Ritual Rambut Sewu. Pertama kali mendengar hal ini, jujur saya bergidik. Padahal, dunia sudah sebegini canggihnya…

Percaya nggak, sih, meski teknologi sudah melesat tanpa batas, tetapi dunia mistis tetap punya cara untuk tetap eksis?

___

Jujur ya.

Gue mulai channel YouTube ini bukan karena passion.

Gue mulai karena kalah taruhan sama Bimo.

Latar Belakang yang Memalukan

Nama gue Ican. 22 tahun. Mahasiswa semester tujuh yang skripsinya masih di bab dua karena gue terlalu sibuk hal-hal yang tidak penting.

Bimo — sahabat gue sejak SMP — adalah orang yang paling bertanggung jawab atas kehancuran jadwal akademik gue.

Suatu malam di bulan Agustus, kita lagi rebahan di kos sambil scroll TikTok. Bimo nemu video konten kreator horor yang viewsnya gila-gilaan.

“Can, lo kan suka hal-hal mistis. Kenapa nggak bikin konten?”

“Ogah. Ribet.”

“Bet deh. Kalau lo nggak bisa dapet 1000 subscriber dalam dua bulan, lo yang bayarin makan gue sebulan penuh.”

Gue jabat tangannya tanpa mikir panjang.

Kesalahan terbesar dalam hidup gue setelah milih jurusan ini.

Channel “IcanTakut” Resmi Berdiri

Nama channel-nya gue bikin dalam lima menit.

IcanTakut.

Channel horor yang tak sengaja dibikin.

Bimo ketawa waktu denger namanya.

“Serius lo? IcanTakut?”

“Iya kenapa?”

“Itu kedengarannya kayak ‘I Can Takut’. Bahasa Inggris-Indonesia campur aduk.”

“Justru itu branding-nya, Bim. International.”

Bimo geleng-geleng kepala tapi tetap bantu gue setup kamera pinjaman dari teman kampus.

Video pertama gue adalah review warung angker di dekat kampus.

Dapet 47 views. 40 di antaranya kayaknya dari gue sendiri yang refresh.

Video kedua tentang mitos lorong kampus.

Dapet 23 views.

Video ketiga tentang kos berhantu di Jalan Mawar.

Dapet 19 views.

Tren yang sangat menggembirakan.

Ide Yang Datang Dari Tempat Yang Salah

Minggu ketiga. Subscriber gue stuck di angka 61.

Gue mulai panik.

Bimo mulai pesen makanan mahal-mahal di aplikasi dan nunjukin ke gue sambil senyum-senyum.

“Kayaknya gue mau makan steak minggu depan, Can.”

“Tutup mulut lo, Bim.”

Gue duduk di depan laptop. Scrolling forum-forum horor lokal. Nyari ide konten yang beda.

Dan di situ gue nemuin thread panjang tentang Ritual Rambut Sewu.

Gue baca dari atas sampai bawah.

Gue langsung semangat.

Ini dia.

Konten yang gue butuhin.

Gue ketuk meja dengan excited.

“BIMO.”

“Apaan?”

“Gue mau bikin konten tentang Ritual Rambut Sewu.”

Bimo angkat kepala dari HP-nya.

“Yang itu serem lho, Can.”

“Bagus. Berarti viewsnya bakal bagus juga.”

Riset Yang Lebih Serius Dari Skripsi Gue

Gue habiskan tiga hari penuh riset tentang Ritual Rambut Sewu.

Lebih serius dari riset bab dua skripsi gue. Jauh lebih serius. Dosen pembimbing gue pasti nangis kalau tahu.

Yang gue temukan bikin gue makin excited sekaligus sedikit — hanya sedikit — tidak nyaman.

Ritual Rambut Sewu adalah ritual Jawa kuno yang menggunakan rambut sebagai media pengikat. Pelaku mengumpulkan seribu helai rambut — dari diri sendiri dan target — lalu membakarnya bersama kemenyan dan bunga tujuh rupa di tempat tertentu pada malam yang ditetapkan.

Tujuannya bermacam-macam. Pengikat asmara. Pemisah rumah tangga. Penghalang seseorang pergi jauh.

Yang paling gue highlight buat konten adalah bagian “harga yang harus dibayar.”

Katanya setiap Ritual Rambut Sewu yang berhasil selalu mengambil sesuatu dari pelakunya. Sedikit demi sedikit.

Bagus, pikir gue. Ini material konten yang luar biasa.

Gue tulis script.

Gue latihan di depan cermin.

Gue bahkan beli kemenyan asli dari toko online buat props.

Bimo yang lihat gue latihan cuma geleng-geleng kepala.

“Lo lebih semangat ini daripada UTS.”

“UTS nggak kasih gue subscriber, Bim.”

Video Pertama — Dan Komentar Aneh Itu

Video Ritual Rambut Sewu part one tayang Jumat malam.

Gue upload dengan thumbnail yang gue edit sendiri — gambar rambut panjang berserakan di lantai dengan filter merah. Judulnya gue bikin kapital semua : RITUAL RAMBUT SEWU — RITUAL PALING GELAP YANG MASIH DIPRAKTIKKAN.

Gue tidur.

Gue bangun pagi.

Gue buka YouTube.

Dan gue hampir jatuh dari kasur.

Viewsnya 4.700.

Subscriber naik jadi 340.

Gue teriak sampai penghuni kamar sebelah ketuk dinding.

“BIMO BANGUN. BIMO BANGUN SEKARANG.”

Bimo masuk kamar dengan muka masih setengah tidur.

“Apaan sih berisik—”

Gue sodorkan HP ke mukanya.

Bimo melotot.

“Anjir.”

“Anjir.” Gue ulang dengan penuh kemenangan.

Tapi di sela kegembiraan itu — waktu gue scroll komentar — ada satu komentar yang bikin gue berhenti.

Dari akun tanpa foto profil. Nama akunnya cuma deretan angka.

Komentarnya:

“Kamu sudah menyebut namanya tiga kali dalam video ini. Hati-hati.”

Gue screenshot. Gue kirim ke Bimo.

“Ini pasti fans yang lebay,” kata Bimo.

“Iya kali.” Gue setuju.

Gue lanjut balas komentar-komentar lain sambil senyum-senyum.

Tantangan Dari Subscribers

Setelah video pertama viral — enfin, viral versi kecil-kecilan — subscriber gue meledak.

800 dalam seminggu.

Komentar mulai berdatangan dengan permintaan-permintaan yang makin lama makin nekat.

“Kak Ican ke lokasi ritual dong!”

“Coba praktekin ritualnya Kak!”

“Malam Jumat Kliwon tinggal 3 hari lagi, Kak. Kesempatan!”

Gue baca semua komentar itu dengan perasaan campur aduk antara semangat dan ngeri.

Bimo yang duduk di sebelah gue langsung bilang —

“Jangan, Can.”

“Tenang Bim, gue nggak bakal beneran praktekin.”

“Bukan soal itu.” Bimo menatap layar. “Gue nggak enak aja.”

“Nggak enak gimana?”

Bimo diam sebentar.

“Nggak tahu. Feeling aja.”

Gue tepuk pundak Bimo.

“Bim, lo terlalu banyak nonton konten horror. Santai.”

Lokasi Syuting — Makam Tua Di Pinggir Sawah

Demi konten part dua — gue dan Bimo pergi ke lokasi yang kata orang-orang di forum sering dipakai untuk ritual-ritual semacam ini.

Sebuah makam tua di pinggir sawah, sekitar 40 menit dari kota.

Bimo yang nyetir. Gue yang pegang kamera.

Sepanjang jalan Bimo diam.

Ini aneh. Bimo biasanya tidak bisa diam lebih dari dua menit.

“Lo kenapa, Bim?”

“Nggak kenapa-kenapa.”

“Muka lo kayak orang mau ke dokter gigi.”

“Gue cuma… gue kurang suka ide ini, Can.”

“Serius? Ini konten bagus banget lho.”

“Iya tapi—” Bimo berhenti. “Nggak. Nggak apa-apa. Lanjut.”

Gue perhatikan Bimo sebentar.

Lalu lanjut setting kamera.

Makamnya persis seperti yang orang-orang ceritain di forum.

Tua. Beberapa nisan sudah tidak terbaca. Pohon-pohon besar mengelilinginya. Dan di sisi yang berbatasan langsung dengan sawah —

Ada bekas pembakaran.

Abu. Bunga layu. Dan —

Rambut panjang.

Berserakan di sekitar bekas api.

Gue langsung nyalain kamera.

“Bim, tolong pegangin lampu.”

Bimo pegang lampu tapi tangannya kaku.

Gue mulai rekam. Gue jelaskan apa yang ada di depan kamera. Gue ceritain tentang Ritual Rambut Sewu. Gue tunjukkan rambut-rambut yang berserakan itu ke kamera dengan excited.

Dan di tengah-tengah gue rekam —

Bimo tiba-tiba bilang —

“Can. Kita pulang sekarang.”

“Bentar lagi Bim, ini bagus banget—”

“Sekarang, Can.”

Peristiwa misterius terkait Ritual Rambut Sewu pun terjadi.

Nada suaranya beda.

Gue turunkan kamera.

Bimo menatap ke arah sawah di belakang makam.

Matanya tidak berkedip.

“Bim?”

“Ada yang berdiri di sana.” Suaranya pelan. “Di tengah sawah.”

Gue ikuti arah pandangannya.

Sawah itu gelap. Padi-padinya bergerak pelan ditiup angin malam.

Gue tidak lihat apa-apa.

“Gue nggak lihat apa-apa, Bim.”

“Gue lihat.” Bimo sudah berjalan ke arah mobil. “Ayo.”

Gue ikuti Bimo. Kita pulang dalam diam.

1000 Subscribers — Dan Komentar Itu Lagi

Tiga hari setelah video part dua upload —

Subscriber gue menyentuh angka 1000.

Gue screenshot. Gue kirim ke semua grup. Gue ketuk kamar Bimo dengan heboh.

“BIM. SERIBU. SERIBU SUBSCRIBER. LO NGGAK JADI DITRAKTIR!”

Bimo buka pintu dengan muka aneh.

Bukan muka kalah taruhan.

Muka yang… relieved? Tapi juga khawatir?

“Syukurlah,” katanya pelan.

“Kok syukurlah doang? Harusnya lo mewek, Bim. Harusnya lo nangis.”

“Iya syukur. Udah 1000. Berarti udah selesai kan? Kita stop sampai di sini?”

Gue menatap Bimo.

“Kenapa stop? Ini baru mulai, Bim. Gue mau lanjut bikin series.”

Sesuatu di wajah Bimo berubah.

Tapi dia tidak bilang apa-apa.

Hanya balik masuk kamar dan tutup pintu.

Malam itu gue buka kolom komentar video terbaru gue.

Dan akun tanpa foto profil itu muncul lagi.

Komentar kali ini lebih panjang.

“1000 subscriber. 1000 kali namanya disebut. Kamu tidak tahu apa yang sudah kamu mulai. Tapi dia tahu. Dia yang ada di sebelah kamu dari awal — dia tahu.”

Gue screenshot lagi.

Gue mau kirim ke Bimo.

Tapi gue tunda.

Gue tidak mau Bimo makin parno.

Hal-Hal Kecil yang Mulai Gue Notice

Setelah 1000 subscriber — ada hal-hal kecil yang mulai gue notice.

Pertama.

Setiap pagi gue bangun, ada rambut panjang di lantai kamar gue. Satu atau dua helai. Gue pikir masuk dari bawah pintu. Kos gue memang pintunya tidak rapat.

Kedua.

HP gue dua kali merekam sendiri waktu gue tidur. Gue tahu karena storage-nya tiba-tiba penuh. Waktu gue buka file-nya — rekamannya cuma menangkap langit-langit kamar gue yang gelap. Dan suara napas. Pelan dan teratur. Tapi bukan suara napas gue karena gue tidur mendengkur kata Bimo.

Ketiga.

Bimo jadi aneh.

Bukan aneh yang dramatis. Tapi aneh yang subtle. Dia sering duduk diam menatap HP-nya dengan ekspresi yang susah gue baca. Kalau gue tanya dia lagi ngapain, dia bilang “nggak apa-apa” tapi screen HP-nya langsung dia miringkan biar gue nggak lihat.

Pertanyaan yang Seharusnya Gue Tanya dari Awal

Suatu siang gue iseng nanya ke Bimo.

“Bim, waktu di makam itu — lo beneran lihat sesuatu di sawah?”

Bimo lagi makan mie instan. Dia berhenti ngunyah sebentar.

“Iya.”

“Bentuknya gimana?”

Bimo mikir.

“Perempuan. Berdiri di tengah sawah. Rambutnya panjang. Mukanya nggak keliatan.”

“Terus?”

“Terus dia nengok ke arah kita.” Bimo lanjut makan. “Tapi yang nengok bukan kepalanya. Badannya tetap membelakangi kita. Tapi mukanya—”

Bimo berhenti.

“Mukanya gimana, Bim?”

“Mukanya nengok ke arah kita. Nggak wajar. Kayak kepalanya muter 180 derajat.”

Hening.

“Dan dia ngeliatin lo, Can. Bukan gue. Lo.”

Gue diam.

“Makanya gue minta pulang.”

Malam Sebelum Video Part Tiga

Gue udah nulis script part tiga.

Temanya lebih dalam — tentang korban-korban Ritual Rambut Sewu. Gue udah riset. Udah ada beberapa kasus yang gue temukan di forum dan artikel lama.

Gue share draft script ke Bimo minta feedback.

Bimo baca lama.

Lalu dia taruh HP-nya.

“Can, gue mau ngomong sesuatu.”

“Apa?”

“Gue rasa kita harus berhenti.”

Gue menatap Bimo.

“Bim—”

“Dengerin gue dulu.” Bimo menatap gue serius. “Sejak lo bikin konten ini — ada yang beda. Lo nggak sadar?”

“Beda gimana?”

“Lo tidur makin larut. Lo jarang makan. Lo lebih sering sendirian di kamar. Dan—” Bimo ragu. “Lo sering ngomong sendiri waktu tidur.”

“Orang ngigau biasa, Bim.”

“Bukan ngigau biasa, Can.” Bimo menatap gue langsung. “Gue pernah denger lo ngomong waktu tidur. Jelas. Dan yang lo omongin—”

“Apa?”

Bimo diam sebentar.

“Lo nyebut nama seseorang. Berkali-kali. Nama yang sama terus.”

“Nama siapa?”

Bimo menggeleng.

“Gue nggak mau ngulang namanya.”

Plot Twist Yang Gue Nggak Siap

Malam itu gue tidak bisa tidur.

Gue duduk di depan laptop. Gue buka semua file riset gue tentang Ritual Rambut Sewu.

Gue baca ulang dari awal.

Dan di satu artikel panjang dari blog yang sepertinya ditulis oleh seseorang yang benar-benar paham — gue menemukan satu paragraf yang sebelumnya gue lewati karena gue pikir tidak relevan.

Paragraf itu menjelaskan tentang cara Ritual Rambut Sewu menyebar.

Katanya — ritual ini tidak selalu membutuhkan pelaku yang sadar.

Dalam beberapa kasus — ritual bisa menumpang pada seseorang yang terus-menerus menyebut namanya. Menceritakannya. Menyebarkannya.

Setiap sebutan adalah satu helai.

Setiap cerita adalah ikatan baru.

Dan ketika jumlahnya cukup —

Ritual itu hidup sendiri. Tanpa pelaku. Tanpa niat.

Hanya karena ada seseorang yang terus membicarakannya.

Gue hitung video gue.

Dua video. Total durasi hampir satu jam. Gue menyebut kata Ritual Rambut Sewu berkali-kali di setiap video.

Ditambah komentar. Ditambah caption. Ditambah waktu gue latihan script sendirian di kamar.

Berapa ratus kali sudah gue menyebut namanya.

Gue duduk diam lama.

Lalu gue teringat komentar dari akun tanpa foto profil itu.

“1000 subsriber. 1000 kali namanya disebut.”

Gue buka kolom komentar.

Gue scroll cari akun itu.

Dan gue temukan.

Tapi kali ini gue klik nama akunnya.

Bukan deretan angka acak seperti yang gue kira.

Nama akunnya —

Kalau gue baca pelan-pelan —

Adalah nama gue sendiri.

Ican.

Dengan angka-angka di belakangnya yang kalau gue susun ulang —

Adalah tanggal lahir gue.

Pagi Harinya — Percakapan Dengan Bimo

Gue hampir tidak tidur.

Pagi-pagi gue langsung ke kamar Bimo.

“Bim. Akun yang komentar di video gue itu—”

“Gue tahu.” Bimo sudah duduk di kasurnya. Kayak menunggu gue datang. “Gue yang bikin akun itu.”

Gue beku di pintu kamar.

“…Apa?”

“Gue yang bikin. Gue yang komentar.” Bimo menatap gue tenang. Terlalu tenang. “Gue mau lo berhenti, Can. Tapi lo nggak pernah dengerin kalau gue ngomong langsung.”

“Jadi lo… pura-pura jadi akun misterius buat nakut-nakutin gue?”

“Gue nggak pura-pura soal isinya.” Bimo berdiri. “Gue serius soal apa yang gue tulis. Gue cuma nggak tahu cara lain buat lo dengerin gue.”

Gue menatap Bimo lama.

Antara lega dan marah dan bingung campur jadi satu.

“Bim, itu manipulatif banget—”

“Iya.” Bimo tidak menyangkal. “Maaf. Tapi gue khawatir, Can. Beneran.”

Hening panjang.

Gue duduk di lantai kamar Bimo.

“Bim… soal yang lo tulis. Bahwa ritual bisa hidup dari sebutan. Lo dapat itu dari mana?”

Bimo diam.

“Bim?”

“Dari riset gue sendiri.” Suara Bimo pelan. “Waktu lo mulai bikin konten ini — gue juga mulai riset. Diam-diam. Karena gue mau tahu seberapa berbahaya ini.”

“Dan?”

Bimo menatap gue.

“Dan gue rasa yang gue tulis di komentar itu bukan bohong, Can.”

Yang Gue Putuskan

Gue tidak upload video part tiga.

Gue private kedua video yang sudah ada.

Channel IcanTakut — yang dengan susah payah gue bangun sampai 1000 subsribergue matikan.

Bimo tidak menang taruhan. Gue tidak kalah. Kita sepakat hasil taruhannya seri dan kita lupakan.

Tapi ada satu hal yang tidak bisa gue lupakan.

Malam setelah gue matikan channel itu —

Untuk pertama kalinya sejak gue mulai bikin konten ini —

Gue tidur nyenyak.

Tidak ada suara napas di rekaman.

Tidak ada rambut di lantai waktu gue bangun.

Dan Bimo — yang sudah semingguan ini makan dengan lahap dan cerewet seperti biasanya — akhirnya kembali normal.

Epilog — Tiga Minggu Kemudian

Gue mulai ngerjain skripsi lagi.

Bab dua. Pelan-pelan. Tapi progress.

Bimo traktir gue makan sebagai permintaan maaf soal akun itu. Gue terima traktirannya tapi tetap gue bilang dia manipulatif.

“Lo udah makan steak gue, berarti lo maafin gue,” kata Bimo.

“Logika dari mana tuh.”

“Logika pertemanan.”

Gue geleng kepala tapi ketawa.

Tapi ada satu hal kecil yang tidak gue ceritakan ke Bimo.

Seminggu setelah channel gue mati —

Gue dapat notifikasi YouTube.

Dari channel IcanTakut.

Yang sudah gue matikan.

Notifikasinya bilang —

Ada video baru yang diupload.

Gue buka channel gue.

Tidak ada video baru.

Tapi jumlah subsriber-nya —

Bukan 1000 lagi.

Bukan kurang dari 1000.

Tapi —

1001.

Gue screenshot.

Gue mau kirim ke Bimo.

Tapi gue urungkan.

Gue tutup aplikasinya.

Gue taruh HP menghadap bawah.

Dan gue kembali ke laptop gue.

Kembali ke bab dua skripsi.

Pura-pura tidak lihat apa-apa.

Karena ada hal yang gue pelajari dari semua ini —

Ritual Rambut Sewu tidak butuh kemenyan.

Tidak butuh sawah di tengah malam.

Tidak butuh darah dari jari manis.

Di zaman sekarang —

Ritual itu cukup butuh koneksi internet yang bagus.

Dan seseorang yang tidak tahu kapan harus berhenti bicara.

Channel IcanTakut resmi nonaktif.

Skripsi Ican selesai semester depan — mungkin.

Bimo masih cerewet seperti biasa.

Dan subsriber ke-1001 itu —

Sampai sekarang tidak pernah bisa dihapus.

___

Jadi, percayakah kamu dengan Ritual Rambut Sewu, ritual mistis di era teknologi sekarang ini?

April Hamsa

Categorized in: