Udah lama banget, Ya Allah, nggak bikin postingan kulineran. Padahal dulu setelah blog ini selesai diperbaiki udah janji pada diri sendiri buat update bergantian antara postingan parenting, kuliner, dan lain-lainnya. Yaaahh, begitulah, janji yang sering kita ingkari keknya janji ke diri sendiri ya? #uhuks 😛 . Yawda, deh, ketimbang jadi bad mood gara-gara self blame, mau coba alon-alon nulis. Kali ini, saya mau mulai dari kulineran awal Juni lalu saat makan siang di Bahasa Alam Cafe BSD City bersama keluarga, deh.

Bahasa Alam Cafe di The Green, BSD City.
Sebenarnya, kayaknya, nama lengkap cafe ini Bahasa Alam – Back to Nature Cafe, tetapi kayaknya “back to nature” ini mungkin cuma karena lokasinya yang dekat cukup banyak pepohonan ya, bukan karena menu makanannya. Soalnya, menu makanannya (yang akan saya bahas di akhir cerita) bukan yang ala vegan atau pakai bahan-bahan organik apalah, sih, melainkan mirip-mirip beberapa cafe atau resto sejenis.
Lokasi Bahasa Alam Cafe BSD City
BTW, yang tinggal di sekitaran BSD City ada yang sudah pernah maen ke Bahasa Alam Cafe ini? FYI, lokasinya bukan di BSD baru ya gengs, melainkan di BSD lawas dekat area Rawabuntu, tepatnya masuk di area perumahan The Green. Kalau dari arah Rawabuntu mau ke arah jalan tol atau ITC BSD biasanya sih bakal nglewatin perumahan ini.
Suasana cafe yang asri karena banyak pepohonan rindang.
Sebenarnya sudah lama banget saya pengen melipir ke Bahasa Alam Cafe ini. Waktu itu kayaknya setahun atau dua tahun lalu gitu, ngliat postingan video orang mengenai tempat makan ini di Tiktok. “Kok kayaknya asyik yaaa”, batin saya.
Gimana enggak, sesuai namanya “Bahasa Alam” di video, cafe ini banyak pemandangan ijo-ijonya gitu. Tampak banyak pepohonan rindang di sekitarnya. Mungkin juga karena lokasinya yang masuk ke area The Green, yang memang salah satu perumahan di BSD City yang menjanjikan ruang terbuka hijau yang cukup luas.
Alamat Bahasa Alam Cafe:
The Green, cluster Manhattan B7/17 BSD City, Cilenggang, Kec. Serpong, Kota Tangerang Selatan, Banten 15310
Lalu, nggak sekadar cafe, Bahasa Alam Cafe ini juga punya playground dan menjanjikan semacam mini zoo berupa kandang hewan kelinci gitu. Kebetulan saya ke sananya saat liburan long weekend, kan mayan banget kasi hiburan mata dan perut buat anak-anak, daripada di rumah aja.
Begitulah kira-kira, beberapa hal yang saya dapatkan dari video orang mengenai kondisi cafe, sehingga membuat saya tertarik datang ke sana. Eh, tapi tolong jangan nanya link video-nya ya, udah kelamaan jadi lupa. Mungkin bisa googling sendiri dengan kata kunci nama cafe-nya hehe.
Suasana cafe-nya
Saya kasi gambaran aja tentang gimana ambience cafe-nya, semoga bisa membayangkan 😀 .
Jadi, untuk menuju Bahasa Alam Cafe ini, teman-teman bisa masuk gerbang perumahan The Green yang mayan megah itu. Nanti, ikuti jalan saja sekitar 600 meteran. Letak cafe-nya ada di kanan jalan, sederetan dengan minimarket, resto-resto lain, dll, sehingga kalau dari arah gerbang perlu agak memutar dulu ya.

