Yeaaayy, akhirnya terturut juga nyicipin roti srikaya di Warung Kopi Purnama Bandung ini. Sejak dahulu saya memang penasaran gimana, sih, rasanya roti srikaya di kedai kopi vintage, tertua, dan legend banget di bandung ini. FYI, buat yang belum tahu, Warung Kopi Purnama ini sudah ada sejak 1930. Maka, ketika berkesempatan ke Bandung pada awal 2025 lalu (lama yee 😛 ), saya bersama keluarga menyempatkan mampir ke sana 😀 .

Kebetulan juga, hari itu kami berencana liburannya cuma di Braga saja, sehingga memang niat kulineran yang di area kota. Sebelum-sebelumnya, kami kalau ke Bandung tuh kalau nggak ke pinggiran Bandung ya naik ke Lembang, sehingga memang belum pernah benar-benar berwisata di Bandung “kotanya”.

Warung Kopi Purnama Bandung. Bagian depannya lupa difoto 😛 .

Nah, hari itu kami sekeluarga pergi ke Bandung naik moda transportasi Whoosh. Kalau tidak keliru berangkat jam 9 pagi kurang. Perjalanan pakai kereta api cepat ini dari Jakarta ke Bandung sih beneran ngabisin waktu cuma 30 menit, tetapi menuju Kota Bandung-nya ini yang malah lama. Kalau tidak keliru kami sampai Bandung tuh jam setengah 11-an gitu, lha, karena naik kereta feeder yang ngetem dulu.

Singkat cerita, begitu sampai Stasiun KA Bandung, kami langsung memesan mobil online menuju ke Warung Kopi Purnama. BTW, enak juga ya kalau di Stasiun Bandung tuh mobil online boleh masuk ke pintu keluar stasiun langsung, nggak kayak di Stasiun Gambir (Jakarta) yang keknya masih dimonopoli taksi-taksi konvensional. Trus, kalau mau pesen mobil online jalan agak ke depan dulu, heuheu.

Oh ya, saya lupa-lupa inget, waktu itu sepertinya driver tidak menurunkan kami tepat di Warung Kopi Purnama. Mungkin, karena lokasinya masuk gang gitu atau kami sebenarnya mau ke tempat lain dulu. Satu hal yang saya ingat, kami tuh turun di salah satu gedung tua, kemudian jalan kaki menuju Warung kopi Purnama itu. Namun, jalan kakinya nggak jauh kayaknya. Au deh, cuaca panas Bandung hari itu keknya membuat ingatan saya rontok, wkwk 😛 . Yaaa, beginilah nasib kalau liburannya kapan, kenangannya ditulis kapan 😛 .

Bangunan Warung Kopi Purnama

Waktu itu memang matahari Bandung menyengat sekali, sehingga begitu menemukan Warung Kopi Purnama, kami langsung masuk saja ke dalam. Saya bahkan lupa memotret bagian depan kedai kopi legend ini, hiks hiks.

Alhamdulillahnya, kami masuk kedai kopinya tanpa mengantre yaaa. Awalnya ya agak khawatir antre juga, karena itu Hari Sabtu, ternyata cukup sepi kok. Apa karena baru buka atau gimana, entahlah. Jujurly, kalau pake antre saya mungkin wurung ke sana hahaha 😛 .

Sebelum cerita soal makanan dan minuman yang kami nikmati di kedai kopi vintage ini, saya mau mencoba mendeskripsikan bangunannya dulu ya. BTW, waktu itu saya juga sempat mengambil beberapa footage video yang lebih banyak ngeshoot tentang bangunan kedainya, tapi sayangnyaaa HP yang saya pakai saat itu rusak hiks, sehingga yawda, tamatlah sudah alkisah kamiiii *singing ☹. Untungnya, kalau untuk foto-foto makanannya saya ambil pakai HP satunya sehingga masih ada kisah yang bisa diceritakan *uhuks.

Bangunannya vintage.

Jadi, katanya, bangunan Warung Kopi Purnama ini awalnya merupakan rumah pengusaha dan pedagang kopi asal Medan yang bernama Jong A Tong. Sebelum Orba, kedai kopi ini dikenal sebagai Rumah Kopi Tjhiang Shong Shi. Baru kemudian, sekitar 1966 namanya berganti Warung Kopi Purnama, karena yaaa gitu, lha, rezim Orba kan nggak suka sama penamaan berbau Tionghoa, gitu. Maka, sejak saat itu hingga sekarang, kedai kopi ini eksis dengan nama Warung Kopi Purnama.

Secara umum, arsitektur bangunan kedai kopi ini merupakan perpaduan antara bangunan bergaya lokal, Tionghoa, dan Belanda. Kalau saya tidak keliru, bangunannya terdiri dari dua lantai.

Akhirnya bisa nyicipin roti srikaya yang terkenal di Bandung 😀 .

Begitu sampai bangunan ini, pengunjung akan disambut teras yang kecil saja, kemudian langsung masuk ke ruang utama. Buat yang membawa kendaraan sendiri kalau ke sini, sepertinya parkirannya tuh ada di sepanjang jalan atau gangnya itu. Mungkin ada tukang parkir yang mengatur, entahlah, ya, saya tidak terlalu memperhatikan.

Jadi, sepanjang gang itu sepertinya isinya tempat usaha semua. Ada toko-toko dan kedai-kedai makanan. Sepanjang jalan, banyak mobil-mobil parkir di pinggir jalan, karena sepertinya Gedung-gedung yang ada di sana tidak ada yang benar-benar memiliki lahan parkir.

Kembali ke gedung Warung Kopi Purnama, tampaknya sekarang keseluruhan bangunan sudah menjadi bagian dari kedai kopi, bukan hunian lagi. Setelah, ruang utama buat dine in, bagian belakang ada teras-teras yang juga menjadi tempat dine in.

Setelah teras, juga semacam taman kering yang tidak terlalu luas. Spot ini sepertinya spot favorit pengunjung karena cukup estetik, dengan tanaman-tanama hias yang menjuntai ke bawah.

Lalu, ada tangga menuju ke lantai atas. Sepertinya ruangan di atas itu semacam ruangan VIP atau buat tempat meeting, gitu. Saya tidak eksplore sampai ke sana. Untuk toilet, lokasinya ada di belakang, Kalau mushola, entahlah, saya tidak menemukannya. Nggak nanya juga sih saat itu.

Anak-anak menikmati roti srikaya dan bitterballen.

Kalau saya dan keluarga memilih langsung duduk di ruang utama yang di depan tadi. Dinding ruangan ini penuh dengan foto-foto lama owner dan keluarganya, juga beberapa klipingan artikel tentang kedai kopi ini  (BTW, anak sekarang tahu “klipingan” nggak? 😀 ).

Oh ya, kedai kopi Warung Kopi Purnama ini memang sepertinya beberapa kali pernah diliput oleh media lokal maupun asing. Almarhum Pak Bondan Winarno, “influencer makanan” pada masanya pun pernah meliput kedai kopi ini.

Waktu itu di ruangan utama yang sebenarnya penuh meja ini hanya ada keluarga saya dan dua pengunjung lainnya. Bangku-bangku di sana cukup padat, tetapi karena waktu itu pengunjungnya tidak banyak jadi terasa lega ruangannya. Apalagi bagian atapnya tuh tinggi banget, sehingga walaupun cuaca Bandung kala itu panas, tetapi sirkulasi udara di dalam kedai kopi masih mayan lha.

Makanan dan minuman yang kami pesan di Warung Kopi Purnama

Begitu duduk di meja, pegawai kedai kopi langsung memberikan kami list menu. Bentuknya simple, cuma selembar kertas cetak bolak-balik dan di-laminating. Satu sisi berisi list menu makanan, sisi lainnya ada list minuman dan secuil artikel tentang sejarah Warung Kopi Purnama lengkap dengan foto diri founder-nya, juga ada foto bapak dan anak di depan bangunan kedai (mungkin ini founder dan anaknya).

Daftar menunya.

Ternyata, Warung Kopi Purnama ini tak hanya menyediakan makanan berupa roti, melainkan juga makanan berat seperti mie, nasi gireng, soto, gado-gado, cuanki, bakso, bacang, dll.

Hari itu, kami tidak memesan makanan berat, karena sudah sarapan di Stasiun Whoosh dan berniat makan di dekat hotel saja. Jadi, niatnya ke Warung Kopi Purnama memang mau mencoba roti srikaya dan ngopi.

Roti srikaya. Salah motret, kenapa mode potrait ya hiks. Keknya foto yang bener ada di HP satunya.

Kami pun memesan roti srikaya. FYI, sebenarnya yang dimaksud dengan roti srikaya ini adalah roti bakar atau roti kukus yang diberi selai srikaya. Hal yang membuatnya unik adalah semua bahan dasar roti ini adalah homemade, produksi kedai kopi tersebut sendiri, termasuk selainya. Kayaknya selainya tuh boleh dibeli, deh. Eh, bener, nggak, sih, soalnya saya baru mengetahuinya belakangan ini.

Kami ordernya roti bakar srikaya. Satu porsi cukup banyak, sih. Disajikan di piring saji yang tidak terlalu lebar, sepertinya ada dua lembar roti yang dipanggang dengan tingkat kematangan yang sudah ditentukan, sehingga menghasilkan tekstur roti yang garing di luar tetapi lembut di bagian dalamnya.

Roti ini kemudian diolesi dengan selai srikaya homemade yang aromanya sangat wangi, dengan cita rasa manis yang pas, nggak bikin eneg, serta konsistensi selainya cukup kental. Di tengah-tengah roti sepertinya ada irisan mentega/ butter juga sehingga lapisan tengah rotinya terasa creamy dan gurih.

Bitterballen.

Selain roti srikaya, kami juga memesan bitterballen. Bitterballen ini merupakan camilan dari Belanda yang berbentuk bola-bola kecil. Bola-bola ini terbuat dari tepung dengan isian ragout daging sapi cintang yang rasanya gurih. Sepertinya ada campuran krim susu atau mungkin keju yang kalau dimakan tuh lumer di mulut.

Bagian luar bola-bola ini dibalut dengan tepung roti dan digoreng garing, sehingga kalau digigit, awalnya kita akan mendapatkan tekstur renyah, tapi begitu menggigit isiannya maka kita akan mendapatkan tekstur yang lembut. Bola-bola bitterballen ini disajikan dengan saus mustard dan tomat untuk menyeimbangkan rasanya.

Untuk minuman, anak-anak memesan es cokelat susu dan es ovaltine susu. Kalau orang tuanya memesan es kolang-kaling dengan cincau, lupa namanya 😛 .

Es coklat. Es ovaltine-nya nggak kefoto keknya 😛 .

Sebenarnya, mereka juga menyediakan minuman hangat seperti kopi. Kopi yang paling terkenal di sana namanya kopi hitam panas. Ada pula es kopinya. Cuma waktu itu kepengennya yang seger-seger dan anak-anak udah pasti akan memesan minuman percoklatan, jadi akhirnya minuman-minuman itu yang kami pesan, hihihi.

Overall, makanan dan minuman di sana yang kami pesan tuh nggak failed rasanya. Cuma jujur agak kurang ramah bawa bocil, karena agak gerah. Kalau anak-anak saya kebetulan udah mulai gedhe sehingga bisa lha dikondisikan.

Es kolang-kaling dan cincau yang seger.

Yaaa, lumayan lha, singgah di Warung Kopi Purnama tuh ibaratnya buat mengobati dahaga di cuaca seterik hari itu. Juga, sebagai bekal kami jalan kaki dari Warung Kopi Purnama ke hotel kami yang ada di kawasan Braga. Yup, waktu itu kami jalan kaki, karena ada isu jalan ditutup atau gimana. Yaaa, karena kami terbiasa jalan kaki ke mana-mana, akhirnya jalan kaki aja. Seru, kok, melewati gang-gang kecil yang rumah-rumahnya memiliki fasad campuran antara bangunan vintage dan modern 😀 .

Yaaa, itulah pengalaman kami numpang ngaso di Warung Kopi Purnama Bandung. Keinginan untuk makan rori srikaya di Warung Purnama sudah ter-checklist. Tinggal kopi hitamnya nih yang masih penasaran. Mungkin, kalau ke sana sore atau malam saya akan order kopi hitam ini. Doain ya ada rezekinya liburan ke Bandung lagi, hehe 😀 .

Adakah teman-teman yang sudah pernah makan roti srikaya di Warung Kopi Purnama Bandung juga? Share donk menu favorit di sana apa 😀 .

Buat yang belum pernah ke sana,  barangkali ada yang mau nyicipin roti srikaya-nya yang legend juga, berikut adalah  alamat Warung Kopi Purnama.

April Hamsa

Categorized in: