Sebenarnya, sudah lama banget saya ingin menginjakkan kaki di Rasa Padu Food Court yang lokasinya di Simpang Temu Dukuh Atas ini. Namun, karena saya jarang turun di Stasiun KRL Sudirman, maka niat ke sana tertunda mulu. Maklum, semenjak jadi anker Greenline, belakangan kalau ke Jakarta lebih sering turun di Stasiun Tanah Abang 😀 .
Nah, kebetulan hari Minggu kemarin, saya nganterin anak saya Dema ikut performance paduan suara di area SCBD, pulangnya kami naik MRT, sehingga ada kesempatan transit di Stasiun Sudirman. Karena waktu udah menunjukkan pukul lima sore lebih, yang kalau balik ke rumah tuh khawatir dapat Maghrib di tengah perjalanan, maka saya memutuskan makan malam lebih awal.

Akhirnya bisa ke Rasa Padu Food Court dekat Stasiun Sudirman.
Awalnya, saya mau mengajak Dema makan mie ayam yang kata netizen lumayan viral di area Sudirman. Namun, karena hari Sabtu sebelumnya Dema sudah makan mie ayam di Solaria, Eastvara BSD, ketika jemput saya pulang kegiatan lari, maka kami pun mencari makanan lain.
Rasa Padu Food Court di Transport Hub
Trus, saya keinget dulu ada teman blogger pernah menulis pujasera di sekitar Sudirman. Cuma, maaf saya lupa siapa yang nulis, ya, huhu, maklum wes tuwo 😛 .
Saya juga udah lupa nama pujaseranya apaan, haha, tapi inget kalau lokasinya ada di “Gedung Transit Hub”. Itu, lho, gedung di depan Stasiun Sudirman yang menghubungkan penumpang KRL dengan Transjakarta.

Gedung Transport Hub.
Yawda, akhirnya, saya googling dan nanya-nanya Tante AI, mengenai pujasera tersebut. Eh, ketemu lokasinya memang di gedung itu. Saya pun berjalan menuju gedung tersebut. Ealah, ternyata namanya “Transport Hub” bukan “Transit Hub”, hehe.
Gedungnya bertingkat, kayaknya lebih dari 10 lantai. Kalau menurut papan informasi di sana, sepertinya ada hotel di sana. Namanya, kalau tidak keliru “ArtHotel” atau “Artotel”? Semacam itu, lha.

Petunjuk bahwa di gedung itu ada food court-nya.
Lanjut, kata Mbah Google dan Tante AI, Rasa Padu Food Court lokasinya ada di dalam gedung tersebut, tepatnya di lantai tiga. Saya pun mengajak Dema masuk ke gedung dan naik ke lantai atas menggunakan eskalator. Sebenarnya, ada lift juga, sih, tapi karena mau sekalian melihat-lihat isi gedung, kami naik eskalator saja.

Naik ke lantai dua pakai eskalator ini.
Eh, ndilalah, di lantai dua gedung tuh sepi banget. Ada orang, sih, satu dua saja, terlihat sedang menata barang di meja. Entah apa, kayaknya mobil-mobilan Hot Wheels, gitu. Mungkin mau ada pameran atau gimana. Yang pasti lantai dua tuh hampir kosong melompong dan sepi, sehingga sempat bikin saya ragu, “Nih, lanjut ke lantai tiga, nggak, nih? Khawatir zonk.”
Kami pun berjalan melewati orang-orang yang sedang menata meja tadi untuk menuju eskalator berikutnya. Jadi eskalator dari lantai satu ke dua, sama eskalator dari lantai dua ke tiga tuh agak misah, gitu, gaes.

Naik ke lantai tiga.
Sebelum naik ke lantai tiga, saya sempat mendongak ke atas, “Kok ketoke sepi, yo? Trus, agak kurang terang lampunya.” Sampai akhirnya, terdengar suara mbak-mbak gitu, ketawa-ketawa di atas, baru saya yakin di atas memang ada orang.

Rasa Padu Food Court.
Kami pun naik ke atas dan ternyata nggak gelap seperti dugaan saya. Kami disambut dengan lantai yang cukup terang di sisi kanan ketika kami berbelok arah menuju Rasa Padu Food Court. Trus, di depan eskalator yang seperti gelap itu sepertinya ada pameran seni tentang “home” atau apa lha. Sementara di dinding sebelah kanan banyak tempelan sticky notes. Saya tidak membaca apa isinya, karena udah excited duluan ketemu Rasa Padu Food Court-nya, haha 😛 .
Memilih makanan di Rasa Padu Food Court
Ternyata, cukup stand/ booth makanan dan minuman di sana. Meja dan bangku buat dine in juga cukup banyak. Ada yang buat berdua, ada pula yang buat ramean.
Begitu saya masuk, di sebelah kanan tuh ada penjual yang menjual menu bebek goreng. “OK, saya mau itu,” batin saya, tanpa banyak berpikir lagi.

Lumayan ramai ketika sore.
Tinggal, Dema aja, nih, apaan. Mulanya, saya menawari ayam goreng saja, yang dijual di booth yang sama seperti bebek goreng tadi. Namun, akhirnya, saya mengajak Dema keliling food court-nya dulu sampai ke belakang. Sekalian survey di mana lokasi tempat cuci tangan/ wastafel, toilet, lalu kalau ada, mushola.
Tempat cuci tangan ternyata ada di bagian tengah food court, lalu mushola ada di area paling belakang. Sementara toilet ada di depan. Jadi, aman deh kalau makan di sana ketika Maghrib-Maghrib gitu.

Booth La Rasa.
Tepat di seberang wastafel ada penjual nasi goreng ayam. Nama booth-nya La Rasa. Selain nasi goreng, La Rasa juga menawarkan menu bihun goreng, kwetiaw, dan mie-mie’an lainnya, kayaknya. Saya tidak begitu memperhatikan, karena Dema langsung mau nasi goreng ayam. Di booth yang sama, saya kemudian memesan es teh tawar untuk saya sendiri dan sebotol air mineral yang dipajang di meja penjual buat Dema.

Booth Ayam Goreng Lengkuas.
Setelah itu, saya mengajak Dema kembali ke booth yang menjual menu bebek goreng tadi. Nama booth-nya Ayam Goreng Lengkuas. Sesuai namanya booth penjual makanan di Rasa Padu yang ini menjual ayam goreng, tetapi ada menu bebek goreng, ikan goreng, dll juga.
Di booth ini, saya hanya memesan bebek goreng saja, lalu mengajak Dema duduk di bangku yang kapasitasnya dua orang, tepat di depan booth ini.
Menikmati bebek goreng dan nasi goreng di Rasa Padu Food Court
Tak berapa lama, bebek goreng pesanan saya sudah jadi. Cepet, lho. Mana saya tinggal berdiri saja buat ngambilnya.
Mas-mas penjualnya, kemudian ngasi tau untuk mengambil sendiri sambalnya di sisi meja satunya. “Ooo pantes, kok, di piring ini belum ada sambel,” pikir saya.

Makan bebek goreng dulu, kitaaa.
Ternyata ada tiga pilihan sambal, gaes. Ada sambal ijo, sambal bajak, dan sambal terasi. Saya kemudian mengambil sambal ijo dan sambal bajak.
Menyusul kemudian, pesanan nasi goreng Dema dari booth makanan La Rasa tiba. Juga, air mineral dan es teh tawar pesanan saya tadi.
Dema dan nasi goreng ayamnya.
Okey, sekarang, mari kita bahas makanannya. Bebek gorengnya, saya memesan bagian dada, disajikan di dengan kremesan yang cukup berlimpah. Ada juga lalapan berupa potongan mentimun dan daun selada. Tentu saja sudah termasuk nasinya ya.

Sambalnya manteb pedasnya.
Bebeknya digoreng garing, sehingga tulang-tulangnya tuh kek gurih krenyes-krenyes, gitu. Rasa dagingnya pas, tidak terlalu asin. Dagingnya juga tidak alot, walau tidak bisa dikatakan empuk juga, sih, karena digoreng garing. Namun, overall, rasanya enak, tidak menyulitkan kalau digigit, dan satu poin plus-nya lagi dagingnya tuh berukuran besar.
Lalu, kedua sambal yang saya ambil tadi, beneran pedes. Jadi, saran saya, kalau ambil sambal sesuaikan dengan kemampuan lidahnya ya.
Kemudian, untuk nasi goreng ayam pesanan Dema, menurut saya rasanya gurih, ada perpaduan rasa asin dan manis. Tekstur nasinya pas, nggak terlalu keras maupun lembek. Nasinya juga sudah dilengkapi dengan sayuran pokcoy yang masih ijo segar dan potongan daging ayam berbentuk dagung yang cukup melimpah.

Porsi nasi gorengnya cukup besar.
Nasi goreng ini disajikan dengan acar dan seplastik kerupuk udang plus mlinjo. Enak, kok. Rasanya juga tidak pedas. Dijamin bocil-bocil suka nih jenis nasi goreng kayak gini.
Harga nasi bebek goreng yang saya pesan Rp34.000,-, sedangkan harga nasi goreng ayamnya Rp30.000,-. Untuk es teh tawar yang saya pesan Rp5.000,-, pantes gelasnya mungil syekaleeee, haha. Lalu, air mineralnya, kalau tidak keliru Rp7.000,-. Menurut saya harganya OK banget untuk sekelas food court yang berada di tengah-tengah Kota Jakarta.

Es teh tawarnya mungil kemasannya, hehe.
Setelah puas makan, kami pun Sholat Maghrib di mushola yang tadi saya bilang ada di area paling belakang Rasa Padu Food Court ini. Baru kemudian melanjutkan perjalanan naik KRL dari Stasiun Sudirman menuju Tanah Abang, lanjut ke jalur 5/6 jalur rel Greenline.
Yes, itulah pengalaman saya dan Dema (akhirnya) makan di Rasa Padu Food Court Dukuh Atas. Teman-teman sudah pernah makan di sana belum? Jika sudah, ada rekomendasi makanan/ minuman favorit, nggak? Supaya kapan-kapan kalau ke sana lagi bisa mencicipi makanan itu juga? 😀 .
Oh ya, buat yang penasaran di mana lokasi Rasa Padu Food Court, berikut map-nya ya:
Semoga cerita makan di Rasa Padu Food Court Simpang Dukuh Atas bermanfaat ya 😀 .
April Hamsa


Saya baru tahu kalua ada Transport Hub di Dukuh Atas, Mbak. Ini mungkin saya sudah jarang ke Sana. terakhir turun di Stasiun MRT Dukuh Atas, lalu niatnya naik LRT kok malah nyasar naik KRL hehehe.
Dan Rasa Padu Court Food ini ramai juga booth-nya ya, Mbak. Jadi bisa pilih beragam menu. Tempat juga nyaman. Pilihan pas, Mbak April mampir dulu untuk isi perut dan salat magrib baru lanjut perjalanan pulang. Menu pesanan Mbak April bikin ngiler. apalagi sambal bisa ambil sendiri hehehe.
Gedung Transport Hub ini memang pas banget buat opsi transit sambil recharge energi sebelum lanjut naik KRL. Pilihan makanannya juga bervariasi dan harganya terhitung sangat bersahabat untuk ukuran pusat kota Jakarta.
Bebek goreng garing sama sambalnya kelihatan menggoda banget. BTW lokasinya bikin jadi makin penasaran pengin mampir juga kalau lagi transit di Sudirman!
Wah aku malah baru tauuuu ada Transport Hub ini mbak. Kemaren sempet baca di blognya mas Nugie, tapi sekilas doang. Baru ngeuh kalo lokasinya deket stasiun Sudirman a.k.a Jalan Kendal yang kalo weekend selalu ramai tumpah ruah itu ya, hihihi.
Sayangnya saya pun agak jarang melipir kesana mbak. Secara, kalo dari LRT mah kan berasaaaaa yak jalannya. Bukan maen dah keringetnya ini, saking jauhnya itu jalan wkwkwkwk.
Tapi overall, kayaknya oke juga ni buat dikunjungi. Meski memang sesuai namanya, Pujasera, yang isinya cuma tenant-tenant kecil, tapi asalkan tempatnya nyaman dan harga makanannya masih lumayan worthed, aku sih so so sekali ya buat nanti ikutan melipir juga 😀
Dah ah, tandai duluuuuu
Kalau gak baca dengan baik bakalan ngira ke sana sama teman
Anak sudah gadis jadi teman jalan yang asik ya
Kalau aku sih asik kalau lagi good mood anaknya
Kalau bad mood, bakalan lelah sampe rumah
Hmm… aku penasaran sama Ayam Lengkuas-nya, fave banget soalnya
Kalau tempat2 sekitaran stasiun kereta, aku masih banyak ga tahu sih, Krn ga pernah melewati area sini. JD setelah baca tulisan mba April, langsung tahu tempat2 makan menarik yg mungkin nanti bisa aku datangi.
Kayaknya aku tahu deh tempat ini, secara mba sebut Artotel . Aku tahu Artotel ada cabang di kawasan dukuh atas.
Ada banyak tenants berarti yaaa. Menarik deskripsi bebek goreng nya, secara aku penggemar bebek 😄😍😍😍. Apalagi kalau sambalnya pedas. Mantaaap sih itu.
Tapi agak salfok liat nasi goreng si anak wedok. Baru kali ini aku liat nasi goreng pake pakcoy, ga dipotong2 pula 🤭😅. Biasanya kalau sayur di nasgor kan kayak kobis, atau sayuran yg udh dipotong 😅. Tapi kalau enak ya sudahlah yaaa 😄
Waah sampai bagian tulangnya juga kriuk ya Kak?
Berarti mantap nih cara pengolahannya, bisa seperti itu, jadinya buat yang butuh sumsum tulang makan menu Bebek goreng ini solutif juga karena bagian tulangnya pun bisa lahap dimakan tanpa dibuang.
Daku beluman nih jelajah sekitaran stasiun Sudirman. Cuma pernah denger transport hub itu aja dan kalo lihat video di medsos rangorang masih belum dapat gambaran lokasinya. Harusnya sih sambil nonton sambil praktekin ke sananya hihi
Makin keren nih Stasiun Sudirman. Kyknya ini dulu bekas lahan parkir yg dipake ojol dan parkir motor kita2 yg super hemat harganya. Aku dulu cuman bayar 2000an sehari. Beda kalo di SCBC yang bs 500-10.000. Bahkan ada yg 2.000 per jam.
Skrg udh diubah jd kawasan Transport Hub, yg isinya ga cuman Food Court. Ini bakalan jd kawasan rame tuh. Mana pertemuan dgn beberapa jenis transportasi lagi. Kalo pagi/sore, udh bejibun bgt nih ama penumpang.
Btw, aku tuh tipe yg muterin dulu semua tenant di food court. Kalo cocok menunya, baru lihat harganya. Kalo cocok smua, ya gas aja. Dgn harga segitu, emg worth it bgt ya kak. Makan nasi bebek dan ayam kremes udh jadi pilihan nyaman buat mengganjal perut stlh beraktivitas.
Yg penting, bs sholat maghrib dulu, lanjt ke perjalanan selanjutnya. Perut kenyang, hati nyaman. Perjalanan senang.
Aku tuh kalau masuk food court juga tipe yang harus muter dulu lihat semua tenant sebelum akhirnya memutuskan mau makan apa, hahaha. Biasanya yang kucari pertama tuh comfort food mbak kayak nasi goreng atau soto-sotoan. Kalau bebek biasanya aku gambling based on gambar di google. Beberapa kali pernah nyoba makan bebek tuh failed, dagingnya agak alot dan agak bau lebus gitu. Jadi kalau khusus bebek biasanya ke tempat-tempat yang udah langganan aja. Hihihi.. 😀
Tapi kalau di gambar yang ini, kok rasanya terlihat garing ya. Apalagi ada taburan yang mirip lengkuas gitu dan di aku kayak udah kebayang bebek gurih langgananku di Malang. Wkwkwkw.. Of course, kalau makan bebek sangat kurang kalau nggak ada sambelnya.. :p
asyiknya makan di food court itu kita bisa beli makan di berbagai booth ya buat yang seleranya beda juga pastinya banyak pilihan. kulihat harganya juga masih wajar nih pujasera-nya
Kalau jam nanggung gitu mending nunggu bentar ya mbak untuk sholat daripada bingung nanti sholatnya sekalian kan bisa icip-icip di food courtnya. Enaknya kalau makan di food court begitu banyak pilihan dan biasanya harganya relatif terjangkau. Soal rasa balik lagi ke selera sih.
Udah jarang nih ke Dukuh atas. Pas area Hub ini baru opening, sempat ngelewatin dan explore dari lantai ke lantai tapi nggak makan karena takut harganya mahal hehehe. Jadilah aku melipir ke bubur Sunda. Yaampun, padahal ternyata nggak mahal banget, standart lah ya buat di area tersebut mah.
Porsi nasi gorengnya wow ajib sekali. Sambelnya ambil mandiri sesuai keinginan ya. Mantep sih ada 3 pilihan sambel. Nanti kalau ada job area situ bolehlah aku coba mampirin. Penasaran sama menu yang mba April cobain juga hehe.
Food court nya nyaman ya
Ada banyak pilihan menu
Gimana? Lebih enak mana sama nasi Bebek yang ada di Surabaya? Hehehe
Btw aku kalau makan nasi Bebek, juga lebih senang sama sambal ijo or sambal bawang
Bagus lho tempatnya untuk ukuran foodcourt. Desain tenant dan meja kursinya estetik. Biasanya foodcourt identik dengan kursi plastik soalnya hehehe…
Bebeknya tampak menggoda. Itu nasi goreng juga jarang-jarang dilengkapi pokcoy, yang sering kan pakai sawi hijau.
Enak semua lha. Walaupun awalnya ragu-ragu ya karena lantai dua sepi.
Belum pernah ke sana tapi setelah membaca tulisan dan melihat fotonya Kak April tempat ini sepertinya menarik sekali. Tempatnya bersih dilengkapi dengan mushala. Jujur saya tertarik dengan nasgornya, sepertinya sangat memanjakan lidah he…he…porsinya juga termasuk banyak ya. Semoga suatu saat nanti bisa ikut kulineran di sana, supaya rasa penasaran bisa terobati.
Rasa Padu, namanya unik yaah…
Kalo diartikan ke bahasa Jawa, bisa gawat tuuh.. hehehe…
Seneng menunya bebek, comfort food aku… dan bener yaah.. minumannya bisa ditekan harganya tapiii porsinya mashaAllah.. ikutan Dema minum air mineral akhirnya yaak..
Suka sama bebek yang bumbu taburnya melimpaaahh…
Belum lagi sambelnya yaa.. ini kuncian bangettt. Jadi semakin lezat kalo cocolan sambelnya pas!
Btw, timun buat lalapnya mantaapp!
Ngebantu banget kalo kepedesan, hehehe..