Sebenarnya, sudah lama banget saya ingin menginjakkan kaki di Rasa Padu Food Court yang lokasinya di Simpang Temu Dukuh Atas ini. Namun, karena saya jarang turun di Stasiun KRL Sudirman, maka niat ke sana tertunda mulu. Maklum, semenjak jadi anker Greenline, belakangan kalau ke Jakarta lebih sering turun di Stasiun Tanah Abang 😀 .
Nah, kebetulan hari Minggu kemarin, saya nganterin anak saya Dema ikut performance paduan suara di area SCBD, pulangnya kami naik MRT, sehingga ada kesempatan transit di Stasiun Sudirman. Karena waktu udah menunjukkan pukul lima sore lebih, yang kalau balik ke rumah tuh khawatir dapat Maghrib di tengah perjalanan, maka saya memutuskan makan malam lebih awal.

Akhirnya bisa ke Rasa Padu Food Court dekat Stasiun Sudirman.
Awalnya, saya mau mengajak Dema makan mie ayam yang kata netizen lumayan viral di area Sudirman. Namun, karena hari Sabtu sebelumnya Dema sudah makan mie ayam di Solaria, Eastvara BSD, ketika jemput saya pulang kegiatan lari, maka kami pun mencari makanan lain.
Rasa Padu Food Court di Transport Hub
Trus, saya keinget dulu ada teman blogger pernah menulis pujasera di sekitar Sudirman. Cuma, maaf saya lupa siapa yang nulis, ya, huhu, maklum wes tuwo 😛 .
Saya juga udah lupa nama pujaseranya apaan, haha, tapi inget kalau lokasinya ada di “Gedung Transit Hub”. Itu, lho, gedung di depan Stasiun Sudirman yang menghubungkan penumpang KRL dengan Transjakarta.

Gedung Transport Hub.
Yawda, akhirnya, saya googling dan nanya-nanya Tante AI, mengenai pujasera tersebut. Eh, ketemu lokasinya memang di gedung itu. Saya pun berjalan menuju gedung tersebut. Ealah, ternyata namanya “Transport Hub” bukan “Transit Hub”, hehe.
Gedungnya bertingkat, kayaknya lebih dari 10 lantai. Kalau menurut papan informasi di sana, sepertinya ada hotel di sana. Namanya, kalau tidak keliru “ArtHotel” atau “Artotel”? Semacam itu, lha.

Petunjuk bahwa di gedung itu ada food court-nya.
Lanjut, kata Mbah Google dan Tante AI, Rasa Padu Food Court lokasinya ada di dalam gedung tersebut, tepatnya di lantai tiga. Saya pun mengajak Dema masuk ke gedung dan naik ke lantai atas menggunakan eskalator. Sebenarnya, ada lift juga, sih, tapi karena mau sekalian melihat-lihat isi gedung, kami naik eskalator saja.

Naik ke lantai dua pakai eskalator ini.
Eh, ndilalah, di lantai dua gedung tuh sepi banget. Ada orang, sih, satu dua saja, terlihat sedang menata barang di meja. Entah apa, kayaknya mobil-mobilan Hot Wheels, gitu. Mungkin mau ada pameran atau gimana. Yang pasti lantai dua tuh hampir kosong melompong dan sepi, sehingga sempat bikin saya ragu, “Nih, lanjut ke lantai tiga, nggak, nih? Khawatir zonk.”
Kami pun berjalan melewati orang-orang yang sedang menata meja tadi untuk menuju eskalator berikutnya. Jadi eskalator dari lantai satu ke dua, sama eskalator dari lantai dua ke tiga tuh agak misah, gitu, gaes.

Naik ke lantai tiga.
Sebelum naik ke lantai tiga, saya sempat mendongak ke atas, “Kok ketoke sepi, yo? Trus, agak kurang terang lampunya.” Sampai akhirnya, terdengar suara mbak-mbak gitu, ketawa-ketawa di atas, baru saya yakin di atas memang ada orang.

Rasa Padu Food Court.
Kami pun naik ke atas dan ternyata nggak gelap seperti dugaan saya. Kami disambut dengan lantai yang cukup terang di sisi kanan ketika kami berbelok arah menuju Rasa Padu Food Court. Trus, di depan eskalator yang seperti gelap itu sepertinya ada pameran seni tentang “home” atau apa lha. Sementara di dinding sebelah kanan banyak tempelan sticky notes. Saya tidak membaca apa isinya, karena udah excited duluan ketemu Rasa Padu Food Court-nya, haha 😛 .
Memilih makanan di Rasa Padu Food Court
Ternyata, cukup stand/ booth makanan dan minuman di sana. Meja dan bangku buat dine in juga cukup banyak. Ada yang buat berdua, ada pula yang buat ramean.
Begitu saya masuk, di sebelah kanan tuh ada penjual yang menjual menu bebek goreng. “OK, saya mau itu,” batin saya, tanpa banyak berpikir lagi.

Lumayan ramai ketika sore.
Tinggal, Dema aja, nih, apaan. Mulanya, saya menawari ayam goreng saja, yang dijual di booth yang sama seperti bebek goreng tadi. Namun, akhirnya, saya mengajak Dema keliling food court-nya dulu sampai ke belakang. Sekalian survey di mana lokasi tempat cuci tangan/ wastafel, toilet, lalu kalau ada, mushola.
Tempat cuci tangan ternyata ada di bagian tengah food court, lalu mushola ada di area paling belakang. Sementara toilet ada di depan. Jadi, aman deh kalau makan di sana ketika Maghrib-Maghrib gitu.

Booth La Rasa.
Tepat di seberang wastafel ada penjual nasi goreng ayam. Nama booth-nya La Rasa. Selain nasi goreng, La Rasa juga menawarkan menu bihun goreng, kwetiaw, dan mie-mie’an lainnya, kayaknya. Saya tidak begitu memperhatikan, karena Dema langsung mau nasi goreng ayam. Di booth yang sama, saya kemudian memesan es teh tawar untuk saya sendiri dan sebotol air mineral yang dipajang di meja penjual buat Dema.

Booth Ayam Goreng Lengkuas.
Setelah itu, saya mengajak Dema kembali ke booth yang menjual menu bebek goreng tadi. Nama booth-nya Ayam Goreng Lengkuas. Sesuai namanya booth penjual makanan di Rasa Padu yang ini menjual ayam goreng, tetapi ada menu bebek goreng, ikan goreng, dll juga.
Di booth ini, saya hanya memesan bebek goreng saja, lalu mengajak Dema duduk di bangku yang kapasitasnya dua orang, tepat di depan booth ini.
Menikmati bebek goreng dan nasi goreng di Rasa Padu Food Court
Tak berapa lama, bebek goreng pesanan saya sudah jadi. Cepet, lho. Mana saya tinggal berdiri saja buat ngambilnya.
Mas-mas penjualnya, kemudian ngasi tau untuk mengambil sendiri sambalnya di sisi meja satunya. “Ooo pantes, kok, di piring ini belum ada sambel,” pikir saya.

Makan bebek goreng dulu, kitaaa.
Ternyata ada tiga pilihan sambal, gaes. Ada sambal ijo, sambal bajak, dan sambal terasi. Saya kemudian mengambil sambal ijo dan sambal bajak.
Menyusul kemudian, pesanan nasi goreng Dema dari booth makanan La Rasa tiba. Juga, air mineral dan es teh tawar pesanan saya tadi.
Dema dan nasi goreng ayamnya.
Okey, sekarang, mari kita bahas makanannya. Bebek gorengnya, saya memesan bagian dada, disajikan di dengan kremesan yang cukup berlimpah. Ada juga lalapan berupa potongan mentimun dan daun selada. Tentu saja sudah termasuk nasinya ya.

Sambalnya manteb pedasnya.
Bebeknya digoreng garing, sehingga tulang-tulangnya tuh kek gurih krenyes-krenyes, gitu. Rasa dagingnya pas, tidak terlalu asin. Dagingnya juga tidak alot, walau tidak bisa dikatakan empuk juga, sih, karena digoreng garing. Namun, overall, rasanya enak, tidak menyulitkan kalau digigit, dan satu poin plus-nya lagi dagingnya tuh berukuran besar.
Lalu, kedua sambal yang saya ambil tadi, beneran pedes. Jadi, saran saya, kalau ambil sambal sesuaikan dengan kemampuan lidahnya ya.
Kemudian, untuk nasi goreng ayam pesanan Dema, menurut saya rasanya gurih, ada perpaduan rasa asin dan manis. Tekstur nasinya pas, nggak terlalu keras maupun lembek. Nasinya juga sudah dilengkapi dengan sayuran pokcoy yang masih ijo segar dan potongan daging ayam berbentuk dagung yang cukup melimpah.

Porsi nasi gorengnya cukup besar.
Nasi goreng ini disajikan dengan acar dan seplastik kerupuk udang plus mlinjo. Enak, kok. Rasanya juga tidak pedas. Dijamin bocil-bocil suka nih jenis nasi goreng kayak gini.
Harga nasi bebek goreng yang saya pesan Rp34.000,-, sedangkan harga nasi goreng ayamnya Rp30.000,-. Untuk es teh tawar yang saya pesan Rp5.000,-, pantes gelasnya mungil syekaleeee, haha. Lalu, air mineralnya, kalau tidak keliru Rp7.000,-. Menurut saya harganya OK banget untuk sekelas food court yang berada di tengah-tengah Kota Jakarta.

Es teh tawarnya mungil kemasannya, hehe.
Setelah puas makan, kami pun Sholat Maghrib di mushola yang tadi saya bilang ada di area paling belakang Rasa Padu Food Court ini. Baru kemudian melanjutkan perjalanan naik KRL dari Stasiun Sudirman menuju Tanah Abang, lanjut ke jalur 5/6 jalur rel Greenline.
Yes, itulah pengalaman saya dan Dema (akhirnya) makan di Rasa Padu Food Court Dukuh Atas. Teman-teman sudah pernah makan di sana belum? Jika sudah, ada rekomendasi makanan/ minuman favorit, nggak? Supaya kapan-kapan kalau ke sana lagi bisa mencicipi makanan itu juga? 😀 .
Oh ya, buat yang penasaran di mana lokasi Rasa Padu Food Court, berikut map-nya ya:
Semoga cerita makan di Rasa Padu Food Court Simpang Dukuh Atas bermanfaat ya 😀 .
April Hamsa


Saya baru tahu kalua ada Transport Hub di Dukuh Atas, Mbak. Ini mungkin saya sudah jarang ke Sana. terakhir turun di Stasiun MRT Dukuh Atas, lalu niatnya naik LRT kok malah nyasar naik KRL hehehe.
Dan Rasa Padu Court Food ini ramai juga booth-nya ya, Mbak. Jadi bisa pilih beragam menu. Tempat juga nyaman. Pilihan pas, Mbak April mampir dulu untuk isi perut dan salat magrib baru lanjut perjalanan pulang. Menu pesanan Mbak April bikin ngiler. apalagi sambal bisa ambil sendiri hehehe.
Berarti mas Bams ga pernah keluar stasiun Dukuh Atas nih. Padahal seru loh di luar stasiun itu. Bs kulineran beraneka ragam. Ada penginapan dr murah sampe mahal.
Ada pula kulineran seru kyk di Transit Hub ini. Dulu kyk parkiran buat ojek2 di sini meski udh ada lapak buat kulineran. Abang ojol selalu nangkring di sini krn masakannya enak tp dgn harga merakyat.
Bener2 pilihan tepat nih dtg ke sini. Akses gampang dan harga msh terjangkau.
Pilihan tepat memang kalau lagi bepergian di sekitar ibukota itu pas waktu mepet solat, mending cari aman istirahat makan atau apalah sekaligus di lokasi aman, komplit dan modern.
Setidaknya mau makan, mau sholat atau istirahat sejenak gak harus muter muter lagi ya…
Dan apalagi kalau lokasinya belum banyak yang tau karena sedikit “ke dalam” eh “ke atas” kali ya … Tapi akhirnya kita semua jadi tahu dong ya lokasi itu sekarang
Kapan kapan Pak Bams bisa melipir ke sana juga karena udah tahu lokasi detailnya
Gedung Transport Hub ini memang pas banget buat opsi transit sambil recharge energi sebelum lanjut naik KRL. Pilihan makanannya juga bervariasi dan harganya terhitung sangat bersahabat untuk ukuran pusat kota Jakarta.
Bebek goreng garing sama sambalnya kelihatan menggoda banget. BTW lokasinya bikin jadi makin penasaran pengin mampir juga kalau lagi transit di Sudirman!
Wajib banget mampir bang Don kalo ke Jakarta. Mana lokasinya strategis lagi. Di tengah jantung kota malahan.
Transit Hub ini jadi pilihan banget buat komuter Jakarta dan non-Jakarta yg pgn berhemat dlm makan minum. Asal perut kenyang, ntr ngelanjutin buat naik transum lain bakalan nyaman deh. Siap berjibaku lagi berebut kursi kereta atau nyaman berdiri di MRT. Atau siap2 macet2an lagi naik ojol.
Wah aku malah baru tauuuu ada Transport Hub ini mbak. Kemaren sempet baca di blognya mas Nugie, tapi sekilas doang. Baru ngeuh kalo lokasinya deket stasiun Sudirman a.k.a Jalan Kendal yang kalo weekend selalu ramai tumpah ruah itu ya, hihihi.
Sayangnya saya pun agak jarang melipir kesana mbak. Secara, kalo dari LRT mah kan berasaaaaa yak jalannya. Bukan maen dah keringetnya ini, saking jauhnya itu jalan wkwkwkwk.
Tapi overall, kayaknya oke juga ni buat dikunjungi. Meski memang sesuai namanya, Pujasera, yang isinya cuma tenant-tenant kecil, tapi asalkan tempatnya nyaman dan harga makanannya masih lumayan worthed, aku sih so so sekali ya buat nanti ikutan melipir juga 😀
Dah ah, tandai duluuuuu
Ya ampun udah lama bgt ga denger kata pujasera deh. Dulu sptnya ini juga pujasera tp kebanyakan yg nongki tuh abang2 ojol sambil menerima pesanan, baik orang maupun makanan.
Dgn adanya transport hub ini, kita yg kaum menengah ini bs menikmati hidangan mewah, enak tapi tetap harga terjangkau ya kak.
Meskipun cuma ada tenant kecil, kalau aku sih sing penting makanannya enak, Kak. Hehehe
Buat tempat makan siang sehabis WFA sih oke banget nih Food Court begini
Kalau gak baca dengan baik bakalan ngira ke sana sama teman
Anak sudah gadis jadi teman jalan yang asik ya
Kalau aku sih asik kalau lagi good mood anaknya
Kalau bad mood, bakalan lelah sampe rumah
Hmm… aku penasaran sama Ayam Lengkuas-nya, fave banget soalnya
Iyaa yaaa Mba Amma aku pun awalnya nyangka Dema di sini kek sepantaran wkwk.. maksudnya kita yang masih remaja >.< ngareuppp
Btw aku emang kalau turun di Dukuh Atas tuh suka banyak cuci mata deh suka nyantol dulu ga langsung pengen lanjut perjalanan
Kalau tempat2 sekitaran stasiun kereta, aku masih banyak ga tahu sih, Krn ga pernah melewati area sini. JD setelah baca tulisan mba April, langsung tahu tempat2 makan menarik yg mungkin nanti bisa aku datangi.
Kayaknya aku tahu deh tempat ini, secara mba sebut Artotel . Aku tahu Artotel ada cabang di kawasan dukuh atas.
Ada banyak tenants berarti yaaa. Menarik deskripsi bebek goreng nya, secara aku penggemar bebek 😄😍😍😍. Apalagi kalau sambalnya pedas. Mantaaap sih itu.
Tapi agak salfok liat nasi goreng si anak wedok. Baru kali ini aku liat nasi goreng pake pakcoy, ga dipotong2 pula 🤭😅. Biasanya kalau sayur di nasgor kan kayak kobis, atau sayuran yg udh dipotong 😅. Tapi kalau enak ya sudahlah yaaa 😄
Lah iya bener mbak. Pokcoy nya macem di simpan di atas mie kuah yaaa. Ada-ada aja inovasi dan kreasi masakan.
Sebenernya makanan di sekitaran stasiun itu banyak yang rekomen. Tapi emang lebih mudah di akses kalau abis turun dari KRL. kalau tempat yang mbak April kunjungi ini, leluasa buat masuk mobil dan parkiran juga luas mba Fanny.
Cuma, kalau mau kesana jangan pas jam-jam sibuk berangkat dan pulang kerja, karena rawan macet.
Aku penasaran sih sama pesanan nasgor anak nya Mbak April. Kemarin abis dari area tersebut cuma nggak mampir ke tempat makan karena berkerjaran dengan waktu.
Food court tuh biasanya identik dengan pilihan makanan yang banyak, tapi ujung-ujungnya malah bingung mau makan apa. 😂
Dari tulisan ini, Rasa Padu justru menarik karena konsepnya terasa lebih dari sekadar tempat ngisi perut. Apalagi lokasinya di kawasan Dukuh Atas yang memang punya suasana Jakarta yang khas—ramai, cepat, dan orang-orang seperti selalu punya tujuan.
Aku suka membaca pengalaman kuliner yang memasukkan cerita suasana dan momen bersama keluarga, karena akhirnya makanan terasa punya konteks ya mbak April.
Kadang yang bikin sebuah tempat diingat bukan cuma rasa makanannya, tapi siapa yang diajak makan dan obrolan apa yang terjadi di meja.
Setelah baca ini, aku jadi penasaran sama pilihan menunya. Kalau datang rame-rame, kayaknya konsep food court begini memang paling aman: beda selera nggak perlu drama, tinggal pilih masing-masing. Yang penting jangan sampai sudah sepakat makan bareng, tapi 30 menit kemudian masih debat mau pesan apa. 😆
Iya bener. Jarang-jarang nasgor pakai pokcoy. Biasanya kalau nggak sawi hijau ya kol. Dan selalu dipotong-potong. Jarang disajikan rebusan utuh begitu. Gaya baru lha ya ini… Yang penting enak sih 😁
Saya jadi penasaran pingin mencobanya, belum pernah soalnya. Tapi kalau nasgor pakai taoge pernah, awalnya kaget lama-lama ngeh kalau itu pengganti sawi, jadi kalau pas sawi menghilang dari pasar berganti dan jadi taoge.
Sering sih mbak aku pake pak coy. Yg msh lebar2 gt. Crunchy seger deh rasanya. Bikin tekstur nasi goreng mkn unik. Biasanya di hotel suka kasih sayur ini sih. Kdg aneh jg lihatnya. Tp ternyata rasanya enak jg. Haha
Kyknya hrs makan sendiri di sini deh kak. Biar tahu rasanya. Cukup gampang sih cari lokasinya ini. Pokoknya berhenti aja di stasiun Dukuh Atas. Tinggal cari gedung ini dgn jalan kaki aja kok.
Waah sampai bagian tulangnya juga kriuk ya Kak?
Berarti mantap nih cara pengolahannya, bisa seperti itu, jadinya buat yang butuh sumsum tulang makan menu Bebek goreng ini solutif juga karena bagian tulangnya pun bisa lahap dimakan tanpa dibuang.
Daku beluman nih jelajah sekitaran stasiun Sudirman. Cuma pernah denger transport hub itu aja dan kalo lihat video di medsos rangorang masih belum dapat gambaran lokasinya. Harusnya sih sambil nonton sambil praktekin ke sananya hihi
Makin keren nih Stasiun Sudirman. Kyknya ini dulu bekas lahan parkir yg dipake ojol dan parkir motor kita2 yg super hemat harganya. Aku dulu cuman bayar 2000an sehari. Beda kalo di SCBC yang bs 500-10.000. Bahkan ada yg 2.000 per jam.
Skrg udh diubah jd kawasan Transport Hub, yg isinya ga cuman Food Court. Ini bakalan jd kawasan rame tuh. Mana pertemuan dgn beberapa jenis transportasi lagi. Kalo pagi/sore, udh bejibun bgt nih ama penumpang.
Btw, aku tuh tipe yg muterin dulu semua tenant di food court. Kalo cocok menunya, baru lihat harganya. Kalo cocok smua, ya gas aja. Dgn harga segitu, emg worth it bgt ya kak. Makan nasi bebek dan ayam kremes udh jadi pilihan nyaman buat mengganjal perut stlh beraktivitas.
Yg penting, bs sholat maghrib dulu, lanjt ke perjalanan selanjutnya. Perut kenyang, hati nyaman. Perjalanan senang.
Kalau daku kadang ga kelilingan semua tenant makanan Kak, apalagi kalo lagi lapar berat haha.
Tapi kalau waktunya lumayan banyak, baru tuh bisa kelilingan santai sambil mengira harganya sekitaran berapa, baru maju nanya sama tenant-nya speak apa aja menunya dan harganya hehe
Aku tuh kalau masuk food court juga tipe yang harus muter dulu lihat semua tenant sebelum akhirnya memutuskan mau makan apa, hahaha. Biasanya yang kucari pertama tuh comfort food mbak kayak nasi goreng atau soto-sotoan. Kalau bebek biasanya aku gambling based on gambar di google. Beberapa kali pernah nyoba makan bebek tuh failed, dagingnya agak alot dan agak bau lebus gitu. Jadi kalau khusus bebek biasanya ke tempat-tempat yang udah langganan aja. Hihihi.. 😀
Tapi kalau di gambar yang ini, kok rasanya terlihat garing ya. Apalagi ada taburan yang mirip lengkuas gitu dan di aku kayak udah kebayang bebek gurih langgananku di Malang. Wkwkwkw.. Of course, kalau makan bebek sangat kurang kalau nggak ada sambelnya.. :p
Kok pola pikir kita sama nih Kak Dinda, tosss dah.
Soalnya daku juga kerap kali kalau ga pesen soto ya nasi goreng. Apalagi kalau nasi gorengnya punya toping yang unik, jadinya bakalan berselera, karena tiap tempat punya racikan bumbu nasi goreng yang beda
aku juga kalau ke food court suka lihat-lihat dulu jualannya apa aja dan barusan sabtu kemarin ke foodcourt di mall sama anak-anak tapi yang kuincar malah ayam goreng tepung yang ada promo di aplikasi hitam. hihi
Nah iya sih. Kayaknya settingan otak tuh memerintahkan diri buat eksplor ke semua tenant dulu kalau masuk area food court. Buat mastiin harga, ada jenis makanan apa aja, dan mana yang menggugah selera.
Kalau harus milih antara Nasi goreng dan soto, aku lebih suka mesan soto sih. Kalau nasi goreng justru paling aku hindari karena rasanya yaudah biasa aja, paling porsinya gede hehehe. Itu menurut ku sih.
Nah, kalau menu yang mbak April pesan, menarik tampilannya. Nanti kalau mau naik MRT dan laparz kayaknya mesti mampir sih. Tempatnya strategis dan nyaman juga.
asyiknya makan di food court itu kita bisa beli makan di berbagai booth ya buat yang seleranya beda juga pastinya banyak pilihan. kulihat harganya juga masih wajar nih pujasera-nya
Kalau jam nanggung gitu mending nunggu bentar ya mbak untuk sholat daripada bingung nanti sholatnya sekalian kan bisa icip-icip di food courtnya. Enaknya kalau makan di food court begitu banyak pilihan dan biasanya harganya relatif terjangkau. Soal rasa balik lagi ke selera sih.
Udah jarang nih ke Dukuh atas. Pas area Hub ini baru opening, sempat ngelewatin dan explore dari lantai ke lantai tapi nggak makan karena takut harganya mahal hehehe. Jadilah aku melipir ke bubur Sunda. Yaampun, padahal ternyata nggak mahal banget, standart lah ya buat di area tersebut mah.
Porsi nasi gorengnya wow ajib sekali. Sambelnya ambil mandiri sesuai keinginan ya. Mantep sih ada 3 pilihan sambel. Nanti kalau ada job area situ bolehlah aku coba mampirin. Penasaran sama menu yang mba April cobain juga hehe.
Porsinya kayak porsi ayahnya anak anak kalau di sini haha
Kalau urusan sambel pasti bahagia karena banyak variannya dan bisa ambil sendiri pula jadi tahu takaran yang pas, gak dibuang percuma kalau gak habis
Daku juga, mba Lala. Lagi belum ada kesempatan buat ke sekitaran Dukuh Atas. Padahal kepincut jiga buat nyicipin makanan di food court nya itu.
Keknya memang perlu siapin waktu se-apik mungkin deh ya. Soalnya kalau cina sengaja dari rumah terus ke sana, terus balik lagi ke rumah keknya ga seru hehe
Food court nya nyaman ya
Ada banyak pilihan menu
Gimana? Lebih enak mana sama nasi Bebek yang ada di Surabaya? Hehehe
Btw aku kalau makan nasi Bebek, juga lebih senang sama sambal ijo or sambal bawang
Bagus lho tempatnya untuk ukuran foodcourt. Desain tenant dan meja kursinya estetik. Biasanya foodcourt identik dengan kursi plastik soalnya hehehe…
Bebeknya tampak menggoda. Itu nasi goreng juga jarang-jarang dilengkapi pokcoy, yang sering kan pakai sawi hijau.
Enak semua lha. Walaupun awalnya ragu-ragu ya karena lantai dua sepi.
Hihi iya juga lagi kak, karena umumnya food court ya pakai kursi plastik yang terbilang praktis. Malah biasanya kursinya double pula karena ada salah satu ada yang retak huhu.
Cuss kak Asri pankapan kita kopdar dan jelajah kuliner kuy di sekitaran Dukuh Atas hehe.
Belum pernah ke sana tapi setelah membaca tulisan dan melihat fotonya Kak April tempat ini sepertinya menarik sekali. Tempatnya bersih dilengkapi dengan mushala. Jujur saya tertarik dengan nasgornya, sepertinya sangat memanjakan lidah he…he…porsinya juga termasuk banyak ya. Semoga suatu saat nanti bisa ikut kulineran di sana, supaya rasa penasaran bisa terobati.
Rasa Padu, namanya unik yaah…
Kalo diartikan ke bahasa Jawa, bisa gawat tuuh.. hehehe…
Seneng menunya bebek, comfort food aku… dan bener yaah.. minumannya bisa ditekan harganya tapiii porsinya mashaAllah.. ikutan Dema minum air mineral akhirnya yaak..
Suka sama bebek yang bumbu taburnya melimpaaahh…
Belum lagi sambelnya yaa.. ini kuncian bangettt. Jadi semakin lezat kalo cocolan sambelnya pas!
Btw, timun buat lalapnya mantaapp!
Ngebantu banget kalo kepedesan, hehehe..
Pril,
pas denger mbak2 ketawa di lantai atas, apa dirimu tidak overthinking “Jangan-jangan yg ketawa adalah mbak Kunti?” 🙂
Tapi kayaknya kalo lokasi lumayan strategis kyk gini, moga2 tetep ada konsumennya ya.
Jangan sampai bangkrut gitu lo, kasihan yg pd kerja atau invest unit usaha di sana ya kann.
aku lupaa, waktu itu pernah nglewatin areal sini apa kagak ya.
seingatku, dua thn lalu pas mau meet up ama kalian, aku sempat brenti di st Dukuh Atas, tapi laliiii koyok opo penampakannya.
Btw, harga2 mayan murah loh. Bebek 34K sih mursida bambang alias murah bangeetttt
Kebanyakan anak anak kalau keluar menunya kok rata rata nasi goreng, mie goreng, ya gitu gitulah ya? Pada gak suka kali ya makan nasi yang komplit sama lauk pauk gitu?
Tapi kalau bebek, anak saya Fahmi sekarang suka banget, itu gara-gara waktu pendaftaran di Pondok, di Ponorogo sana selama tiga Minggu kami sering makan nasi pecel. Mungkin dia bosan, barulah malam izin keluar (boleh karena dengan wali santri) adanya di luar sekitar pondok itu macam lesehan ayam goreng ikan goreng sama bebek goreng gitu. Dan ternyata enak
Jadilah langganan makan malam di sana.
Pas pindah ke Sumatera Barat, katanya mau gak mau makan berbumbu rempah semua. Gak kaya di Sunda yg minim bumbu (hanya asin gurih atau pedas, seputar itu bumbunya) akhirnya pas libur semester dan kenaikan kelas, di rumah yg dicari bebek goreng, lele goreng ya gitu gitu…
Kalau di bandara yg dicari ayam goreng, yang mudah dan cepat saja. Haha…
Kayaknya kalau nasi goreng itu, lebih cocok di lidah anak-anak mbak. Soalnya mendekati menu rumahan juga. Anak saya pun kemana-mana yang dicari pertama, “ada nasi gorengnya nggak?” wkwkwk…
Kalau menu yang lain seringkali, agak tricky juga dan enaknya kalau makan di area food court gini, menunya variatif dan bisa milih satu kedai ke kedai lain. Hihihi.. Terus harganya juga termasuk ramah di kantong.. Secara in this economy ya.. 😀
hueeee lengkap euy poin-poin detailnya, mulai dari info eskalator, posisi tempat cuci tangan & mushola, sampai ke porsi dan rasa nasi gorengnya Dema. Harganya terhitung sangat terjangkau ya untuk ukuran area strategis di Jakarta Pusat, menarik kalau diampiri pas perjalanan transit. Aku penasaran sama bebek goreng ama sambelnya, keliatan garing gitu gorengnya, huha huha keknya makan sambel pedes di Jakarta.
Aku suka sih type bebek goreng yang banyak kremesannya begini. Sama teksturnya juga. Bukan yang terlalu empuk. Tapi, nggak juga terasa alot.
Andai dekat, aku pasti sudah mau mencobanya. Harganya, so so sih menurutku. Untuk sekelas food court memang nggak yang mahal-mahal banget.
Berasa diajak jalan-jalan bareng keliling Transport Hub. Emang ya, kalau udah jadi “anker”, urusan mampir kulineran gini mesti pintar-pintar nyari celah biar gak kemalaman di jalan.
Sempat deg-degan juga pas baca bagian lantai dua yang sepi, untung begitu sampai lantai tiga langsung nemu yang pas! Bebek gorengnya kelihatan menggoda banget, apalagi dapat kremesan melimpah plus sambal ijo dan bajak yang mantap. Nasi goreng porsi lumayan harga 30 ribuan di pusat kota juga worth it banget buat bocil. Makasih rekomendasinya, Mbak April! Next kalau transit Sudirman wajib mampir, nih.
Kalau aku yang masuk sana alamat nggak jadi naik ke atas kalau sudah ketemu lantai yang kosong begitu, Kak. Agak gimana gitu akunya. Apalagi kan sudah sore-sore. menjelang maghrib pula kan. Apa nggak tambah uji nyali.
Padahal, kalau lanjut mah dapat Rasa Padu Food Court yang bisa memanjakan perut begitu.
Meski food courtnya ada di pusat kota Jakarta tapi harganya serasa makan di pinggiran kota ya mbak..alias murmer harga segitu sih. Murmer dan enak lagi yaaa…asli rekomended banget ini sih. Tempat makannya juga estetik bagus bikin betah…bersih lagi. Catet ah..siapa tau saya bakalan mampir ke deket² sini suatu hari nanti…
Nah bener Kak Hen, ini yang bikin seneng, karena alokasinya strategis di Dukuh Atas eh tapi harganya ekonomis. Daku jadi pengen coba jelajah ke sana kalau pas lagi senggang. Soalnya kerap kali lewat Dukuh Atas udah jelang rush hour orang pulang kerja, jadinya belum mampir dah huhu
Ini tempatnya baru buka ya makanya sepi gitu buat lantai 2nya? Semoga nanti makin banyak yang buka ya ini tenant-nya. Aku kurang tahu sih kalau transit hub begini seharusnya rame atau gimana ya soalnya ini artinya tempat mampir kan ya buat pemakai kereta?
Baru tahu soal food court ini padahal aku anak Sudirman banget, sering singgah dan lewat. Oalah ternyata transport Hub, kalau ini aku sering banget nunggu ojek di depan situ tapi memang belum pernah nyobain kuliner di sana Mb.
Kayaknya boleh nih kapan-kapan ke sini tapi sengaja buat explore kulinernya. Yang penting ada musholla aman banget pokoknya.
Aku suka banget nih sama Bebek jadi mau digoreng, dibakar, dirica kayaknya enak aja semua gitu. Thank you Mbak sudah ngingetin sama tempat satu ini yang hampir kulupakan 😀
Saya pernah ke sini dan waktu itu memang baru buka sehingga belum seramai sekarang dan kaget juga ternyata nasi bebek di sana harganya rp30.000-an ya Di mana itu toko cukup terjangkau apalagi dengan rasa yang cukup Maknyus boleh juga sih nanti kalau istirahat di area sana mampir untuk makan-makan atau sekedar santai sebelum melanjutkan perjalanan
Food court begini memang paling enak buat yang datang bareng keluarga ya Mbaaa, pilihan makanannya banyak jadi gak perlu bingung cari menu yang cocok untuk semua 😄 Apalagi kalau lokasinya di Dukuh Atas, sekalian bisa jalan-jalan juga. Daku jadi penasaran mau coba juga kalau ke sini…hmmm menu apa dulu kalau mampir ke sana ya..
Iya bener. Foodcourt gini paling cocok kalau datang bareng keluarga ya. Biasanya kan seleranya beda-beda. Jadi bisa milih mana yang lagi dipengin. Apalagi tempatnya nyaman dan estetik kaya gini.
Kayaknya kalo daku cuss ke JKT, boljug kita meet up di marii aja kali yaaa.
soale, ini bisa dan gampil dijangkau dari manapun kan yhaa.
aakkk dah lamaaaaa aku ga plesir ke +021
keknya mupeng dalam waktu dekat cuss k sono
moga2 ono ponakanku sing arep kewong wkqkqkqkw
Makanya tadi pas baca Rasa Padu kok sepertinya gak asing ternyata foodcourt yang ada di tranport hub yaaa hehe…
Aku dulu pas ke Jkt nginep disitu mbaa di artotel nya cuma aku gak ngintip ke foodcourt nya sie cuma baca sign2 nya pas di lift kalo gak salah…
Makannya tampak menarik semua mbaa mana ada sayurannya semua jadi mayan ada ijo2 nya dan enaknya itu yang bebek bisa ambil sambal sendiri jadi bisa disesuaikan kemampuan lidah yaa hehe…harganya juga standart secara di tengah kota jkt 😉
bayanganku tadi kalau membaca kata food court udah pasti seperti Pujasera, tapi yang nggak aku sangka adalah bagian dalamnya udah terlihat seperti di resto mbak
Kalau di kotaku Jember sini, area food courtnya biasa aja, kursi dan meja panjang-panjang, jadi satu meja bisa diisi banyak orang yang mungkin aja kita nggak kenal.
aku udah lama nggak makan nasi bebek, jadi kangen juga, apalagi kalau ada sambel ijonya, mantap bener
Saya termasuk penyuka bebek goreng yg garing. kalau tidak garing serasa tidak makan gorengan. Dari penampakan fotonya sudah tergambar kalau bebeknya enak. Nah, soal sambel yg bebas ambil dan pilih sendiri itu surga buat penyuka makanan pedas.
Kalau ukuran Es tawarnya mungil sesuailah dengan harganya, kan?
oh yah, pergi makan berdua anak gadis serasa jalan sama bestienya yah Mbak. Saya jadi ingat sama putri bungsu saya yg dulu suka pergi makan berdua juga, sebelum gempuran kesibukan melanda,Huu…
Kalau ada tulisan tentang Dukuh Atas itu saya auto inget waktu jadi anak rantau Jakarta. Dulu daerah Dukuh Atas ini jadi salah satu daerah yang familiar dilewati hampir tiap hari. Sekarang sudah banyak perubahan, ya. Makin tertata, apalagi transportasinya yang terintegrasi.
Gedung Transport Hub ini mixed-use building, ya. Segala ada di dalamnya. Selain jadi penghubung antar moda transportasi, ada hotel sampai pujasera juga. Bener-bener komplit.
Saya termasuk pecinta nasi goreng, makanya pas lihat gambarnya jadi langsung mupeng. Nampak gurih dilihatnya. Kalau daging bebek agak jarang mengonsumsinya, karena di sini agak susah dapetinnya, mungkin karena terkenal dagingnya alot kali, ya, jadi jarang yang jual dan beli, padahal kalau masaknya ahli pasti bisa bikin bebek yang enak, ya
Kalau bukan karena nekat maju terus pantang mundur, meskipun sempat heran lihat tempatnya kok sepi dan agak gelap di awal, mungkin nggak jadi ada cerita makan bebek dan nasi goreng di booth La Rasa ini ya, hahaha. 😆
Bisa dibilang kayak hidden gem di tengah area Dukuh Atas.
Harganya juga masih tergolong ramah ya untuk ukuran makanan di kawasan Jakarta, apalagi ini lokasinya di sekitar Dukuh Atas. Ok deh, siapa tahu kapan-kapan lagi transit atau kebetulan ada urusan di sekitar sini, lumayan banget buat mampir.
Jadi pengen buru-buru mampir ke kawasan Dukuh Atas ini deh sekalian nostalgia masa2 sulit ku di Jakarta.
Memang ya, area sekitaran Sudirman dan Dukuh Atas sekarang makin tertata rapi dan asyik banget buat tempat nongkrong, apalagi dengan hadirnya fasilitas kuliner terpusat yang nyaman seperti ini.
Dari foto-foto dan cerita yang dibagiin, variasi pilihan makanannya kelihatan sangat beragam dan menggugah selera.
Konsep food court yang bersih dengan sirkulasi udara yang baik pastinya bikin momen makan bareng keluarga jadi makin seru setelah lelah jalan-jalan menikmati suasana kota Jakarta.
Kalau makan di food court itu paket lengkap banget ya mbak April…semua ada..menunya lumayan lengkap dan harga tidak begitu mahal..yaa standar deh tapi bikin kenyang. Suasanya nya juga biasanya dibuat cozy dan menarik…tentu saja itu sebuah keharusan agar pengunjung ramai jadi banyak yang makan disana deh. Nasi gorengnya saya pengen nyicip hehe..kabita eung
Wah lihat bebeknya, menggugah selera
Mana bisa refil sambal ya
Surga buat yang suka pedas nih
Porsi nasgornya juga mantep ya
kadang suka ragu kalau lewat lantai gedung yang masih sepi begitu, takut salah jalan atau malah zonk. Tapi untung nekat naik ke lantai tiga ya, ternyata tempatnya nyaman dan makanannya lumayan lengkap.
Bebek goreng garing pakai sambal pedas memang paling mantap buat makan sore. Harganya juga masih ramah kantong untuk ukuran area strategis Jakarta.
Jadi penasaran mau mampir ke Rasa Padu kalau lagi transit di Stasiun Sudirman.
wah sudah ramai sama tenant ya, beberapa bulan lalu ke sana masih terbilang sepi. Memang pas mau ke food court-nya aja rada gak yakin soalnya kok sepi amat. Eh, tapi sekarang terlihat semakin ramai dan makin banyak pilihan; kalau dilihat sepintas dari foto-fotonya. Seru juga nih ya, akhirnya pas ada kegiatan anaknya jadi sekalian mampir dan makan bareng. Aku penasaran sama bebek gorengnya. Kalau makan yang ini pasti sama nih ngambilnya, sambel ijo sama sambel bajak juga 🙂
Ngilerrrr maksimal
Apalagi aku penggemar bebek goreng hardcore!
Dipadukan dengan sambel segerr beughhh mantab nian
Kapan kapan lahhh kita meet up di mari, Pril
sambil persambatan duniawi
Wah bebek, nek ada pilihan bebek atau ayam aku ya milih bebek wkwkwk. Harga segitu standar yaa, apalagi porsi bebek juga cukup besar. Es teh kudune beli 2 ya biar lebih puas, imutnya itu kayak mek isi 200 cc?
Nek aku lebih milih makan di food court kayak gini karena teduh, lebih bersih, dan terjaga juga (timbangane andok ndek pinggir dalan).
Sebenarnya ya bagi pecinta pedas, menu makanannya tu boleh apa aja asalkan sambelnya pedas dan enak itu udah bahagia bgt. Kalo makanannya juga enak, rasanya double combo dan pasti bilang worth it. Apalagi kalo tempatnya gak begitu ramai kaya gitu, bikin betah. Aku tipikal gak suka suasana terlalu crowded.
Wah, akhirnya kesampaian juga nyobain Rasa Padu Bebek gorengnya kelihatan menggoda banget, apalagi ada 3 pilihan sambal dan katanya pedasnya nampol. Jadi penasaran sama nasi goreng ayamnya juga. Lokasinya yang dekat Stasiun Sudirman ini kayaknya cocok banget buat tempat makan sebelum lanjut perjalanan pulang. Next kalau lewat Sudirman wajib mampir nih!
Cuco’ buat pejuang komuter yang sering lewat area Sudirman tapi jarang sempat mampir ke Simpang Temu Dukuh Atas karena kesibukan transit. Lucu juga ada kuliner tersembunyi gini ya, kalau kata orang-orang mah hidden gem.
Bebek goreng garing dan sambelnya kelihatan menggoda banget, porsi dan harganya juga terhitung sangat ramah buat ukuran pusat kota loh. Karyawan friendly lah ya.
Masya Allah anaknya sudah gadis dan bisa diajak jalan. Anak gadisku pun sering kuajak jalan, tapi itu dulu sebelum sibuk masuk kantor. Jadi menikmati kebersamaan dengan anak itu ternyata hanya sebentar.
Tempatnya agak terpencil yah, sampai-sampai dikira tak ada orang. ternyata luas dan makanannya enak-enak pula. Kalau saya ke sana bakalan nyasar aku tuh.
Ah setuju, harganya masih affordable apalagi untuk ukuran Jakarta. Secara penampilan juga sangat menggoda haha.
Bulan lalu aku ke Jakarta dan makan di food court salah satu mal di sekitaran Senayan. Rasanya sulit banget nemu makanan yang harganya <50k haha, ujung-ujungnya beli ramesan naspad seharga 60k belum termasuk minum. Makanya, food court Rasa Padu ini oke banget buat makan siang dan ketemuan sama temen. Walaupun bener kelihatan sepi banget lantai dasarnya namun untungnya area makannya lumayan rame.
wisata kuliner di food court ini sangat cocok jika membawa keluarga nih. pasti seru pokoknya kalau di akhir pekan dengan pesan jumbo pastinya. he he. ini sangat cocok berlama-lama sambil menikmati suasana liburan sambil bercerita di tengah riuhnya tagihan bulanan
Kadang dengan memutari semua area food court dulu sebelum beneran makan, selain jadi tahu ada menu apa saja, juga bisa jadi ajang olahraga yang gak dipersiapkan
Kan biasanya abis keliling jadi laper tuh, nah pas makannya jadi lebih lahap. Haha…
Apalagi menunya favorit jadi makin nikmat kan ya
Buat yang sering transit dan waktunya mepet, konsep begini memang enak karena bisa sekalian makan sebelum lanjut perjalanan, apalagi ada mushola juga. Harganya ternyata masih cukup masuk akal untuk lokasi yang strategis di tengah Jakarta.
Jadi pengen nyoba bebek gorengnya juga pas lewat Dukuh Atas. Kemarin sempet bingung juga sama gedung Transport Hub itu kirain sepi ternyata di atasnya rame ya.
Untung udah baca review ini jadi ada bayangan tempatnya kayak gimana. Oh ya salam buat Dema ya mas. Kapan kapan kalau ke Jakarta mau agendain mampir ke Rasa Padu juga ah biar bisa nyobain sambal bajaknya yang katanya pedes mantap.
Harganya juga masih asooooyyy…. ramah banget di kantong ya.