Yeaaahh, mendadak Blok M. Soalnya, kalau di-planning biasanya malah nggak jadi haha 😛 .
FYI, saya tuh sebenarnya tipe orang rumahan yang kalau nggak bener-bener perlu, males keluar rumah. Beda dengan suami dan anak-anak saya yang sering ngeluh, “Bosen di rumah mulu”, rrrrhh. Makanya, pas beberapa waktu lalu ada long wiken, saya maunya di rumah aja, dah, eh, pada pengen keluar rumah. Akhirnya, hari terakhir long wiken jadi deh kami sekeluarga mendadak OTW Blok M.
Itupun kami berangkatnya udah siang banget, selepas sholat Dhuhur dan makan siang, xixixi. Satu lagi, siang itu awannya pundung plus hujan mulai rintik.
Namun, karena mood emaknya (baca: saya 😛 ) lagi bagus, yawda GASSS, BUDHAL!!!
Kami ke Blok M-nya naik commuter line (KRL) turun di Stasiun Kebayoran Lama, kemudian lanjut jalan kaki melalui Skywalk Kebayoran Lama yang sering dijuluki “jembatan sirotol mustaqim” oleh orang-orang 😛 .

Skywalk Kebayoran.
BTW, sebenarnya jembatan ini tuh nggak panjang-panjang amat, sih. Gugling-gugling katanya nggak sampai 500 meter jaraknya dari ujung ke ujung. Cumaaan, mungkin karena lantai jembatannya tidak datar, ada naik turunnya. Ini kayaknya yang bikin capek.

Suasana skywalk.
Sampai ujung jembatan, kami turun ke bawah buat memesan kendaraan online. Eh, lha ndalah, hujan deres, donk, wkwk. Mana deket tempat kami menunggu ada penjual gorengan. Ya ampun, menggoda syekaleee 😀 .
Untungnya, nggak pakai lama, mobil yang kami pesan datang. Alhamdulillahnya lagi Ya Allah, dari skywalk ke Blok M jalanan lancar, walau ada genangan dikit. Justru macetnya malah di dalam kawasan Blok M-nya. Andai tidak hujan mungkin kami minta diturunkan di gerbang saja. Untungnya driver-nya baik dan menawarkan mau langsung nganter depan Gramedia Jalma persis.
Cendol di Gramedia Jalma
Yes, tujuan utama kami hari itu emang Gramedia Jalma. Dengan harapan hujan-hujan gini plus udah long wiken, mungkiiiiinnn, nggak terlalu banyak pengunjung. Eh, ya, tibake sik akeh wae pengunjungeeee, wkwk. Cendol-cendol, deh. Ramai tapi masih mayan lha bisa gerak 😛 .

Gramedia Jalma di kawasan Blok M.
Begitu masuk, batin saya, “Kok kecil ya Gramedianya?” Ternyata, kudu masuk ke dalam semacam Lorong di mana kanan kiri lorong adalah ruangan-ruangan yang disekat, gitu. Di ujung lorong baru, deh, Gramedianya terlihat lebih legaan.
Isinya yaaa sepanjang dinding adalah rak buku. Bedanya, interiornya cakep, bikin pengunjung betah nongkrong. Gramedia ini menyediakan banyak bangku, bahkan meja lengkap dengan colokan.


Bisa membaca buku dan buka laptop di sini.
Mereka yang duduk-duduk di bangku tersebut juga bisa membaca buku-buku yang disediakan untuk dibaca pengunjung. Ada rak khusus buat buku-buku ini. Jadi, yang mereka baca bukan buku baru ya, kan nggak boleh nyobek sampul plastik buku-buku yang dijual (kecuali izin), hehe.

Buku-buku yang ada di sini boleh dibaca di tempat.
Lalu, di bagian belakang ada kafe yang terkoneksi dengan Gramedia itu. Saya lupa nama kafenya, karena nggak minat masuk juga, karena full, keliatan dari kaca jendela.

Area buku anak.
Di tengah-tengah ruangan Gramedia yang luas tadi, terdapat semacam jembatan penghubung yang menghubungkan lantai yang agak rendah dengan ruang yang penuh bangku/ meja tadi yang levelling-nya lebih tinggi. Jembatan ini dihias dengan bunga-bunga artisan yang sepertinya berbentuk bunga Sakura, sehingga menambah semarak dekorasinya. Banyak orang saya lihat berfoto-foto di sini. Tapi, waktu itu saya nggak mood berpose di sana, haha.

Jembatan dengan bunga-bunga artisan.
Palingan setelah memilih buku, saya ngajakin anak-anak dan bapake berfoto di depan cermin cembung, apa to namane, yang biasa ada di prapatan jalan itu, lho? Convex mirror?
Di Gramedia itu soalnya tersedia beberapa cermin cembung. Banyak yang selfie-selfie gemes di depan cermin itu juga.
Memang, dari segi interior, Gramedia Jalma ini asyik banget buat pepotoan. Di ruang-ruang bersekat yang tadi saya ceritakan, dekorasinya juga menarik.

Pepotoan dulu.
Satu lagi yang tak kalah menarik perhatian adalah spot papan harapan. Jadi di sana disediakan sticky notes yang boleh bebas ditulisin apa saja. Kalau saya baca sih rata-rata menuliskan keinginan dan impian-impiannya. Di antara kami berempat cuma anak saya Dema doank yang nulis, haha. Tadinya saya mau menulis “Semoga rezim sekarang segera tumbang” wkwkwk 😛 , tapi wurung, hahahahahaha. Dahlah, emaknya nulis impian dan cita-cita pas tahajud wae #uhuks #benerinsarung 😛 .

Papan harapan.
BTW, ngobrolin tentang tulis-menulis, di Gramedia Jalma ini ternyata ada tukang bikin puisi dengan mesin ketik jadul, lho. Awalnya, ketika kami masuk toko, nih orangnya tidak ada di lokasi, sehingga saya pikir mesin ketiknya hanya bagian dari interior toko saja. Ternyata, saat saya masuk ke dalam salah satu area koleksi buku, di sebelahnya ada mbak-mbak lagi curhat, trus ada mas-mas di depan mesin ketik tadi sedang mendengarkan mbaknya, sembari sesekali nanya-nanya.

Area lorong.
Setelah mbaknya curhat, sepertinya masnya mengetik sesuatu pakai mesin ketik tadi. Ternyata, hasilnya adalah puisi berdasarkan kisah curhatan tadi.
Saya nggak tahu jasa bikin puisi itu free atau berbayar, karena nggak ada keterangannya juga di area mesin ketik itu, saya juga males nanya, hihihi 😛 .
Puas melihat-lihat seisi Gramedia Jalma dan memilih beberapa buku untuk dibawa pulang, kami pun keluar toko buku itu.
Makan sore di Pujasera Blok M
Namun, kami tak langsung pulang, donk. Kondisinya juga masih gerimis, apalagi keknya belum ke Blok M rasanya kalau belum kulineran di sana, yekan? 😀
Tadinya, saya tuh kepengennya ke tempat kekinian yang sering disebut-sebut orang sebagai M Bloc itu, lho. Cuma, saya tidak tahu ini tuh di mana. Katanya di sana banyak kafe-kafe kekinian, gitu. Ya nggak, sih?
Yaweslah, karena hujan juga, saya memutuskan untuk masuk area yang kami kenal saja, yakni Pasaraya Blok M. Lokasinya persis di seberang Gramedia Jalma, jadi tinggal nyeberang aja.
Buat saya dan keluarga ini bukan pertama kalinya kami masuk pasaraya ini. Saya sendiri sepertinya udah 3-4 kali keknya ke sana. Kalau buat anak-anak udah dua kali ini. Dulu pertama kali mereka saya ajak ke sini buat nyari buku-buku bekas yang ada lapaknya di sana (masih satu lantai dengan pujasera).

Kedai Rukun Yakarta.
Saya kemudian ngide buat ngajakin suami dan anak-anak makan di pujasera Blok M saja di area bawah (kalau nggak keliru pokoknya turun tangga dua kali dari area terasnya pujasera), buat makan di Kedai Rukun Yakarta. Dulu saya pernah kulineran di sana bareng teman-teman blogger Depok. Sepertinya belum sempat saya review, keburu ilang dokumentasinya dari HP saya haha 😛 . Yawda, makan sekaligus pepotoan lagi.

Waktu ke sana dengan teman-teman blogger Depok.
Awalnya saya lupa-lupa ingat di mana lokasi kedainya. Ingatnya cuma dekat salah pintu masuk pujasera (ada beberapa pintu) dan di dekat pintu itu ada tabung pemadam kebakaran dicantolin. Tapi kok nggak nemu-nemu ya.
Kami pun muter-muter dari satu kedai ke kedai lain yang emang banyak di sana. Udah hampir menyerah buat nyari, dahlah makan di tempat lain aja, eh, ternyata kata suami dan anak-anak, kami udah muterin lokasi itu dua kali, wkwk. Mata nih meleng ke mana aja, sih? Kok nggak nyadar kalau dah dilewati 😛 .
Suasana bangku-bangku depan kedai itu cukup ramai, tetapi masih ada meja kosong yang bisa kami tempati. Untuk order-nya bisa langsung ke kedainya, lalu nanti makanan akan diantar ke meja, dan konsepnya bayar belakangan.
Makan bareng keluarga.
Saya kemudian memesan beberapa makanan yaitu garang asem, mangut lele, oseng mercon, tempe goreng, dan empat nasi. Buat minumnya sebenarnya saya kepengen banget es tapenya, tapi sayangnya katanya sedang nggak dijual.
Dulu waktu ke sana sama teman-teman blogger Depok saya pernah order es tape itu. Rasanya enak, nggak terlalu manis.
Karena minuman yang saya cari tidak ada akhirnya saya ambil dua botol air mineral saja. Sementara suami saya membeli es pisang ijo dari kedai yang tak jauh dari sana.
Dulu, awal-awal pujasera ini ngehits, Kedai Rukun Yakarta ini termasuk salah satu resto yang viral. Makanan yang paling terkenal katanya dadar kriwilnya atau apa gitu dan garang asemnya. Cuma hari itu saya nggak memesan telurnya.
Garang asamnya ini segar, gurih, dan mayan comforting dimakan di cuaca hujan-hujan. Isinya dua potongan besar sayap ayam dengan kuah santan yang cenderung encer. Ada potongan tomat hujau dan belimbing wuluh juga yang memberikan rasa asem segar. Rasanya nggak terlalu pedes, sehingga aman dimakan anak-anak.

Garang asem.
Mangut lelenya ini merupakan hidangan satu ekor lele dengan ukuran yang lumayan gede disajikan dengan santan yang juga encer. Rasanya gurih, pedas, tetapi pedasnya bukan yang nyegrak gitu. Pas saja kok rasanya. Anak saya, Maxy, suka banget makanan ini. Kebetulan dia juga penyuka pedas.

Mangut lele.
Untuk oseng merconnya, ini tuh sepertinya daging sapi yang ditumis dengan bumbu pedas. Tekstur dagingnya empuk, sehingga tidak susah dikunyag. Bumbunya juga meresap ke dagingnya. Walaupun pedas, tetapi lagi-lagi levelnya nggak sampai menutupi rasa gurih rempahnya.

Oseng mercon.
Lalu, tempe gorengnya, saya lupa dapat dua atau tiga potongan tempe yang digoreng tepung dengan ukuran yang lumayan gedhe. Sayangnya, hari itu tempenya kurang hangat. Mungkin karena datang kesorean kali ya?

Tempe goreng.
Terakhir, es pisang ijonya, awalnya saya curiga bakal manis banget. Nggak minat makan juga, karena sedang mengurangi makanan manis. Ternyata, setelah nyobain dikit, manisnya cukup OK. Pisang ijonya juga ukuran porsinya cukup gedhe, dahlah menyang, deh hehe.

Es pisang ijo.
Saya lupa es pisang ijo ini harganya berapa, karena suami yang ngide beli sendiri haha. Namun, kalau untuk makanan dan minuman di Kedai Rukun Yogyakarta, kami membayar Rp109.000 untuk semua makanan dan air mineral tadi.

Tempat beli es pisang ijo.
Lho, kok murah? Biasanya kami makan berempat tuh minimal banget habis 200 ribuan. Saya sampai menyebutkan ulang pesanan saya apa saja ke masnya, khawatir masnya salah ngitung, kata masnya tetep harga yang dibayar segitu, hehe.
Pasalnya, beda dengan dulu, sekarang tuh di kedai itu nggak dicantumin harga makanannya. Saya pede aja makan di sana, karena udah pernah kan? Nah, pas bayar itu saya kelupaan minta copyan struk karena udah sore banget, mana belum sholat Ashar 😀 .
Melihat Kabah di sore hari yang mendung
Waktu itu keknya udah hampir jam 5 sore, kami buru-buru mencari masjidnya. Denger-denger masjid di sana yang namanya Masjid Nurul Iman tuh suka ngadain kajian-kajian ngundang ustad-ustad terkenal. Peminatnya juga membludak, gitu. Sampai kadang katanya tidak kebagian tempat duduk. Sore itu sih nggak ada kajian, sehingga relatif sepi.
Masjid Nurul Iman ini berada di lantai 7 pasaraya. Kalau mau ke sana ternyata naik ke lantai 5 dulu, lift-nya mentok sampai lantai itu, lalu lanjut ke lantai 7-nya pakai elevator.
Sampai di lantai yang dituju, nanti kita akan menemukan tangga menuju ke masjid. Setelah naik tangga, masyaAllah ngimpi apa, kami langsung melihat Kabah 😀 . Maksudnya, di sana ada miniatur Kabah. Ternyata masjid ini sering dijadikan sebagai tempat latihan manasik oleh orang-orang.

Tempat buat latihan manasik haji.
Yaaa, semoga nanti bisa lihat Kabah beneran Ya Allah. Aaminin duluuu 😀 .
Masjid ini memisahkan tempat sholat jamaah cowok dan cewek. Kalau cowok ada di sebelah kiri miniatur Kabah tadi, sedangkan cewek di sebelah kanannya.
Lha, kalau sholat berjamaah gimana?
Kalau sholat jamaah, di bagian tempat sholat cewek ada layar segede gaban yang merekam imam pemimpin sholat dari ruangan cowok.

Vibesnya kek masjid-masjid di Tanah Suci yaaa :D .
Masjidnya adem banget AC-nya. Beberapa ornament dirancang menyerupai masjid-masjid di Makkah dan Madinah. Dominasi warna putih emas, dengan pilar-pilar ikonik yang sering kita lihat di gambar-gambar masjid di tanah suci gitu.
Tempat wudhunya resik, airnya melimpah, adem. Nyaman, deh. Lalu, di sepanjang lorong area jamaah cewek ada beberapa orang berjualan aksesoris muslim juga jajanan.
Pulang dari Blok M
Setelah sholat Ashar, kami pun keluar dari pasaraya. Tadinya mau cari jajanan apa gitu. Nemunya toko donat viral, sayangnya saya lihat sepertinya di etalase kayak udah banyak yang habis. Apa masih manggang/ goreng lagi, entahlah, karena suasana juga crowded kami memutuskan pulang saja.
Kali ini kami nggak naik mobil langsung ke Stasiun Kebayoran, melainkan mau naik MRT saja. Planningnya bisa naik KRL dari Stasiun Tanah Abang supaya dapat kursi buat duduk sejak awal keberangkatan. Plus, bisa numpang Maghriban di Stasiun MRT Dukuh Atas atau Stasiun KRL Tanah Abang yang musholanya lebih nyaman.

Kawasan Blok M dilihat dari Stasiun MRT.
Kami pun berjalan menyusuri trotoar yang ramai dengan orang, terutama anak-anak muda. Sayangnya, sepanjang jalan, ada aja orang ngebul alias merokok atau ngevape. Menjadikan kawasan ini kurang ramah keluarga huhu.
Apalagi parkir mobil dan motor yang semrawut, weleeehh. Menurut saya kawasan Blok M ini akan lebih potensial kalau lebih diatur lagi. Apalagi, kayaknya wisatawan asing, kayak orang-orang Malaysia, bahkan beberapa kali saya dengar artis-artis Korea, juga suka main ke Blok M. Kayak sayang aja gitu, tempat yang begitu potensial menjadi ikon Jakarta masih kurang tertata.

Semoga di masa mendatang Blok M bisa ditata lebih bagus lagi.
Mungkin bisa dimulai dengan menyediakan parkir kendaraan yang lebih proper kali ya? Trus, trotoar yang rusak diperbaiki, jadi nggak belang bentong, sehingga kalau hujan banyak genangan dan nggak ramah pejalan kaki. Kalau perlu ada larangan merokok juga lebih oke, tuh. Yaweslah, selebihnya biar pemkot DKI saja yang mikir hahaha 😛 .
Harapan saya sebagai rakyat jelata sih semoga ikon jalan-jalannya orang Jakarta sejak dulu kala ini makin bagus dari masa ke masa 😀 .
Adakah teman-teman yang suka main ke Blok M juga? Share pengalamanmu ya 😀 .
April Hamsa


Wah asyik ya di kota.. salam dari desa
Salam kembali, saya juga tinggal Kabupaten pinggiran 😀
Seru juga ya mba jalan jalan di blok M jadi kangen ke Jakarta. Gramedianya seru banget tempatnya
Kelilingan Blok M yang bikin happy, walau hujan sempat mendera, dan pengunjung yang cukup ramai di Gramedia Jalma tapi tidak menyurutkan langkah hati untuk kulineran mesra di Blok M.
Ciamik itu mangut lele-nya, udah kebayang itu kayaknya pedas, kelihatan dari kuahnya. Eh beneran pedas ya memang, dan Maxi pun menyukai masakan pedas.
Keknya memang bagusnya begitu kunjungan ke Blok M beneran mengitari semuanya biar lebih puas
Kalau lelenya pedes tetapi bukan yang nusuk banget jika dibandingkan oseng merconnya 😀
Iya nih sayang kemarin hujan jadi tidak banyak yang dieksplore.
Aku cuma pernah ke Blok M Plaza mbak. Itu pun sekali doang pas sempat beberapa bulan tinggal di Jakarta.
Gramedia Jelma ini emang lagi hits ya. Gara-gara interiornya yang estetik.
Pasayara Blok M juga pernah dengar. Ada pujasera dan masjidnya juga ya. Interior masjidnya terinspirasi Masjid Nabawi kayanya.
Kalau jalan, trotoar dan parkir semrawut, kayanya masalah di banyak kota di Indonesia ya. Nyebelin.
Plaza dan pasaraya ini dipisahkan sama Stasiun MRT, mbak 😀
Iya Gramedia Jalma lagi heits karena interiornya cakep dan nyaman buat kongkow2.
Iya nih semoga bisa lebih ditata, sehingga makin banyak wisatawan yang datang juga 😀
Aku termasuk salah satu orang yang bahagia dengan hidupnya kembali area Blok. Setelah pernah mati suri. Dan ingat banget MRT membawa kembali nyawanya Blok M. Sampai aku yang dari Chase plaza Sudirman bisa makan siang kesana.
Walau memang ya, masih banyak PR pemerintah untuk bikin Blok lebih cantik lagi. Seperti yang dirimu beri catatan itu. Amin yang tertinggi buat semua harapanmu atas Blok M.
Anw itu makanannya semua bikin ngiler loh, apalagi si manggut. Dan ceritamu ini bikin ingin menghabiskan waktu seharian lagi ke Blok M sendiri. Terutama mau nikmati toko buku gramedia.
Wah iya mbak, dulu zaman anak2 latihan Pramuka di GBK kami juga pernah makan siangnya ke Plaza Blok M naik MRT 😀
Iya mbak moga2 ya nanti parkirnya bisa diatur lagi atau pengunjung diarahkan naik transum.
Ayok mbak, banyak jajanan enak di sana. Kalau mau nyari buku selain Gramedia juga ada toko buku bekas di area bawah pasarayanya.
samapun mba April, saya tim yang senang di rumah alias anak rumahan, keluar rumah hanya untuk hal-hal penting selebihnya rebahan hehe, btw ngomongin soal Blok M ini, saya sering banget bolak balik ke Blok M tapi belum mengunjungi semuanya, jika berkunjung ke tempat itu lagi-itu lagi, sekarnag tempat ini makin ramai dan makin banyak spot kulineran, apalagi setelah MRT hadir makin hidup dan asik buat hangout bareng teman atau keluarga, asal jangan pas weekend saja, ramai sekali
Daku pun juga mbak Mei, belum yang bisa full eksplor Blok M. Padahal banyak yang bisa dilihat, bisa belanja happy, jajan yang mengenyangkan sambil ada toko buku yang gereget.
Kyknya kapan2 perlu nih wisata Blok M 😀
Wah, itinerary-nya bisa ditiru nih, Mbak, hehehe. Seru banget ternyata kalau bisa seharian di sana. Pertama ke sana sama keluarga tuh liburan kenaikan kelas dan belum ke sana lagi, waktu itu juga merasa kurang maksimal. Banyak waktu yang agak disayangkan berlalu begitu saja, termasuk sempat nyasar waktu mau ke Gramedianyadan cari parkiran, huhuhu.
Idem mbak Mei aku juga belum tuntas ini kelilingnya, baru ke situ aja hehe
Kalau yang dadakan justru malah sukses, Mbake April. Kalau yang direncanakan jauh-jauh hari, pasti gagal maning.. gagal maning hahhas. Dan Blok M sekarang makin ciamik Mbak. Termasuk magnetnya adalah Gramedia Jalma itu. Tempatnya memang seasyik itu. Terus tempat kuliner juga semakin banyak dan beragam. Jadi terbukti hujan bukan penghalang pergi jalan-jalan ya Mbak hehehe
Iya bener pak.
Blok M makin jadi jujugan wisata karena banyak hal menarik di sana ya. Kalau bisa ditata lebih baik, pasti banyak orang gak kapok akan kembali lagi ke sana 😀
Wah akhirnya ke Blok M juga ngga pakai ikutan trip hihi aku sama anak-anak ke sana pakai Trans Jakarta naik di Botani lumayan juga aku ke Jalma, terus lihat pakaian thrifting, sama kios buku dan pernak-pernik lucuu.. makannya di area pujasera mal murmer..
Enak pokoknya sekarang kalau org Bogor ke Blok M 😀
wah cakep banget gramedia-nya ada pojok membaca jadinya pengunjung bisa baca blurb dulu sebelum beli bukunya. dan lucu banget itu ada tukang puisi juga jago banget ya kayaknya beliau ini. Soal makanannya juga aku kaget nih bayarnya cuma segitu dengan menu yang kelihatannya enak-enak banget.
Bahkan bukan pojok nih jatuhnya, area baca haha, karena emang gede.
Makanya aku sampai ulang dua kali, apa masnya keliru, atau dapat diskon karena udah sore, au deh 😀
Wah seru banget nih bisa main ke Blok M bareng keluarga. Aku kapan ya terakhir ke sana? Wow, ada kayaknya belasan tahun lalu. Wkwkwkk… Dulu pun sama temen. Banyak berubah pastinya Blok M ini dari saat terakhir aku ke sana. Hahaha ya iya atuh. Kangen eung maen ke ibukota. Bawa anak2 juga. Dan pasti, yang dituju salah satunya juga adalah toko buku. ?
Iya mbak, kata orang asli Jakarta banyak berubah 😀
Kenapaaaa aku baru nemu tulisan ini pas udah balik Bandunggg.. huhuhu.. akhir Desember lalu tuh aku nyasar (yang disengaja) ke Blok M. Setelah malas turun dari TJ karena tujuan awal udah kelewat haltenya. Ngang ngong ga tau mau ngapain, akhirnya cuma liat liat, jajan es trus pulang lagi. Hiks..
Gimana ceritanya tu? hehe
Kudu masuk mbak cobain kulinerannya 😀
Gak tau awalnya gimana. kayanya semua rada ngelamun juga. nyari halte yang paling deket ke HI awalnya.. eh tiba tiba udah jauh aja kelewatnya.. trus akhirnya sepakat nunggu mood turunya dari TJ. akhirnya malah sampe abis wkwkwkwk
Impiaankuu.. ikut kajian di Masjid Nurul Iman..
MashaAllah..
Aku bahkan uda follow channelnya masjid Nurul Iman.. bismillah, semoga bisa hadir ke Kajian Ustadz Khalid, Ustadz Nuzul Dzikri jugaa..
Kemarin malem akhirnya aku ke Blok M loo, Pril…
Hhihi.. dan karena uda kemaleman, jadi menikmati kuliner malamnya ajaa.. ramee pissaan.. mashaAllah..
Sampek tengah malem pun..
Sayangnya si Gramed ini uda tutup.
Huhuhu..
Wah ada channelnya ya? Ok nanti aku cek ah thx infonya 😀
Kudu balik ke sana tu mbak pagian/ siangan 😀
Kalau mau ke M- Bloc arah terminal prill dekat itu. Seru blok M sekarang ,weekend banyak emak emak & keluarga kalau weekday Gen Z dan cs ya lah. Atmosfirnya bukan tempat shooping lagi tapi kulineran & lalu lalang anak muda yang kerja sambil ngopi , berdua ,ramean ,casual ,jam2an ha ha ha…Love deh dengan tempat ini. Dipujasera ada bakmi ayam hit prill ,udah ada dari zaman jebot. Enjoy ya
Blok M ini lengkap ya, sebelumnya sempat baca teman blogger yang berburu buku di blok M. Kemudian baca post mbak tentang Blok M juga, menarik untuk dikunjungi suatu hari nanti
Selain itu saya beneran penasaran dengan Gramedia Jalma deh, penasaran dengan konsep yang diusung
Iya interiornya bagus Gramedia yang ini 😀
Aku jadi tahu gambaran isi Blok M seperti apa
Aku dulu membayangkan blok M itu semacam area yang menjual sesuatu yang khusus dan hanya didapatkan di sana
Lihat suasananya mirip di PGS atau ITC kalau di Surabaya ya
Blok M itu area/ kawasan mbak.
Kalau yang aku masukin itu pasaraya-nya. Di sana ada mall-nya juga. Trus banyak kulineran, taman, toko buku, dll, aku juga belum eksplore banyak2 hehe.
Blok M emang lagi hype lagi, ya. Beberapa temenku lagi ngobrolin ini, baik soal buku maupun kuliner. Jadi pantes aja kalau di sana masih ngecendol
Dari dulu hype mbak kalau Blok M ditambah ada Gramedia Jalma ini 😀
Asik banget ya kayaknya kalo jadi warga blok M ? salfok sama gramedianya bikin gak mau pulang, anak-anak juga bakal betah deh kayaknya baca bukunya. Tapi makin ke bawah, makin salfok sama mangut lele dan garang asemnya ? sedep betul abis memanjakan otak dilanjut memanjakan perut ya mbak ?
Berempat cuma 100 ribuan…murahnyaaaa, menu garangasem dan kawan-kawan – makanan rumahan yang ngangeni
Entah kapan terakhir kali aku ke Blok M, padahal ada TJ 8D rute Blok M – Joglo (sekarang nyambung Meruya Selatan) yang haltenya ada di depan komplekku. Baca ini jadi punya itinerary kalau ke Blok M lagi ngapain…
Ke Gramedia Jalma pastinya, dari viral belum jadi juga mau ke sana.
Atau aku ikut aja open trip Blok M yang lagi rame itu ya..biar ada temannya, hmmm
Gramedia Jalma sekarang beneran lagi hits ya mbaa,,banyak banget ya review tempat ini, coba kalo semakin banyak gramedia dengan konsep yang sama siapa tau jadi makin rame kan hehe…penasaran sama mas2 yang bikin puisi itu kayak apa yaa jadinya nanti apa kah sesuai dengan apa yang kita rasakan 🙂
Iyaaa loo masjidnya mirip banget sama miniatur masjid madina makkah, ornamen2 di dalamnya beneran mirip dan sepertinya vibes nya juga jadi ngikutin suasana disana deh…
Semoga yaaa isi hati rakyat jelata ini didengar sampai kalangan elite biar mereka bener2 menata kota kita gak hanya menata kekayaanya upssss
Seru yaa tinggal di kota besar. Salam dari Makassar Mbak
Dulu tiap hari ke blok m .. Secara kerjaan di daerah sana.. Sekarang sudah hampir 12 tahun tidak. Explore daerah blok m. Biasanya hanya mampir saja
entah kenapa aku selalu fokus ke makanan, dan kali ini ngiler banget liat garang asem, dilanjut dengan dessert pisang ijo, yang klasik rasanya tetap jadi pemenang.
daaan ternyata bagian menariknya puisi dengan mesin ketik, ini mah suasana klasik dan membawa ke arah nostalgianya terasa banget, hihihi
Mbaaak, aku jadi terinspirasi bawa anak-anak ke Blok M. Kalau diingat-ingat, rasanya hampir 10 tahun aku nggak ke Blok M. Dari yang ramai, sepi, lalu berubah wajahnya… Pengin tahu juga apa kabarnya dia, apakah masih memberikan vibes yang sama seperti saat remaja dulu.. Aiiih remajaaa ??
waktu aku baca judul blok M kukira ini yang makanannya itu jepang-jepang gitu, pril? beda ya ini blok M-nya sama yang sering direview orang itu?
Mungkin itu Little Tokyo, banyak kuliner jejepangan, dekat sana juga.
Belum pernah ke Blok M nih saya, besok-besok pas ke Jakarta kayaknya perlu nih diagendakan. Tulisannya informatif banget, besok-besok pas ke Blok M, udah ada panduannya nih. Saya penasaran sama Gramedia Jalma sih, nyaman banget itu Ya Allah. Kapan yaa di Lombok ada Gramedia kayak gitu juga. Huhuhu
Kalau pergi ngMall pasti tidak ketinggalan wajib banget masuk Gramed, meski cuma buat lihat lihat aja, hihi
Duh sekarang bawaannya pusing kalau ke Blok M. Rame banget. Hari biasa juga. Ke Gramedia Jalma juga kesannya sempit cuma memang banyak spot menarik untuk foto-foto. Oh iya tempat makan dan masjid itu apakah Blok M Square? Pisang ijonya bikin pengin.
Salam hangat kak April.
Sekarang Blok M menggeliat lagi ya, Mbak. Seja dulu sudah beken tempat Ngeceng hehehe. Kini Blok M pun jadi tempat jalan-jalan seru bersama keluarga. Komplit… Mau kilineran, cari buku bekas, atau ke Gramedia Jalma. Lalu duduk-duduk di Taman literasi. Bisa banget dibuat ini intinerary saat akan ke Blok M hehehe
Bener Pak Bams, Blok M jadi lebih asik sekarang, karena banyak spot menarik, terlebih ada Gramedia Jalma ini yang bikin bahagia untuk mencari bacaan bermanfaat.
Terus juga akses transportasi nya yang banyak pilihannya.
Semoga aja terus berkelanjutan ramainya di Blok M, mengingat in this economy yang katanya kurang mendukung
Salam kenal dari Didik Lombok.
Menarik sekali ceritanya. Btw, ngebahas tentang Blok M, jadi kangen sama tempat ini. Saya dulu pernah ke Blok M naik MRT dari Sudirman. Ke M Bloc juga yang lokasinya kalau gak salah di seberang Mall Blok M. Bisa jalan kaki mbak cuma agak jauh dari Stasiun MRT Blok M.
Kalau ke M Bloc naik TJ turun di halte TJ atau stasiun MRT ASEAN. Tinggal nyebrang deh dari situ. Tapi pas saya ke sana lagi renovasi. Jadi gak ngapa-ngapain hehehe. Mungkin sekarang udah beres renovnya karena saya ke sana beberapa bulan lalu.
Seru banget baca eksplorasi Blok M dari sudut pandang Kak April. Rasanya seperti diajak nostalgia sekaligus melihat sisi baru dari tempat yang familiar. Detailnya hidup dan informatif, jadi cocok buat referensi jalan-jalan santai.
Sebagai bukan warga Jakarta, aku ke blok M lagi, lumayan pusing. Ramai pengunjung bahkan di malam hari. Sekadar nyari halte busway (yang harus masuk-masuk dulu hingga naik tangga), lumayan menguras energi.
Tapi aku tertarik sama masjid-nya. Pengin juga nyobain shalat di sana.
Blok M ini sampe punya panggilan “negara Blok M” sama para gen Z lho. Tapi emang bener, banyak area crowded nya. Terus yang merokok dan ngevape merajalela.
Gramedia Jalma, hampir nggak pernah sepi. Mau weekday hingga weekend. Kalau baru buka, agak sepi sih, beberapa kali ku datang pas baru buka soalnya hehehe. Saking senengnya ada P11 dari mall Botani ke blok M, jadi agak sering ke sana. Cafe yang terkoneksi sama gramed Jalma, namanya Aloo Cafe mbak. Kopi, teh dan camilannya enak, harga standar Jaksel emang.
Mangut lele nya bikin tertarik deh dan amazing lho berempat kurang dari dua ratus ribu. Mantul sekali.
Aku pas baca juga kok ya ngiler mbak sama Magut Lelenya. Pedes² sedap.. ????
Entah kenapa sejak jadi ibu aku jadi mager banget keluar rumah, makanya pas baca mbak april bilang, “tipe orang mager” kok berasa ada temennya. ????
Tapi beneran deh, kalau direncanain tuh kayak bakal jadi wacana aja. Kalau di aku biasanya perkara mood juga. Kalau rencananya paa aku nggak mood ya wes g bakal jalan. Wkwkw.. ????
Makanya suami sama anak sering ngajakin dadakan mbak. Soalnya keburu jadi wacana di atas kertas aja. ????
Rasanya kok Blok M ini kayak paket komplit ya. Suamiku kalau kebetulan ada dinas ke JKT tuh suka banget ke Blok M, kayak ada aja yang dicari. Dari elektronik, sampai gudang kuliner harga miring, katanya ada di sana. ????????
Aku kok mikir-mikir lagi mau ke Gramed Jalma, rame bangettt eh tapi bagian meja bacanya itu sunyi kah? nyaman buat baca lama-lama macem di perpus?
Mas-mas yang bikin puisi on the spot itu menarik juga, baru ini tahu ada jasa itu. Puitis banget itu…dan kayaknya bayar sih, kan susaaah bikin puisi saat itu juga secara manual tanpa AI.
Tempat main di Blok M banyak juga yaaaa. Gramedianya cakeeeep
Maap agak norak soalnya di daerahku gak ada. Dulu pernah main yang di Semarang tuh B aja tokonya. Makanya pas baca ini, terlihat seru. Asyik buat poto-poto cantik
Masya Allah, lihat deretan rak buku di Gramedia, juga jejeran foto kuliner viral nusantara, auto segera memasukkan semua rekomendasi mbak April di atas, jadi wishlist pas nanti eksplor kota Jakarta.
Insya Allah, aamiin ??
Sudah lama pengin ke Gramedia Blok M, tapi masih belum kesampean. Kemarin juga ke Blok M, numpang lewat doang. Kayanya harus dikhususkan ke Gramedia doang.
Btw, thanks mba info tempat makannya. Penasaran pengin ke Rukan Yakarta
Masjid nya bagus, beberapa mall yah saya jumpai sekarang menyediakan fasilitas untuk ibadah dengan kondisi layak bahkan cenderung bagus, bersih dan luas. Kalau dulu kan seadanya malah kadang di tempat parkir yang sempit dan nyempil padahal mall terbesar di surabaya kala itu
Puas banget ini siih jalan jalannya mbak April. Dari kuliner, toko buku dan jalan2 ke tempat² yang asyiiik….Jakarta memang selalu hidup ya mbaak
Di Gramedia Blog M ada spot papan harapannya. Pasti seru sekali menuliskan harapan kita di note lalu menempelkannya di sana bersama harapan banyak orang lainnya. Menarik. Mana bisa baca buku pula. Meski bukan buku baru. Tapi pasti buku terbitan mereka jugalah.
Dulu waktu tinggal di Jakarta, Blok M adalah salah satu tempat nongkrong, apalagi kalau abis gajian.. hehe. Biasanya nyari-nyari CD juga tuh zaman dulu. Emang seru ngubek kawasan Blok M, mulai dari belanja-belanja sampai kulineran, lengkap ada di sana. Makanya pas akhir 2025 kemarin maen ke Jakarta, Blok M adalah salah satu tujuannya, mengenang masa-masa jadi anak rantau dulu
Gramedia Jalma itu asik banget sih tempatnya mbak. Saya kalo gak sama anak istri mah ya, kayaknya bakal demen banget dah tuh nongkrong sampe malem disana. Koleksinya lumayan, walaupun gak yang lengkap banget. Tapi bisa WFC dengan santuy disan. Banyak colokan.
Yang belum kesampean tuh kulineran di Blok M si. Waktu itu aku cari aman, makannya jadi di solaria doang. Coba kalo di tempat lain, kayaknya banyak yang rekomen ya.
Btw tulisannya panjang bener mbakk. Kalo aku, kayaknya udah jadi 5 tulisan ini wkwkwk
Setelah kemaren aku berkunjung ke BookXcess, aku baru ngeh kalau Jalma itu konsepnya mirip-mirip mereka Mba. Ya apapun yang penting jadi lebih estetik lah ya. Aku punya ingatan buruk makan di Blok M, mana lupa nama tempatnya lagi. Itu yang di lantai bawah Blok M Plasa apa ya, beli penyet ayamnya basi, huhu. Tau gitu mah pesen garang asem ja, kayaknya enak.
Selalu langganan kalau ke Blok M salatnya di masjid atas mall itu. Udah kaya destinasi wajib ya. Sehat sehat ya Mbak sekeluarga 🙂
Blok M, nggak heran sampe dapat julukan negara Blok M. Soalnya semenarik itu hehehe. Untungnya mood mbak lagi bagus, jadilah mendadak ke Blok M yak. Seru kalau perjalanan dadakan macem ini tuh. Suka banyak hal menarik dan tidak terduga.
Btw, coffee shop yang ada di samping Gramedia Jalma namanya Aloo Coffee mbak. Aku beberapa kali pernah mampir buat zoom sambil ngopi atau ngeteh. Padahal di dalem jalma bisa cumaaa, takut berisik karena kan zoom. Enaknya Gramedia Jalma, banyak spot estetik. Jujurly aku betah di sana, makanya sering banget ke Gramedia Jalma.
Oke, ku catat nih tempat makannya. Menarik banget menu nya, manalah terjangkau pula. Dan Yap masjid di blok M ini sangat ikonik sekali. Aku sering salat di sana kalau lagi ke Blok M.
qkqkqkqkqk poleh eling anakku nyap nyap pas diajak ke Blok M Square.
“Kok kumuh bangett mallnya.”
mungkin bayangan dia kita bakal ketemuan di mall ala SenCy atau PIM gt Pril.
Saya jadi ngebayangin jembatan sirotol mustaqim Mba, gara-gara baca skywalk Kebayoran. Ada-ada aja ya orag ngasih sebutan hehe… Mba April ini tipenya sama kaya saya yang kalau nggak perlu-perlu banget mending diem di rumah. Seneng ya Mba jalan-jalan sama anak ke Gramed, makan di Pujasera. Auto saya jadi pengen pisang ijo buat takjil nanti.
Selalu seruu kalau membaca artikel explore Jakarta ini. Blok M lumayan sering saya baca ulasan tentangvtemoat ini. Tapi gak oernah bosen karena setiap artikel memiliki sudut pandang ceritanya masing², gak ada yang sama jadi pasti memberi cerita yang berbeda. Meski mengulas tempat yang sama. Aplagi Gramedia Jalma. Saya penasaran banget kepingin main kesana. Semoga suatu hari nanti saya bisa berkunjung ke Gramedia Jalma.