Puas ngopi dan ngemil di Blessings Art Space & Eatery, saatnya bersiap kembali ke Jakarta (coret). Namun, sebelum OTW ke Stasiun Bandung (yes, kami naik kereta), kami menyempatkan makan makanan berat dahulu di salah satu restoran yang menyajikan makanan Sunda, namanya Restoran Raja Sunda. Makan siang yang dirapel ke sore, ceritanya, hehe 😛 .

Restoran Raja Sunda di Bandung.

FYI, kalau baca review-nya, kata orang-orang, Restoran Raja Sunda atau yang terkenal dengan sebutan Raja Sunda Pasteur ini cukup populer di kalangan turis-turis yang akan kembali ke Jakarta, lho. Pasalnya, katanya lokasi resto ini tak jauh dari Pintu Tol Pasteur. Itulah sebabnya restoran ini dikenal dengan nama Raja Sunda Pasteur.

Bener, nggak, sih? Tolong Orang Bandung komen, hehe 😀 .

Mendadak makan di Raja Sunda

Sebenarnya, makan di rumah makan khas Sunda yang satu ini tidak kami rencanakan. Kami hanya ngasal aja mencari rumah makan dengan makanan berat yang berada di sepanjang rute dari Blessings Art Space & Eatery menuju ke Toko Kartika Sari yang dekat stasiun.

Ruang makan utama di Raja Sunda.

Setelah menemukan beberapa referensi, akhirnya kami memutuskan ke Raja Sunda saja, yang udah pasti menyajikan menu masakan khas Sunda. Kan kata orang-orang, eman-eman kalau ke Bandung nggak nyicipin makanan Sunda? Yaaahh, walau di Jakarta dan Bogor juga banyak, tetapi siapa tahu ada bedanya xixixi.

Waktu itu, kami datangnya sekitar jam 3-an sore lebih, deh, kayaknya. Bukan jam makan siang, sehingga resto-nya tidak terlalu ramai pengunjung. Parkiran kendaraan di sana yang mayan luas pun terlihat cukup lengang.

Bangunan Restoran Raja Sunda terlihat cukup besar dan luas. Bangunan utamanya sepertinya terdiri dari dua lantai. Lalu, di area belakang ada lesehan dengan beberapa space kayak saung-saung, gitu. Kami memutuskan untuk menuju area lesehan saja.

Parkiran yang cukup luas.

Masuk ke lorong itu untuk menuju area lesehan.

Kalau dari bangunan utamanya, pengunjung bisa ke arah parkiran, lalu menuju ke samping. Di sana nanti pengunjung akan menemukan lorong yang melewati mushola, kemudian agak masuk ke dalam, di sanalah terdapat area lesehan itu. Layout saung-saungnya kalau nggak salah letter L, dengan kolam ikan di bagian halaman yang kosong. Wastafel untuk mencuci tangan juga tersedia di sana.

Kolam ikan dekat saung.

Saungnya cukup lega ukurannya.

Waktu kami ke area ini, sepertinya saung-saung lain tuh masih kosong. Anak-anak saya kayaknya udah pegel. Akhirnya, mereka numpang leyeh-leyeh di saung, sembari menunggu pesanan kami datang 😀 .

Anak-anak leyeh-leyeh dulu sebelum makan.

Untuk order makanan, sebelumnya, ada mas-mas pelayannya yang nyamperin kami, lalu memberikan kami buku menu supaya bisa langsung memesan. Tak lama setelah pesanan kami dicatat, beberapa pengunjung resto lain berdatangan. Keknya ada dua saung lagi terisi. Rata-rata datang ramean, mungkin satu keluarga juga seperti kami.

Menikmati masakan Raja Sunda

Kembali ke masakan Sunda yang kami order, waktu itu untuk makanannya, kami memesan sayur asem, sate ayam (10 tusuk), udang goreng, ayam bakar (opsi satuan), nasi liwet yang bisa dimakan bersama-sama, satu porsi nasi tutug oncom. Lalu, buat minumannya, saya memesan es kelapa muda, suami teh tawar panas, sedangkan anak-anak air mineral saja.

Foto sebelum menghabiskan makanan.

Untuk harga makanannya, sebagai informasi, saya bulatkan aja, ya, karena harganya tuh nominalnya tidak bulat. Misal, harga teh tuh Rp8.658,-, yawda kita perkirakan saja Rp8.000,- gitu, ya, biar gampang, haha. Saya juga tidak mudeng kenapa harganya begitu. Apa mungkin ada kode-kode khusus kali ya?

Teh anget.

Lanjut, untuk makanan yang kami pesan, yang paling mahal adalah udang goreng yang harganya Rp85.000,-, disusul dengan sate ayam Rp.44.000,-. Kalau makanan lain harganya berkisar antara Rp15.000,-an hingga Rp25.000,-an, lha. Menurut saya masih harga yang masuk akal, nggak murah tetapi juga nggak terlalu mihil untuk restoran sekelas itu.

Lalu, bagaimana dengan cita rasanya?

Sebelum ngobrolin cita rasa makanannya, saya mau ngajakin teman-teman mengernyitkan dahi barengan dahulu, haha.

Jadi, saya kan memesan es kelapa muda ya? Harapan saya, itu tuh es kelapa yang disajikan di dalam batok kelapa asli, gitu. Eh, ternyata enggak. Es kelapa itu disajikan di gelas keramik berbentuk kelapa muda, haha, ucul kaaann? 😛

Es kelapa muda.

Padahal, saya udah membayangkan buah kelapa segede apaan xixixi. Nggak tahu mengapa es kelapanya disajikan kayak begitu.

Untungnya, rasa es kelapanya segar, pemanisnya terasa alami air kelapanya, berpadu dengan es batu yang dingin. Lumayan ngademin kepala yang terkena matahari Bandung, yang saat itu bersinar terik. Daging kelapa mudanya diiris tipis-tipis, sehingga memudahkan saya mengunyahnya. Namun, tetep, sih menurut saya, lebih pas kalau tetap disajikan di dalam batok kelapanya, hehe 😛 .

Untuk rasa makanannya, kita bahasa nasi liwetnya dulu, ya. Raja Sunda menyajikan nasi liwetnya di dalam panci kastrol. Saya memperkirakan satu kastrol bisa untuk 2-3 orang.

Nasi liwet.

Begitu panci nasi liwetnya disajikan langsung tercium aroma bumbu nasinya yang kuat. Nasinya memiliki tekstur pulen dengan topping/ campuran beberapa lembar daun salam, irisan cabai merah, ikan teri medan dan pete.

Selanjutnya adalah nasi tutug oncomnya, yang dibungkus daun pisang. Begitu dibuka terlihat nasi seperti nasi merah dengan campuran cabe merah dan bumbu-bumbu lainnya, termasuk bulir-bulir oncom. Nasinya pulen juga, dengan aroma kencur yang segar, dan memiliki rasa gurih.

Nasi tutug oncom.

Untuk sate ayamnya disajikan di wadah unik yang menyerupai panggangan sate, padahal bukan. Bumbu kacang yang di bagian atasnya diberi kecap dan acarnya disajikan terpisah.

Potongan daging satenya cukup tebal, tetapi tekstur dagingnya lembut, sehingga mudah dikunyah. Rasanya lebih ke perpaduan antara gurih dan manis. Bumbu kacangnya, selain diberi kecap, juga sepertinya dikecrutin jeruk nipis, sehingga menambah kelezatan sate ayamnya.

Sate ayam.

Lalu, untuk udang gorengnya diolah sedemikian rupa, sehingga menghasilkan tekstur yang sangat crispy. Daging udangnya segar, rasanya manis dan juicy dengan perpaduan gurih asin. Paling enak dimakan sama sambal.

Udang goreng.

Oh ya, saya lupa menginformasikan, jadi sebelum pesanan kami sampai ke meja, sebenarnya mas-mas pelayannya juga memberikan kami dua mangkuk sambal. Satu sambal terasi, satu lagi nggak tahu sambal apa hehe 😛 . Selain itu di meja juga disajikan setoples bening kerupuk dan dua piring otak-otak.

Oke, lanjut, ke makanan selanjutnya, yakni sayur asem. Saya tuh paling suka sayur asemnya Orang Sunda yang begitu kompleks isinya dan kuahnya kemerahan. Kalau di tempat asal saya, Surabaya, sayur asemnya lebih sederhana isiannya, kuahnya juga bening dan lebih lite.

Sayur asem.

Sayur asem Raja Sunda disajikan di mangkuk yang tidak terlalu besar. Meski demikian isiannya tuh melimpah sampai mangkuknya terlihat full. Isiannya ada kacang panjang, jagung, melinjo, labu siam, kacang tanah, dll. Potongannya besar-besar pula.  Oh ya, ini tuh sebenarnya porsi personal, tetapi karena banyak bisa dimakan seluruh keluarga haha 😛 .

Terakhir sepotong ayam bakarnya. Ini khusus pesanan anak saya Dema. Potongan daging ayamnya cukup besar, sehingga bisa dimakan dua orang, sharing, gitu. Bumbunya meresap dengan baik, sehingga ayam bakar ini memiliki cita rasa manis gurih dengan bumbu yang legit.

Ayam bakar.

Secara umum, kalau diminta memberikan penilaian, rasa makanan yang kami pesan di restoran Raja Sunda tidak ada yang mengecewakan. Porsinya makanan yang kami pesan juga pas buat kami berempat. Harganya juga masih ramah kantong.

Kalau buat lokasinya, menurut saya, area lesehannya terlihat agak jadul ya. Trus, agak panas, karena sepertinya waktu itu kipas angin di saung kami rusak. Mungkin, next, apabila ada kesempatan kembali mencicipi makanan di Restoran Raja Sunda ini, mungkin saya akan makan di bangunan utamanya. Sepintas ngintip keknya lebih modern gitu *imho ya.

Itulah teman-teman, pengalaman dan sedikit review dari kami tentang Restoran Raja Sunda. Adakah teman-teman yang tinggal di Bandung atau mungkin yang sering melancong Bandung-Jakarta pernah mampir Restoran Raja Sunda Pasteur ini juga?

Buat yang kepengen tahu lokasinya di mana, di sini lokasi persisnya ya:

Semoga informasi mengenai Restoran Raja Sunda ini bermanfaat buat yang suka eksplore kuliner Bandung 😀 .

April Hamsa

Categorized in: