Gonjang-ganjing tentang kereta api cepat Whoosh yang menyebabkan PT Kereta Api Indonesia (KAI) merugi Rp 116 triliun belakangan mengemuka. Jadi keinget deh kalau di memori HP masih tersimpan kumpulan foto maupun video pengalaman pertama kali naik Whoosh awal tahun lalu 😛 .

Stasiun Halim yang luas.

Jadi, waktu itu, anak-anak sedang libur sekolah, tetapi bapaknya nggak bisa cuti karena load pekerjaan lagi lumayan. Kami pun memutuskan liburan tipis-tipis ke Bandung aja, menghabiskan weekend di kota yang punya julukan Kota Kembang ini. Nah, supaya bisa berasa agak lamaan di bandung, kami memutuskan naik Whoosh. Sekaligus buat experience, gitu, gimana sih rasanya naik kereta api cepat ini?

Kami berangkat hari Sabtu pukul 6 pagi naik Bluebird ke Stasiun Halim. Perjalanan ini memakan waktu satu jam dari rumah kami yang ada di Kabupaten Bogor mepet Tangsel melalui jalan tol. Sekitar jam 7an kurang kayaknya kami tiba di Stasiun Halim.

Stasiun kereta api cepat Whoosh di Halim yang mewah

Kesan pertama melihat stasiunnya, karena mungkin masih tergolong stasiun baru ya (kurang lebih 2 tahunan), stasiunnya resik dan kinclong. Pokoknya vibes-nya beda lha ma Stasiun Gambir, apalagi Stasiun Senin 😛 . Bangunanya juga lega dengan atap yang tinggi.

Bisa membaca informasi tentang Whoosh di sini.

Begitu masuk stasiun, terlihat papan petunjuk tentang intermodal integration. Papan petunjuk tersebut menjelaskan di stasiun mana saja Whoosh ini akan berhenti. Lalu, ada pula informasi mengenai mengenai fasilitas apa saja yang tersedia di stasiun-stasiun itu. Misalnya, kalau di Stasiun Halim tersedia bus shuttle atau bus Damri yang bisa membawa penumpang ke bandara, baik itu ke Halim Perdanakusuma maupun ke Soetta. Lalu, kalau di Karawang rupanya ini tuh stasiunnya udah deket sama pusat perbelanjaan The Grand Outlet. Kalau di Padalarang atau Tegaluar ada penjelasan kalau di sana tersedia beberapa kendaraan juga untuk menuju ke tempat lain di sekitar Bandung.

Buat yang masih bingung gimana cara naik Whoosh bisa nanya-nanya di sini.

Agak masuk ke dalam stasiun, di sebelah kiri, penumpang akan disambut dengan loket layanan pelanggan. Persis di depan loket layanan pelanggan ada pintu masuk untuk keberangkatan. Lurus lagi ke dalam, belok ke kanan ternyata terdapat berderet kafe, restoran, juga minimarket dekat dengan tempat mesin tiket.

Berapa harga tiket Whoosh?

Oh ya, kalau ada pertanyaan beli tiketnya di mana dan berapaan, waktu itu kami membeli tiket via online travel agent. Sebenarnya, katanya sih bisa membeli di website Whoosh juga (nggak pakai aplikasi) atau beli offline. Harga tiketnya waktu itu sekitar Rp 1,4 juta lebih buat kami berempat. Kayaknya Rp 350.000,-an ya? Saya nggak paham sebenarnya tiket Whoosh itu berapaan, sih? Ada yang bilang kadang dapat harga 250 ribu, bahkan katanya pernah ada yang dapat 150 ribu. Ada pula yang lebih mahal, cuma saya tidak tahu harga tiketnya berapaan.

Katanya sih di kereta api cepat Whoosh ada tiga pilihan seat. Pertama kursi VIP, kursi business class, dan economy class. Nggak tahu apa bedanya, mungkin kursinya lebih bagus atau ada tambahan fasilitas lain kali ya? Saya sih sebagai kaum mendang-mending udah cukup aja dengan economy class, nyaman juga kok, wkwk.

Oke, lanjuuut. Begitu sampai, suami saya menuju mesin tiket. Sebenarnya sih bukan buat menukar tiket online dengan tiket fisik, melainkan buat mencetak semacam boarding pass, apaan dah namanya, buat ditunjukkan saat masuk ke dalam lobi/ area keberangkatan.

Numpang sarapan di stasiun Whoosh

Setelah menukar tiket ternyata waktu keberangkatan masih lama. Kami pun memutuskan buat sarapan dahulu. Ada beberapa pilihan resto seperti Subway, Starbucks, Solaria, dll. Ada Indomaret juga yang menyediakan meja kursi buat duduk dan makan. Kami memutuskan makan di Solaria saja karena melihat tempatnya cukup luas dan pagi itu masih agak sepi. Di Solaria kami makan nasi goreng, salah satu makanan yang bisa diterima dan dimakan anak-anak dengan cepat tanpa drama, hehe.

Ada kafe, restoran, dan minimarket di sini.

Daaan, benarlah, kami menyelesaikan makanan dengan cepat. Bahkan masih kurang dari jam 8, sementara kereta Whoosh yang kami naiki akan berangkat jam 9.

Sarapan nasgor dulu di Solaria.

Meski begitu, akhirnya kami memutuskan masuk ke area keberangkatan. Area ini masih naik satu lantai ke atas. Alhamdulillah, sudah boleh masuk ke ruang tunggu. Oh ya, sebelumnya, kami juga melewati gate buat pemeriksaan barang bawaan dulu.

Masuk ke area keberangkatan Whoosh

BTW, saya lupa di bagian mana gitu, pokoknya ada salah seorang petugas yang menawari kami buat naik kereta satu jam lebih awal (jadwal jam 8). Mungkin karena penumpang hari itu agak sepi, sehingga ada seat kosong, jadi mau dialihkan ke kami.

Area keberangkatan.

Namun, kami menolak, khawatir ngang-ngong nyampek Bandung, karena rencana kegiatan kami di Bandung kan dimulainya sesuai dengan jadwal kedatangan kami di sana, hehe. Akhirnya, kami punya slot sekitar satu jam buat menunggu di ruang tunggu. Kami menghabiskan waktu dengan makan camilan yang kami bawa dari rumah.

Ternyata harus naik ke atas dulu.

Sebenarnya di area ruang tunggu ini juga ada beberapa booth/ tenant jajanan dan minuman kekinian gitu, sih. Namun, saya lupa apa aja, karena nggak beli.

Melalui area pemeriksaan barang bawaan.

Sekitar pukul 8 kurang ternyata sudah ada antrean penumpang masuk peron. Pintu masuknya kayak kalau kita naik KRL/ MRT/ LRT gitu, tinggal scan tiket, baik yang online maupun fisik. Kalau tidak keliru ada dua pintu masuk.

Tak lama kemudian, “penduduk” di ruang tunggu itu berkurang banyak, membuat keadaan menjadi agak sepi. Namun, tak lama kemudian, mulai bermunculan lagi banyak orang. Sepertinya mereka penumpang Whoosh pukul 9 juga seperti kami.

Ruang tunggu yang luas banget.

Sekitar pukul 9 kurang (lupa kurang berapa wkwk), penumpang Whoosh jadwal jam 9 pun dipanggil untuk bersiap masuk ke pintu menuju peron Whoosh. Kami pun bergegas mengantre bersama yang lain. Proses antreannya cukup rapi dan cepat masuk ke dalam.

Gate menuju peron Whoosh.

Ternyata, untuk menuju peron Whoosh masih harus naik lagi satu lantai ke atas. Begitu sampai atas, kami langsung bisa melihat Whoosh-nya, sehingga langsung saja masuk ke gerbong kereta. Sepanjang jalan mencari gerbong, amaze juga ngliat desain stasiunnya. Kalau teman-teman pernah nonton pilem dengan latar belakang negara Cina, stasiunnya mirip banget deh dengan yang ada di sana. Alasan yang paling mungkin adalah karena Whoosh ini memang melibatkan Cina dalam hal konstruksi, pembiayaan, hingga teknologinya.

Gerbong Whoosh yang sepi

Kalau tidak keliru kami duduk di peron 4, karena di belakang kami persis ada gerbong restorasi Whoosh yang katanya berada di gerbong 5. Gerbong restorasi ini kayaknya Indomaret ya, yang menyediakan makanan dan minuman buat penumpang. Tersedia meja kursi juga untuk makan di sana. Namun, waktu itu kami nggak beli apa-apa juga, karena sudah sarapan di Solaria tadi dan masih ada perbekalan camilan juga yang memang sengaja kami bawa buat makan sepanjang perjalanan.

Suasana di gerbong Whoosh economy claas.

Pendapat saya mengenai gerbong Whoosh, hmmm, resik sih yaaa. Masing-masing gerbong kereta punya pintu geser yang sepertinya otomatis terbuka sendiri (kalau saya tidak salah ingat wkwk :p ).

Saya lupa berapa persisnya jumlah kursi dalam satu gerbong, tetapi  di economy class kursinya tuh ada tiga deret di bagian kiri dan dua di kanan dilihat dari arah laju kereta. Kami duduk di sebelah kanan.

Kursinya bisa dibikin tegak atau agak disandarkan. Di masing-masing kursi terdapat meja dengan membuka meja yang ada di kursi depannya seperti yang ada di pesawat itu, lho. Lalu, di sela-sela kedua kursi yang ada di depan kita terdapat colokan listrik. Di kantong kursi tersedia katalog yang isinya apa saja yang bisa kita beli dari gerbong retorasi.

Fasilitas di kereta.

Jendela kereta cukup lebar, sehingga penumpang bisa leluasa melihat pemandangan di luar. Oh ya, supaya bisa mendapatkan seat dengan jendela yang utuh, ada tipsnya, lho. Tips ini, saya dapatkan dari nitijen di platform Tiktok, haha. Tipsnya adalah:

  • Apabila naik Whoosh dari Jakarta ke Bandung pilih kursi dengan nomor ganjil.
  • Sebaliknya, jika naik dari Bandung ke Jakarta, maka pilihlah kursi genap.

Bener, lho, kami dapat jendela lebar di kursi kami, meski duduknya terpaksa berjarak satu bangku ke depan karena kami duduknya berdua-dua sederet.

Dapat jendela lebar karena ngikutin tips dari Tiktok wkwk.

Eh, tetapi saat itu Whoosh-nya sepi, sih. Di gerbong yang saya naiki itu tidak banyak penumpangnya. Awalnya saya kira nanti akan banyak penumpang yang naik dari Stasiun Karawang, ternyata ya tetep nggak terisi tuh bangku-bangku yang kosong. Padahal, hari itu Sabtu, yang saya perkirakan akan banyak penumpang menghabiskan weekend di Bandung.

Mungkin hal semacam inilah yang menyebabkan okupansi Whoosh dituding rendah, sehingga merugi dan susah balik modal. Saya pribadi menilai Whoosh ini lebih seperti transportasi buat berwisata saja, sih, yang akan dinaiki buat menghemat waktu perjalanan. Sepertinya Whoosh ini ramainya kala liburan sekolah atau long weekend atau libur lebaran atau tahun baru kali ya?

Anak-anak seneng banget dengan pengalaman pertamanya naik Whoosh.

Mungkin ada pekerja yang domisilinya Bandung dan bekerja di Jakarta atau sebaliknya, tinggal di Jakarta kerja di Bandung, yang menggunakan Whoosh ini. Kemungkinan besar sih kalau begitu keknya level-nya bukan budak corporate yang gajinya UMR ya. Bisa tekor kalau tiap hari PP naik Whoosh 😛 . Kalau tiap wiken masih masuk akal, hehe.

Untuk toilet, wah, saya lupa ngecek. Keasyikan pepotoan sih di gerbong ma anak-anak. Nggak malu-malu soalnya cukup sepi gerbong keretanya 😛 .

Cuma, kalau gugling, ternyata ada kok toilet di tiap gerbongnya. Kemungkinan toilet ini ada di bagian depan kami, karena saat masuk gerbong waktu itu saya cuma melihat rak atau loker bagasi buat koper-koper saja.

Toilet di Whoosh ini katanya juga ramah buat lansia dan disabilitas, karena pintunya otomatis dan dilengkapi pegangan tangan. Wah, saya jadi nyesel, deh, nggak ngecekin toiletnya. Mungkin ini tanda-tanda suatu hari nanti kudu naik Whoosh lagi, haha 😛 .

Gerbong restorasi.

Balik lagi soal gerbong. AC di dalam gerbong adeeeemm banget. Kemudian, di atas pintu bagian depan gerbong terdapat petunjuk lokasi serta berapa kecepatan perjalanan. Saya lupa nggak poto, eui. Namun, terlihat jelas dari jendela kalau Whoosh ini jalannya ngebut. Oh ya, jalur rel yang dipakai Whoosh tidak sama dengan jalur rel konvensional. Soalnya, spesifikasi relnya berbeda. Itulah sebabnya biaya membangun proyek Whoosh ini sangat besar karena membuka jalur baru.

FYI, Ignatius Jonan, Menteri Perhubungan pada masa itu kan sempet tidak setuju dengan pembangunan Whoosh ini, karena setelah dikaji, diperkirakan akan menghabiskan dana yang sangat besar. Namun, sayangnya, Pak Jonan kalah suara nih, khususnya sama emak-emak Menteri BUMN kala itu dan tentu saja sama bapak-bapak yang tak boleh disebut namanya apalagi disalah-salahkan oleh pemujanya itu #eh. Sekarang, terbukti kan, perhitungan Pak Jonan nggak keliru? Malah ngutang. Hawesmbuuhh.

Kalau boleh jujur, saya tuh sebenarnya ikut bangga Indonesia memiliki Whoosh ini. Apalagi kalau nanti benar-benar akan diperpanjang jalurnya sampai Surabaya. Wah seneng tuh, saya jadi punya alternatif transportasi lain buat mudik. Namun, #imho untuk saat ini, kala ketimpangan sosial masih bener-bener njomplang gap-nya, sebaiknya proyek ini ditunda dahulu aja, deh.

Menurut saya, masih lebih urgent membangun rel buat kereta konvensional di daerah yang lebih membutuhkan. Misalnya, membangun rel di Pulau Sumatera gitu, supaya jalur relnya menjangkau lebih banyak daerah. Maunya sih  begitcuuuu. Namun, sepertinya buat sebagian pemegang keputusan, kalau membangun kereta biasa, kayaknya kurang wow yaaa #eh.

Yaaa, gitu, lha…

Pindah dari Whoosh ke kereta feeder untuk menuju Bandung

Kembali lagi ke perjalanan kami ke Bandung naik Whoosh, ternyata bener, lho, cuma membutuhkan waktu 30 menit aja udah sampai Stasiun Padalarang.

Tiba di Stasiun Padalarang.

Yup, waktu itu sebenarnya kami keliru beli tiket, siiihh. Kalau di Stasiun Padalarang, ternyata sama dengan di Stasiun Karawang, Whoosh ini berhentinya cuma sekitar 5 menitan aja bahkan kurang. Kereta ini akan segera melanjutkan perjalanan lagi ke stasiun terakhir di Tegalluar. Jadinya, waktu itu, kami nggak bisa pepotoan di depan moncong Whoosh, deh hihihi.

Naik kereta feeder.

Kalau di Tegalluar, denger-denger Whoosh ini akan berhenti agak lama, yakni sekitar 15-20 menitan. Jadi, kalau teman-teman pengen mengabadikan moncongnya Whoosh mending turun Tegalluar haha. Oh ya, sebagai pengetahuan aja, moncongnya Whoosh ini terinspirasi dari binatang kebanggaan Indonesia, komodo.

Setelah turun dari Whoosh, petugas kemudian mengarahkan kami keluar peron. Kami pun mengikuti langkah orang-orang yang keluar peron itu. Ternyata, mereka menuju escalator menuju ke bawah untuk naik kereta feeder yang akan mengantarkan penumpang menuju Kota Bandung.

Naik kereta feeder ini gratis ya, teman-teman. Alhamdulillah, kami kebagian seat, walaupun duduknya mencar-mencar, hehe. Kalau tak salah perjalanan pakai kereta feeder dari Padalarang ke Bandung memakan waktu sekitar 20 menitan.

Siap berpetualang di Bandung.

Yaaaahh, begtulah teman-teman, pengalaman atau cerita pertama kali kami sekeluarga naik Whoosh. Emang beneran menyingkat waktu perjalanan, sih. Cukup nyaman juga. Tapiiii, ya, itu tadi, sangat disayangkan kalau pembangunannya meninggalkan utang buat anak cucu kita. Yaaa, kita doain aja, supaya orang-orang yang duduk di pemerintahan itu menemukan solusinya ya. Dah gitu, aja.

Ada yang punya pengalaman naik Whoosh juga? Sharing di kolom komentar ya. Thanks.

April Hamsa

Categorized in: