Gonjang-ganjing tentang kereta api cepat Whoosh yang menyebabkan PT Kereta Api Indonesia (KAI) merugi Rp 116 triliun belakangan mengemuka. Jadi keinget deh kalau di memori HP masih tersimpan kumpulan foto maupun video pengalaman pertama kali naik Whoosh awal tahun lalu 😛 .
Stasiun Halim yang luas.
Jadi, waktu itu, anak-anak sedang libur sekolah, tetapi bapaknya nggak bisa cuti karena load pekerjaan lagi lumayan. Kami pun memutuskan liburan tipis-tipis ke Bandung aja, menghabiskan weekend di kota yang punya julukan Kota Kembang ini. Nah, supaya bisa berasa agak lamaan di bandung, kami memutuskan naik Whoosh. Sekaligus buat experience, gitu, gimana sih rasanya naik kereta api cepat ini?
Kami berangkat hari Sabtu pukul 6 pagi naik Bluebird ke Stasiun Halim. Perjalanan ini memakan waktu satu jam dari rumah kami yang ada di Kabupaten Bogor mepet Tangsel melalui jalan tol. Sekitar jam 7an kurang kayaknya kami tiba di Stasiun Halim.
Stasiun kereta api cepat Whoosh di Halim yang mewah
Kesan pertama melihat stasiunnya, karena mungkin masih tergolong stasiun baru ya (kurang lebih 2 tahunan), stasiunnya resik dan kinclong. Pokoknya vibes-nya beda lha ma Stasiun Gambir, apalagi Stasiun Senin 😛 . Bangunanya juga lega dengan atap yang tinggi.

Bisa membaca informasi tentang Whoosh di sini.
Begitu masuk stasiun, terlihat papan petunjuk tentang intermodal integration. Papan petunjuk tersebut menjelaskan di stasiun mana saja Whoosh ini akan berhenti. Lalu, ada pula informasi mengenai mengenai fasilitas apa saja yang tersedia di stasiun-stasiun itu. Misalnya, kalau di Stasiun Halim tersedia bus shuttle atau bus Damri yang bisa membawa penumpang ke bandara, baik itu ke Halim Perdanakusuma maupun ke Soetta. Lalu, kalau di Karawang rupanya ini tuh stasiunnya udah deket sama pusat perbelanjaan The Grand Outlet. Kalau di Padalarang atau Tegaluar ada penjelasan kalau di sana tersedia beberapa kendaraan juga untuk menuju ke tempat lain di sekitar Bandung.

Buat yang masih bingung gimana cara naik Whoosh bisa nanya-nanya di sini.
Agak masuk ke dalam stasiun, di sebelah kiri, penumpang akan disambut dengan loket layanan pelanggan. Persis di depan loket layanan pelanggan ada pintu masuk untuk keberangkatan. Lurus lagi ke dalam, belok ke kanan ternyata terdapat berderet kafe, restoran, juga minimarket dekat dengan tempat mesin tiket.
Berapa harga tiket Whoosh?
Oh ya, kalau ada pertanyaan beli tiketnya di mana dan berapaan, waktu itu kami membeli tiket via online travel agent. Sebenarnya, katanya sih bisa membeli di website Whoosh juga (nggak pakai aplikasi) atau beli offline. Harga tiketnya waktu itu sekitar Rp 1,4 juta lebih buat kami berempat. Kayaknya Rp 350.000,-an ya? Saya nggak paham sebenarnya tiket Whoosh itu berapaan, sih? Ada yang bilang kadang dapat harga 250 ribu, bahkan katanya pernah ada yang dapat 150 ribu. Ada pula yang lebih mahal, cuma saya tidak tahu harga tiketnya berapaan.
Katanya sih di kereta api cepat Whoosh ada tiga pilihan seat. Pertama kursi VIP, kursi business class, dan economy class. Nggak tahu apa bedanya, mungkin kursinya lebih bagus atau ada tambahan fasilitas lain kali ya? Saya sih sebagai kaum mendang-mending udah cukup aja dengan economy class, nyaman juga kok, wkwk.
Oke, lanjuuut. Begitu sampai, suami saya menuju mesin tiket. Sebenarnya sih bukan buat menukar tiket online dengan tiket fisik, melainkan buat mencetak semacam boarding pass, apaan dah namanya, buat ditunjukkan saat masuk ke dalam lobi/ area keberangkatan.
Numpang sarapan di stasiun Whoosh
Setelah menukar tiket ternyata waktu keberangkatan masih lama. Kami pun memutuskan buat sarapan dahulu. Ada beberapa pilihan resto seperti Subway, Starbucks, Solaria, dll. Ada Indomaret juga yang menyediakan meja kursi buat duduk dan makan. Kami memutuskan makan di Solaria saja karena melihat tempatnya cukup luas dan pagi itu masih agak sepi. Di Solaria kami makan nasi goreng, salah satu makanan yang bisa diterima dan dimakan anak-anak dengan cepat tanpa drama, hehe.

Ada kafe, restoran, dan minimarket di sini.
Daaan, benarlah, kami menyelesaikan makanan dengan cepat. Bahkan masih kurang dari jam 8, sementara kereta Whoosh yang kami naiki akan berangkat jam 9.

Sarapan nasgor dulu di Solaria.
Meski begitu, akhirnya kami memutuskan masuk ke area keberangkatan. Area ini masih naik satu lantai ke atas. Alhamdulillah, sudah boleh masuk ke ruang tunggu. Oh ya, sebelumnya, kami juga melewati gate buat pemeriksaan barang bawaan dulu.
Masuk ke area keberangkatan Whoosh
BTW, saya lupa di bagian mana gitu, pokoknya ada salah seorang petugas yang menawari kami buat naik kereta satu jam lebih awal (jadwal jam 8). Mungkin karena penumpang hari itu agak sepi, sehingga ada seat kosong, jadi mau dialihkan ke kami.

Area keberangkatan.
Namun, kami menolak, khawatir ngang-ngong nyampek Bandung, karena rencana kegiatan kami di Bandung kan dimulainya sesuai dengan jadwal kedatangan kami di sana, hehe. Akhirnya, kami punya slot sekitar satu jam buat menunggu di ruang tunggu. Kami menghabiskan waktu dengan makan camilan yang kami bawa dari rumah.

Ternyata harus naik ke atas dulu.
Sebenarnya di area ruang tunggu ini juga ada beberapa booth/ tenant jajanan dan minuman kekinian gitu, sih. Namun, saya lupa apa aja, karena nggak beli.

Melalui area pemeriksaan barang bawaan.
Sekitar pukul 8 kurang ternyata sudah ada antrean penumpang masuk peron. Pintu masuknya kayak kalau kita naik KRL/ MRT/ LRT gitu, tinggal scan tiket, baik yang online maupun fisik. Kalau tidak keliru ada dua pintu masuk.
Tak lama kemudian, “penduduk” di ruang tunggu itu berkurang banyak, membuat keadaan menjadi agak sepi. Namun, tak lama kemudian, mulai bermunculan lagi banyak orang. Sepertinya mereka penumpang Whoosh pukul 9 juga seperti kami.


Ruang tunggu yang luas banget.
Sekitar pukul 9 kurang (lupa kurang berapa wkwk), penumpang Whoosh jadwal jam 9 pun dipanggil untuk bersiap masuk ke pintu menuju peron Whoosh. Kami pun bergegas mengantre bersama yang lain. Proses antreannya cukup rapi dan cepat masuk ke dalam.


Gate menuju peron Whoosh.
Ternyata, untuk menuju peron Whoosh masih harus naik lagi satu lantai ke atas. Begitu sampai atas, kami langsung bisa melihat Whoosh-nya, sehingga langsung saja masuk ke gerbong kereta. Sepanjang jalan mencari gerbong, amaze juga ngliat desain stasiunnya. Kalau teman-teman pernah nonton pilem dengan latar belakang negara Cina, stasiunnya mirip banget deh dengan yang ada di sana. Alasan yang paling mungkin adalah karena Whoosh ini memang melibatkan Cina dalam hal konstruksi, pembiayaan, hingga teknologinya.
Gerbong Whoosh yang sepi
Kalau tidak keliru kami duduk di peron 4, karena di belakang kami persis ada gerbong restorasi Whoosh yang katanya berada di gerbong 5. Gerbong restorasi ini kayaknya Indomaret ya, yang menyediakan makanan dan minuman buat penumpang. Tersedia meja kursi juga untuk makan di sana. Namun, waktu itu kami nggak beli apa-apa juga, karena sudah sarapan di Solaria tadi dan masih ada perbekalan camilan juga yang memang sengaja kami bawa buat makan sepanjang perjalanan.

Suasana di gerbong Whoosh economy claas.
Pendapat saya mengenai gerbong Whoosh, hmmm, resik sih yaaa. Masing-masing gerbong kereta punya pintu geser yang sepertinya otomatis terbuka sendiri (kalau saya tidak salah ingat wkwk :p ).
Saya lupa berapa persisnya jumlah kursi dalam satu gerbong, tetapi di economy class kursinya tuh ada tiga deret di bagian kiri dan dua di kanan dilihat dari arah laju kereta. Kami duduk di sebelah kanan.
Kursinya bisa dibikin tegak atau agak disandarkan. Di masing-masing kursi terdapat meja dengan membuka meja yang ada di kursi depannya seperti yang ada di pesawat itu, lho. Lalu, di sela-sela kedua kursi yang ada di depan kita terdapat colokan listrik. Di kantong kursi tersedia katalog yang isinya apa saja yang bisa kita beli dari gerbong retorasi.


Fasilitas di kereta.
Jendela kereta cukup lebar, sehingga penumpang bisa leluasa melihat pemandangan di luar. Oh ya, supaya bisa mendapatkan seat dengan jendela yang utuh, ada tipsnya, lho. Tips ini, saya dapatkan dari nitijen di platform Tiktok, haha. Tipsnya adalah:
- Apabila naik Whoosh dari Jakarta ke Bandung pilih kursi dengan nomor ganjil.
- Sebaliknya, jika naik dari Bandung ke Jakarta, maka pilihlah kursi genap.
Bener, lho, kami dapat jendela lebar di kursi kami, meski duduknya terpaksa berjarak satu bangku ke depan karena kami duduknya berdua-dua sederet.

Dapat jendela lebar karena ngikutin tips dari Tiktok wkwk.
Eh, tetapi saat itu Whoosh-nya sepi, sih. Di gerbong yang saya naiki itu tidak banyak penumpangnya. Awalnya saya kira nanti akan banyak penumpang yang naik dari Stasiun Karawang, ternyata ya tetep nggak terisi tuh bangku-bangku yang kosong. Padahal, hari itu Sabtu, yang saya perkirakan akan banyak penumpang menghabiskan weekend di Bandung.
Mungkin hal semacam inilah yang menyebabkan okupansi Whoosh dituding rendah, sehingga merugi dan susah balik modal. Saya pribadi menilai Whoosh ini lebih seperti transportasi buat berwisata saja, sih, yang akan dinaiki buat menghemat waktu perjalanan. Sepertinya Whoosh ini ramainya kala liburan sekolah atau long weekend atau libur lebaran atau tahun baru kali ya?

Anak-anak seneng banget dengan pengalaman pertamanya naik Whoosh.
Mungkin ada pekerja yang domisilinya Bandung dan bekerja di Jakarta atau sebaliknya, tinggal di Jakarta kerja di Bandung, yang menggunakan Whoosh ini. Kemungkinan besar sih kalau begitu keknya level-nya bukan budak corporate yang gajinya UMR ya. Bisa tekor kalau tiap hari PP naik Whoosh 😛 . Kalau tiap wiken masih masuk akal, hehe.
Untuk toilet, wah, saya lupa ngecek. Keasyikan pepotoan sih di gerbong ma anak-anak. Nggak malu-malu soalnya cukup sepi gerbong keretanya 😛 .
Cuma, kalau gugling, ternyata ada kok toilet di tiap gerbongnya. Kemungkinan toilet ini ada di bagian depan kami, karena saat masuk gerbong waktu itu saya cuma melihat rak atau loker bagasi buat koper-koper saja.
Toilet di Whoosh ini katanya juga ramah buat lansia dan disabilitas, karena pintunya otomatis dan dilengkapi pegangan tangan. Wah, saya jadi nyesel, deh, nggak ngecekin toiletnya. Mungkin ini tanda-tanda suatu hari nanti kudu naik Whoosh lagi, haha 😛 .

Gerbong restorasi.
Balik lagi soal gerbong. AC di dalam gerbong adeeeemm banget. Kemudian, di atas pintu bagian depan gerbong terdapat petunjuk lokasi serta berapa kecepatan perjalanan. Saya lupa nggak poto, eui. Namun, terlihat jelas dari jendela kalau Whoosh ini jalannya ngebut. Oh ya, jalur rel yang dipakai Whoosh tidak sama dengan jalur rel konvensional. Soalnya, spesifikasi relnya berbeda. Itulah sebabnya biaya membangun proyek Whoosh ini sangat besar karena membuka jalur baru.
FYI, Ignatius Jonan, Menteri Perhubungan pada masa itu kan sempet tidak setuju dengan pembangunan Whoosh ini, karena setelah dikaji, diperkirakan akan menghabiskan dana yang sangat besar. Namun, sayangnya, Pak Jonan kalah suara nih, khususnya sama emak-emak Menteri BUMN kala itu dan tentu saja sama bapak-bapak yang tak boleh disebut namanya apalagi disalah-salahkan oleh pemujanya itu #eh. Sekarang, terbukti kan, perhitungan Pak Jonan nggak keliru? Malah ngutang. Hawesmbuuhh.
Kalau boleh jujur, saya tuh sebenarnya ikut bangga Indonesia memiliki Whoosh ini. Apalagi kalau nanti benar-benar akan diperpanjang jalurnya sampai Surabaya. Wah seneng tuh, saya jadi punya alternatif transportasi lain buat mudik. Namun, #imho untuk saat ini, kala ketimpangan sosial masih bener-bener njomplang gap-nya, sebaiknya proyek ini ditunda dahulu aja, deh.
Menurut saya, masih lebih urgent membangun rel buat kereta konvensional di daerah yang lebih membutuhkan. Misalnya, membangun rel di Pulau Sumatera gitu, supaya jalur relnya menjangkau lebih banyak daerah. Maunya sih begitcuuuu. Namun, sepertinya buat sebagian pemegang keputusan, kalau membangun kereta biasa, kayaknya kurang wow yaaa #eh.
Yaaa, gitu, lha…
Pindah dari Whoosh ke kereta feeder untuk menuju Bandung
Kembali lagi ke perjalanan kami ke Bandung naik Whoosh, ternyata bener, lho, cuma membutuhkan waktu 30 menit aja udah sampai Stasiun Padalarang.

Tiba di Stasiun Padalarang.
Yup, waktu itu sebenarnya kami keliru beli tiket, siiihh. Kalau di Stasiun Padalarang, ternyata sama dengan di Stasiun Karawang, Whoosh ini berhentinya cuma sekitar 5 menitan aja bahkan kurang. Kereta ini akan segera melanjutkan perjalanan lagi ke stasiun terakhir di Tegalluar. Jadinya, waktu itu, kami nggak bisa pepotoan di depan moncong Whoosh, deh hihihi.

Naik kereta feeder.
Kalau di Tegalluar, denger-denger Whoosh ini akan berhenti agak lama, yakni sekitar 15-20 menitan. Jadi, kalau teman-teman pengen mengabadikan moncongnya Whoosh mending turun Tegalluar haha. Oh ya, sebagai pengetahuan aja, moncongnya Whoosh ini terinspirasi dari binatang kebanggaan Indonesia, komodo.
Setelah turun dari Whoosh, petugas kemudian mengarahkan kami keluar peron. Kami pun mengikuti langkah orang-orang yang keluar peron itu. Ternyata, mereka menuju escalator menuju ke bawah untuk naik kereta feeder yang akan mengantarkan penumpang menuju Kota Bandung.
Naik kereta feeder ini gratis ya, teman-teman. Alhamdulillah, kami kebagian seat, walaupun duduknya mencar-mencar, hehe. Kalau tak salah perjalanan pakai kereta feeder dari Padalarang ke Bandung memakan waktu sekitar 20 menitan.

Siap berpetualang di Bandung.
Yaaaahh, begtulah teman-teman, pengalaman atau cerita pertama kali kami sekeluarga naik Whoosh. Emang beneran menyingkat waktu perjalanan, sih. Cukup nyaman juga. Tapiiii, ya, itu tadi, sangat disayangkan kalau pembangunannya meninggalkan utang buat anak cucu kita. Yaaa, kita doain aja, supaya orang-orang yang duduk di pemerintahan itu menemukan solusinya ya. Dah gitu, aja.
Ada yang punya pengalaman naik Whoosh juga? Sharing di kolom komentar ya. Thanks.
April Hamsa


