“Sikilku iso muni…” Buat yang sudah menonton film Na Willa, yang tayang sebelum lebaran lalu, pasti auto nyanyi, nih 😀 . Yes, lagu berjudul “Sikilku Iso Muni” (Bahasa Jawa) yang berarti “Kakiku Bisa Bunyi” karya Laleilmanino ini memang merupakan soundtrack utama film Na Willa.
Buat saya pribadi, lagu itu cukup berkesan, karena ketika menonton Na Willa, kaki saya sedang dalam kondisi dibebat, karena dua hari sebelumnya saya keplucuk (apa dah Bahasa Indonesia-nya? 😛 ) di tangga. Tiba-tiba, telapak kaki saya kebalik aja, gitu. Padahal, ya turun tangganya biasa aja, wkwk. Jadi, sepanjang film ketika ada adegan “kaki anak terluka” yang menjadi kisah munculnya lagu itu di film, saya merasa kaki saya ikut ngilu 😛 .
Meski demikian, tenang, film Na Willa bukan film tentang kaki yang luka, walaupun memang ada adegan kaki terluka. Lebih dari itu, film ini menceritakan tentang bagaimana cara seorang anak kecil memandang dunia melalui kacamatanya yang polos.
Tentang film Na Willa
Na Willa, nama karakter anak kecil yang dimaksud itu, sesuai nama judul filmnya. Film yang disutradarai oleh Ryan Adriandy ini berdasarkan buku berjudul sama juga, “Na Willa: Serial Catatan Kemarin” karya Reda Gaudiamo. Konon katanya kisah dalam buku tersebut diilhami dari kisah nyata penulisnya saat masih kanak-kanak dulu.
Diceritakan bahwa Na Willa (Luisa Adreena) anak dari pasangan Pak (Junior Liem) seorang Cindo Suroboyo dan Mak (Irma Novita Rihi) yang berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Keluarga ini tinggal di salah satu gang kecil, namanya Gang Krembangan, di Kota Surabaya pada era 1960-an. Yes, setting waktu film ini adalah tahun 1960-an, ya, teman-teman.
Seperti yang kita ketahui, bahwa tahun-tahun segitu, anak-anak tuh belum sibuk dengan gadget-nya. Mereka pada sibuk bermain bersama teman-temannya.

Poster Film Na Willa. Sumber: aku Twitter Ryan Adriandy.
Na Willa yang waktu itu berusia 6 tahun memiliki beberapa teman karib yang juga sekaligus tetangganya, yakni Farida (Freya Mikhayla), Bud (Ibrahim Arsenio), dan Dul (Azamy Syauqi). Di antara mereka berempat, mulanya hanya Bud yang bersekolah. Tiga anak lainnya belum. Meski begitu, mereka berempat kerap bermain bersama di lapangan dekat gang perumahan mereka.
Masing-masing anak memiliki karakter unik. Na Willa yang selalu ingin tahu tentang segala hal, Bud yang jago bermain dengan menggunakan fisik (berlari, misalnya), Bud yang selalu umbelan (ingusan) dan punya banyak mainan, lalu Farida yang tidak bisa ngomong huruf R (cadel).
Na Willa kerap ikut Mak pergi ke pasar. Sampai pasar, Na Willa selalu mampir ke pedagang anak ayam, kemudian memandangi anak-anak ayam itu. Namun, Mak tidak pernah mau membelikan Na Willa anak ayam.
“Nanti saja, kapan-kapan.” Begitu janji Mak setiap kali mereka lihat-lihat anak ayam di pasar.
Nonton Na Willa di Platinum Cineplex.
Oh ya, biasanya kalau di pasar, Mak menitipkan Na Willa ke Cik Mien (Mellisa Karim) yang punya toko sembako. Cik Mien ini selalu memberikan Na Willa minuman bersoda, kemudian berpesan, “Jangan bilang Mak, ya!” Namun, kalau ketahuan biasanya Cik Mien gercep membela Na Willa dengan mengatakan, “Willa nggak minta, saya yang kasih.” Duh, sepasang anak kecil dan orang dewasa ini emang udah kek partner in crime aja 😀 .
Di rumah, Na Willa lebih sering hanya bersama Mak, karena Pak bekerja di bidang perkapalan. Pelaut gitu, keknya. Maka, Pak sering dinas berlayar, sehingga berbulan-bulan tidak pulang. Kondisi ini kadang membuat Na Willa kadang lupa wajah Pak.
Keluarga Na Willa juga punya asisten rumah tangga yang menemani mereka sehari-hari. Namanya Mbok Tun. Mbok Tun ini karakternya lucu dan suka menggoda Na Willa.
Kalimat andalan Mbok tun adalah “Sejak zaman Pebruariiii!”. Kalimat ini tuh kek kalau kita mengucapkan, “Sejak zaman penjajahan Belanda”, gitu, lho.
Mengapa Bulan Februari? Sebab biasanya Pak mulai pergi berlayar, meninggalkan keluarganya, saat Bulan Februari.
Konflik pertama di kehidupan Na Willa yang ditampilkan di film adalah ketika Bud tertabrak kereta api. Tak hanya Na Willa yang merasa bersalah kala itu, tetapi juga Mak, yang sebelumnya terpaksa berbohong kepada Bud agar Na Willa tidak bermain di rel.
Sumber: YouTube Visinema Pictures.
Namun, pada akhirnya kesedihan ini terobati ketika Bud yang terpaksa kehilangan satu kakinya tetapi terlihat ceria. Bahkan, dengan bangganya Bud menunjukkan kalau kakinya sekarang bisa berbunyi dengan mengetuk-ngetuk kaki palsunya yang terbuat dari kayu.
Lalu, konflik berikutnya adalah ketika Na Willa merasa kesepian, karena teman-teman bermainnya mulai masuk sekolah, sementara dirinya belum. Pasalnya, Mak, merasa khawatir melepas Na Willa ke sekolah, walaupun Mak tahu kalau sebenarnya Na Willa sudah bisa dikit-dikit membaca dan menulis, karena ia sendiri yang mengajarkannya.
Sampai akhirnya ada karakter bernama Nyonya Chang (Ira Wibowo) menyarankan Mak untuk menyekolahkan Na Willa.
Nah, apakah Na Willa Bahagia setelah bersekolah? PR teman-teman yang belum nonton untuk menemukan jawabannya sendiri dengan menonton film Na Willa ini sendiri, hehe 😀 .
Pendapat saya mengenai film Na Willa
Pertama kali film diputar di layar bioskop, saya langsung memperhatikan tone warna filmnya yang begitu berwarna, tetapi lembut dan warm. Dimulai dari kostum/ pakaian yang dikenakan karakter-karakternya, terutama Na Willa, juga setting latar tempatnya. Menyejukkan mata deh, kayak kalau kita menonton filmnya tuh nggak kerasa jadi senyum-senyum sendiri 😀 .
Walaupun setting waktunya tahun 1960-an, tetapi sebagai Arek Suroboyo yang besar di era 1990-an, saya merasa banyak yang relate. Mulai dari kebiasaan bermain dengan teman sepulang sekolah, mainnya di outdoor pula di mana waktu itu masih masih banyak tanah kosong, no gadget-gadget club. Kayaknya anak-anak kala itu fine-fine aja, ya, hidup tanpa screen. Malah, jadi banyak hal-hal yang dieksplor. Walaupun salah satunya ada season kepoh maen di rel yang berujung pada Dul keserempet kereta, hiks hiks.
Mengenai tragedi Dul, film ini menggambarkan tentang bagaimana suatu musibah ada kalanya tak perlu dihadapi dengan tangisan. Mungkin, karena saat itu Dul masih kecil atau bagaimana, tetapi karakter Dul ini mengajarkan penonton agar selalu menemukan sisi baik dari kemalangan yang datang.

Ilustrasi karakter Na Willa.
Film Na Willa ini juga menyadarkan saya kembali mengenai hal-hal yang dianggap orang dewasa sepele, ternyata buat anak-anak tuh begitu berarti. Begitu pula dengan imajinasi-imajinasi anak-anak yang kadang out of the box. Orang dewasa mah seringnya sudah lupa hal begitu-begitu, kebanyakan beban pikiran, hehe 😛 .
Saya juga menyukai adegan setiap Na Willa dititipkan Mak ke Cik Mien. Na Willa selalu memainkan tumpukan kacang hijau di etalase dagangan Cik Mien. Mungkin teman-teman yang besar tahun 1990-an juga ada yang mengalami masa-masa mainin beras atau biji jagung saat ikut orang tuanya ke warung? Nah, adegan itu persis kek gitu.
Untungnya pemilik warung sama kek Cik Mien ya? Nggak pernah marah walau anak kecil main-mainin dagangannya. Thanks to pemilik warung, anak-anak pada era itu secara tidak langsung jadi belajar tentang sensory rice yang membuat motorik halus dan koordinasi tangan anak-anak lebih terasah.
Persahabatan antara Na Willa dengan Cik Mien seperti yang saya ceritakan di atas juga cukup unik. Siapa yang waktu kecil punya persahabatan dengan orang dewasa juga? Misal, dengan tante/ om yang diam-diam kasi permen padahal ortu melarang? Mirip-mirip gitu, deh. Senang punya bestie dan rahasia bersama kan? 😀
Trus, saya jadi mengetahui kalau di era itu ternyata masih banyak bule-bule (kebanyakan Belanda kayaknya) di Surabaya. Walaupun sudah berkurang banyak, karena sekitar tahun 1957-an ada kebijakan Nasionalisasi Perusahaan Belanda oleh Pemerintah Republik Indonesia, sehingga sekitar tahun itu banyak bule-bule pulang ke negaranya masing-masing. Meski demikian, masih ada yang bertahan, salah satunya keluarga karakter Nyonya Chang.
Film ini juga memperlihatkan toleransi di gang tempat tinggal Na Willa. Sepengetahuan saya, Gang Krembangan tempat Na Willa tinggal lokasinya ada di kawasan Surabaya Kota Lama. Di area ini tuh masyarakatnya lebih beragam, karena dekat Selat Madura, jadi selain Orang Jawa, juga banyak pendatang dari Madura. Tak ketinggalan Cindo-Cindo Surabaya dan orang-orang keturunan Arab juga banyak di sana, karena area sana juga dekat Pelabuhan Tanjung Perak di mana banyak didatangi pedagang atau pengusaha dari etnis Tionghoa maupun Arab, dll.
Meskipun berbeda-beda etnis, latar belakang, dan keyakinan, tetapi Na Willa dan teman-temannya tetap berteman baik. Hal paling menggelitik adalah ketika Na Willa ikut Farida belajar mengaji dan sholat. Mak mengizinkan tetapi dengan syarat Na Willa duduk dan hanya melihat-lihat saja.
Tapi yang namanya anak kecil pasti ingin tahu dan ikut-ikutan, donk, gimana rasanya mengaji dan sholat. Sampai ada adegan Na Willa mengambil sprei putih yang baru dicuci Mbok Tun trus dia jadikan mukena. Mak cuma bisa gemes dan mengelus dada ketika mengetahui sprei putih yang baru dicuci jadi kotor.
BTW, OOT dikit, jadi kapan hari di Threads tuh ada seorang ibu yang posting marah-marah karena mendapati anaknya mengikuti gerakan sholat ART-nya. Si ibu ini bilang kalau agamanya berbeda. Sontak netizen pun bilang kalau biasanya anak seusia itu cuma ikut-ikutan, nggak bakal langsung jadi mualaf juga, kok.
Postingan tersebut membuat saya teringat pada adegan film Na Willa tadi. Hal-hal kek gitu keknya lumrah aja di masa lalu, apalagi kalau teman mainnya heterogen. Dulu, adik saya juga punya teman main yang keluarganya nonmuslim, tetapi suka ikut mengaji di TPA dan sholat juga dengan meminjam mukena ART-nya. Sama ortu-nya dibiarkan saja. Mungkin ortu zaman dulu lebih selow kali ya menghadapi perilaku demikian, lebih nggak panikan?
Trus, salah satu hal yang saya suka di film ini adalah karakter Mak yang tidak dibuat soft spoken. Mak tuh sayang anak, tetapi juga tegas. Bahkan bisa marah juga jika diperlukan. Khas emak-emak dulu yang kata netizen parenting-nya parenting VOC, walaupun ya nggak VOC-VOC banget, hihihi.
Mak juga diceritakan memiliki “kelemahan” yakni terlalu melindungi anak, sehingga ketika anak-anak lain mulai bersekolah, tetapi Mak masih ragu mendaftarkan Na Willa ke sekolah. Mak sepertinya khawatir Na Willa susah bergaul, terlihat berbeda sendiri, dibandingkan anak-anak lain yang tinggal di daerahnya.
Menurut saya, kekhawatiran Mak ini valid ya. Apalagi, ketika ada adegan yang menunjukkan rasisme di sekolah. Na Willa mendapatkan julukan “Asu Cino” yang artinya “Anjing Cina” dari teman-teman di sekolahnya yang menyebabkan dia bersedih. Mana gurunya nggak ada usaha belain dia.
Ada beberapa netizen yang agak kontra dengan adegan ini, tetapi menurut saya scene itu bagus untuk memantik diskusi dengan anak. Kebetulan anak-anak saya juga banyak teman-teman Cindo-nya, bahkan di kelasnya justru yang muslim yang minoritas, sehingga buat saya adegan itu fine-fine aja.

Kenang-kenangan tiket nonton Na Willa.
Menurut saya rasisme itu bisa terjadi di mana saja, kapan saja, nggak bisa dihindari, sih. Maka, memberikan pengertian ke anak mengapa hal itu terjadi dan mencari solusi bersama keknya jauh lebih penting. Apalagi, dunia ini kadang tidak berjalan seperti yang kita mau kan?
Selain itu ada adegan memilih sekolah. Ini relate banget dengan orang tua zaman sekarang yang rela bersusah payah mencarikan sekolah terbaik buat anak-anak. Nggak sekadar nggugurin kewajiban memasukkan anak ke sekolah, melainkan sebelumnya penuh dengan banyak pertimbangan.
Apakah Na Willa ketemu sekolah yang sesuai harapannya? Nah, muncullah TK Djuwita atau TK Juwita yang viral dibahas di sosmed itu 😀 .
Cuma ada yang kurang nih menurut saya. Sebagai Arek Suroboyo jujur saya ngarep dialek Suroboyoan-nya tuh diperbanyak hehe. Minimal anak-anaknya bisa lebih medok, gitu. Seperti pengucapan “sikil” tuh sebenarnya bukan “sikil” melainkan “sekel” 😀 .
Itu sih teman-teman, pendapat saya mengenai film Na Willa ini. Secara umum, saya puas menontonnya, karena ini merupakan film keluarga yang bisa dinikmati banyak generasi. Orang dewasa bisa bernostalgia tentang masa kecilnya, sementara anak-anak tahu dunia anak di era sebelum ada gadget.
Kalau menurut teman-teman yang sudah menonton gimana? Kalau buat yang belum nonton, yuk, nonton! Eh, semoga masih tayang di bioskop.
April Hamsa


aku tiap hari nyanyiiii Sikilku Iso Muni. seruuu dan broadway bangett vibes lagunyaa.
Keren bangett ini mah.
Film yg ngangkat kampung Krembangan.
dan yeahhh arek Sby can relate!!
jadi mmupeng mbalik masa masa kicik????????????
Aku malah belum nonton mbak filmnya. Penasaran juga jadinya. Ceritanya tuh cocok buat semua usia lho jadinya. Karena di filmnya tuh nggak cuma nyeritain kepolosan anak² tapi juga keadaan sosial era² itu. ????
Namanya rasisme keknya bakalan selalu ada ya dalam lintas generasi apapun. Keknya susah banget hal itu di buang jauh-jauh.
Rata-rata kalau daku baca ulasan dari film Na Willa ini memang bikin haru.
Anak-anak ya sama dengan orang dewasa yang juga berarti makhluk sosial, bisa bergaul dengan siapa saja apalagi dalam tumbuh kembangnya juga
Iya, aku pikir juga begitu Fenn. Rasisme itu udah mendarah daging sekali, so sad. Semoga sih semakin maju zaman, makin pada sadar untuk tidak rasis ya.
Na Willa ini film super ceria, banyak pesan penting, menarik buat di tonton dan anak-anak sebaiknya emang nonton biar mereka terinspirasi juga kalau anak itu gapapa banget bawel, banyak tanya, tandanya kritis.
Udah lama ga pergi nonton ke bioskop karena merasa Film – film kurang masuk di selera mamang, akhirnya ga ngikutin deh info tentang film – film terbaru yang tayang.
Ternyata ada Film ini, kayaknya seru nih, paling suka nonton film – film yang settingnya ke zaman Old, kayak maceman film laskar pelangi.
Apa masih tayang film ini?
Dan sayangnya aku sama anak anak belum sempat nonton
Jadwal sekolah anak anak padat merayap dengan tambahan lomba
Padahal mereka sudah siapin THR juga
Hmm… kami tunggu di NF saja lah karena udah banyak yang turun juga di bioskop hiks
Yaampun, aku lihat postingan mba dan komentar juga, pas nonton film Na Willa kaki mu lagi di perban. Ternyata efek jatuh dari tangga, memang kadang udah hati-hati pun kalau lagi apes, ada aja jalannya. Sekarang udah sembuh mba?
Na Willa salah satu film yang menyegarkan sekali. Buku nya karya Bu Reda pun emang menarik kan, di film kan dengan tone warna yang ceria, khas anak-anak, banyak tingkah polah menarik, sudut pandang anak-anak nya pun cukup kental, mendominasi, ada juga sisi parenting yang bagus, toleransi, hingga rarsisme. Banyak pembelajaran dan pesan yang bisa ditangkap sama penonton.
Fenomenal dan berkesan, adegan Na Willa cari kain putih buat di pakai salat sama Farida dan teman-temannya, dududuh hahhaa kocak itu asli.
Ulasannya deep banget, terutama bagian Na Willa yang ikut-ikutan sholat pakai sprei itu, beneran ‘relate’ sama anak-anak zaman dulu yang polos banget ya. Soal cara Mak menghadapi Na Willa di sekolah. Meskipun ada isu rasisme yang diangkat, saya sepakat kalau itu justru bisa jadi pemantik diskusi yang bagus bareng anak soal keberagaman. Makasih sudah berbagi review-nya, Mbak!
Kiddos dah heboh ngajak nonton ini, sayangnya belum sempat nonton mbak, sudah cari info dan nonton traillernya aja
Bagus sepertinya mengajarkan anak tentang perbedaan dan biarkan anak-anak menyelesaikan masalah dengan cara mereka bukan diseret ke ranah dewasa yang rumit
terima kasih reviewnya jadi nambah wawasan
Sebelum komen tentang filmnya, aku mau bilang semoga kaki mbak April lekas sehat kembali. Btw keplucuk itu keseleo kayanya ya bahasa Indonesianya. Sudah lama nggak dengar dan baca kosakata itu hahaha…
Nah soal filmnya aku belum nonton nih. Tapi udah beberapa kali baca reviewnya dan kayanya emang bagus.
Ngomong-ngomong adegan main di rel ini aku jadi ingat waktu SD, jaman Gud Dur yang libur satu bulan itu. Pada suatu pagi aku sama teman-teman jalan-jalan ke alun-alun dari rumah.
Nah pulangnya itu ada teman yang ngide menyusuri jalur pinggir rel kereta. Ada yang melarang tapi kalah suara, akhirnya tetap lewat sana. Nah pas itu, kami menyaksikan ada orang keserempet kereta. Tulang kakinya sampai keluar gitu mbak. Traumatis banget. Akhirnya kami semua kapok karena sudah bandel lewat jalur berbahaya.
Na willa ini kayanya bakal bikin nostalgia ya. Walaupun settingnya jauh lebih tua dari usia kita-kita.
Iii, so heartwarming yaaa ceritanya… Kukira tuh sikil e Na Willa seng iso muni, tibae sikil si Bud. Potongan-potongan scene yang kulihat di sosmed divalidasi oleh review mbak April ini, tambah keren deh garapan Ryan Andriadhy (meski pasti beban buat dia untuk kasih tayangan seberkualitas Jumbo).
Bener mbak, jaman dulu rasisme itu tajem di dunia nyata, terutama buat teman-teman yang dirasa ‘beda’ baik segi fisik atau hal lainnya, dan kurasa sekarang hal itu juga masih tajam hanya pindah ke dunia maya jadinya lebih tidak terkontrol ujaran kebenciannya.
Film Na Willa ini sepertinya berhasil menangkap sisi kemanusiaan yang jujur, ya. Salut buat Mak yang karakternya terasa “nyata” dan tidak berusaha jadi sempurna. Isu sensitif seperti rasisme pun dikemas sebagai ruang diskusi, bukan sekadar drama. Soundtrack “Sikilku Iso Muni” juga bikin penasaran, apalagi setelah tahu cerita haru di baliknya.
Beberapa adegannya mengingatkan ku pada masa kecil juga lho hehehe
wah, saya belum nonton nih, Mbsk. Padahal wowo-woro filmnya dah gencar di medsos. bisa banget ya, nonton film Na Willa ini bareng krucil. Terus karena settingnya di gang Gang Krembangan, pasti yang pernah tinggal di sana bisa sekalian nostalgia. kalau sudah ga tayang di bioskop, terpaksa saya nunggu tayang di Netflix saja hehehe.
Film ini bisa menjadi film keluarga yang sangat menarik karena banyak sekali nilai-nilai yang setara dengan kebaikan di dalam ceritanya dan bisa menjadi edukasi yang bagus untuk anak-anak dan juga buat orang tuanya Selain itu bisa jadi aja nostalgia bagian tengah hidup di zaman itu
Ini film yg pgn bgt aku tonton deh kak. Tapi di Kediri tuh jauh bgt bioskopnya. Ditambah lagi ibu lg sakit. Jd ga bs lama deh kalo kluar rumah. Hiks. Smg ntr bs nonton di aplikasi streaming deh.
Dan jujur, pas lht trailernya, tone warna filmnya tuh keren bgt. Adem di mata. Sama dong pemimkiran kita. Kyk unik aja gayanya. Dan ceritanya pun sederhana. Dan aku baru tahu kalo settingnya tuh di Suroboyo.
Pernah sih waktu TK diajak tur ke Bonbin (istilah anak Jowo timuran kalo mau ke kebon binatang) dan Kenjeran. Surabaya emg asyik bgt saat itu. Dan bener aja sih, rumah bude ku dulu jg dkt rel kereta, bahkan mepet bgt. Ga ada lima langkah udh rel. Aku jg inget pernah BAB di pinggir rel itu krn kebetulan ada sungai/aliran air kecil gt lah. Wwkk. Berasa serem aja pas lht kereta lewat. Seisi rumah lgsg bergoncang. Wkwk.
Dan aku bs ngebayangin sih kalo Bud keserempet kereta sampe hrs amputasi. Sbg teman pasti bersalah bgt tuh ya. Tp Bud malah penuh suka, nganggep sikilku iso muni. Sungguh dialog pembuka tulisan yg keren bgt kak. Jd relate ama pembaca (yg anak jowo) dan bikin penasaran bg non-Jowo.
Anaku nyanyi sikilku iso muni padhal dia dan aku blum nonton
Melihat review nya bebrpa teman dan teh april mengenai film nawila aku tersadar film anak itu udh mulai hidup sih alias mulai banyak digarap dengan pesan moral yg dpat
Seperti nawila ini kehidupan anak kecil di jaman itu dengan segala hal hal unik nya yg terjdi pda dunia anak ya teh
Dan ini cerita nyata ibu reda sukaaaa
Aku jujur pengen ngajakin anakku nonton Film Na Willa inii, cuma takutnya bocahe nggak kondusif. Alias berisik mulu pas nonton filmnya, wkwkwk. Secara ni kalo bioskop tu kan kudu sunyi yakkk.. sementara anakku hebohnyaaa ga ketulungan.
Baca reviewmu paling lengkap nih kayaknya mbak. Banyak poin pembelajaran yang bisa diambil dari film ini ya. Mulai dari Parenting, ketabahan menghadapi musibah, sampai nilai-nilai toleransi (yang sayangnya agak luntur).
Duh, jujur ni konflik nya berasa bangettt kayak aku sekarang. Anakku tuh pinterrrrr banget, udah bisa baca-baca, dan ngocehnya pun was wes wos. Tapi mau masukin ke PAUD atau TK kok agak raguuu wkwkwkwk.. Adaaa aja hal-hal yang daku khawatirkan.
Tapi ter-the bestnya si menurutku hidup zaman dulu gada gadget ya. Ga kayak sekarang, dikit-dikit layaaaaar mulu.
pergi main ke Ullen Sentalu
Tumpah ruang orang di seberang
Rindu sekali masa kecil dulu
Pulang sekolah mainannya egrang
Easily one of best family movie di lebaran tahun ini. Habis nonton dan baca banyak review, memang benar-benar ppenuh pesan dan nilai-nilai toleransi. Sangat cocok sekali ditonton bersama keluarga dan buah hati.
Mbaaaak, aku sampe skearang belum smepet nonton film ini.. Huhu Kayaknya minggu ini mau ngejar nonton tapi sendiri aja gakpapa deh gak sama anak-anak.. 🙂
Aku nyanyiin lagunya terus lho. Nempel banget itu sikilku iso muni wkwkwk.. Sama suka banget baju-baju yang dipake Na Willa.. Berasa vibes anak-anak ceria dan menyenangkan gitu… 😀
Ceritanya juga menarik ya. Aku pun belum baca bukunya tapi dengan setting latar tahun 60-an kebayang sih ajdi Mak yang ngejagain banget anaknya sampai nunda masuk sekolah.. :’)
Bhuahahhaa.. logat suroboyo iki ancen angel nek gak aseli wong Suroboyoo..
Jadi.. pemeran kek Derbi Romero pas di film horor Kemah Terlarang, itu juga aneh ketika “dipaksa” make dialek Jowo.
Ya begitullaah..
Aku sukaa..
Berharap bisa juga ikutan nonton Na Wlla.. hihihi.. suka sama vibes Surabaya kuno…
Beneran relate banget siiyh.. dulu daerah yang legend tuh memang gang-gang gitu yaa..
Rumah nenekku juga di gang Peneleh— yang dulu difungsikan sebagai dapur umum saat penjajahan Belanda.
Sungguh kisah-kisah yang bikin kita nostalgia sama kisah nenek dan ibu bapak yaa…
Saya nonton film ini pas libur lebaran kemarin mbak April,,,,,seruuu abis. Ceritanya baguus banget dan mengandung banyak pelajaran parenting buat para orang tua. Gak espek kirain B aja ternyata seruuu,,,jadi pengen baca bukunya,,,
Ini nih film keluarga yang apik, ciamik dan kayak keluarga cemara gitu ya hihihi 😀 Na Willa ini budak bageur (anak baik) yang ga neko2, keingintahuannya tinggi. Suka ikut ke pasa sama maknya dan dititipin trus dikasih minuman soda 😀 Anaknya oeriang, polos, ga main gadget2an seperti anak2 zaman now pada umumnya. Kalau teman2nya lagi sekolah, dia di rumah aja paling ya. Ntar kalau cukup umur, pasti senang belajar bareng teman2nya di sekolah.
Film ini terdengar punya pesan yang cukup dalam, apalagi kalau dikaitkan dengan kehidupan keluarga. Aku suka tontonan yang tidak hanya menghibur, tapi juga memberikan sudut pandang baru tentang hubungan antar anggota keluarga
Suangaaarr haha, film ini pake logat logat suroboyo, jarang lohh ada film pake logat seperti ini, mana ini adaptasi dari buku kan? Jadi penasaran deh sama bukunya, kirain biasa aja
Semoga kaki Mba April yang kecekluk (di Kediri nyebutnya ini) sudah sembuh ya..biar enggak kesindir lagi sama lagu Sikilku Iso Muni hihihi
Aku lihat trailer dan cuplikan film Na Willa ini wara-wiri di sosmed. Semoga ada film-film serupa yang ceritanya punya banyak pesan moral buat anak dan ortunya…Biar jadi pembelajaran, biar enggak ada ragi anak yang kena bully karena beda ras…juga lainnya
Setelah lebaran kemarin lumayan banyak film-film bagus dan beberapa di antaranya untuk usia anak-anak. Saya sendiri sempet bingung mau milih nonton yang mana, tapi anak-anak minta nonton film yang bukan Na Willa, jadinya ikut dulu aja kemauan mereka.
Ini auto penasaran sama Sikilku Iso Muni lho. Dan.. wow, lagunya ceria tapi deep banget kalau diamati lirik-liriknya. Tentang penerimaan diri, berdamai dengan keadaan dan berbahagia serta bersyukur dengan apapun yang dimiliki, Ah.. suka
Melihat bagaimana Na Willa menghadapi perbedaan etnis dan rasisme di sekolah dengan cara yang jujur juga sangat penting untuk diskusi bareng anak zaman sekarang. Film bertema coming-of-age yang hangat seperti ini memang paket lengkap untuk nostalgia sekaligus belajar parenting yang realistis.
Wah, Na Willa ini terasa hangat dan manis, ya. Ceritanya sederhana tapi justru itu yang bikin dekat di hati, apalagi kalau dibalut suasana masa kecil yang lembut dan penuh imajinasi.
Saya yang gak tinggal di Surabaya aja tetap bisa merasakan nostalgianya. Ternyata anak kecil saat itu rata-rata punya pengalaman sama main sama beras atau kacang-kacangan, ya. Trus minumnya soda yang warnanya nempel di mulut hahaha.
Masuk akal dalam cerita film ini disebutkan sang “Ayah” kerja di perkapalan karena lokasi tempat tinggalnya terutama Krembangan dekat dengan Tanjung Perak.
Aduh, Mbak. Aku tuh gemeeees pada pemeran Na Wills. Pecicilan tapi pinter gituuu. Pengin nyubiit pipinya sambil kuuyel-uyel sayang ????????????
ini film dari mulai tayang di bioskkop sampai tak ada lagi di bioskop saya gak sempat nonton nya, semoga nanti masuk ke chanel streaming ya ada disebelah ya. hehe terima kasih loo atas review nya,
Mbaaaa, semoga kakinya cepetan pulih yhaaa..
Btw aku juga udah nonton Na Willa, dan rasanya berasa nostalgia deh.. beneran se-relate itu. Film ini memang menawarkan kisah keluarga yang hangat, tentang imajinasi masa kecil sekaligus proses memahami perubahan dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan sederhana seperti ini justru membuat pesan tentang kebersamaan dan kasih sayang terasa lebih dekat dan menyentuh. Sepertinya film ini bukan hanya hiburan, tapi juga pengingat tentang indahnya masa kecil dan pentingnya kebersamaan keluarga.
walau belum nonton filmnya, saya juga jadi ikutan nyanyi loh pas ada lirik lagu OST Na Willa di paragraf awal tadi, secara Anakku yang sulung udah nonton film ini bulan lalu bareng teman-teman kelasnya, nobar sekelas gitu dan setelah nonton ini dia jadi suka nyanyi lagu itu.
dia juga sempat cerita tentang filmnya, ceritanya menarik ya dan bisa jadi pelajaran juga tuk anak-anak
Aku lengkap punya bukunya, tp blm nonton mba. JD tetep kebayang sih adegan2nya, Krn masih ingat cerita di buku . Dan ini salah satu buku yg memang aku sukaaaaa bangettttt.
Cerita kepolosan anak di zaman itu, yg blm ada gadget, JD kebayang zaman kita kan. Walaupun na Willa jauh lebih lama lagi.
Pengen sih sbnrnya nonton, tp suami ga mau. JD aku berharap film ini bisa masuk NF seturun nya dari bioskop.