Pintu commuter line (KRL) terbuka dan Stasiun Rangkasbitung yang makin cantik menyambut kehadiran saya dan anak-anak. Akhirnyaaa, setelah empat tahun lamanya, kami kembali menjejakkan kaki di stasiun ini. Kali ini tujuannya cuma mau kulineran. Renacananya makan siang di sebuah rumah makan legend yang ada di sana. Namanya Rumah Makan Ramayana 😀 .
Makan siang bertiga sama anak-anak di Rumah Makan Ramayana, Rangkasbitung.
Kalau teman-teman bertanya-tanya, mengapa saya tiba-tiba aja ngajakin anak-anak makan siang di Rumah Makan Ramayan ini? Jawabannya adalah karena lagi FOMO aja, hehe 😛 . Selain juga karena bosan di rumah mulu. Mau ke arah Jakarta, udah males duluan dengan kabar-kabar KRL greenline menuju Stasiun Tanah Abang. Jadi, yawda, kali ini mau jalan melawan arus aja 😀 .
Kulineran di Rangkasbitung
Jadi, belakangan, saya tuh sering menemukan konten-konten tentang kulineran di Rangkasbitung. FYI, buat teman-teman yang belum tahu, Rangkasbitung merupakan sebuah kecamatan yang ada di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.
Bagi yang masih no clue tentang tempat ini, pernah dengar buku Max Havelaar, nggak? Atau mungkin penulisnya, yakni Multatuli atau Eduard Douwes Dekker? Hmmm, atau Suku Baduy, atau debus, deh. Itu semua terkait dengan daerah Lebak, Banten ini.
Saya pertama kali ke Rangkasbitung keknya tahun 2017 atau 2018-an, gitu. Waktu itu ikut rombongan berwisata ke kawasan Suku Baduy Dalam.

Bagian depan Rumah Makan Ramayana di tepi jalan raya.
Kali kedua, ke Rangkasbitung lagi, tahun 2022, bersama anak-anak saya dan beberapa temannya (plus emak-emaknya, tentu aja) ke sana lagi untuk mengunjungi Perpustakaan Saidjah Adinda dan Museum Multatuli.
Trus, udah luamaaa, banget, nggak ke sana. Padahal, kalau dipikir-pikir, perjalanan ke Rangkasbitung, start dari stasiun KRL terdekat cuma 50 menit saja. Yaaa, mungkin, karena belum ada alasan saja ke sana lagi, hehe. Sampai akhirnya, seperti yang saya bilang tadi, belakangan saya nemu konten-konten kulineran di Rangkasbitung, kok penasaran yaaa.
Sebenarnya, yang paling terkenal tuh namanya Warung Nasi Ka Oyo. Lokasinya, di pasar, yang langsung ketemu saat kita keluar dari Stasiun Rangkasbitung. Cumaaa, baca dari komen-komennya warlok, tempat makan ini tuh agak kurang ramah buat yang bawa anak kecil, ya. Mungkin, karena lokasinya di kios pasar gitu dan katanya ramai banget karena pernah di-viral-in sama influencer Nex Carlos.
Trus, ada pujasera juga di dekat alun-alun Rangkasbitung. Waktu jalan ke sana saya sempat ngintip menu-menunya dan terlihat menggiurkan. Cuma, kali itu, karena tujuannya ke Rumah Makan Ramayana, ya akhirnya nggak jajan lagi di pujasera 😀 .
Rumah Makan Ramayana di Rangkasbitung
Pertama kali tahu Rumah Makan Ramayana ini dari salah satu postingan di Tiktok. Saya melihat rumah makannya termasuk proper ya buat mengajak anak kecil, jika dibandingkan beberapa kulineran lain di Rangkasbitung yang viral.
Jadi, bentuk rumah makannya seperti depot jadul, gitu. Bersahaja, resik, dan cukup homey, lha. Kemudian, salah satu yang membuat rumah makan ini istimewa adalah katanya udah ada sejak tahun 1980, tetapi masih bisa mempertahankan cita rasa aslinya.

Area kasir dekat meja tempat kami makan.
Lokasi Rumah Makan Ramayana ini sebenarnya tidak jauh dari Stasiun Rangkasbitung. Nanti, keluar saja melalui pintu yang menuju pasar atau perlintasan kereta api yang terdekat dengan Toko Niceso, deh. Kalau melihat di map, jaraknya tidak sampai satu kilometer ke Rumah Makan Ramayana. Kayaknya cuma 850 meter aja.
Kalau mau jalan kaki dari stasiun, sebenarnya bisa aja, sih. Cuma karena waktu itu saya datangnya sudah siang banget (Jam Cinderella kepanasan haha), akhirnya, saya memutuskan naik mobil online saja. Mana bawa bocils lagi, yekan? Ketimbang mereka ngoak-ngoak hahaha 😛 . Cuma bayar Rp12500,- aja plus tip kalau mau, udah langsung sampai deh ke Rumah Makan Ramayana.

Kalau jam makan siang di sini ramai sekali.
Sebelum sampai sana, sebenarnya saya sudah mempersiapkan diri, sih, kalau datangnya saat makan siang, ada kemungkinan bakal ramai, nih. Beneran, deh, parkiran mobilnya lumayan nih, penuh mobil, haha.
Jadi, kalau saya perhatikan, bangunan Rumah Makan Ramayana ini bentuknya letter L gitu. Nah, bagian bolongnya ini merupakan parkiran. Ada lebih dari lima mobil dan beberapa motor terparkir di sana. Belum lagi yang di bagian depan di trotoar, entah parkir, entah ngdrop pengunjung aja, hehe.
Yawdalah, dengan PD saya mengajak anak-anak masuk, sambil ngarep, semoga masih ada meja kosong. Ternyata, ada sekitar 3 pintu di sana. Pintu pertama merupakan area dine in paling depan, full, saudara-saudara. Hahaha, ketawa kecut.

Area dine in paling belakang.
Kemudian, pandangan saya langsung ke pintu ketiga, ngintip sekilas dari jendela, saya lihat semua meja penuh terpakai semua. Udah mulai mumet, tuuuhh wkwk.
Sampai akhirnya, saya melongok ke pintu kedua. Yeaayy, ada 2 meja kosong. Akhirnya, saya cepat-cepat mengajak masuk anak-anak dan menduduki salah satu meja 😀 .
Tak lama setelah kami duduk, datang lagi satu keluarga, duduk di meja satunya lagi. Fyuuuhh 😀 .
Pelajaran yaaa, jangan datang saat jam makan siang wkwk. Oh ya, Rumah Makan Ramayana ini bukanya, kalau tidak keliru mulai jam 8 pagi hingga jam 4 sore WIB.
Makanan dan minuman yang kami nikmati di Rumah Makan Ramayana
Konon katanya yang banyak dicari orang di Rumah Makan Ramayana ini adalah nasi ramesnya. Namun, kali itu saya tidak memesan nasi rames melainkan makanan lain yang bisa dinikmati bersama aja.
Tidak ada buku menu yang akan diantarkan ke meja pengunjung, malainkan di masing-masing meja sudah ada semacam list menu lengkap dengan harganya, yang bentuknya mirip plakat, gitu. Kalau sudah siap order, nanti bisa langsung memanggil mbak/ mas petugasnya atau langsung saja datang ke kasirnya supaya nanti dipanggilkan petugas yang bisa melayani kita.
Saya akhirnya memesan dua menu saja, yakni sate ayam kampung dan sop kambing. Tentu saja, saya juga memesan tiga porsi nasi.
Untuk minumannya, saya memesan es cendol, anak saya Maxy memilih es jeruk, sedangkan Dema maunya air mineral saja. Anak saya Dema memang cuma minum air putih dan susu. Minuman lainnya nggak terlalu suka 😀 .

Free teh hangat.
Tak lama kemudian, minuman yang kami pesan tiba. Eh, tetapi selain membawakan kami minuman, mas-mas pelayannya juga ngasi kami tiga gelas besar teh hangat.
“Eh, ini bukan punya saya, Pak. Saya nggak pesen,” kata saya.
“Ooo ini tehnya gratis. Kalau mau silakan diminum,” katanya.
Weeeww, mayan banget dapat teh anget, hehe.
Selang beberapa lama, sate ayam kampung dan sop kambing yang kami pesan diantar juga ke meja. Kesan pertama saya ketika makanan itu disajikan, “Wow, potongan dagingnya besar-besar, sepadan lha ya sama harganya.” 😀 .
Satu piring ada 10 tusuk sate ayam kampung. Kalau kata orang Jawa “sejinah”. Selain piring sate, semangkuk kecil acar dan sambal juga diberikan ke kami. Banyak, lho, acara ma sambalnya ini hehe 😀 .

Sate ayam kampung.
Balik ke sate, meskipun potongan dagingnya lumayan lebih besar dari sate-sate ayam yang pernah saya makan selama ini, tetapi ternyata dagingnya empuk. Anak-anak saya mengamini pendapat saya. Pokoknya kalau bocils bisa dengan mudah memakan daging satenya, berarti itu empuk wkwk 😀 .
Aroma pembakaran daging ayam kampungnya pun tercium kuat, smoky, begitu menggugah selera. Bumbunya seolah meresap dengan baik ketika proses pembakarannya.

Sambal dan acar pelengkap sate.
Lalu, bumbu kacangnya tuh kental, rasanya gurih manis, dan melimpah. Sampai satenya habis, bumbunya masih nyisa di piring haha. Kalau ada kerupuk keknya udah saya habisin tuh bumbu kacang pakai kerupuk. Namun, sepertinya saya tidak melihat ada kerupuk di sana.
Kemudian, buat sop daging kambingnya, disajikan dengan kuah kaldu bening yang rasanya begitu gurih. Sepintas kuahnya mirip kuah bakso yang bening.

Sop daging kambing.
Potongan daging kambingnya juga lumayan besar. Masih disajikan dengan tulang dan juga lemaknya alias “gajih”. Karena saya suka lemak daging kambing, nggak masalah, sih 😀 . Selain daging, di dalam mangkuk sop kambing ini juga ada campuran emping melinjo, tomat ijo segar, dan potongan seledri yang makin menambah cita rasa kuah sop ini.
Untuk minumannya, komen es cendolnya aja, kali ya, yang juga merupakan salah satu minuman yang banyak dicari pengunjung di Rumah Makan Ramayana ini. Es cendolnya menurut saya rasa manisnya pas, enggak yang nyegrak banget, gitu. Tekstur cendolnya kenyal dan lembut. Air santannya terasa segar, walaupun cenderung kental.

Es cendol pesanan saya.
Secara keseluruhan, rasa makanan dan minuman yang saya dan anak-anak nikmati di Rumah Makan Ramayana ini memuaskan. Kalau ke Rangkasbitung, misalnya bawa tamu gitu, keknya saya akan mengajak mereka ke sini 😀 . Harga makanannya juga masih mayan ya, sepadan sama penyajian makanannya. Untuk semua makanan dan minuman yang kami pesan, kami membayar sebesar Rp145.000,-.

Es jeruk pesanan Maxy.
Oh ya, kalau ada pertanyaan tentang apakah Rumah Makan Ramayana ini halal certified apa nggak? Terus terang saya tidak melihat logo halal yang bentuk wayang itu di sana, tetapi di pintu rumah makan ini ada semacam poster berisi pernyataan komitmen kalau rumah makan ini hanya meyediakan makanan halal, termasuk menjelaskan kalau mereka memotong daging hewannya menggunakan syariat Islam.
Begitulah teman-teman, cerita sana dan anak-anak kulineran ke Rumah Makan Ramayana yang ada di daerah Rangkasbitung, Lebak, Banten.
Buat teman-teman yang tertarik nyicipin makanan di Rumah Makan Ramayana Rangkasbitung juga berikut alamat lengkapnya ya:
Semoga bermanfaat 😀 .
April Hamsa


wah segernya kulineran di rumah makan ramayan rangkasbitung apalagi dengan suguhan minuman favorit es cendol dan juga ada makanan khas favorit madura te sate jadi tambah maknyus. sayangnya tidak disertakan harga satuannya. jadi penasaran nih
Ini es cendolnya yang bikin Mak nyus, tapi tentunya lebih nikmat karena bisa kulineran bersama keluarga, jadi mengisin perut sekaligus bonding dengan anak-anak. Jujur penasaran dengan ansi ramesnya, kira-kira apa nya kelebihannya dibandinmgkan dengan nasi rames yang lain.
Panas2 gini emang nikmat buat makan es cendol sih. Makan ama keluarga tambah mkn menyenangkan tuh. Plus ditambah seporsi lagi nasi sate, sejinah saja udh bikin kenyaaang. Ini sih bakal jadi warung andalan kalo lagi di Rangkasbitung tuh. Bela2in ke sana ternyata ada kesan berharga ya mbak.
Seru banget nih kak ceritanya, makan siang sampe ke Rangkasbitung loh. Biar2 niat nih sekalian nyenengin si kecil. Salam kenal adek Maxy dan Dema. Wah semangat bgt nih nemenin bundanya jalan2.
Btw, itu teh hangatnya tawar kan ya? Tapi oke banget loh pelayanannya. Meski gratis, pengunjung bakalan senang tanpa memesan. Entah dminum atau nggak, minimal pemilik udh ngasih sesuatu. Mgkn utk menunggu sembari menunggu pesanan dtg.
Worthed bgt nih kalo pgn kulineran khas nusantara di sana. Pgn tahu rasanya nasi ramesnya jg. Sekalian sate yg sejinah itu. Pasti lgsg kenyang nih meski dibagi bertiga.
Iya mas, nggak nyangka ada free minum tehnya haha
Bener ya rumah makannya tampak seperti depot-depot jadul. Lengkap dengan plakat menu hehehe…
Sate ayamnya tampak enak., terutama bumbunya. Kalau sop kambing saya kurang suka sih.
Es cendolnya juga menggiurkan. Seger-seger gimana gitu.
Enak mbak, mana ukurannya gede2 lho. Sambel kacangnya enak, pantes banyak org ke sini hehe.
Bisa jadi langganan mbak hehehe…
Biasanya sate ayam kebanyakan kecil-kecil ya. Kaya satu tusuk aja belum begitu berasa. 10 tusuk habis dimakan sendiri.
Kalau gede-gede gini sih bisa lha 10 tusuk buat barengan. Soalnya kalau ngabisin sendiri pasti kekenyangan ????
Eh tapi nggak tau sih kalau anak remaja cowok gitu. Biasanya makannya udah banyaaaak ????
Wah asiknya
Bisa kulineran di Rangkasbitung
Itu sop daging kambingnya nampak sangat menggoda mbak
Enak beneran, nggak prengus.
Rangkasbitung masuknya Banten yaa..
Memang kalo Uda punya mau, kita gak pake dinanti-nanti yaa.. keburu gajadi.
Gercepin dan triinkk.. Alhamdulillah, Uda sampai di Rumah Makan Ramayana.
Namanya sekilas jadi inget toko baju legend.. tapi memang nama ‘Jawa’ banget alias tokoh pewayangan.
Dengan comfort food, in syaa Allāh halal yaa.. karena menunggu sertifikat halal yang katanya mengurusnya ga mudah dan lama…
Paling seneng ada yang free.. yeaay..
Kyknya yang punya cindo gitu jadi supaya nggak ragu pengunjungnya kali ya? Ini kalau nggak salah ya, entah aku yang sotoy aja haha.
Mampir seini mbak, cuma sejam dari Jakarta naik KRL.
Jujur aku sendiri belum pernah ke Stasiun Rangkasbitung dan sempat kaget pas baca kalau stasiunnya sekarang sudah direvitalisasi jadi secantik dan serapi itu. Ternyata akses ke sana juga gampang banget, ya, cuma sekitar 50 menit saja.
Rumah Makan Ramayana-nya juga kelihatan homey banget dengan gaya depot jadul gitu. Sate ayam kampungnya yang empuk dan bumbu kacang melimpah itu sukses bikin ngiler, apalagi porsinya kelihatan besar-besar. Teh anget gratis itu amaatt membantu hihihi.
Iya mbak, dulu stasiunnya tu yaaa apa adanya. Keknya juga bangunan lawas peninggalan kolonial Belanda, kalau gak salah ya, banyak orang transit di sini untuk menuju Pulau Sumatera mbak.
Ooh, stasiun jujugan yaah… ((opo istilahnya??? heheh))
Seneng banget ngajakin anak-anak jalan menikmati banyak tempat.
OOTDnya Dema so cuteeyyy..
Anak-anak sekarang mashaAllah yaa.. skena skena gitu senengannya.. tapi keceee bangeett~
Makanya pas pulkam, anak-anak bongkar lemari emaknya, kaget.
Soalnya baju mamak so pinkeu pinkeu.. ga ada warna gelap.
Mantul banget makan sop kambingnya sampai Rangkasbitung. Dan puas ya dagingnya gede dan bergajih. Jadi sesuai keinginan. Boleh juga nih ke Ramayana ga beli baju tapi makan. Ada rencana mau main ke Rangkas sih. Cuman mesti spend waktu agak banyak ya
Awalnya juga kukira rumah makan di Ramayana dept store mas, tapi bukan, keknya kagak ada Ramayana di sana wkwk.
Ayok gaskeun kulineran di Rangkas.
Aku tuh demen banget sama cendel. Jadi minat banget melihat es cendol punya rumah makan Ramayana.
Mau ketawa tapi gimana ya, Kak. Kalau pergi ke restoran atau rumah makan di kala jam makan siang sudah pasti, barang tentu akan penuh.
Beruntung masih ada meja kosong ya, Kak. Jadi, nggak perlu ngantri deh. Hehehe….
Wkwk lha ya mbak, mau berangkat jam 9 eh malah jadi berangkat jam 11, umek aja ma bocil2, akhirnya sampai sana pas makan siang, pasrah dah =))
Jadi makin penasaran nyoba naik kereta ke Rangkss Bitung deh.. padahal 5 bulan kemarin full di Serpong tapi belum ada nyali bawa anak anak dan bayi buat bertualang nih.. next time ah
Wah senangnya bisa kulineran tanpa harus repot mikirin transportasi untuk menuju lokasinya, pilihan yang tepat naik KRL dan tempatnya masih deket stasiun.
biasanya kalo sate ayam tuh umumnya menggunakan ayam negeri, karena ayam kampung mahal, wah kalo ini sih pasti rasanya lebih enak dan worth it harganya untuk makan bareng keluarga
Es cendolnya menggoda ya, hehe secara saya juga suka es cendol mbak.
resiko pas makan di makan siang ya begitulah apalagi kalau resto atau rumah makan favorit pastinya penuh kan ya. secara alarmnya sama jam makan siang waktunya mengisi perut yang sudah keroncongan hehehe
untung masih dapat tempat ya mbak, kan lumayan perjalanannya tuh hampir 1 jam pas lapar pula, bisa ngereog nanti kiddos kalau makannya telat
Es cendolnya sungguh menggugah selera. Alhamdulillah dapat free teh ya tapi ini manis atau tawar?
Daku belum pernah makan sate ayam kampung, kayaknya enak, ngasih bumbu juga melimpah.
Puazz ya makan di sana.
Baiik bangettt kasih teh free..itu teh tawar kayaknya ya?
tapi ya, acung jempol ama manajemen resto yg thoughtful dan empatik kek giniii.
aku lihat sate ayam kampungnya beughh, jadi inget sate khas ponorogo. biasanya pakai ayam kampung jugaaa. makin sedep kalo makan pakak lontong atau ketupat ituuu.
lokasinya juga enakeun , akses ke transum dekaatt ya
.
Enjoy bgt pengalaman kuliner keluarga kamu, Prilll…Gembiranya ampe nembus layar dah
Rumah Makan Ramayana ini emang legendaris banget, depot jadulnya kelihatan bersih dan homey. Potongan sate ayam kampungnya jumbo dan empuk, plus bumbu kacang melimpah itu juara sih. Sop kambing beningnya juga kelihatan segar banget. Total 145 ribu buat makan bertiga dengan porsi mengenyangkan begini sih worth it banget.
ah sekali2 ganti suasana gak apa lah, apalagi kl udah penasaran dan anak2 juga mau diajak barengan. Makan bareng keluarga akan bikin suasana jadi lebih menyenangkan pastinya. Apalagi kalau makanannya cucok sm selera. Gk sia2 deh dibela2in ke sana. Ohya, lumayan jarang ya rumah makan menyediakan teh gratis buat pengunjung. Another point plus tuh.
Aku kayaknya hrs maksa Raka, utk ajarin naik KRL, supaya bisa ke tempat2 jauh begini dengan anak2 juga ????????????. Kalau nungguin bapaknya, bisa sampe lebaran kuda ga jadi2 ????.
Lihat menunya aku langsung sukaaaaa. Kliatan banget sate nya menggoda. Apalagi pake ayam kampung . Btw satenya full daging atau ada kulitnya mba? Aku pastinya suka yg ada kulit. Tp jarang makan sate ayam kampung. Pake kulit ga yaaa ?
Cendolnya pasti bikin kenyang, Krn santannya pekat hahahaha. Biasanya kalau makan yg begini, aku lebih milih es teh tawar atau es jeruk deh, biar segeeer ????????.
Kalau cuma sepintas melihat foto itu sop, bakalan mengiranya kayak daku deh berpikir itu adalah bakso berkuah hangat hehe. Lah ternyata sop kambing yak. Ini disantap dengan sedikit sambal pedas dan nasi semangkok, udah ngayal aja daku wkwkwk.
Rangkasbitung udah makin asik ya buat dikunjungi. Stasiunnya bikin betah. Semoga makin banyak lagi nih spot kulineran di sekitaran stasiun, biar kalau pas jam maksi ga pakai payung Cinderella hehe
Aku tuh sempet kaget, kukira rumah makan ramayana tuh rumah makan di area mall ramayana begitu. Cuma namanya aja yang ramayana.. Hihihi.. 😀
Tapi emang kalau deket stasiun tuh tempat yang strategis mbak. Pasti bakal rame, selain lokasinya juga bakal dicari sama orang-orang yang baru keluar dari stasiun. 😀
Jadi ngiler sama sate ayamnya. Nggak biasa lho, kebanyakan mah sate ayam tuh pake ayam negeri, ini ayamnya pake ayam kapung. Bisa nih di coba kalau ke Rangkasbitung.. 😀
Saya paling seneng kalo melipir ke tempat kuliner yang ada embel-embel ‘legend’nya gini. Biasanya, pertaanda makanannya sedappp banget, sampe bisa bertahan selama bertahun-tahun, atau bahkan lintas generasi.
Menu-menunya sebenarnya masuk ke comfort food semua sih ya. ya sate ayam, sate kambing, itu lumayan sering saya temukan di sekeliling rumah juga. Tapi namanya vibes nostalgia mah gabisa dibeli ya mbak, teteupp.. pasti ada nuansa tersendiri di tempat legendaris. Apalagi jalannya sampe jauh-jauh ke rangkasbitung lho ini.
Saya sampe sekarang blm pernah nyentuh line Rangkasbitung nih kalo naik KRL. Pengen bangetttt nyobain kesana, tp istri berattt langkahnya. gatau kenapa, males dia, heuheu
wah aku belum pernah makan sop kambing eh apakah rasanya sama kayak sop daging sapi? Seru juga ya pril ngajak anak-anak wisata kuliner ke berbagai lokasi dan jujur salut aku sama warga jabodetabek ini yang kadang tiap hari lintas provinsi untuk beraktivitas
Saya juga sudah lama ga main ke Rangkasbitung, Mbak. Terakhir mau lihat staisun yang direnov, lalu main ke alun-alun Rangkas bitung plus ke museum Multatuli. Dan ternyata asyik juga kulineran di sana ya, Mbak. Temasuk di Rumah Makan Ramayana. Itu es cendolnya seger bener, apalagi disantap siang-siang ya, Mbak hehehe. next mau direncanakan lagi ke sana. Mudah ini naik KRL dari Depok hehehe.
Whoaaa,,,,,es ccendolnya saya mau dong mbak Aprilll,,,,enak banget itu terlihatnya. yess fix ini sih rumah makan rekomended yaa kalau ke Rangkas,,,,jumlah pengunjung banyak dan memenuhi rumah makan sudah cukup membuktikan bahwa menu makan disini enak-enak. kalau gak enak sih mana ada yang mau makan disini kaan. Makanya Mbak April sampe rela samperin jauh-jauh dari rumah kesini naik KRL buat bisa makan di Rumah Makan Ramayana…..Kalau sudah begini namanya sudah jatuh hati,,,,
Iyaa beneran ini tempat nya cirikhas restoran lama yang eksis sampai sekarang..biasanya memang mereka mempertahankan bangunan gak yang neko2 yang penting masakannya dan biasanya cenderung masakan2 asli Indo yaaa…
Aku baru nemuin ini sate ayam pake sambel dan acar..biasanya langsung dikasih irisan cabe sama irisan bawang merah klo yang biasa beli di sate2 madura itu hehe…
Btw aku lagi baca buku maltatuli looo..belum selesai sie masih bab2 awal trus kedistrak buku yg lain hehehe