Seru ya bisa naik Whoosh
Aku ya pengen Mbak tapi belum kesampaian
Nenekku yang sudah sepuh malah sudah dapat kesempatan diajak Om-ku waktu mereka main ke Jakarta
Pengen ke Bandung naik Whoosh supaya menghemat perjalanan banget kalau ada di Jakarta
Wah pasti neneknya happy tu diajakin omnya. Tapi emang kalau diliat2 Whoosh ramah lansia mbak.
Soal tiket murah katanya bisa didapatkan kalau jam keberangkatan yang tidak populer. Misalnya tengah malam, atau malah pagi banget. Dan kalau tidak salah itupun hanya saat weekdays. Tapi saya juga gak pernah dapat sih (ya iyalah, wong naiknya baru sempat sekali). Untuk yang pekerja kantoran, kayaknya dapat reimburse sama kantor ya. Yg saya tahu mereka2 yang memang sehari2nya kerjanya harus bolak balik dua kota itu. Jadi gak yg rumahnya di manaaa naik whoosh tiap hari ke kantor. Itu asli tekor lah kl pake gaji UMUR 🙂
Dan betul banget, kenyamanan kelas ekonomi di Whoosh mengalahkan kelas ekonomi pesawat. hahahah. Buat kami yang ukuran XL jelas merasa tempat duduk di WHoosh jauh lebih manusiawi. Sayangnya kecepetan nyampe, ibu saya aja bilang what’s the point of traveling kalau kecepetan sampai di tujuan?
Asyik bener perusahaannya ada uang jalan hihihi 😀
Mbak aku sama kek ibunya mbak, saking cepetnya sampai emang kek kurang berkesan, kecuali emang krn Whoosh-nya 😀
Jangakan pakai Whoosh, kami pernah naik kereta dari Malang ke Surabaya lha kok rasanya cepet, gak berasa, karena keseringan kalau naik KRL dari rumah ke Bogor gitu lebih lama bisa 3 jam wkwk 😀
Belum coba naik woosh katanya cepet banget Bandung Jakarta kalau dari Bandung melihat Woosh emang cepet sih cuma gak tahu kalau dari dalam Woosh gimana rasanya
Mulai dari booking spontan ala ‘liburan tipis-tipis’ ke Bandung, rasa first-class meski duduk economy class, sampe desain stasiun Halim yang kinclong banget—semuanya ngasih vibes high-end yang tetap relatable.
Dan jujur, aku senyum sendiri pas baca detail soal sarapan di Solaria pagi-pagi, sambil nunggu kereta—baper banget feel pagi hari yang chill tapi efficient banget!
Highlights-nya pas tahu tips TikTok buat pilih kursi nomor ganjil—biar dapet jendela utuh, dapet view keren sepanjang perjalanan. Nggak cuma praktis, tapi juga aesthetic banget!
Plus, insight soal UTANG proyek Whoosh dan saran pembangunan rel di wilayah lain juga nyata banget—kaya kamu ngasih ‘thoughtful side note’, gak cuma cerita liburan doang.
Fix nih next trip aku ke Bandung, harus banget coba Whoosh juga—biar bisa rasain cepatnya, nyaman, dan tetap jadi kesempatan refleksi kecil soal transportasi nasional.
Mulai dari booking spontan ala ‘liburan tipis-tipis’ ke Bandung, rasa first-class meski duduk economy class, sampe desain stasiun Halim yang kinclong banget—semuanya ngasih vibes high-end yang tetap relatable.
Dan jujur, aku senyum sendiri pas baca detail soal sarapan di Solaria pagi-pagi, sambil nunggu kereta—baper banget feel pagi hari yang chill tapi efficient banget!
Highlights-nya pas tahu tips TikTok buat pilih kursi nomor ganjil—biar dapet jendela utuh, dapet view keren sepanjang perjalanan. Nggak cuma praktis, tapi juga aesthetic banget!
Plus, insight soal UTANG proyek Whoosh dan saran pembangunan rel di wilayah lain juga nyata banget—kaya kamu ngasih ‘thoughtful side note’, gak cuma cerita liburan doang.
Fix nih next trip aku ke Bandung, harus banget coba Whoosh juga—biar bisa rasain cepatnya, nyaman, dan tetap jadi kesempatan refleksi kecil soal transportasi nasional.
Aku juga berharap yg sama mba. Aku sih bangga Indonesia ada whoosh. Tapi kalo menyisakan banyak hutang yg bikin KAI jadi kesusahan , sayang banget. Apalagi KAI lagi bagus2 ya juga, ya kok ketiban masalah begini. Bener tuh, mendingan bikin jalur kereta biasa utk pulau2 lain. Lah kereta api yg skr kan udah bagus bangettt, yg ke pulau Jawa tuh. Ada luxury nya pula. Untuk apa si whoosh yg maksain banget. Mau bikin sampe Surabaya??? Haiiiish aku lebih milih naik KA luxury drpd whoosh ke Surabaya.
Aku baru sekali naik whoosh, ke Karawang. Krn tujuannya mau belanja di factory outlet. Ke bandung blm pernah. Msh galau. Soalnya kalo naik whoosh, di sana nya jadi susah kemana2 Krn ga bawa mobil. Tp kalo naik mobil, bandung macetnya ga kuat juga hahahaha
Dari kapan hari ngide naik Whoosh belum kesampaian juga. Mikirnya selalu terus di Bandungnya gimana, kemana-mana naik apa kita? Ampuun deh, batal kan jadinya.
Waktu ada acara sama ibuk-ibuk jalan-jalan ke sana pas akunya juga ga bisa ikutan…huhuhu. Padahal penasaran banget, pengin bandingin dengan kereta cepat yang pernah aku naiki di luar negeri.
Seneng akutuuu Indonesia punya Whoosh, meski senep juga kalau ingat utang yang diwariskan ke anak cucu buyut canggah…dst hiks
wah kok sepi banget
waktu saya naik Whoosh sih lumayan penuh, kurang lebih 50 persen
mungkin karena masih sangat baru ya?
Sehingga banyak yang popotoan dan bikin video
Seperti Mbak April, saya juga gak ngeh tiket Whoosh, karena dibeliin anak 😀
Udah banyak banget baca cerita pengalaman teman-teman yang naik keceta cepat whoosh ini. Aku jadi kepingin ikutan naik Whoosh juga sih. Pingin ngerasain gimana vibes-nya. Hehehe
Aku serius banget ngebacanya hehehe belom pernah naek soalnya. seru banget ceritanya! Pengalaman naik Whoosh memang bikin penasaran. Denger-denger, Stasiun Halim sama gerbongnya kinclong banget, ya. Lumayan kan, buat refreshing singkat bareng keluarga. Jadi pengen coba juga nih, apalagi kalau bisa dapet harga promo. Semoga ke depannya Whoosh bisa lebih banyak penumpang biar gak rugi terus. Btw, salut sama tips milih kursi dari TikTok-nya
Asyik, bacanya serasa udah nyobain naik beneran.
Jujur saya khawatir dari pemberitaan yang beredar, kalau whoosh bikin PT KAI merugi, bikin was-was akan segera distop operasionalnya padahal saya belum ada kesempatan nyobain naik hehe.
Semoga lebih banyak penumpang yang berminat jadi bisa profit dan bertahan ya
Sampai saat ini belum kesampaian naik woosh, nunggu promo nya ga dapet2 :D.
Soalnya tarif yg terbilang lumayan, sebagai kaum mendang mendinf aku klo ke bandung biasanya naik bus atau travel.tapi penasaran juga sih, mungkin suatu saat nyobain juga naik woosh. Utk fasilitas baik stasiun ataupun keretanya sendiri udh cukup baik menurutku, bersih dan cukup menunjang kenyamanan
Tapi memang cukup
Apakah tiket kereta api semakin mahal demi menutupi meruginya Whoosh ini?
Sayang banget sih emang ya. Padahal keren kita bisa punya kereta cepat. Mungkin emang belum waktunya ya. Antara harga dengan pendapatan warganya masih tergolong mahal.
Saya belum pernah naik, tp penasaran. Minimal sekali seumur hidup perlu nyobain hehehe
Mungkin yang disasar pangsa pasarnya kurang memenuhi kaliya kak, sehingga belum sesuai harapan dan jadinya gak mencukupi kebutuhan untuk menutup pendapatan, sehingga ya merugi.
Harapannya dengan harga tiket itu ingin menyasar masyarakat yang kerap ke Bandung/Jakarta dengan mobil pribadi, tetapi malah peminatnya kurang sesuai harapan.
Wah, tipsnya bermanfaat sekali, nih, Mbak. Harus diingat atau baca lagi di sini saat ada kesempatan naik woosh.
Melihat tempat tunggu yang luas dan economy class saja sebagus itu… kok rasanya seneng banget ya, Indonesia punya kereta sebagus itu fasilitasnya.
Semoga nnatinya bisa naik woosh juga dan merasakan sendiri
Belum pernah nyobain sih, tapi memang potensi bisa lebih besar lagi jika nanti semua jalur perencanaan terhubung, sehingga mobilitas penduduk mencakup wilayah yang lebih luas
Tampak sepi ya Kak, nggak seperti di stasiun kereta jarak jauh pada umumnya yang padat merayap di peron, ruang tunggu hingga di dalam keretanya.
Ciamik sih sebenernya kereta ini bisa aja di alternatif buat ke Bandung, meski ya gonjang-ganjing berita tentang tunggakan yang gede itu, hemmm, semoga ada penyelesaiannya ya
Duh penutup tulisanku bikin aku ehem banget. Meninggalkan hutang ke anak cucu. Duh.
Semoga kita yang sudah diberi kemudahan ini bisa bertanggung jawab memakainya dengan sebaik-baiknya. Terlebih semua pihak ikut andil untuk meringankan beban anak cucu kelak.
Paling ga merawat semua nya dengan baik. Sering-sering pakai Whoosh salah satunya #Eh
Segala sesuatu memang ada bayarannya, termasuk kemudahan menikmati Bandung sekarang, bisa PP dan sudah sanget nyaman. Terlebih kalau pakai Whoosh lalu lintas juga lebih terurai, tidak macet. Semoga saja banyak lebih sadar akan itu yak. Dan paling utama bisa jadi bisa balik modal. #ringankanbebananakcucu
Semoga kenyamanan Whoosh ini tidak emninggalkan utang ke anak cucu, mungkin bisa direview lagi ya apanya yang membuat whoosh kurang populer sehingga bisa balik modal dan ga meninggalkan utang
miris kalau pembangunan sesuatu tidak dihitung dnegan benar kapan balik modalnya ujungnya nanti utang terus ga bisa balikin, masa iya mau ninggalin utang ke anak cucu
kalau setau saya, tiket whoosh itu ada vip dan ekonomi, mbak, terus harga bervariasi juga. bisa karenajam keberangkatan, atau momen liburan dan sebagainya. Kalau saya baru sekali pp naik Whoosh. itu juga diajak teman karena ia dapat tiket gratis pas whoosh baru lauching hehehe.
Tapi harus diakui, kehadiran whoosh ini memang sangat membantu Perjalanan dari Jakarta-Bandung atau sebaliknya jadi cepat dan nyaman.
Aku pun baru sekali naik kereta cepat yang satu ini mba dan tujuannya emang ada event kerjaan ngejar waktu. Cuma kalau diperhitungkan kembali, misal beneran di jadiin moda transportasi rutin, aku merasa boncos hahahaha. Soalnya harga tiketnya lumayan, kecuali mungkin pendapatan ku 2 digit ya.