Area parkir di depan cafe.
Begitu sampai depan cafe, nanti akan terlihat dua bangunan yang terpisah, satu di tengah, satu lagi di kiri. Sementara di sebelah kanannya adalah halaman atau bagian outdoor cafe yang lumayan luas sih. Cuma sayangnya saya lihat buat parkiran masih kurang ya. Naruh kendaraannya di area depan, buat mobil paling hanya muat 2-3 mobil aja. Sisanya, parkir motor, saya lihat diletakkan di depan pintu masuk ke terasnya, jadi nggak parkir yang mendekati bangunan banget. Mungkin kalau cafe ini mau mengurangi kursi di terasnya, parkirnya bisa nambah kali ya?
Okey, lanjut langsung masuk ke dalam ya, saya mau menyoroti bagian outdoor-nya dahulu. Dari jalan raya utamanya The Green, area outdoor Bahasa Alam Cafe ini udah terpampang nyata #hallah. Pengunjung cafe akan disambut dengan mainan seperti ayunan, perosotan, dan jungkat-jungkit di playground.

Playground.
Kemudian di area tengah-tengah halaman itu ada beberapa bangku lengkap dengan mejanya. Ada pula di area agak ke pinggir tuh area makan di atas lantai dek kayu lengkap dengan kolam ikan di bawahnya. Di samping area dek kayu, ada mini zoo berupa kandang berundak yang konon katanya itu kandang kelinci dengan rumah-rumahan kecil, gitu. Sayangnya, ketika kami tengok, kok ndak ada tanda-tanda ada hewan sama sekali. Apa lagi tidur atau gimana?

Mini zoo yang nggak tau deh hewannya ke mana.
Ada pula spot makan terbaru mereka yang bentuknya seperti telur dari rotan gitu. Tadinya naksir pengen makan di sana, tetapi karena kami datangnya siang ke sore, area ini ternyata puanaaass, saudara-saudara. Meski ada pepohonan, tetapi tetep kesorot sinar matahari (agak) sore. So, nggak jadi. Kami pilih makan di indoor, aja. Kayaknya kalau makan di area telur ini cocoknya pagi atau malam saat udah ademan.

Tempat makan di bagian luar.
Sebelum masuk ke area indoor, ada satu lagi area semi terbuka yang nempel bagian utamanya. Ada beberapa table di sini. Kayaknya dikhususkan buat mereka yang merokok ya, karena saya lihat asbak. Bagi saya sih big no makan di area sini hehe.
Lalu, kami masuk ke dalam, ke ruangan yang ada AC-nya, ternyata sudah full. Kalau tak keliru tersedia 7 atau 8 set meja gitu di area sini. Yawda, akhirnya kami memesan makanan ke counter yang sekaligus juga kasir. Abis itu keluar lagi, menuju ke area tertutup di sebelah bangunan yang ada AC-nya itu.
Nah, untuk bangunan kedua ini, nggak ada AC-nya, tetapi ada kipas angin dan colokan listrik di beberapa spot. Ada 2 meja besar melingkar dan 2 meja bergaya lesehan. Oh ya, di bagian depan bangunan ini juga ada beberapa meja, sih. Akhirnya kami pilih salah satu meja melingkar, aja.

Awalnya kami duduk di bangunan sebelah sini sebelum pindah ke sebelah.
Waktu itu di bangunan cafe yang itu hanya ada keluarga saya dan satu rombongan bapack-bapack dan ibuk-ibuk yang sudah cukup senior lagi kumpul-kumpul di meja lesehan. Mungkin mereka lagi reunion atau gimana.
Baru beberapa menit duduk, saya lihat ada rombongan yang keluar dari bangunan utama yang ber-AC tadi. Saya pun cepat-cepat ke dalam buat ngetag tempat. Eh, ternyata di depan counter ada dua pasangan yang nyari tempat juga.
Cuma saya lihat kok kayaknya mereka berempat akrab gitu, lho. Artinya saling kenal kan? Sementara ada dua meja yang kosong. Saya berpikir mereka satu rombongan dan bakal satu meja.

Area makan di teras.
Saya tanya ke mas pelayannya, apa bisa saya pakai salah satu mejanya. Eh, kata masnya udah dipesan sama kedua couple tadi. Saya mengernyit, bergumam dalam hati, “Masa sih, wong kayaknya mereka saling kenal, gitu, kok, kemungkinan bakal pakai satu meja isi empat kursi, lha.”
Tapi, yawdalah, akhirnya saya balik lagi ke bangunan cafe sebelah. Tak lama setelah saya duduk, ternyata ada satu rombongan lagi keluar. Yaaa, saya cepat-cepat masuk, donk. Mumpung makanan belum datang ke meja kami.
Saya bilang ke masnya kalau saya akan duduk di situ, sambil melirik meja yang saya incer tadi. Eh, beneran, deh. Dua pasangan yang papasan di counter tadi cuma pakai satu meja. Sementara satu meja lagi nganggur.

Bagian dalam bangunan yang ber-AC. Itu sebelah kiri keliatan meja kosong yang saya incer 😛 .
Jujurly, agak gondok sih yaaa. Maksud saya kan kalau si masnya tadi tahu kalau meja itu tidak jadi diduduki kan bisa manggil saya ya, nawarin ke saya, gitu? #ngarep 😛 Mau pindah ke meja kosong itu tapi keliatannya belum diberesin. Trus, meja yang saya taksir tadi tuh bentuknya meja makan, sementara yang saya duduki tuh kek set meja ruang tamu jadul gitu, lho, yang mana tinggi mejanya sejajar dengan kursi, sehingga kurang nyaman buat makan.
Mau pindah lagi, udah males ngomong sama masnya. Weslah, alhamdulillah, masih rezeki saya dan keluarga bisa duduk di dalam. Meski demikian AC di dalam juga nggak dingin-dingin amat buat ukuran cafe itu ya.
Begitulah kira-kira gambaran cafe-nya. Soal ketersediaan toilet sih katanya ada, ya. Tapi baca di review Google, kurang OK. Kalau mushola, entahlah, waktu itu datangnya tidak pas waktu sholat sih jadi saya tidak bertanya.
Makanan yang disajikan Bahasa Alam Cafe
Okey, lanjut bahas makanannya yaaa.
Waktu itu saya diberi dua buku menu. Sekilas saya baca “judulnya” dua buku menu itu punya nama dua resto yang berbeda. Buku pertama namanya Bahasa Alam Cafe itu, satu lagi lupa namanya mengandung “saung-saung” gitu, kayak nama restoran Sunda. Kalau saya tebak kemungkinan dulu cafe ini yang ada di bangunan tengahnya doank, lalu ada resto Sunda di samping kali ya? #sokteu. Cuma sekarang mereka cuma pakai satu brand Bahasa Alam Cafe ini aja kayaknya.

Anak-anak menikmati makanannya.
Untuk menu makanan utama di buku yang dulu kemungkinan resto Sunda itu, mereka ada makanan khas Sunda, seperti gado-gado, nasi pecel, sayur asem, ada pula nasi besek. Untuk nasi besek ini pada intinya ada nasi, sayur, lalu pilihan lauk seperti ikan cakalang suir, empal suir, cumi asin, juga ayam suir.
Ada pula aneka jenis sayuran tumisan, seperti tumis kecipir, tumis jantung pisang, tumis buncis jagung manis, tumis kangkong, dll. Tersedia pula aneka masakan ayam, cumi, ikan. Harga per menu untuk sayur tuh rata-rata kurang dari Rp30000,-an, sedangkan untuk lauknya sekitar Rp.50000,-an. Untuk sekelas resto di area BSD City, menurut saya harga segini masih lumayan ramah kantong.
Mereka juga punya camilan atau bisa juga dijadikan makanan pembuka berupa tempe mendoan, cireng, ubi goreng, bubur kacang ijo, pisang goreng, siomay, tahu udang kipas, dll. Harganya berkisar antara Rp20000,-an hingga Rp40000,-an.
Pasta carbonara.
Kemudian, di buku menu yang emang judulnya Bahasa Alam Cafe menu utamanya lebih ke western, seperti pasta dan semacam steak dari daging, ikan, dilengkapi kentang goreng. Harganya per menu nggak lebih dari Rp.50000,-an.
Untuk snack-nya ada roti bakar, toast, sosis gulung, kentang goreng, risoles, siomay, dll. Harga per porsi sekitar Rp22000,-an. Kalau buat minumannya ada kopi dan non kopi. Kayaknya nggak perlu saya sebutin satu-satu deh yaaa 😀 .

Minuman yang kami pesan.
Lanjuuutt…
Waktu itu, saya dan keluarga memesan beberapa makanan antara lain:
- Saya: nasi besek cumi dan es jeruk.
- Bapake: mie godog jawa (kayaknya nyempil di menu yang resto Sunda) dan vietnam coffe yang panas.
- Anak pertama (Maxy): pasta carbonara dan es milo.
- Anak kedua (Dema): pasta Bolognese dan es milo.
- Ambil seplastik emping di meja kasir.
- Abis makan pesan pisang goreng dan kentang goreng, masing-masing seporsi.
Nasi besek yang sudah saya keluarkan dari beseknya.
Untuk nasi besek, literally disuguhkan di dalam besek yang di dalamnya dialasi daun pisang. Isinya nasi putih, sambal goreng ati, orek tempe, cumi pedas cabe ijo (sesuai request), sambal, dan sayur tumis buncis jagung.
Awalnya terlihat porsinya sedikit mungkin karena masuk besek, jadi terlihat imut ya. Karena menurut saya agak suseh makan di besek, saya lalu menumpleknya (apa Bahasa Indonesianya “menumplek”? 😛 ) isinya ke piring. Eh, ternyata banyak lho porsinya. Nasinya emang dibikin padet di besek.
Untuk sayurannya juga pelengkap lauk lainnya dimasak dengan baik. Terutama sayurannya, nggak lembek, masih krenyes-krenyes, sedap rasanya. Untuk cuminya, harapannya bisa lebih diperbanyak lagi, hehe.
Lalu, sambalnya mantab. Sebagai orang yang suka pedas dan nggak bisa makan kalau nggak pedas, saya acungi jempol.

Pasta bolognese.
Buat masakan pastanya, porsinya juga tidak pelit. Kedua pasta tersebut saus dan toppingannya melimpah. Anak-anak saya happy, hehe. Untuk pasta bolognesenya juga cocok sama lidah anak-anak karena tak terlalu pedas sausnya.
Lalu, bakmi jowonya disajikan dalam kondisi masih panas dengan emping. Rasanya sih cukup terasa ya rempahnya. Sayurannya lumayan banyak, mienya cukup oke matengnya, tidak lembek.

Bakmi jowo.
Buat rasa minuman yang kami pesan, yaaa, so so, gitu. Khusus buat kopinya, lumayan terasa bikin melek, sih.

Hot vietnam coffee.
Untuk kentang goreng dan pisang gorengnya dengan harga segitu, lumayan porsinya. Buat rasa sebenarnya masih approved, cuma ngarep pisangnya bisa lebih matang dan lebih manis lagi.


Camilan pisang goreng dan kentang goreng.
Untuk semua makanan dan minuman yang kami nikmati hari itu kami membayar total semua Rp275000,-00. Buat ukuran BSD lumayan banget, ituuu.
Kesimpulan
Secara umum, menurut saya, menu makanan di Bahasa Alam Cafe BSD City ini sangat memanjakan lidah dan perut. Harganya juga bersahabat.
Untuk tempatnya, mungkin bisa diperbaiki dengan menambah ruangan ber-AC, apalagi cafe ini tampak cocok buat makan keluarga. AC-nya kalau bisa lebih didinginkan lagi.
Lalu, kalau bisa kandangnya diisi kelinci dan dilakukan perawatan berkala. Biar anak-anak ke sana bisa lihat kelinci dan kasi makan juga.
Untuk playground-nya udah oke. Sedikit saran semoga yang dekat playground bisa diberi tanda larangan merokok, sehingga nggak ada pengunjung yang cuek merokok dekat anak-anak yang mungkin bermain.
Soal parkir, hmmm, kalau full, mungkin bisa parkir di area ruko lainnya yang tampaknya dekat cafe ini kali ya?

