial, pada masa kecilnya dulu.
Yes, dari pertama kali masuk pintu (utama), pengunjung Toko Kue Lakker akan langsung disuguhi pemandangan berupa etalase kue di atas tray-tray yang bersusun, gitu. Buat yang nggak tahu nama kuenya, jangan khawatir, karena di setiap tray yang berisi di kue ada nama kuenya. Kemudian, di bagian paling atas etalase ada tulisan yang mendeskripsikan kue-kue tersebut. Mulai dari foto kue, nama, bahan-bahan pembuatnya, dll. Jadi, kalau membeli kue di toko kue ini pengunjung kek bisa dapat pengetahuan baru tentang perkuean 😀 .
Apa saja jajanan yang dijual di Toko Kue Lakker?
Penasaran jajanan yang dijual di sana apa saja? Coba saya ingat-ingat kembali ya.
Jadi, sebenarnya, Toko Kue Lakker ini tidak hanya menjual jajanan pasar yang biasa kita kenal sebagai “jajanan basah” aja, melainkan juga menjual produk lain.
Namun, tetep ya, daya tarik utama Toko Kue Lakker ini terletak pada jajanan kue-kue basahnya. Beberapa kue yang saya temukan di sana, antara lain: pastel, onde-onde, kroket, bolen mini, kue soes, kue khas Belanda jadul poffertjes, arem-arem, olahan ketan yang dibungkus daun pisang, dll. Mirip-mirip yang mungkin biasa kita jumpai di pasar tradisional yang biasa menjual kue-kue basah, lha, ya.

Etalase kue-kue.
Kue-kue jajanan pasar tersebut diletakkan di tray-tray yang sebelumnya saya ceritakan tadi. Pengunjung bisa memilih kue-kue tersebut sembari membawa baki dan jepitan yang sudah disediakan.
Oh ya, selain tulisan nama, di setiap tray (di bawah nama kue) juga ada keterangan harga kuenya, sehingga kalau kita membeli kue di sini, kita langsung bisa memperkirakan kira-kira bayarnya berapa nanti. Untuk harganya bervariasi, sih, tergantung jenis kuenya. Saya lupa berapa aja tepatnya, tetapi masih cukup affordable, lha, jika dibandingkan toko-toko kue di sekitaran Jakarta yang punya brand-brand ternama itu. Seingat saya malah ada kue yang harganya di bawah Rp10.000,-.
Kemudian, untuk jenis makanan lain, Toko Kue Lakker juga menjual aneka roti dan cake. Roti yang ada di sana ada yang jadul atau klasik, seperti roti bluder dengan berbagai varian rasa/ isian, ada roti sisir, dll. Ada pula roti kekinian seperti roti gandum, roti bantal, dll. Lalu, untuk cake-nya, Toko Kue Lakker ini memiliki etalase kaca khusus. Mereka menyediakan cake seperti tiramisu, cake cokelat, dll. Tak ketinggalan toko kue ini juga menyediakan kue-kue bolu klasik seperti shiffon cake, lapis Surabaya, dll.
Satu lagi yang menurut saya unik adalah Toko Kue Lakker ini juga menjual jajanan jadul. Untuk etalase jajanan jadul ini ada di dekat salah satu dindingnya. Masih ingat akan cokelat koin atau cokelat paying, jajanan anak dulu banget? Yes, ada di etalase ini.

Aneka jajanan jadul.
Selain permen dan cokelat, ada pula snack gurih seperti mie lidi, lidi-lidian, kue semprong, dll. Bahkan, tak ketinggalan, toko ini juga menjual mainan tradisional yang biasa dimainkan anak milenal di masa lampau, seperti bongkar pasang hingga mainan gigi drakula.
Di sisi dinding yang lain, pengunjung juga bisa menemukan aneka makanan kering, seperti aneka keripik, rengginang, dll. Ada pula etalase yang memajang kue-kue kering dalam toples-toples.
Trus, ternyata, selain menjual jajanan, Toko Kue Lakker ini juga menjual makanan yang agak berat, seperti bacang, siomay, nasi-nasi yang dibungkus kecil dengan daun pisang, dll. Maaf saya agak lupa apa saja, keknya kudu balik ke sana biar update, hehe 😛 .
Oh ya, selain makanan, toko ini juga menjual minuman. Di toko tersedia kulkas kaca berisi minuman-minuman seperti susu, yogurt, temulawak, minuman bersoda, dll. Beberapa di antaranya adalah merek-merek yang sepertinya nggak terlalu kita kenal di pasaran. Sepertinya homemade, gitu, lho, bukan brand pabrikan.
Icip-icip makanan di Toko Kue Lakker
Saya agak lupa ya waktu itu membeli apa aja, tetapi kalau buat dibawa pulang ke rumah tuh sepertinya kami mengambil beberapa bungkus keripik. Eh, mungkin juga ada kerupuk haha, yaaa, maaaff, nggak kepoto, sih 😛 .
Namun, yang sempat diabadikan di kamera tuh saya membeli kue macaron, bacang, dan minuman bersoda dengan tulisan besar-besar di botolnya “Sarsaparilla”. Nggak tahu ini brand-nya atau sekadar keterengan kalau ini minuman sarsaparilla atau bersoda.

Bacang daging sapi.
Jajanan yang saya sebutkan di akhir-akhir itu kami makan di sana, karena memang tersedia tempat buat dine in. Lokasinya da di bagian belakang. Tersedia meja dan kursi di sana. Di bagian depan, di dekat lokasi yang jualan bacang kukus, dekat jendela depan sebenarnya juga ada, sih.
Oh ya, saya baru nyadar, kalau Toko Kue Lakker ini terkoneksi dengan toko kopi legend di Braga juga, namanya Toko Kopi Djawa. Mungkin masih satu owner, kali, ya? Sayangnya, waktu itu kami nggak nyicipin kopinya, karena waktu cukup terbatas.
Untuk bacangnya, kalau tidak keliru ada bacang daging sapi dan ayam. Kami beli satu varian daging sapi. Bacangnya lumayan besar ukurannya dan masih hangat, karena memang selalu disajikan di kukusan.

Minuman Sarsaparilla.
Waktu itu beli bacang, karena memang jarang banget makan bacang. Kangen sama rasanya, hehe. Trus, ada teman bilang kalau di Braga tuh ada penjual bacang cukup enak yang jualan bawa gerobak gitu kalau pagi-pagi. Sayangnya, kami nggak menemukannya. Jadi, yawda, ketimbang kecewa, beli bacangnya di Toko Kue Lakker saja 😀 .
Makan bacang.
Bacang dagingnya juga memiliki isian berupa lemak daging, gitu. Sebagai pecinta gajih (lemak) tentu saya happy banget, hehe. Sebutannya apa gitu? Jando-jando apalah kalau di Bandung?
Nasi ketannya juga cukup pulen, walaupun bacang ini dipadetin. Enak sekali dimakan dalam kondisi masih hangat.
Lalu, untuk kue macaronnya, sepertinya kami beli beberapa varian rasa (berdasarkan warnanya), lagi-lagi saya lupa apa saja. Buat saya sih kemanisan ya, tetapi ternyata menurut anak-anak saya enak-enak saja.

Anak-anak makan macaron.
Untuk minuman Sarsaparilla-nya, menurut saya cocok sekali diminum saat makan bacang. Apalagi minumannya dingin. Kalau boleh bilang rasanya tuh mirip sama rootbeer-nya resto AW, hanya saja lebih manteb aroma dan sensasi semriwingnya.
Nah, itulah teman-teman sedikit cerita tentang pengalaman membeli oleh-oleh di Toko Kue Lakker, salah satu toko kue legend di Braga, Bandung. Tak hanya soal makanan, tetapi sebagai milenial, kalau ke sana tuh seolah membeli kenangan masa kecil juga hehe.
Ada yang pernah mampir ke Toko Kue Lakker juga kalau sedang ke Braga? Apa yang biasanya dibeli di sana? Share di kolom komen yak 😀 .
Buat teman-teman yang belum pernah ke Toko Kue Lakker Braga ini, berikut alamatnya ya, barangkali penasaran kepengen beli jajanan tradisional dan camilan jadul juga di sana 😀 :
April Hamsa


Comments