Jadi memang pendapat pak Jonan dan perhitungan beliau lebih masuk akal dan realistis sekali sebenernya. Soalnya secara rute pun gimana yaa, agak tanggung. Beberapa teman yang kerja di Jakarta dan dia orang Bandung pun, nggak PP naik kereta cepat ini juga. Paling sebulan dua kali buat mudik atau malah sebulan sekali doang. Soalnya masih ada pilihan kereta api yang lebih terjangkau, maklum masih kaum mendang-mending.
But, emang kereta cepat ini kasih pengalaman menarik apalagi buat saya yang baru pertama naik dan sepakat fasilitasnya ciamik. Resik tenan dan cakep pula keretanya. Tapiii kalau meninggalkan hutang yang menggunung aduhhh memberatkan anak-cucu-cicit kasian yak.
Nah sebagai warga negara yang cinta negeri, kita doakan yang baik-baik yaa dan ku mainkan doa mba. Semoga ada banyak kabar baik untuk negeri kita ini ya.
Wah, seru. Uda ngerasain naik Whoosh
Emang dengan harga segitu, cocoknya buat wisata aja
Klo buat transportasi sehari-hari ya berat di ongkos ya
Enak ya, nggak perlu menempuh waktu perjalanan yang lama
Kapan ya ada Whoosh Jakarta Surabaya, haha
Semoga ya kak, tapi entahlah juga karena sekarang aja sedang ada polemik nih yang belum ketahuan bagaimana solusi pasnya ke depan nanti.
Kalau menurut daku pribadi, bagusnya sih Whoosh ini udahan, dialihkan buat meningkatkan transportasi lainnya yang sudah ada. Sebab penggunanya juga belum sesuai harapan
Waaah serunya udah merasakan jalan-jalan naik Whoosh, saya kepengen banget nih mba nk whoosh tapi belum kesampaian. Cuma melihat kereta Whoosh ini melintas saat saya melewati jalan tol. Semoga nanti bisa merasakan naik whoosh juga nih. Seru banget
Seru ya naik Whoosh ini, emakku sudah coba dari Bogor bareng emak-emak pengajian gengnya hihi.. iya miris sebenarnya karena memang sebenarnya Whoosh belum terlalu urgen seperti kata Pak Jonan, lebih baik bangun lintasan kereta yang benar-benar dibutuhkan, tapi ada yang mau unjuk gigi ya gimana akhirnya besar pasak daripada tiang..
Sepertinya aku kudu cepetan naik whoosh juga deh biar minimal merasakan vibesnya mbak april.
Tapi semoga ajak gak keburu semakin mahal karena seperti yang mba april bilang mengingat ini menggunakan anggaran yang cukup gede.
Ternyata KAI serugi itu ya dengan operasional Whoosh, padahal sekilas rame-rame aja. Berarti biaya operasional dan maintenance mungkin memang tinggi banget, atau tiketnya terlalu murah. Kalau pas aku naik di akhir Agustus 2025 kemarin, harga tiket rute Tegalluar-Halim Rp250 ribu. Di jam-jam nonsibuk, memang bisa dapet harga Rp150 ribu.
Aku juga bangga dengan Whoosh ini. Tapi kalau ternyata memang biayanya setinggi itu, mungkin lebih baik dilakukan elektrifikasi jalur Jakarta-Bandung untuk kereta listrik jarak jauh seperti ETS di Malaysia. ETS itu bentukannya mirip kereta cepat juga, tapi kecepatan masih di 160 km/jam.
Iya aku pun kaget dengan dalamnya kerugian yang disebabkan adanya Whoosh ini. Kalau aku berpikir secara awam memang buat bisa naik Whoosh itu pasti harus nabung dan nggak bisa setiap hari kecuali eksekutif dan orang-orang super berada di kejar waktu. Kalau sengaja pulang pergi Bandung Jakarta tetap aja nggak masuk di budget.
Semoga saja next kalau buat kebijakan dan mau tampil secara oke mungkin mesti dipikirkan detail operasional dkk. Semoga saja segera ada solusi jitu sehingga bisa bangkit dari kerugian.
Sampek tak baleni maneh, ternyata bener naik whoosh e awal tahun lalu ?
Aku yang belum pernah naik whoosh cuma bisa ngebayangin dulu. Seneng di Indonesia sudah ada kereta cepat, tapi swdih juga karena ternyata malah jadi beban yang sedemikian gedenya buat KAI. Btw kalau proyek kereta cepatnya diteruskan sampai Surabaya, apa nggak tambah berat beban KAI ?
Pengen banget coba naik woosh ajak anak-anak, seru kayaknya… tapi sebentar banget ya mba? Hihihi berasa kurang puas gitu wkwk mungkin bisa PP naik nya ?
Seru banget baca pengalaman naik Whoosh. Liat interiornya jadi nyaman banget ya mba, jadi pengen coba langsung rasain sensasi kereta cepat ini
Detil banget paparannya tentang kereta whoosh yang menjadi salahsatu ikon transportasi darat Indonesia.
Kayak seru banget yaa Whoosh ituu, pengin naik juga tapi sebagai orang yang sangat jauh dari akses Whoosh cukup itung itungan waktu untuk kesana, nunggu momen yang pas aja dulu deh 😀
saya sendiri sebagai masyarakat biasa, membandingkan selain dari harga juga waktu
emang katanya kereta cepat, tapi buat saya justru lebih anyak waktubterbuang untuk ke satu tujuan kalau naik whoosh, kenapa? karena muter2 dulu, harus naik ini itu ke sana ke sini, mending naik bus turun di lokasi terdekat lalu ojek kalau masih perlu kendaraan, hemat dan cepat kan?
whoosh buat gaya-gayaan aja. jadi sekali naik juga cukup lah…
Pengalaman naik Whoosh pertama kali memang bikin deg-degan ya. Rasanya pasti kaget banget karena stasiunnya modern dan bersih. Tapi yang paling keren sih, cuma butuh 30 menit ke Padalarang! Bener-bener secepat kilat. Jadi makin penasaran buat coba sendiri Whoosh.
Waaahhh, aku belum pernah naik Woosh mbak. Yang udah malah paksu yang waktu itu sempat dinas dari Jakarta ke Bandung. Dari cerita paksu harganya 350,000, ketika diceritakan tuh rasanya agak mahal buat kantongku. Hehehe. Tapi pas lihat dalemannya apalagi gerbang restorasinya… Ulala, ya aku bilang pantes aja sih kalau harganya segitu. Restorasi sampai seatnya aja udah feels excusive.. 😀
Mama saya udah beberapa kali naik Whoosh. Semua kelasnya udah pernah dicobain. Katanya beda di camilan aja wkwkwkw.
Dari segi kenyamanan memang termasuk juara, ya. Sekarang kalau ke Bandung dan sebaliknya lebih memeilih naik Whoosh daripada mobil, meskipun itu kendaraan pribadi. Memang ramah lansia tuh Whoosh hehehe. Saya pribadi sih tetap lebih suka naik mobil. Paling pengen sekali doang ngerasain Whoosh.
Tapi, kalau dari segi anggaran berasa miris. Apalagi, Jakarta – Bandung tuh udah banyak pilihan akses transportasi. Malah katanya mau ada tol Japek II. Memang harusnya jalur Whoosh lebih panjang sampai ke Jawa Timur. Cuma kan ya balik lagi ke anggaran 😀
Oalah … ternyata berbeda stasiun dengan kereta api pada umumnya tho? Selama ini aku blas enggak kepikiran soal adanya perbedaan stasiun. Aku pikir ya sama saja.
Menarik membaca pengalaman naik Whoosh, meski di sisi lain masih ada kontroversi soal pembangunannya. Bahkan Ignasius Jonan pernah memberi masukan agar proyek ini tidak diteruskan, tapi akhirnya tetap berjalan. Ya, begitulah kalau pemimpin gak mau dengar ahlinya ngomong, rugi dah ujung-ujungnya.
Kalau harga tiket nya berbeda-beda, mungkin yang dapet 150 ribu sistem nya sepeti Go Show kak? Semakin mendekati waktu keberangkatan, tiketnya jadi murah
Aku belom pernah naik Whoosh mbak, dan salah satu yang berharap kalo kereta cepat ini beneran bisa sampe ke Surabaya. Taii, mungkin bener nggak sekarang hehe. Karena emang merugi. Sedih juga liatnya kalo sepi bgtu. Padahal bagus ya interiornya. Bahkan menurutku stasiunnya juga bagus kyk bandara. Mungkin karena itu juga yang bikin mahal dan bikin banyak orang merasa sayang harus mengeluarkan uang ekstra untuk transprotasi.
Btw, aku tuh baru tahu kalo kita bisa naik kereta yang jadwalnya lebih cepet kalo keretanya kosong wkwkwk. Kalo aku jadi mbak kayaknya bakalan naik yang jam 8 biar bisa explore Bandung lebih lama hihi.
Senangnyaa bisa akhirnya kesampaian nyobain woosh ya mbaa…bisa jadi alternatif buat ngisi liburan tipis2 hehehe,,,
Kalo dulu sepi sekarang apa kabar mba??apakah sudah semakin ramai? aku gak terlalu ngikutin juga soalnya…
Cuma yang terakhir dengen ya masalah utang itu yang bingung mo bayarnya pake uang apa hehe…
Dulu pembangunanan dar der dor ternyata utangnya menumpuk disana sini duh…kalo yg setengah jalan mo dihentikan kok ya sayang dh habisin berapa duit yaa pastinya macam si IKN itu upssss hehe…
untunglah wis ngerasakno numpak Whoosh.
mari ngene kukut soale ?✌️ menkeu yg baru kan ogah pakai APBN untuk nombokin Whoosh.
sementara para manusia murko/srakah yo wegah pakai danantara , la mengko endi duwit sing arep di embat ya kan.
ya gitulah, mari nantinya kita masuk surga jalur WNI ?Aaamiinnn
Stasiun keretanya kinclong banget. Bakal betah ya walau nunggu kereta di sana. Apalagi bisa sarapan di Solaria. Liburan singkat naik Whoosh bisa diulang lagi nih
Whoosh ini salah satu proyek mercusuar peninggal Mr. J dan Mr. L, heuheu. Bangga sih memang, tapi terlalu dipaksakan. Akhirnya sekarang Indonesia malah merugi triliunan. Harusnya kalo ikut kata Pak Jonan, lebih urgent ngebangun kereta di luar pulau daripada ini.
Sedih banget si tapi, setelah pembiayaan sebesar itu, eeeh.. ujung-ujungnya malah teteup sepi keretanya, dan bikin KAI merugi pulak.
Aku pun merasakan hal yang sama pas naik Whoosh, takjub banget sama kecanggihan kereta dan juga stasiunnya yang mewah kayak di LN. Terus agak katro juga sih pas lagi jalan kenceng gitu aku pegangan kursi berasa naik wahana wkwk. Oh ya, aku pun ngikut tips tiktok cari kursi yang full jendela. Tapi nggak ngefek juga sih pas naik udah malem hahaha. Mbak, kalau dilanjutin turun di Tegalluar itu bisa mampir loh ke rumahku. :))
Ada kereta cepat semacam Whoosh tentu bisa menghemat waktu bepergian ke Bandung. Cuma, dengan harga segitu ya orang bakal mikir lagi sih. Apalagi yang nggak harus diburu sama waktu.
Dari situ, aku merasa sangat wajar kalau kemudian muncul berita kalau Whoosh ini merugi. Soalnya, nggak banyak orang yang ingin menikmati perjalanan mereka dengan Whoosh, kecuali buat orang yang sedang buru-buru.
Asyiknya punya pengalaman naik Whoosh ke Bandung. Sebagai orang yang hampir tiap bulan mudik ke Bandung, opsi naik Whoosh ini belum pernah kami pertimbangkan sih. Kalau dihitung-hitung, biaya ke sana ber-4 lebih besar ketimbang naik kendaraan pribadi. Udah gitu buat ke rumah mertua, harus nyambung kendaraan umum atau ojol lagi dari stasiun. Kayaknya memang cocoknya buat yang ada urusan kerjaan di Bandung, atau sesekali berwisata aja. Kalau mudik tiap bulan naik Whoosh mayan banget buat kaum mendang mending kayak saya. Wkwk..
Buat urang Bandung yang anaknya cekula di Jaktim mefet Depok, naik Wus ini bisa jadi salah satu alternatif kalo kami sedang cape capenyaa.. karena memang secepet dan senyaman itu.. meski naik di Premium Economy Class.
Dan alhamdulillah, ini kereta always rame.. dan kagetnya.. orang pada naik dari Padalarang yaa.. kalo dari Tegalluar maah asa kriik kriikk pissan..
Gaenaknya wus ini.. karena terlalu cepet, jadi kalo mau menikmati makan mieh, misalnya.. gak bisa.
Uda keburu nyampe. Hahahaa.. uda paling bener mau menikmati restorasi mah perjalanan naik KA biasa aja yaak..
Pertama kali aku naik whoosh sampai beneran ngitung, bener gak dia cuma 30 menit doank Jakarta-Bandung tuh. Ternyata beneerr, ahaha. Aku catat waktu berangkat dan aku lihat juga waktu pas nyampe di stasiun Padalarang.
Aku juga sampai merhatiin kecepatannya berapa. Soalnya mereka klaim bisa sampai 350km/jam kaan. Terus ternyata bener lah mendekati, sampai 348km/jam kalau gak salah waktu itu. Pantes aja cuma 30 menit yaa, lha kecepatannya aja secepat itu, huhu.
Awal2 aku tuh ngerasa Whoosh ini gak berguna lho *hya. Soalnya kalau mau naik ini sama aja harus ke stasiun 1 jam sebelum keberangkatan kan. Terus ditambah durasi kereta, mungkin sama aja waktunya dengan naik travel gitu. Tapi rupanya untuk pekerja yang memang suka bolak balik Bandung, whoosh ini lumayan banget membantu mereka memotong waktu perjalanan.
Adik ipar aku gitu soalnya. Kerja di Bandung, jadi tiap weekend selalu pulang ke Jakarta. Nah kalau untuk pekerja gitu, enaknya ada tiket bulanan, jadi lebih murah. Paling2 untuk naik 1x kereta whoosh ini ya jadi 150ribu aja. Begitu deh jadi ada perbedaan harga yang signifikan, hehe.
Waah…kayaknya cuuma saya yaaa yang belum pernah naik whoosh hehe ketinggalan bangeet yaaa….seru dan asyiik yaa naik wjoosh…Jakarta Bandung cepat sekali
Wis ngerasakno naik Whoosh.. yen arep kukut, monggoooo.
setuju bgt dengan Purbaya yg keukeuh ogah pakai apbn.
lah tapi, sigendut malah kayaknya mau pakai apbn.
menghadeeehh pokok whoosh iki. nggarai muak.
Huhu.. karena ga ngerti politik dan keuangan si KAI saat membangun wus… Memang si kereta cepat ini MashaAllaah sekaliih.. jadi kebanggaan urang Bandung pissaan laah.. secara yaa.. stasiunnya Sampek ada di Tegalluar kittuu.. gak hanya di St. Hall Bandung.
Semoga dengan pengaturan keuangan yang baik, wus semakin lebih baik lagi..
aku jadi ingin naek whoosh atuh tteh hehe, tapi da mau kemana ya bingung , jakarta bandung atau sebaaliknya. insya Allah one day , dan nnti akan aku share di blog aku aamiin. Whoosh yang sedang hangat di perbincangkan di negeri ini punya daya tarik tersendiri sebettulnya , moda transportasi yang sangat modern bangeut , yang sebbennarnya belum aku naikin ( tapi aku pernah naik MRT ko teh hehe )
Asik juga sebenarnya naik kereta Whoosh ini ya mbak
Keretanya nyaman, perjalanan juga lebih cepat ya
Kabarnya mau ada Whoosh untuk Jakarta Surabaya lhoo
Mbak April jangan sampai ketinggalan bawa tumbler ya kalau naik Whoosh lagi, hehehe. Btw denger -denger Whoosh mau diperpanjang rutenya ke Surabaya, wah aku sangat menantikan lho. Aku pun penasaran ingin tahu seperti apa rasanya naik Whoosh. Memang benar naik Whoosh ini kalau di negara kita lebih ke wisata kali ya.
wah ternyata begitu ya kalau naik whoosh ini nggak langsung sampai ke bandung tapi naik kereta feeder lagi buat sampai ke stasiun bandungnya. BTW aku penasaran untuk harga solaria di stasiun ini harga normal atau kayak di bandara ya harganya?
Bolak balik kerja Jakarta Bandung pake Whoosh itu saya pastikan levelnya manager ke atas Mbak, hehe. Aku sampe sekarang belum kesampaian naik Whoosh, kalau berdua kuhitung-hitung lumayan tiketnya, kalau sendirian ngapain coba hehe. Sayang banget Pak Jonan nggak didengerin, padahal beliau itu yang paling berjasa dan instingnya benar. Tapi yasudahlah..hehe
Aku setuju banget sama kamu Mbak, aku bangga sama Whoosh tapi aku ingin pemerintah lebih fokus ke kereta di daerah, banyak rel yang masih bermasalah juga. Lebih baik fokus menyempurnakan kereta konvensional nggak sih?