Yeaaayy, akhirnya terturut juga nyicipin roti srikaya di Warung Kopi Purnama Bandung ini. Sejak dahulu saya memang penasaran gimana, sih, rasanya roti srikaya di kedai kopi vintage, tertua, dan legend banget di bandung ini. FYI, buat yang belum tahu, Warung Kopi Purnama ini sudah ada sejak 1930. Maka, ketika berkesempatan ke Bandung pada awal 2025 lalu (lama yee 😛 ), saya bersama keluarga menyempatkan mampir ke sana 😀 .
Kebetulan juga, hari itu kami berencana liburannya cuma di Braga saja, sehingga memang niat kulineran yang di area kota. Sebelum-sebelumnya, kami kalau ke Bandung tuh kalau nggak ke pinggiran Bandung ya naik ke Lembang, sehingga memang belum pernah benar-benar berwisata di Bandung “kotanya”.

Warung Kopi Purnama Bandung. Bagian depannya lupa difoto 😛 .
Nah, hari itu kami sekeluarga pergi ke Bandung naik moda transportasi Whoosh. Kalau tidak keliru berangkat jam 9 pagi kurang. Perjalanan pakai kereta api cepat ini dari Jakarta ke Bandung sih beneran ngabisin waktu cuma 30 menit, tetapi menuju Kota Bandung-nya ini yang malah lama. Kalau tidak keliru kami sampai Bandung tuh jam setengah 11-an gitu, lha, karena naik kereta feeder yang ngetem dulu.
Singkat cerita, begitu sampai Stasiun KA Bandung, kami langsung memesan mobil online menuju ke Warung Kopi Purnama. BTW, enak juga ya kalau di Stasiun Bandung tuh mobil online boleh masuk ke pintu keluar stasiun langsung, nggak kayak di Stasiun Gambir (Jakarta) yang keknya masih dimonopoli taksi-taksi konvensional. Trus, kalau mau pesen mobil online jalan agak ke depan dulu, heuheu.
Oh ya, saya lupa-lupa inget, waktu itu sepertinya driver tidak menurunkan kami tepat di Warung Kopi Purnama. Mungkin, karena lokasinya masuk gang gitu atau kami sebenarnya mau ke tempat lain dulu. Satu hal yang saya ingat, kami tuh turun di salah satu gedung tua, kemudian jalan kaki menuju Warung kopi Purnama itu. Namun, jalan kakinya nggak jauh kayaknya. Au deh, cuaca panas Bandung hari itu keknya membuat ingatan saya rontok, wkwk 😛 . Yaaa, beginilah nasib kalau liburannya kapan, kenangannya ditulis kapan 😛 .
Bangunan Warung Kopi Purnama
Waktu itu memang matahari Bandung menyengat sekali, sehingga begitu menemukan Warung Kopi Purnama, kami langsung masuk saja ke dalam. Saya bahkan lupa memotret bagian depan kedai kopi legend ini, hiks hiks.
Alhamdulillahnya, kami masuk kedai kopinya tanpa mengantre yaaa. Awalnya ya agak khawatir antre juga, karena itu Hari Sabtu, ternyata cukup sepi kok. Apa karena baru buka atau gimana, entahlah. Jujurly, kalau pake antre saya mungkin wurung ke sana hahaha 😛 .
Sebelum cerita soal makanan dan minuman yang kami nikmati di kedai kopi vintage ini, saya mau mencoba mendeskripsikan bangunannya dulu ya. BTW, waktu itu saya juga sempat mengambil beberapa footage video yang lebih banyak ngeshoot tentang bangunan kedainya, tapi sayangnyaaa HP yang saya pakai saat itu rusak hiks, sehingga yawda, tamatlah sudah alkisah kamiiii *singing ☹. Untungnya, kalau untuk foto-foto makanannya saya ambil pakai HP satunya sehingga masih ada kisah yang bisa diceritakan *uhuks.

Bangunannya vintage.
Jadi, katanya, bangunan Warung Kopi Purnama ini awalnya merupakan rumah pengusaha dan pedagang kopi asal Medan yang bernama Jong A Tong. Sebelum Orba, kedai kopi ini dikenal sebagai Rumah Kopi Tjhiang Shong Shi. Baru kemudian, sekitar 1966 namanya berganti Warung Kopi Purnama, karena yaaa gitu, lha, rezim Orba kan nggak suka sama penamaan berbau Tionghoa, gitu. Maka, sejak saat itu hingga sekarang, kedai kopi ini eksis dengan nama Warung Kopi Purnama.
Secara umum, arsitektur bangunan kedai kopi ini merupakan perpaduan antara bangunan bergaya lokal, Tionghoa, dan Belanda. Kalau saya tidak keliru, bangunannya terdiri dari dua lantai.
Akhirnya bisa nyicipin roti srikaya yang terkenal di Bandung 😀 .
Begitu sampai bangunan ini, pengunjung akan disambut teras yang kecil saja, kemudian langsung masuk ke ruang utama. Buat yang membawa kendaraan sendiri kalau ke sini, sepertinya parkirannya tuh ada di sepanjang jalan atau gangnya itu. Mungkin ada tukang parkir yang mengatur, entahlah, ya, saya tidak terlalu memperhatikan.
Jadi, sepanjang gang itu sepertinya isinya tempat usaha semua. Ada toko-toko dan kedai-kedai makanan. Sepanjang jalan, banyak mobil-mobil parkir di pinggir jalan, karena sepertinya Gedung-gedung yang ada di sana tidak ada yang benar-benar memiliki lahan parkir.
Kembali ke gedung Warung Kopi Purnama, tampaknya sekarang keseluruhan bangunan sudah menjadi bagian dari kedai kopi, bukan hunian lagi. Setelah, ruang utama buat dine in, bagian belakang ada teras-teras yang juga menjadi tempat dine in.
Setelah teras, juga semacam taman kering yang tidak terlalu luas. Spot ini sepertinya spot favorit pengunjung karena cukup estetik, dengan tanaman-tanama hias yang menjuntai ke bawah.
Lalu, ada tangga menuju ke lantai atas. Sepertinya ruangan di atas itu semacam ruangan VIP atau buat tempat meeting, gitu. Saya tidak eksplore sampai ke sana. Untuk toilet, lokasinya ada di belakang, Kalau mushola, entahlah, saya tidak menemukannya. Nggak nanya juga sih saat itu.

Anak-anak menikmati roti srikaya dan bitterballen.
Kalau saya dan keluarga memilih langsung duduk di ruang utama yang di depan tadi. Dinding ruangan ini penuh dengan foto-foto lama owner dan keluarganya, juga beberapa klipingan artikel tentang kedai kopi ini (BTW, anak sekarang tahu “klipingan” nggak? 😀 ).
Oh ya, kedai kopi Warung Kopi Purnama ini memang sepertinya beberapa kali pernah diliput oleh media lokal maupun asing. Almarhum Pak Bondan Winarno, “influencer makanan” pada masanya pun pernah meliput kedai kopi ini.
Waktu itu di ruangan utama yang sebenarnya penuh meja ini hanya ada keluarga saya dan dua pengunjung lainnya. Bangku-bangku di sana cukup padat, tetapi karena waktu itu pengunjungnya tidak banyak jadi terasa lega ruangannya. Apalagi bagian atapnya tuh tinggi banget, sehingga walaupun cuaca Bandung kala itu panas, tetapi sirkulasi udara di dalam kedai kopi masih mayan lha.
Makanan dan minuman yang kami pesan di Warung Kopi Purnama
Begitu duduk di meja, pegawai kedai kopi langsung memberikan kami list menu. Bentuknya simple, cuma selembar kertas cetak bolak-balik dan di-laminating. Satu sisi berisi list menu makanan, sisi lainnya ada list minuman dan secuil artikel tentang sejarah Warung Kopi Purnama lengkap dengan foto diri founder-nya, juga ada foto bapak dan anak di depan bangunan kedai (mungkin ini founder dan anaknya).

Daftar menunya.
Ternyata, Warung Kopi Purnama ini tak hanya menyediakan makanan berupa roti, melainkan juga makanan berat seperti mie, nasi gireng, soto, gado-gado, cuanki, bakso, bacang, dll.
Hari itu, kami tidak memesan makanan berat, karena sudah sarapan di Stasiun Whoosh dan berniat makan di dekat hotel saja. Jadi, niatnya ke Warung Kopi Purnama memang mau mencoba roti srikaya dan ngopi.

Roti srikaya. Salah motret, kenapa mode potrait ya hiks. Keknya foto yang bener ada di HP satunya.
Kami pun memesan roti srikaya. FYI, sebenarnya yang dimaksud dengan roti srikaya ini adalah roti bakar atau roti kukus yang diberi selai srikaya. Hal yang membuatnya unik adalah semua bahan dasar roti ini adalah homemade, produksi kedai kopi tersebut sendiri, termasuk selainya. Kayaknya selainya tuh boleh dibeli, deh. Eh, bener, nggak, sih, soalnya saya baru mengetahuinya belakangan ini.
Kami ordernya roti bakar srikaya. Satu porsi cukup banyak, sih. Disajikan di piring saji yang tidak terlalu lebar, sepertinya ada dua lembar roti yang dipanggang dengan tingkat kematangan yang sudah ditentukan, sehingga menghasilkan tekstur roti yang garing di luar tetapi lembut di bagian dalamnya.
Roti ini kemudian diolesi dengan selai srikaya homemade yang aromanya sangat wangi, dengan cita rasa manis yang pas, nggak bikin eneg, serta konsistensi selainya cukup kental. Di tengah-tengah roti sepertinya ada irisan mentega/ butter juga sehingga lapisan tengah rotinya terasa creamy dan gurih.

Bitterballen.
Selain roti srikaya, kami juga memesan bitterballen. Bitterballen ini merupakan camilan dari Belanda yang berbentuk bola-bola kecil. Bola-bola ini terbuat dari tepung dengan isian ragout daging sapi cintang yang rasanya gurih. Sepertinya ada campuran krim susu atau mungkin keju yang kalau dimakan tuh lumer di mulut.
Bagian luar bola-bola ini dibalut dengan tepung roti dan digoreng garing, sehingga kalau digigit, awalnya kita akan mendapatkan tekstur renyah, tapi begitu menggigit isiannya maka kita akan mendapatkan tekstur yang lembut. Bola-bola bitterballen ini disajikan dengan saus mustard dan tomat untuk menyeimbangkan rasanya.
Untuk minuman, anak-anak memesan es cokelat susu dan es ovaltine susu. Kalau orang tuanya memesan es kolang-kaling dengan cincau, lupa namanya 😛 .

Es coklat. Es ovaltine-nya nggak kefoto keknya 😛 .
Sebenarnya, mereka juga menyediakan minuman hangat seperti kopi. Kopi yang paling terkenal di sana namanya kopi hitam panas. Ada pula es kopinya. Cuma waktu itu kepengennya yang seger-seger dan anak-anak udah pasti akan memesan minuman percoklatan, jadi akhirnya minuman-minuman itu yang kami pesan, hihihi.
Overall, makanan dan minuman di sana yang kami pesan tuh nggak failed rasanya. Cuma jujur agak kurang ramah bawa bocil, karena agak gerah. Kalau anak-anak saya kebetulan udah mulai gedhe sehingga bisa lha dikondisikan.

Es kolang-kaling dan cincau yang seger.
Yaaa, lumayan lha, singgah di Warung Kopi Purnama tuh ibaratnya buat mengobati dahaga di cuaca seterik hari itu. Juga, sebagai bekal kami jalan kaki dari Warung Kopi Purnama ke hotel kami yang ada di kawasan Braga. Yup, waktu itu kami jalan kaki, karena ada isu jalan ditutup atau gimana. Yaaa, karena kami terbiasa jalan kaki ke mana-mana, akhirnya jalan kaki aja. Seru, kok, melewati gang-gang kecil yang rumah-rumahnya memiliki fasad campuran antara bangunan vintage dan modern 😀 .
Yaaa, itulah pengalaman kami numpang ngaso di Warung Kopi Purnama Bandung. Keinginan untuk makan rori srikaya di Warung Purnama sudah ter-checklist. Tinggal kopi hitamnya nih yang masih penasaran. Mungkin, kalau ke sana sore atau malam saya akan order kopi hitam ini. Doain ya ada rezekinya liburan ke Bandung lagi, hehe 😀 .
Adakah teman-teman yang sudah pernah makan roti srikaya di Warung Kopi Purnama Bandung juga? Share donk menu favorit di sana apa 😀 .
Buat yang belum pernah ke sana, barangkali ada yang mau nyicipin roti srikaya-nya yang legend juga, berikut adalah alamat Warung Kopi Purnama.
April Hamsa


Belum pernah nyoba makan roti srikaya di Warung Kopi Purnama yang legend. Padahal sempat ada momen jalan-jalan ke Braga pas nginap di Bandung. Entah karena kami saat itu fokus cari makanan berat dulu lalu ditutup makan es krim atau kenapa lupa deh.
Menarik ya tempatnya, vintage, bagus bangunannya dan luas. Agak sayang kalau panas, jadi misal bawa balita bakalan riwil sih ya. Untungnya, nggak kena antrian, karena pas aku explore Braga, banyak tempat makan dan kedai kopi yang antriannya panjang sekali.
Syukurlah, lega kalau dengar deskripsi rasa roti srikaya nya mumpuni, enak, manisnya pas, dan nggak bikin eneg.
Es kolang-kaling pake cincau nampak menggiurkan sekali, manalah kolang-kaling dibiarkan tetap warna putih asli, ini pasti the best rasanya. Aku suka cincau dan kolang-kaling, klop mereka berdua kalau disatukan.
Masih masuk area Braga tapi bukan di Braganya, gimana ya bilangnya haha 😀
Tapi yaa deket2 situ mbak, deket alun2 juga. Cobain mbak kapan2 mampir kalau ke Bandung 😀
Iya esnya seger cocok buat membasuh dahaga abis jalan 😀
Oalah oke-oke. Posisinya agak hidden gem berarti ya? Jadi makin penasaran sih hahhahaa. Tapi tahun ini belum ada agenda ke Bandung, nggak tau kalau mendadak ke Bandung, yah moga aja tiba-tiba ada kerjaan dan ada penugasan ke Bandung wkwkwk ngayal beud dah.
Iya euy aku naksir sama es nya, beneran emang seger dan membasuh dahaga yes.
Terpenting roti srikaya nya juga oke, soalnya kadang ada yang terlalu manis jadinya blenek banget. Kalau manisnya pas, aduhai enak tenan.
Ngomongin makanan saat Bogor hujan, auto keroncongan ini perut.
Selai srikaya nya homemade? Ini sih asik buat disantap, karena rasanya pasti otentik.
Pantesan signature nya adalah roti srikaya ya, dan jadi salah satu alasan nih kalau ke Braga bisa singgah dulu ke sini, buat ngemil cantik ataupun santap sore
Bener semuanya homemade, roti dan selainya.
kalau bau-bau homemade gini biasanya enak, beda kok selai homemade dan pabrikan mungkin karena yang buat kan banyak campur tangan manusia jadi lebih enak, pernah baca sih begitu
perpaduan selai srikaya dan butter ini unik sepertinya manis gurih ya jadinya
hmm auto pengen saat membayangkannya
Enak mbak beneran, pantesan orang2 suka, ditambah lagi legend 😀
masya Allah tth maen k Bandung , kenpa tidak berkabar hehe ( meni bsa basi ya teh hehe )
hmm soal transportasi mobil onnlilne harusnya drop langsungg k kopi puranama sih teh ttpi gpp ya teh lumaynn ada effort jlln kaki
kopi purnama teh tempt nongkrong hehe tpi ku gak pernah nulis pernah kesini teh haha ( 8 thun aku kerja daerah situ teh tinggal jalan 5 minute nyampe )
jadi keinget dulu ih ya Allah Kopi Purnama
Ahaha udah lama ini mbak tahun 2024. Semoga tahun ini bisa ke bandung lagi aamiin.
Nah itulah aku tuh lupa sebenarnya mau ke mana saat itu sebelum ke warung kopinya, lupa ke mana gitu dulu, trus lanjut jalan haha.
Ini memang tempat makan Legend dari zaman dahulu kala dan sebenarnya, biasanya ke sana itu buat sarapan. Dan bagus kesananya jalan sambil menikmati setiap sudut kota Bandung yang penuh kenangan disana. Mbak April kelewat bekas penjaranya Soekarno ga? Harusnya kelewat sih. Bagus buat anak-anak belajar sejarah
Wah mas Aip udah sering ke sana ya?
Bisa jadi lewat ya mas cuma karena nggak ada guide kelewat gitu aja kali ya.
Makan enak sekaligus jadi belajar sejarahnya ya Mba April.. Hihi.. Nggak nyangka lho ternyata warung kopi ini sudah ada sejak 1930. Pantesan ya vibes bangunannya juga jadul tapi menarik banget.
Jadi penasaran juga sama roti sarikaya di sana. Rasanya bisa aku sama keluargaku contoh nih kalau ke Bandung kapan2 mampir ke warung kopi ini.. 😀
Yuk mbak ke sini pas ke Bandung lagi 😀
Kalo om Bondan udh approve, fix ini kafe dan menunya wajib coba sih. Ah nyesel bgt dulu ke Bandung nggak ke sini sih. Padahal temen gw tuh anak kopi kekinian bgt. Seneng bgt pasti diajakin ke kafe/resto bersejarah gini. Bahkan melebihi umur negara kita lagi pas merdeka. Hehe.
Kalo srikaya sih udh pernah coba, meski skrg tuh cari buahnya susah bgt pdahal di desa. Nah kalo udh dicampur roti, dijadiin topping/isian nih yg blm coba. Jd kebayang2 deh rasanya. Asam manis gt kali yak?
Berarti kudu ke Bandung lagi mas 😀
Iya ya approved by Pak Bondan insyaAllah cocok lha di lidah 😀
Iya lho, udah kek langka, tapi aku emejing kapan hari nemu buah srikaya di pasmod BSD hihihi.
Wah ternyata ada tempat makan legendaris bernama Warung Purnama ini ya. Jujur aku baru denger juga mbak…
Enak nih nyobain roti srikayanya. Mirip seperti kaya toast gitu ya kayanya. Aku suka tuh roti pakai selai srikaya.
Kapan-kapan kalau ke daerah Braga cobain ahhhh…
Tapi ini nggak kering lebih ke basah gitu menurutku ya. Ntar kalau ke Bandung cobain mbak 😀
Tapi dia dipanggang nggak sih mbak? Bayanganku roti panggang gitu tadinya. Tapi roti panggang juga ada sih yang modelan nggak kering.
Hahaha kayanya aku harus nyobain sendiri deh biar nggak penasaran kaya apa bentukannya.
Baca ini jadi kangen bandung
Aku malah terakhir ke Bandung tahun 2019 hehe
Senang ya akhirnya bisa mencicipi roti srikaya yang terkenal itu
Bitterballen nya juga nampak lezat
Iya enak, rasanya pas semua di lidah.
Karena ada Braga Beken ((Bebas Kendaraan)) mereun nyaa.. jadi jalan Braga sepiii..
Tapi katanya temen, uda gak berlaku lagi, skarang…
Aga ababil yaahh.. Bandung iniih…??
Kalok mau main ke Bandung, nurut aku paliing nyaman ke Braga siiyh.. jalannya estetik, banyak yang unik-unik di sepanjang jalan, dari cafe lejen sampai tempat printilan bocils.. meski mall Braga uda kek “Mati enggan hidup tak mau” gituu yaa..
Kalo mau banyak makanan lejen lagi.. ke Pasar Cihapit.
Disanaa.. lebih ramee dan meski judulnya “pasar”, tapi harganya metropolis… huhuhu…
Ini tu bukan di Braganya tapi di mana yaa haha aku bingung jelasinnya. Tapi masih masuk Braga tapi bukan Braga yang bebas kendaraan 😀
Pasar Cihapit yaaa, noted, semoga nanti bisa ke sana kalau ke Bandung lagi 😀
aku nggak asing dengan nama warung kopi Purnama Bandung ini, pastinya kalau ke Bandung semoga ada kesempatan buat mampir juga.
Dan lagi-lagi roti srikaya bikin penasaran, pokok kalau pas aku nongkrong dan ada menu roti srikaya, aku pesen, karena mungkin tiap tempat beda-beda rasanya. Jadi pengen tau juga
beruntung pas dateng ga antri panjang ya mbak, kalau pas akutraveling mungkin akan aku tungguin, karena sayang udah jauh-jauh pas ga bisa nyicipin
iya mbak, mungkin ramainya pagi sama sorean kali ya, kalau siang nggak terlalu kali ya.
Soalnya pernah nonton YT orang lagi rame banget pd ngantre.
Kalau ngopi disini memang ga akan pernah gagal, ini salah satu tempat ngopi legend di Bandung dan memiliki makanan – makanan yang khas dan bikin rindu,
Iya alhamdulillah kesampaian ke sana mbak 😀
Cuma emang belum ngopi di sana haha.
wah legend banget dong ya warung kopi purnama ini. Biasanya warung kopi yang dikelola tionghoa memang selalu ada menu roti srikaya ya sama bakmi atau kopi butter gitu yang paling khasnya
Iya mbak kata orang2 sih terkenal di Bandung 😀
Padahal sering ke Bandung tapi baru tau kalo ada tempat ini di braga, tau begini mah mampir kesini makan Roti Srikaya, siapa tau tiba – tiba jadi kaya…
Teh april beneran lahirnya Agsutus??
salfok es kolang kaling seger bangettt, jadi pengen cobaaa
wooowwww diriku Jadi ikut nostalgia suasana vintage di jalanan Bandung. Memang Warung Kopi Purnama itu juara atmosfernya, apalagi kalau sudah mencicipi Roti Srikaya homemade-nya yang legendaris. Tekstur garing di luar tapi lembut di dalam memang paling pas ditemani selai yang nggak bikin eneg.
Sayang banget ya footage videonya hilang, tapi untung foto makanannya masih aman—tetap bikin ngiler kok! Semoga nanti ada waktu buat balik lagi ke sana pas sore hari, biar bisa sekalian menyeruput kopi hitamnya yang terkenal itu.
Aku LGS cari tahu dari hotel tempat aku stay nanti di Braga, ke warkop ini berapa lama, dan ternyata cuma 11 menit jalan kaki ????????????????????. Oke berarti aku bisa mampirin kesana ☺️. Dan rating di google juga tinggi mba, 4.6 dari ribuan testimoni. Dah cukup buatku utk percaya ini enak ????????????????.
Soalnya pas ke bandung tgl 1 may nanti, aku bakal bawa blogger Malaysia yg usia udh jauh di atas aku, aku sebutnya uncle gedek. Jadi dia pasti suka aku ajakin ngopi di sini ????.
Sesuatu yg unik pula. Dah bertahan dari sebelum merdeka.
saya sangat suka roti selai srikaya, Mbak. Dan Roti Srikaya di Warung Kopi Purnama ini pasti enak sekali ya. apalagi homemade. Sata juga ngiler Bitter Ballen. Pasti enak sekali.
Ke Warung Kopi Purnama ini serasa masuk ke lorong waktu ya, Mbak. Bangunannya Tempo Doeloe. Sangat legend sekali karena sudah ada sejak 1930.
Ahahaha, saya pun draft 2025 masih seabreg-abreggg mbaakkk..
Eeeeh, apa iya? Setahuku untuk di Gambir tuh gak susah lho buat pesen grabcar. Cuma yaa, perlu jalan keluar dikit aja, pas pintu keluarnya. Kebetulan kan kantor freelanceku deket situ.
Bangunannya bersa vintage banget euy mbak. Beneran kerasa ini mah vibes 1930nya ya, hihihi. Menu yang disajikan pun mostly menu-menu yang comfort alias nyaman ya. ya makanannya, maupun minumannya. jadi pas banget lah ini buat jadi spot istirahat sejenak di Bandung, sebelum ngibrit ke tempat lain atau lenjeh di penginapan.
Berenang perlahan di ujung telaga
istirahat sebentar tuk minum aqua
Banyak bener tempat asik di braga
Seminggu nginep pun ga kejamah semua
Wuaaah Warung Kopi Purnama! Bikin kangen aja sama tempat ini. Terakhir ke sini 2019, ramean sama temen-temen blogger ASUS yang lagi jalan bareng di Bandung. Kami waktu itu jalan kaki dari Hotel Savoy, sampe sini keringetan dan laper. Trus duduknya bukan di ruang depan tempat April makan ini, tapi di belakang, ada area semi terbuka dan ada meja panjang yang bisa buat ramean. Enak-enak makanannya. Kopinya pastinya mantap.
si tempatku selain cafe kekinian, kopi ala melayu ini juga mulai banyak buka padahal kalau di sini kan nggak ada tradisi ngopi kayak di melayu. jadi nggak ada warung kopi yang legendaris kayak warung kopi purnama ini. hehe
Wohooo vintage!
ini mirip kedai SUMBER HIDANGAN yg ada di jalan Braga . jualannya jadul jadul juga.
oma chindo yg udah sepuuhhh bangettt masih jaga kasir (hitung manual!)
ada menu bitterballen juga.
aku blm pernah ke Kopi Purnama ini.
next mungkin klo plesir ke BDG tak mampir
Aku suka roti srikaya, sejak nyobain yang dari Pontianak itu. Ini kalau dari 1930 apakah yang punya Chinese Mbak? Biasanya kalau yang tahan lama gitu Chinese, he.
Nah ini yang belum kesampaian di aku, ke Bandung naik Whoosh. Masih maju mundur karena nggak sampai kotanya itu lho.
Nah kan sampe bawah aku nemu nama China, sudah kuduga, hahaha.
Bentuknya tak seperti ekspektasiku, haha
Kupikir akan keluar roti menul menul dan mengkilat bagian atasnya
Ternyata memang itu karena aku diganggu POV roti khas kampung halamanku yang juga pakai kaya tapi bukan srikaya namanya
Kapan kapan kalau melancong ke Makassar mampir beli
Dan yang terpenting rasa pensaran mencicipi roti srikaya di warkop purnama sudah tercapai yaa mbaa jadi gak ada penasaran lagi…eh tapi2 aku baruu tau belekangan ini kalo selai srikaya itu terbuat dari telur yaa,,.selama ini aku mikirnya terbuat dari srikaya asli tapi warna nya kuning mungkin ada tambahan lainnya ternyata oh ternyata ini selai terbuat dari telur dan bahan lainnya…
O iyaa yang stasiun gambir sekarng ojol bisa masuk juga kok mbaa soalnya kemarin aku dr gambir dan sudah ada spot khusus buat ojol di dalam nya dan ada mba2 marketuingnya itu mbaa jadi kita bisa bebsa mo pilih yg onlen ato konven 😉
Telur, mbak
Makanya di Maros tuh paling laris roti srikaya
Meski bentuknya tidak sama dengan yang warung ini
Enak dan pasti mbak ketagihan
Apalagi menul-menul rotinya keluar dari oven
Roti srikaya ini emang enak apalagi kalau dipadukan dengan kopi butter. Best banget itu mah.
Kalau pulang kampung, jangan lupa ke pasar tunjungan
Di situ ada roti srikaya enak
Daku sempat makan di sini nih bareng blogger Blus dan tempatnya vintage ya dan sederhana.. tapi rotinya enak. sayang ngga cicipin bitterbalennya.. ah kangen..
Pekan depan saya ke Bandung nih Mbak April…sepertinya saya mau mrlipir kesini deeeh. Penasaran juga dengan rasa rori srikaya di Warung Kopi Purnama Braga. Minumannya juga menarik yaaa ada kopi cokelat.
Bangunannya vintage di Jalan Braga memang banyaak banget bangunan tua dan lama. Jadi makin betah ngopinya
Bitterballennya enak beut tuh kayaknya, Kak. Warung Kopi Purnama nggak hanya sedia aneka cemilan. Tapi, ada makanan beratnya juga.
Enak jadinya. Kalau habis nongkrong dan laper tapi males gerak, kitanya nggak perlu kemana-mana. Bisa langsung pesen makan di sana. Dan acara nongkrong pun dilanjut. hehehe