Cukup puas makan di sini.
Lalu, saya menyoroti mbak mas pelayannya. Mungkin lebih sigap lagi, kalau ada tamu bertanya soal kursi. Lalu, kalau misalnya melihat ada piring kosong saya harap mereka bisa menawari untuk mengambil piring tersebut, jangan menunggu tamu bertanya dahulu “Bisa minta tolong diberesin nggak, mbak/ mas?” Pengunjung akan seneng gitu, kalau mereka lebih berinisiatif.
Kalau ditanya apakah saya akan ke sana lagi? Oh ya, jelas, cafe ini menarik, kok, buat kumpul-kumpul keluarga maupun sama geng arisan #uhuks.
Itulah teman-teman sedikit cerita makan siang saya sekeluarga di Bahasa Alam Cafe BSD City dan review ala-alanya. Semoga bermanfaat buat teman-teman yang nyari kulineran seputar BSD City ya.
April Hamsa




Waiter-nya … seharusnya manggil Mbak April begitu tahu meja satunya kosong dan minta maaf. Mungkin dia pegawai baru, belum begitu paham yaa. PEnasaran sama spot yang kayak telur itu … kira2 jam berapa nyaman ya di sana … ?
Hihihi iya gondok beut.
Pagi ke siang OK, sore ke malam, asal jangan siang2 menuju sore karena mataharinya nyorot ke situ hehe.
Kafenya cakep ya, kelihatan isi gitu ijo-ijoo, dan ada Playground jadi bocah bisa main di sana. Saladin pasti happy karena bisa perosotan dulu hehehe.
Nasi beseknya kelihatan enak. Nah anak-anak emang biasane suka makan pasta ya?
Galfok ke Dema, udah gadis euy
Sayang juga kalo mini zoo nya lagi ga ada binatang ya mba.. dari segi harga ,ini memang terjangkau banget. Aku suka sih liat tempat2 duduknya, tp kalo yg model sarang burung memang skip lah. Bisa meleleh badanku makan di sana siang bolong hahahahahah.
Mending yg AC aja. Aku rela antri asal duduk tetep di ac 🤣.
Bsd mah banyak memang tempat2 cakep utk makan. Ada beberapa list ku, tp blm kesampaian makan di sana
Tertarik sama tempat makan yg kayak telur, sayangnya kok panas.
Maksnannya enak2 dan tempatnya nyaman. Cocok buat makan bareng2 keluarga.
Padahal, toilet itu salah satu area yang krusial gitu kan kalau di cafe. Secara, pengunjung amat sangat mungkin untuk pipis atau sekedar benerin makeup alias touch up.
Kok Yo nggak oke.
Makanannya ala-ala cafe gitu ya. Berharapnya sih makanan vegan gitu. Hehehe
Kafenya sesuai dengan namanya ya mbak, berasa dekat dengan alam ya mbak. Sayangnya ada drama tentang meja yang ingin digunakan.
Toilet di tempat makan harapannya sih nyaman digunakan karena bersih dan higienis kan ya, sayanganya toiletnya kurang oke
Saya suka ke resto yang menyediakan toilet bersih dan mushola yang nyaman, bisa betah makan di sana dan bakalan sering dikunjungo
Kafe ini satu terbaik di area itu, selalu jadi pilihan kalau kesana bersama orang-orang terdekat. Akan lebih seru kesana tuh beramean he he he.
Punya pengalaman juga disana kalau pegawainya suka “ehem” gitu, apalagi kalau di jam sibuk, Oh itu perlu tersenyum manis aja biar hidup lebih asyik dari pada memberi energi kurang baik pada keadaan ha ha ha.
Kalau denger daerah BSD itu di kepalaku daerah paling green-nya JKT plus kawasan elit. Hahaha…
Lihat viewnya itu seger banget lho di area cafe-nya, berasa kayak bukan di JKT.
Jadi inget, pernah tersesat di kawasan BSD sampai dianter satpam kompleksnya ke rumah salah satu kerabat di wilayah itu. Astaga, berasa udik banget. Hahahaha.. 😀
Daku mbayangi santap bersama dengan keluarga atau sohib pas sore-sore gitu, jadinya terasa sejuk…
Terlebih menu makanannya juga serasa makan di rumah.
Walau mungkin pas siang² juga asik sih
Tempatnya menarik untuk dikunjungi. Tapi sayangnya jahu juga tempatnya di BSD City…
Tempatnya keliatan tenang banget. Buat healing tipis-tipis sambil makan cantik cocok nih! Sayang jauh dari asalku hehe
Pas sampai di total harga…setuju, untuk ukuran BSD lumayan banget itu, termasuk murah malah…
Coba mini zoo-nya diaktifkan lagi (hewannya jangan boleh bobok siang eh…hewannya diadakan lagi), terus layanan ditingkatkan, karyawan lebih responsif gitu sama pelanggan, terus area parkir ditambah….Atau mungkin sudah begini sebelumnya tapi jadi turun standarnya…hm.
Kepo, karena aku rutin ke BSD jadi bisa jujugan ngopi nih Bahasa Alam nanti, next deh kalau ke sana mampir
Aku tertarik banget liat area outdoor dekat playground. Aku jadi bayangin anakku main serodotan, aku asyik makan sendirian, haha. Solusi banget untuk toodler yang nggak bisa diam.
Makanannya enak-enak aku tergoda sama pasta dan es Milo yang dipesan sama Maxy. Lumayan ya porsinya. Harganya juga worth it untuk ukuran BSD, hehe.
Ish, kenapa siii tempat makan yang asyik dan ramah anak begini malah banyaknya ada di BSD Tangerang heuheuheu. Kan saya warga beksi jadi iri yaaaak… wkwkwk
Sekilas aku liat harganya masih murah meriah itungannya mbak. Worth it banget si menurutku.
Jangan dipikirkan, Mbak April. Janji ada memnag untuk diingkari hahaha.
Dan sesuia namanya Bahasa Alam Cafe, ini tempatnya asyik sekali ya, mbak. anak-anak juga pasti senang ke sini. Ada playground juga mini zoo. Saya suka tuh, tempat makan yang di outdoor. unik sekali. Terus untuk harga segitu untuk 4 orang, sangat pas di hati dan kantong.
Bener siih, kalau denger namanya “Bahasa Alam”, bayangannya menunya tuh menu menu dari alam gitu (lha emang semua makanan kan dari alam yak, wkwkwk). Tapi lumayan lah ya rasanya terlihat enak, jadi bikin mau balik lagi lah walaupun tempatnya so so, ihihi.
Kayanya karena jarang ada keluarga yang main ke sini kali ya, jadi playground dan mini zoo-nya terlihat kurang terawat xp
Cukup ada banyak catatan yang harus di notice sama owner cafe ya. Terutama terkait pelayanan agar lebih sigap, kemudian area parkir yang agak kurang luas hingga mini zoo yang kurang terlihat hewannya.
Aku seneng nih sama Bahasa Alam Cafe di The Green, BSD City. Ada Playground, misal ajakin keponakan dia pasti happy. Menunya juga variatif dan terlihat menarik.
Cafe nya cakep banget ya mba April…nuansa alamnya kerasa cocoklah dengan nama Cafenya yaitu Bahasa Alam. Kalau masih punya anak kecil, mengajaknya kesini pasti betah karena bisa main -main juga, gak pengap di ruangan aja. Makanannya juga sepertinya enak-enak yaa….mantatp deh
Semua menu yang dipesan sangat menggoda mba April. Lama gak be liat maxy udah gede aja. Itu playground anakku suka banget pasti dan di luar juga dekorasinya bagus ya. Alam banget.
Sesuai konteksnya tempat ini dari foto yang disajikan menampilkan perpaduan alami yang hijau walaupun ditengah kota.
Karna namanya cafe alam mungkin lebih bagus lagi menyediakan menu-menu vegi juga kali ya Mbak. Manteb juga tempatnya ada carbonara tapi ada mie godog juga, lumayan lengkap. Bener si soal gercep bersihin dan nggak perlu kita yang harus suruh-suruh baru dbersihin, aku juga kadang sebel kalau kaya gitu, malah kadang sampe aku singkirin dan elap2 saking nggak diberes-beresin. Karena nuansa dan suasana sudah alami alangkah lebih bagus kalu ada minizoo itu ya dirawat dengan baik jadi karakter cafenya jadi lebih kuat dan menarik pengunjung terutama yang bawa anak. Ya, kali aja nanti ada event di BSD aku ajak misua ke sana hehe
Seger banget ya visualnya mbak. Meskipun di tengah kota konsepnya restoran Bahasa Alam ini unik banget.
aku suka curigation kalau lihat banyak pepohonan jangan2 adem gak eh sarang nyamuk iya. Tapi yg ini sepertinya enggak ya. Sayang banget hewan2nya gak terlihat di mini zoo. Jangan2 lagi pada ngambek krn bosen sm makanannya. wkwkwkwk. Untuk harga segitu di kawasan BSD , memang masih termasuk ok sih. Duh, sayang deh jauh, kalau lebih dekat jadi kepingin nyamperin.
Kenapa ya daerah BSD City tuh gak ada yang gagal buat dikunjungi
Aku jadi makin penasaran dong mau ke sana tapi nunggu kesepakatan bersama suami, haha
Soalnya aku pengen datang sendirian dulu sebelum bawa anak anak
Hmm… makan siang di tempat seperti ini kenangannya jadi lama
Dari foto-fotonya, tempatnya kelihatan nyaman banget ya buat kumpul keluarga! Konsep “bahasa alam” juga unik, serasa dekat sama alam tapi tetap bisa nikmatin kuliner enak..
Kafenya memang enakeun ya, Mbak. Suasananya seger karena banyak pepohonan. Kayaknya memang asyik kalau bisa makan di spot seperti telur itu, tapi kalau siang-sore keliatan panas, sih.
Eh, itu mini zoo gak ada hewannya atau lagi pada tidur di dalam rumahnya, kali ya hehehe
Wahh paling nggak bisa kalau pemandangannya udah hijau-hijau😆 kayaknya bisa seharian saya di sana memanjakan mata dengan kecantikan tempatnya, apalgi kids friendly ya ada tempat bermainnya.
Saya baru tau ada BSD lawas dan baru. Udah lama banget gak main ke BSD. Rsstonya termasuk child friendly, ya. Anak-anak bisa lebih senang karena ada tempat bermainnya
Dari semua menu diatas, aku paling tertarik dengan nasi besek. Paling demen sama konsep yg memanfaatkan kearifan lokal seperti daun/bambu,dan resep otentik
Kafé Bahasa Alam di BSD City kedengarannya seru banget! Aku suka konsep tempat makan yang ramah anak gitu, jadi bisa santai sambil kulineran tanpa khawatir. Pasti betah berlama-lama di sana, apalagi kalau makanannya enak dan suasananya mendukung. Apalagi harganya termasuk masih ramah dikantong
Saya menyoroti …camilan yang bisa dijadikan makan pembuka. Hihi … enak-enak sih bagiku. Aku suka nyemil semua yang disebutkan itu. Tapiii klo aku order camilan di situ berpotensi gak order makanan beratnya malahan. Kan camilannya udah mengenyangkan ituuu.
Ahahahaaa…menumpleknya…. Pilihan katanya kusuka nih, mirip2 aku klo pas nyari kosa kata yang bisa menggambarkan padanan kata. Kadang susah ya Pril, heheheee….
Suasananya asri banget tuh cafenya. Dirimu kayaknya kesel banget sama pegawainya perkara kursi wkwkwkk… Semoga aja servis mereka bisa diperbaiki lagi ya agar pengunjung enggak kecewa.
Penasaran deh foto mba dan paksu yang motret siapa? Bagus hasil jepretannya.
Ternyata ad Hot Vietnam Coffee. Aku suka pisan nih sama kopi yang satu ini. Udah gitu ada pisang goreng sama kentang goreng klop sangat. Beneran nyaman dan enak tempatnya pun. Cocok buat kulineran.
Saya banyak salfok dengan hasil jepretan kameranya. Bagus-bagus. Soal harga makanannya, jujur sih, terlalu tinggi untuk budget saya, xixixi, tapi kalau dilihat dari bentuk dan juga rasanya ya, sepertinya Worth It
insyaAllah bulan Nov aku ke barat lagiii.
mungkinnn mau nginep d Pamulang TangSel.
ntar aku request adekku biar makan² di mari.
keknya lejaaatttt
Restoran Sunda yang menunya beragam ya, kak. Ada kuliner Jawa dan Western juga.
Andai mini zoo beneran ada isinya, resto ini bakal recommended banget untuk keluarga muda.
Soal waiter yang ngeselin itu, elus dada aja mbak, semoga next time dia lebih baik lagi melayani.
Mungkin kelincinya sedang liburan, Kak. Lain kali kalau sudah selesai liburan, kelincinya pasti menempati kandangnya lagi. Hehehe…
Aku kok ya tergoda sama mie jowo sama nasi beseknya ya. Nggak tertarik sama menu western akutu. Hehehe
Kok lucyuuuu namanya Bahasa Alam. Anak senja bgt ya cyiinn…
Buatku semua makanan bisa jadi camilan atau lauk tergantung mood hahahaha.
Soal pelayan hehe iya kadang berharap mereka lebih gercep ketimbang nunggu dipanggil, tapi piring numpuk di meja tuh ya emang bikin risih sih.. kayak kurang leluasa jadinya.
Bagus banget cafenya, konsepnya juga natural gitu. Deket banget sebenernya dari rumah saya ini, saya di Melati Mas, tapi belum pernah sih liat cafe ini.
Cakep banget view cafenya
Bahasa Alam Cafe bisa kadi rekomendasi saat pengen ngafe di BSD City ya
Menarik sekali menu nasi besek
Ingat di surabaya ada juga yang yang menyajikan nasi besek
me-numplek sama menuang bisa menggantikan gak sie mbaa hahaha…emang yaa kdang susah memilih padu padan kata jawa indonesia ini 🙂
Dari depan sie cafe nya terlihat rimbun ya mbaa banyak pepohonan hijau mungkin itu yg bikin serasa kembali ke alam jadi namanya bahasa alam 🙂
Aku tu juga sering gak nyaman gt kalo tempat parkirnya berasa terbatas padahal cafenya besar ya tapi gak menyediakan tempat parkir yg proper jadi sayang aja kadang bikin customer yg liat parkiran penuh kan gak jadi mampir yaa,,,dan buat harga lumayan lah yaa setaraf BSD 🙂
Syahdu dan hijau banget suasana karena, kalau di kota melihat yang hijau-hijau tuh anugerah dan kemewahan banget yaa.. bikin betah nih buat nongkrong mana enak-enak menunya..
Namanya romantis banget: Bahasa Alam. Nahh enaknya kalau di sana sambil nunggu makanan jadi, anak-anak bisa main di playground atau lihat2 mini zoo. Sekalian cuci mata yaa.
Yang paling terlihat menggiurkan malah mie jawa. Nasi besek kelihatan akeh ya mbak, maregi.
Nyaman kafenya. Walaupun parkirnya kurang besar dan pelayanannya agak sedikit kurang ya.
Untuk makanan tampak enak dan harganya juga masih cukup wajar untuk daerah sana. Aku penasaran sama nasi beseknya.
Tempat ini cocok buat kumpul bareng teman atau keluarga.