Udah lama banget, Ya Allah, nggak bikin postingan kulineran. Padahal dulu setelah blog ini selesai diperbaiki udah janji pada diri sendiri buat update bergantian antara postingan parenting, kuliner, dan lain-lainnya. Yaaahh, begitulah, janji yang sering kita ingkari keknya janji ke diri sendiri ya? #uhuks 😛  . Yawda, deh, ketimbang jadi bad mood gara-gara self blame, mau coba alon-alon nulis. Kali ini, saya mau mulai dari kulineran awal Juni lalu saat makan siang di Bahasa Alam Cafe BSD City bersama keluarga, deh.

Bahasa Alam Cafe di The Green, BSD City.

Sebenarnya, kayaknya, nama lengkap cafe ini Bahasa Alam – Back to Nature Cafe, tetapi kayaknya “back to nature” ini mungkin cuma karena lokasinya yang dekat cukup banyak pepohonan ya, bukan karena menu makanannya. Soalnya, menu makanannya (yang akan saya bahas di akhir cerita) bukan yang ala vegan atau pakai bahan-bahan organik apalah, sih, melainkan mirip-mirip beberapa cafe atau resto sejenis.

Lokasi Bahasa Alam Cafe BSD City

BTW, yang tinggal di sekitaran BSD City ada yang sudah pernah maen ke Bahasa Alam Cafe ini? FYI, lokasinya bukan di BSD baru ya gengs, melainkan di BSD lawas dekat area Rawabuntu, tepatnya masuk di area perumahan The Green. Kalau dari arah Rawabuntu mau ke arah jalan tol atau ITC BSD biasanya sih bakal nglewatin perumahan ini.

Suasana cafe yang asri karena banyak pepohonan rindang.

Sebenarnya sudah lama banget saya pengen melipir ke Bahasa Alam Cafe ini. Waktu itu kayaknya setahun atau dua tahun lalu gitu, ngliat postingan video orang mengenai tempat makan ini di Tiktok. “Kok kayaknya asyik yaaa”, batin saya.

Gimana enggak, sesuai namanya “Bahasa Alam” di video, cafe ini banyak pemandangan ijo-ijonya gitu. Tampak banyak pepohonan rindang di sekitarnya. Mungkin juga karena lokasinya yang masuk ke area The Green, yang memang salah satu perumahan di BSD City yang menjanjikan ruang terbuka hijau yang cukup luas.

Alamat Bahasa Alam Cafe:
The Green, cluster Manhattan B7/17 BSD City, Cilenggang, Kec. Serpong, Kota Tangerang Selatan, Banten 15310

Lalu, nggak sekadar cafe, Bahasa Alam Cafe ini juga punya playground dan menjanjikan semacam mini zoo berupa kandang hewan kelinci gitu. Kebetulan saya ke sananya saat liburan long weekend, kan mayan banget kasi hiburan mata dan perut buat anak-anak, daripada di rumah aja.

Begitulah kira-kira, beberapa hal yang saya dapatkan dari video orang mengenai kondisi cafe, sehingga membuat saya tertarik datang ke sana. Eh, tapi tolong jangan nanya link video-nya ya, udah kelamaan jadi lupa. Mungkin bisa googling sendiri dengan kata kunci nama cafe-nya hehe.

Suasana cafe-nya

Saya kasi gambaran aja tentang gimana ambience cafe-nya, semoga bisa membayangkan 😀 .

Jadi, untuk menuju Bahasa Alam Cafe ini, teman-teman bisa masuk gerbang perumahan The Green yang mayan megah itu. Nanti, ikuti jalan saja sekitar 600 meteran. Letak cafe-nya ada di kanan jalan, sederetan dengan minimarket, resto-resto lain, dll, sehingga kalau dari arah gerbang perlu agak memutar dulu ya.

Area parkir di depan cafe.

Begitu sampai depan cafe, nanti akan terlihat dua bangunan yang terpisah, satu di tengah, satu lagi di kiri. Sementara di sebelah kanannya adalah halaman atau bagian outdoor cafe yang lumayan luas sih. Cuma sayangnya saya lihat buat parkiran masih kurang ya. Naruh kendaraannya di area depan, buat mobil paling hanya muat 2-3 mobil aja. Sisanya, parkir motor, saya lihat diletakkan di depan pintu masuk ke terasnya, jadi nggak parkir yang mendekati bangunan banget. Mungkin kalau cafe ini mau mengurangi kursi di terasnya, parkirnya bisa nambah kali ya?

Okey, lanjut langsung masuk ke dalam ya, saya mau menyoroti bagian outdoor-nya dahulu. Dari jalan raya utamanya The Green, area outdoor Bahasa Alam Cafe ini udah terpampang nyata #hallah. Pengunjung cafe akan disambut dengan mainan seperti ayunan, perosotan, dan jungkat-jungkit di playground.

Playground.

Kemudian di area tengah-tengah halaman itu ada beberapa bangku lengkap dengan mejanya. Ada pula di area agak ke pinggir tuh area makan di atas lantai dek kayu lengkap dengan kolam ikan di bawahnya. Di samping area dek kayu, ada mini zoo berupa kandang berundak yang konon katanya itu kandang kelinci dengan rumah-rumahan kecil, gitu. Sayangnya, ketika kami tengok, kok ndak ada tanda-tanda ada hewan sama sekali. Apa lagi tidur atau gimana?

Mini zoo yang nggak tau deh hewannya ke mana.

Ada pula spot makan terbaru mereka yang bentuknya seperti telur dari rotan gitu. Tadinya naksir pengen makan di sana, tetapi karena kami datangnya siang ke sore, area ini ternyata puanaaass, saudara-saudara. Meski ada pepohonan, tetapi tetep kesorot sinar matahari (agak) sore. So, nggak jadi. Kami pilih makan di indoor, aja. Kayaknya kalau makan di area telur ini cocoknya pagi atau malam saat udah ademan.

Tempat makan di bagian luar.

Sebelum masuk ke area indoor, ada satu lagi area semi terbuka yang nempel bagian utamanya. Ada beberapa table di sini. Kayaknya dikhususkan buat mereka yang merokok ya, karena saya lihat asbak. Bagi saya sih big no makan di area sini hehe.

Lalu, kami masuk ke dalam, ke ruangan yang ada AC-nya, ternyata sudah full. Kalau tak keliru tersedia 7 atau 8 set meja gitu di area sini. Yawda, akhirnya kami memesan makanan ke counter yang sekaligus juga kasir. Abis itu keluar lagi, menuju ke area tertutup di sebelah bangunan yang ada AC-nya itu.

Nah, untuk bangunan kedua ini, nggak ada AC-nya, tetapi ada kipas angin dan colokan listrik di beberapa spot. Ada 2 meja besar melingkar dan 2 meja bergaya lesehan. Oh ya, di bagian depan bangunan ini juga ada beberapa meja, sih. Akhirnya kami pilih salah satu meja melingkar, aja.

Awalnya kami duduk di bangunan sebelah sini sebelum pindah ke sebelah.

Waktu itu di bangunan cafe yang itu hanya ada keluarga saya dan satu rombongan bapack-bapack dan ibuk-ibuk yang sudah cukup senior lagi kumpul-kumpul di meja lesehan. Mungkin mereka lagi reunion atau gimana.

Baru beberapa menit duduk, saya lihat ada rombongan yang keluar dari bangunan utama yang ber-AC tadi. Saya pun cepat-cepat ke dalam buat ngetag tempat. Eh, ternyata di depan counter ada dua pasangan yang nyari tempat juga.

Cuma saya lihat kok kayaknya mereka berempat akrab gitu, lho. Artinya saling kenal kan? Sementara ada dua meja yang kosong. Saya berpikir mereka satu rombongan dan bakal satu meja.

Area makan di teras.

Saya tanya ke mas pelayannya, apa bisa saya pakai salah satu mejanya. Eh, kata masnya udah dipesan sama kedua couple tadi. Saya mengernyit, bergumam dalam hati, “Masa sih, wong kayaknya mereka saling kenal, gitu, kok, kemungkinan bakal pakai satu meja isi empat kursi, lha.”

Tapi, yawdalah, akhirnya saya balik lagi ke bangunan cafe sebelah. Tak lama setelah saya duduk, ternyata ada satu rombongan lagi keluar. Yaaa, saya cepat-cepat masuk, donk. Mumpung makanan belum datang ke meja kami.

Saya bilang ke masnya kalau saya akan duduk di situ, sambil melirik meja yang saya incer tadi. Eh, beneran, deh. Dua pasangan yang papasan di counter tadi cuma pakai satu meja. Sementara satu meja lagi nganggur.

Bagian dalam bangunan yang ber-AC. Itu sebelah kiri keliatan meja kosong yang saya incer 😛 .

Jujurly, agak gondok sih yaaa. Maksud saya kan kalau si masnya tadi tahu kalau meja itu tidak jadi diduduki kan bisa manggil saya ya, nawarin ke saya, gitu? #ngarep 😛 Mau pindah ke meja kosong itu tapi keliatannya belum diberesin. Trus,  meja yang saya taksir tadi tuh bentuknya meja makan, sementara yang saya duduki tuh kek set meja ruang tamu jadul gitu, lho, yang mana tinggi mejanya sejajar dengan kursi, sehingga kurang nyaman buat makan.

Mau pindah lagi, udah males ngomong sama masnya. Weslah, alhamdulillah, masih rezeki saya dan keluarga bisa duduk di dalam. Meski demikian AC di dalam juga nggak dingin-dingin amat buat ukuran cafe itu ya.

Begitulah kira-kira gambaran cafe-nya. Soal ketersediaan toilet sih katanya ada, ya. Tapi baca di review Google, kurang OK. Kalau mushola, entahlah, waktu itu datangnya tidak pas waktu sholat sih jadi saya tidak bertanya.

Makanan yang disajikan Bahasa Alam Cafe

Okey, lanjut bahas makanannya yaaa.

Waktu itu saya diberi dua buku menu. Sekilas saya baca “judulnya” dua buku menu itu punya nama dua resto yang berbeda. Buku pertama namanya Bahasa Alam Cafe itu, satu lagi lupa namanya mengandung “saung-saung” gitu, kayak nama restoran Sunda. Kalau saya tebak kemungkinan dulu cafe ini yang ada di bangunan tengahnya doank, lalu ada resto Sunda di samping kali ya? #sokteu. Cuma sekarang mereka cuma pakai satu brand Bahasa Alam Cafe ini aja kayaknya.

Anak-anak menikmati makanannya.

Untuk menu makanan utama di buku yang dulu kemungkinan resto Sunda itu, mereka ada makanan khas Sunda, seperti gado-gado, nasi pecel, sayur asem, ada pula nasi besek. Untuk nasi besek ini pada intinya ada nasi, sayur, lalu pilihan lauk seperti ikan cakalang suir, empal suir, cumi asin, juga ayam suir.

Ada pula aneka jenis sayuran tumisan, seperti tumis kecipir, tumis jantung pisang, tumis buncis jagung manis, tumis kangkong, dll. Tersedia pula aneka masakan ayam, cumi, ikan. Harga per menu untuk sayur tuh rata-rata kurang dari Rp30000,-an, sedangkan untuk lauknya sekitar Rp.50000,-an. Untuk sekelas resto di area BSD City, menurut saya harga segini masih lumayan ramah kantong.

Mereka juga punya camilan atau bisa juga dijadikan makanan pembuka berupa tempe mendoan, cireng, ubi goreng, bubur kacang ijo, pisang goreng, siomay, tahu udang kipas, dll. Harganya berkisar antara Rp20000,-an hingga Rp40000,-an.

Pasta carbonara.

Kemudian, di buku menu yang emang judulnya Bahasa Alam Cafe menu utamanya lebih ke western, seperti pasta dan semacam steak dari daging, ikan, dilengkapi kentang goreng. Harganya per menu nggak lebih dari Rp.50000,-an.

Untuk snack-nya ada roti bakar,  toast, sosis gulung, kentang goreng,  risoles, siomay, dll. Harga per porsi sekitar Rp22000,-an. Kalau buat minumannya ada kopi dan non kopi. Kayaknya nggak perlu saya sebutin satu-satu deh yaaa 😀 .

Minuman yang kami pesan.

Lanjuuutt…

Waktu itu, saya dan keluarga memesan beberapa makanan antara lain:

  • Saya: nasi besek cumi dan es jeruk.
  • Bapake: mie godog jawa (kayaknya nyempil di menu yang resto Sunda) dan vietnam coffe yang panas.
  • Anak pertama (Maxy): pasta carbonara dan es milo.
  • Anak kedua (Dema): pasta Bolognese dan es milo.
  • Ambil seplastik emping di meja kasir.
  • Abis makan pesan pisang goreng dan kentang goreng, masing-masing seporsi.
Nasi besek yang sudah saya keluarkan dari beseknya.

Untuk nasi besek, literally disuguhkan di dalam besek yang di dalamnya dialasi daun pisang. Isinya nasi putih, sambal goreng ati, orek tempe, cumi pedas cabe ijo (sesuai request), sambal, dan sayur tumis buncis jagung.

Awalnya terlihat porsinya sedikit mungkin karena masuk besek, jadi terlihat imut ya. Karena menurut saya agak suseh makan di besek, saya lalu menumpleknya (apa Bahasa Indonesianya “menumplek”? 😛 ) isinya ke piring. Eh, ternyata banyak lho porsinya. Nasinya emang dibikin padet di besek.

Untuk sayurannya juga pelengkap lauk lainnya dimasak dengan baik. Terutama sayurannya, nggak lembek, masih krenyes-krenyes, sedap rasanya. Untuk cuminya, harapannya bisa lebih diperbanyak lagi, hehe.

Lalu, sambalnya mantab. Sebagai orang yang suka pedas dan nggak bisa makan kalau nggak pedas, saya acungi jempol.

Pasta bolognese.

Buat masakan pastanya, porsinya juga tidak pelit. Kedua pasta tersebut saus dan toppingannya melimpah. Anak-anak saya happy, hehe. Untuk pasta bolognesenya juga cocok sama lidah anak-anak karena tak terlalu pedas sausnya.

Lalu, bakmi jowonya disajikan dalam kondisi masih panas dengan emping. Rasanya sih cukup terasa ya rempahnya. Sayurannya lumayan banyak, mienya cukup oke matengnya, tidak lembek.

Bakmi jowo.

Buat rasa minuman yang kami pesan, yaaa, so so, gitu. Khusus buat kopinya, lumayan terasa bikin melek, sih.

Hot vietnam coffee.

Untuk kentang goreng dan pisang gorengnya dengan harga segitu, lumayan porsinya. Buat rasa sebenarnya masih approved, cuma ngarep pisangnya bisa lebih matang dan lebih manis lagi.

Camilan pisang goreng dan kentang goreng.

Untuk semua makanan dan minuman yang kami nikmati hari itu kami membayar total semua Rp275000,-00. Buat ukuran BSD lumayan banget, ituuu.

Kesimpulan

Secara umum, menurut saya, menu makanan di Bahasa Alam Cafe BSD City ini sangat memanjakan lidah dan perut. Harganya juga bersahabat.

Untuk tempatnya, mungkin bisa diperbaiki dengan menambah ruangan ber-AC, apalagi cafe ini tampak cocok buat makan keluarga. AC-nya kalau bisa lebih didinginkan lagi.

Lalu, kalau bisa kandangnya diisi kelinci dan dilakukan perawatan berkala. Biar anak-anak ke sana bisa lihat kelinci dan kasi makan juga.

Untuk playground-nya udah oke. Sedikit saran semoga yang dekat playground bisa diberi tanda larangan merokok, sehingga nggak ada pengunjung yang cuek merokok dekat anak-anak yang mungkin bermain.

Soal parkir, hmmm, kalau full, mungkin bisa parkir di area ruko lainnya yang tampaknya dekat cafe ini kali ya?

Cukup puas makan di sini.

Lalu, saya menyoroti mbak mas pelayannya. Mungkin lebih sigap lagi, kalau ada tamu bertanya soal kursi. Lalu, kalau misalnya melihat ada piring kosong saya harap mereka bisa menawari untuk mengambil piring tersebut, jangan menunggu tamu bertanya dahulu “Bisa minta tolong diberesin nggak, mbak/ mas?” Pengunjung akan seneng gitu, kalau mereka lebih berinisiatif.

Kalau ditanya apakah saya akan ke sana lagi? Oh ya, jelas, cafe ini menarik, kok, buat kumpul-kumpul keluarga maupun sama geng arisan #uhuks.

Itulah teman-teman sedikit cerita makan siang saya sekeluarga di Bahasa Alam Cafe BSD City dan review ala-alanya. Semoga bermanfaat buat teman-teman yang nyari kulineran seputar BSD City ya.

April Hamsa

Categorized in: