Yuhuuu, kali ini mau cerita tentang pengalaman perdana kami makan di Restoran Leko yang ada di The Breeze BSD City, malam Minggu di week sebelumnya. BTW, kalau nggak keliru dulu Leko ini namanya Warung Leko, ya? Trus, rebranding jadi Leko aja?

Restoran Leko di The Breeze.

Kayaknya, Leko ini cabangnya banyak banget, deh, ya? Biasanya sering lihat soalnya di mall-mall, gitu. Cuma memang sebelumnya belum pernah nyoba makan di sana, sih. Pas, kemarin makan di sana pun itu sebenarnya tidak direncanakan sama sekali, karena rencana awalnya mau makan di Subway yang lokasinya hadap-hadapan sama Leko ini.

Enggak berencana makan di Leko

Jadi, ceritanya, hari itu seharian kami sekeluarga mager ke mana-mana. Baru sore harinya keidean mau pergi, wkwk. Yawda, akhirnya kami putuskan ke The Breeze. Seperti yang saya bilang tadi, niatnya emang makan Subway, karena kebetulan suami punya voucher buat makan “build your own sandwich” ini.

Waktu itu udah jelang Maghrib kami ke sananya, sehingga begitu sampai langsung OTW mushola. Kelar maghriban, kami ke Subway.

Subway di The Breeze ini resto-nya dua lantai gitu, ada lantai dasar sama mezzanine. Di lantai dasar, mejanya tidak terlalu banyak, keknya hanya tiga dengan masing-masing sepasang kursi (kalau nggak keliru ya). Kami intip ternyata meja-meja itu udah terisi semua.

Kalau mau makan penyetan tersedia di Leko ini.

Akhirnya, sebelum order, saya nanya dulu ke mbak-mbaknya, apakah lantai atas (mezzanine), yang penuh meja kursi itu bisa dipakai, karena waktu itu tangganya dikasi tali pembatas, gitu. Sayangnya, mbaknya menjawab “tidak bisa”. Entahlah, nggak tahu alasannya, padahal di atas banyak, lho, meja kursinya. Mungkin mereka kekurangan pegawai buat beberes atau sedang renov, au lha. Kami pun memutuskan nggak jadi makan di sana.

Sebenarnya, mereka juga punya teras sih yang juga ada meja kursinya, tetapi nggak nyaman, karena ada yang merokok. Duh, bikin kezel aje. Siapa sih yang menormalisasi kalau area dine in resto yang di outdoor tuh buat perokok? Menurut saya, malah seharusnya ruangan merokok tuh dibuat khusus dan tertutup, jadi mereka bisa nelen asapnya sendiri, nggak ngajak-ngajak orang lain buat nggak sehat ☹ .

Singkat cerita, kami pun keluar Subway trus duduk-duduk dekat kolam ikan di sana sambil melihat tingkah laku dua ekor husky yang dibawa oleh pengunjung. Tak lama kemudian, saya dan suami kemudian mulai searching di internet, rekomendasi restoran di The Breeze.

Sempat tertarik dengan restoran yang nampaknya baru, namanya Pesta Kebun. Hanya saja, agak ragu ya, karena waktu itu malmingan, kami sempat ngintip rame banget resto-nya. Trus, keinget kalau ada Leko depan Subway tadi, sehingga memutuskan makan di sana aja.

Suasana resto Leko di The Breeze.

BTW, dari luar, Restoran Leko ini keliatan sepi. Eh, begitu masuk, ternyata ada area dine in lagi yang ada di dalam, bahkan ada yang menjorok agak ke kanan, yang terhalang tembok kalau dari luar. Area situ lebih ramai, ketimbang yang dekat kaca-kaca sekaligus pintu masuknya. Kami pun memutuskan duduk di area tersebut juga, karena ada bangku berempat yang lumayan privat.

Hal yang menarik perhatian di resto ini adalah beberapa lukisan atau mural di dinding yang menggambarkan interaksi orang-orang di pasar tradisional. Lalu, banyak ornamen dari material kayu dan rotan, serta lampu gantung klasik.  Nah, dari situ saya mulai menebak kalau Leko ini mengusung makanan lokal Indonesia, nih.

Hidangan yang kami nikmati di Leko

Begitu kami duduk, mbak-mbak pelayannya langsung ngasi empat buku menu kepada kami. Kalau dilihat dari buku menunya, tebakan saya lumayan bener, ternyata Leko ini menu utamanya kek iga-iga’an ya? Ada iga penyet, iga bakar, dll, yang pasti kalau suka persambalan cucok makan di sini.

Trus, saya jadi curiga kalau kata “leko” berasal dari Bahasa Jawa “lekoh” yang artinya “enak” atau “lezat”. Gugling-gugling, eh, lha kok katanya bener demikian dan aslinya rumah makan ini berasal dari Surabaya, donk. Weleh, saya yang dulu bertahun-tahun lamanya tinggal di Surabaya, kagak ngerti kalau resto ini asal mulanya justru dari sana 😀 .

Sambil membolak-balikkan lembaran buku menu saya udah excited, nih, “Kalau sambel Surabaya pasti enak dan cucok di lidah eike” 😀 .

Anak-anak makan nasgor yang datang duluan.

Akhirnya, kami memesan beberapa makanan, yakni empal penyet, iga sambal bawang merah, dan untuk sayurnya kami memesan cah taoge teri medan. Kami hanya memesan tiga nasi putih, karena anak saya Dema kepengen makan nasgor. Buat Dema, kami memesankan  sepiring nasi goreng bakso.

Kemudian, buat minumnya, saya memesan jus nangka (memesan ini karena unik, jarang ada, hehe), suami es teh tawar, dan anak saya Maxy order jus alpukat. Sementara Dema hanya memesan sebotol air mineral. Anak saya yang satu ini memang hanya suka minuman air putih dan susu-susuan, kalau jus buah dan minuman manis-manis lainnya kurang suka.

Setelah memesan, tak lama kemudian, seperti biasa, minuman yang kami pesan datang duluan. Menyusul berikutnya nasi goreng Dema. Saya lirik, “Weh gedhe juga, nih, porsinya.” Khawatir Dema nggak habis, akhirnya saya minta satu piring kosong, supaya nasgor-nya nggak diacak-acak semua, kali bisa sharing. Namun, ternyata, saya keliru, anak saya bisa habisin nasgornya, donk wkwkwk 😛 .

Nasi goreng bakso.

Abis nasgor, tak lama kemudian makanan-makanan lain datang. Kesan pertama, porsinya gedhe-gedhe semua. Yaaa, sepadan sih dengan harganya yang rata-rata 50 hingga 60 ribuan per piring. Cuma agak kaget, nasi putihnya harganya lebih mihil dari resto sejenis. Biasanya kan nasi putih 10-12 ribuan, di resto Leko ini nasi putihnya 14 ribuan, hehe.

Jika ditanya tentang rasa makanannya, pertama nasi gorengnya, nasinya pas, tidak lembek teksturnya. Rasanya gurih tetapi ada sedikit manis seperti nasgor jawa. Baksonya lumayan kenyel. Oh ya, kami request tidak pedas, karena Dema tidak suka makanan pedas.

Untuk empal penyetnya disajikan di atas sambal di wadah cobek. Sepertinya, empal ini dipenyetnya tuh di wadah lain, karena bagian atas dagiing empalnya menurut saya clean, hanya bagian bawahnya saja yang kena sambal. Rasanya lembut dan empuk. Ada sedikit rasa manis pada dagingnya. Ketika dipotong, mudah sekali kepisahnya. Sambalnya enak, cukup pedas, terasa terasinya. Sesuai lha dengan selera lidah saya 😀 .

Empal penyet.

Lalu, untuk iga sambal bawang merahnya, dagingnya mudah terlepas dari tulang. Sepertinya sebelum disajikan juga sempat dibaluri tepung dan digoreng. Untuk sambalnya terlihat fresh, didominasi irisan bawang merah setengah matang.

Iga sambal bawang merah.

Waktu makan ini sempat tersisa tulang yang ada sedikit daging di dalamnya, hanya saja saya bingung nih gimana cara makannya. Saya coba nyesep (dihisap gitu) dan dicongkel pakai garpu nggak bisa, sehingga direlakan saja wkwkwk 😛 .

Lanjut untuk sayurannya,  cah taoge teri medan. Taogenya masih crunchy, walaupun ada sedikit kuah. Teri medannya yang digoreng garing memberikan rasa asin yang tidak berlebihan. BTW, sayur ini enggak pedas sama sekali, sehingga cocok juga dimakan oleh anak-anak yang mungkin sensitif dengan rasa pedas.

Cah taoge teri merah.

Komen untuk minumannya, semuanya disajikan dengan gelas yang besar. Jus alpukatnya kentel banget, manisnya pas. Jus alpukat ini disajikan dengan susu kental manis cokelat, membuat minuman ini gampang disukai anak-anak 😀 .

Jus alpukat dengan SKM cokelat.

Kalau jus nangkanya, menurut saya tidak sekental jus alpukat. Mulanya saya pikir rasanya bakal light,eh, ternyata saya keliru, rasanya malah menyegarkan di mulut 😀 . Alhamdulillah, cocok deh buat membasuh lemak-lemak daging di mulut, hehe.

Jus nangka.

Overall, rasanya enak, sih. Kalau diminta kasi bintang, mungkin 4 dari 5 ya, karena kesempurnaan hanya milik Allah #benerinsarung. Untuk semua makanan dan minuman yang kami makan hari itu kami membayar sebesar 416 ribuan. Sebenarnya sih totalnya 351 ribuan, tetapi ada pajak service dan PBJT dari pemerentah yang cukup mayan, heuheu.

Es teh nyempil.

Itulah teman-teman cerita makan malam kami di Leko yang awalnya tidak direncanakan sama sekali. Cukup memuaskan, karena porsinya besar dan pelayanannya cukup baik. Buat yang makan di sini bareng keluarga, menurut saya recommended, ya.

Ada yang sudah sering makan di resto Leko? Share donk apa menu favoritmu di kolom komen 😀 .

April Hamsa

Categorized in: