Pintu commuter line (KRL) terbuka dan Stasiun Rangkasbitung yang makin cantik menyambut kehadiran saya dan anak-anak. Akhirnyaaa, setelah empat tahun lamanya, kami kembali menjejakkan kaki di stasiun ini. Kali ini tujuannya cuma mau kulineran. Renacananya makan siang di sebuah rumah makan legend yang ada di sana. Namanya Rumah Makan Ramayana 😀 .
Makan siang bertiga sama anak-anak di Rumah Makan Ramayana, Rangkasbitung.
Kalau teman-teman bertanya-tanya, mengapa saya tiba-tiba aja ngajakin anak-anak makan siang di Rumah Makan Ramayan ini? Jawabannya adalah karena lagi FOMO aja, hehe 😛 . Selain juga karena bosan di rumah mulu. Mau ke arah Jakarta, udah males duluan dengan kabar-kabar KRL greenline menuju Stasiun Tanah Abang. Jadi, yawda, kali ini mau jalan melawan arus aja 😀 .
Kulineran di Rangkasbitung
Jadi, belakangan, saya tuh sering menemukan konten-konten tentang kulineran di Rangkasbitung. FYI, buat teman-teman yang belum tahu, Rangkasbitung merupakan sebuah kecamatan yang ada di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.
Bagi yang masih no clue tentang tempat ini, pernah dengar buku Max Havelaar, nggak? Atau mungkin penulisnya, yakni Multatuli atau Eduard Douwes Dekker? Hmmm, atau Suku Baduy, atau debus, deh. Itu semua terkait dengan daerah Lebak, Banten ini.
Saya pertama kali ke Rangkasbitung keknya tahun 2017 atau 2018-an, gitu. Waktu itu ikut rombongan berwisata ke kawasan Suku Baduy Dalam.

Bagian depan Rumah Makan Ramayana di tepi jalan raya.
Kali kedua, ke Rangkasbitung lagi, tahun 2022, bersama anak-anak saya dan beberapa temannya (plus emak-emaknya, tentu aja) ke sana lagi untuk mengunjungi Perpustakaan Saidjah Adinda dan Museum Multatuli.
Trus, udah luamaaa, banget, nggak ke sana. Padahal, kalau dipikir-pikir, perjalanan ke Rangkasbitung, start dari stasiun KRL terdekat cuma 50 menit saja. Yaaa, mungkin, karena belum ada alasan saja ke sana lagi, hehe. Sampai akhirnya, seperti yang saya bilang tadi, belakangan saya nemu konten-konten kulineran di Rangkasbitung, kok penasaran yaaa.
Sebenarnya, yang paling terkenal tuh namanya Warung Nasi Ka Oyo. Lokasinya, di pasar, yang langsung ketemu saat kita keluar dari Stasiun Rangkasbitung. Cumaaa, baca dari komen-komennya warlok, tempat makan ini tuh agak kurang ramah buat yang bawa anak kecil, ya. Mungkin, karena lokasinya di kios pasar gitu dan katanya ramai banget karena pernah di-viral-in sama influencer Nex Carlos.
Trus, ada pujasera juga di dekat alun-alun Rangkasbitung. Waktu jalan ke sana saya sempat ngintip menu-menunya dan terlihat menggiurkan. Cuma, kali itu, karena tujuannya ke Rumah Makan Ramayana, ya akhirnya nggak jajan lagi di pujasera 😀 .
Rumah Makan Ramayana di Rangkasbitung
Pertama kali tahu Rumah Makan Ramayana ini dari salah satu postingan di Tiktok. Saya melihat rumah makannya termasuk proper ya buat mengajak anak kecil, jika dibandingkan beberapa kulineran lain di Rangkasbitung yang viral.
Jadi, bentuk rumah makannya seperti depot jadul, gitu. Bersahaja, resik, dan cukup homey, lha. Kemudian, salah satu yang membuat rumah makan ini istimewa adalah katanya udah ada sejak tahun 1980, tetapi masih bisa mempertahankan cita rasa aslinya.

Area kasir dekat meja tempat kami makan.
Lokasi Rumah Makan Ramayana ini sebenarnya tidak jauh dari Stasiun Rangkasbitung. Nanti, keluar saja melalui pintu yang menuju pasar atau perlintasan kereta api yang terdekat dengan Toko Niceso, deh. Kalau melihat di map, jaraknya tidak sampai satu kilometer ke Rumah Makan Ramayana. Kayaknya cuma 850 meter aja.
Kalau mau jalan kaki dari stasiun, sebenarnya bisa aja, sih. Cuma karena waktu itu saya datangnya sudah siang banget (Jam Cinderella kepanasan haha), akhirnya, saya memutuskan naik mobil online saja. Mana bawa bocils lagi, yekan? Ketimbang mereka ngoak-ngoak hahaha 😛 . Cuma bayar Rp12500,- aja plus tips kalau mau, udah langsung sampai deh ke Rumah Makan Ramayana.

Kalau jam makan siang di sini ramai sekali.
Sebelum sampai sana, sebenarnya saya sudah mempersiapkan diri, sih, kalau datangnya saat makan siang, ada kemungkinan bakal ramai, nih. Beneran, deh, parkiran mobilnya lumayan nih, penuh mobil, haha.
Jadi, kalau saya perhatikan, bangunan Rumah Makan Ramayana ini bentuknya letter L gitu. Nah, bagian bolongnya ini merupakan parkiran. Ada lebih dari lima mobil dan beberapa motor terparkir di sana. Belum lagi yang di bagian depan di trotoar, entah parkir, entah ngdrop pengunjung aja, hehe.
Yawdalah, dengan PD saya mengajak anak-anak masuk, sambil ngarep, semoga masih ada meja kosong. Ternyata, ada sekitar 3 pintu di sana. Pintu pertama merupakan area dine in paling depan, full, saudara-saudara. Hahaha, ketawa kecut.

Area dine in paling belakang.
Kemudian, pandangan saya langsung ke pintu ketiga, ngintip sekilas dari jendela, saya lihat semua meja penuh terpakai semua. Udah mulai mumet, tuuuhh wkwk.
Sampai akhirnya, saya melongok ke pintu kedua. Yeaayy, ada 2 meja kosong. Akhirnya, saya cepat-cepat mengajak masuk anak-anak dan menduduki salah satu meja 😀 .
Tak lama setelah kami duduk, datang lagi satu keluarga, duduk di meja satunya lagi. Fyuuuhh 😀 .
Pelajaran yaaa, jangan datang saat jam makan siang wkwk. Oh ya, Rumah Makan Ramayana ini bukanya, kalau tidak keliru mulai jam 8 pagi hingga jam 4 sore WIB.
Makanan dan minuman yang kami nikmati di Rumah Makan Ramayana
Konon katanya yang banyak dicari orang di Rumah Makan Ramayana ini adalah nasi ramesnya. Namun, kali itu saya tidak memesan nasi rames melainkan makanan lain yang bisa dinikmati bersama aja.
Tidak ada buku menu yang akan diantarkan ke meja pengunjung, malainkan di masing-masing meja sudah ada semacam list menu lengkap dengan harganya, yang bentuknya mirip plakat, gitu. Kalau sudah siap order, nanti bisa langsung memanggil mbak/ mas petugasnya atau langsung saja datang ke kasirnya supaya nanti dipanggilkan petugas yang bisa melayani kita.
Saya akhirnya memesan dua menu saja, yakni sate ayam kampung dan sop kambing. Tentu saja, saya juga memesan tiga porsi nasi.
Untuk minumannya, saya memesan es cendol, anak saya Maxy memilih es jeruk, sedangkan Dema maunya air mineral saja. Anak saya Dema memang cuma minum air putih dan susu. Minuman lainnya nggak terlalu suka 😀 .

Free teh hangat.
Tak lama kemudian, minuman yang kami pesan tiba. Eh, tetapi selain membawakan kami minuman, mas-mas pelayannya juga ngasi kami tiga gelas besar teh hangat.
“Eh, ini bukan punya saya, Pak. Saya nggak pesen,” kata saya.
“Ooo ini tehnya gratis. Kalau mau silakan diminum,” katanya.
Weeeww, mayan banget dapat teh anget, hehe.
Selang beberapa lama, sate ayam kampung dan sop kambing yang kami pesan diantar juga ke meja. Kesan pertama saya ketika makanan itu disajikan, “Wow, potongan dagingnya besar-besar, sepadan lha ya sama harganya.” 😀 .
Satu piring ada 10 tusuk sate ayam kampung. Kalau kata orang Jawa “sejinah”. Selain piring sate, semangkuk kecil acar dan sambal juga diberikan ke kami. Banyak, lho, acara ma sambalnya ini hehe 😀 .

Sate ayam kampung.
Balik ke sate, meskipun potongan dagingnya lumayan lebih besar dari sate-sate ayam yang pernah saya makan selama ini, tetapi ternyata dagingnya empuk. Anak-anak saya mengamini pendapat saya. Pokoknya kalau bocils bisa dengan mudah memakan daging satenya, berarti itu empuk wkwk 😀 .
Aroma pembakaran daging ayam kampungnya pun tercium kuat, smoky, begitu menggugah selera. Bumbunya seolah meresap dengan baik ketika proses pembakarannya.

Sambal dan acar pelengkap sate.
Lalu, bumbu kacangnya tuh kental, rasanya gurih manis, dan melimpah. Sampai satenya habis, bumbunya masih nyisa di piring haha. Kalau ada kerupuk keknya udah saya habisin tuh bumbu kacang pakai kerupuk. Namun, sepertinya saya tidak melihat ada kerupuk di sana.
Kemudian, buat sop daging kambingnya, disajikan dengan kuah kaldu bening yang rasanya begitu gurih. Sepintas kuahnya mirip kuah bakso yang bening.

Sop daging kambing.
Potongan daging kambingnya juga lumayan besar. Masih disajikan dengan tulang dan juga lemaknya alias “gajih”. Karena saya suka lemak daging kambing, nggak masalah, sih 😀 . Selain daging, di dalam mangkuk sop kambing ini juga ada campuran emping melinjo, tomat ijo segar, dan potongan seledri yang makin menambah cita rasa kuah sop ini.
Untuk minumannya, komen es cendolnya aja, kali ya, yang juga merupakan salah satu minuman yang banyak dicari pengunjung di Rumah Makan Ramayana ini. Es cendolnya menurut saya rasa manisnya pas, enggak yang nyegrak banget, gitu. Tekstur cendolnya kenyal dan lembut. Air santannya terasa segar, walaupun cenderung kental.

Es cendol pesanan saya.
Secara keseluruhan, rasa makanan dan minuman yang saya dan anak-anak nikmati di Rumah Makan Ramayana ini memuaskan. Kalau ke Rangkasbitung, misalnya bawa tamu gitu, keknya saya akan mengajak mereka ke sini 😀 . Harga makanannya juga masih mayan ya, sepadan sama penyajian makanannya. Untuk semua makanan dan minuman yang kami pesan, kami membayar sebesar Rp145.000,-.

Es jeruk pesanan Maxy.
Oh ya, kalau ada pertanyaan tentang apakah Rumah Makan Ramayana ini halal certified apa nggak? Terus terang saya tidak melihat logo halal yang bentuk wayang itu di sana, tetapi di pintu rumah makan ini ada semacam poster berisi pernyataan komitmen kalau rumah makan ini hanya meyediakan makanan halal, termasuk menjelaskan kalau mereka memotong daging hewannya menggunakan syariat Islam.
Begitulah teman-teman, cerita sana dan anak-anak kulineran ke Rumah Makan Ramayana yang ada di daerah Rangkasbitung, Lebak, Banten.
Buat teman-teman yang tertarik nyicipin makanan di Rumah Makan Ramayana Rangkasbitung juga berikut alamat lengkapnya ya:
Semoga bermanfaat 😀 .
April Hamsa


wah segernya kulineran di rumah makan ramayan rangkasbitung apalagi dengan suguhan minuman favorit es cendol dan juga ada makanan khas favorit madura te sate jadi tambah maknyus. sayangnya tidak disertakan harga satuannya. jadi penasaran nih
Ini es cendolnya yang bikin Mak nyus, tapi tentunya lebih nikmat karena bisa kulineran bersama keluarga, jadi mengisin perut sekaligus bonding dengan anak-anak. Jujur penasaran dengan ansi ramesnya, kira-kira apa nya kelebihannya dibandinmgkan dengan nasi rames yang lain.