Sumpah, dari dulu saya tuh paling enggak suka olahraga lari. Soalnya, saya tidak suka “rasa engap” atau “ngos-ngos’an” ketika sedang berlari. “Ngapain, sih menyiksa diri dengan berlari?” Pikir saya. Anehnya, takdir malah mempertemukan saya dengan Slow Girls Society, sebuah komunitas lari yang memiliki tagline “Slow run, good vibes” di medsos Threads. Sampai akhirnya, budhe-budhe usia 40++ ini menantang diri buat berlari bareng Slow Girls Society hari Sabtu kemarin.
Sebenarnya, udah sejak Sabtu minggu lalu saya kepengen gabung kegiatan larinya. Namun, sayangnya cancel, karena Sabtu lalu ada agenda raport mengaja anak-anak di TPA.
Perdana lari bareng Slow Girls Society.
Baru bisa join kali ini, karena sedang free. Itu pun maju mundur, karena saya berkali-kali meragukan diri saya. “Hmmm, bisa nggak ya, saya full lari?”
Sebenarnya, saya tuh tidak asing-asing banget, sih, sama olahraga pakai kaki, karena sejak pindah rumah ke lingkungan yang sekarang ada track/ lintasan di dalam komplek yang bisa dipakai warga workout. Panjang lintasannya, kalau tidak keliru sekitar 3 km-an. Kalau ditambah perjalanan ke rumah bertambah jaraknya sekitar 2 km-an. Total mungkin 5 km-an, lha, kalau saya workout (ciyeeehh yang workout, yang workout wkwk 😛 ).
Dalam seminggu, biasanya, saya minimal banget dua kali melintasinya. Namun, lebih banyak jalan cepat atau jogging (ini juga jaraaangg, karena saya nggak suka ngos-ngos’an tadi, haha), aja. Nggak pernah berlari. Yaaa, kan, lagi-lagi saya tydack cuka berlari, hehe.
Saya maunya jalan cepat, nyantai menikmati lintasan, sambil sesekali mantengin HP. Jyaaahh, HP ini mendistraksi banget, yak! (Malah nyalahin HP, wkwk 😛 ).
Yaaa, begitulah. Intinya, kali ini, karena melihat kegiatan Slow Girls Society kok kayaknya seru, ya. Mau coba ikutan, ah.
Sekilas tentang Slow Girls Society
Kalau baca-baca postingan di Threads, Slow Girls Society ini mulai aktif sejak bulan Juni, lalu. Sabtu minggu ini, adalah kali ketiga kegiatan lari mereka.
Kegiatan berlarinya berbasis di sekitar area BSD City dan Gading Serpong. Makanya, karena masih terjangkau dari rumah, saya pun cukup excited buat join. Apalagi, sesuai tagline-nya “slow run, good vibes”, kegiatan berlarinya ramah buat beginner.
Meski demikian, ternyata katanya ada lho yang tinggal di Jakarta bela-belain datang pagi-pagi ke BSD buat ikutan lari bareng Slow Girls Society ini. Gilak, emang, ya, kekuatan Threads mempertemukan member-member-nya, hehe. Oh ya, sesuai namanya, Slow Girls Society ini khusus buat cewek, aja, yang cowok-cowok minggir dulu.

Sebelum dan sesudah berlari.
Saat kegiatan lari pertama dan keduanya, Slow Girls Society ini collabs dengan kafe di sekitar BSD City. Bahkan, ada fotografernya, lho, yang siap sedia motoon. Biasa, lha, cewek-cewek. Kan seru yak, kalau lari difotoin. Mayan buat diposting di medsos, wkwk 😀 .
Apalagi, kegiatan lari Sabtu minggu lalunya, tuh, pada pakai dresscode pink. Aih seruuuu. Sayang, saya wurung ikutan, hiks.
Lalu, gimana cara ikut lari bareng Slow Girls Society?
Hmmm, sebenarnya, sih, informasi kegiatan berlarinya ada di grup WhatsApp. Hanya saja, keknya, grupnya sudah full. Meski demikian, kalau teman-teman mau join, bisa menyimak info-nya dari Threads/ Instagram mereka @slowgirlssociety.
Untuk saat ini, kalau mau ikutan lari tidak ada pendaftaran. Nggak perlu bayar-bayar juga, tetapi kalau collabs sama kafe, kalau bisa ikut jajan. Nanti ada diskon khusus dari kafenya juga. Intinya kalau mau lari sama Slow Girls Society, langsung join, aja.
Namun, entah, nanti-nanti ya, seiring bertambahnya jumlah pelari, kali ada rencana mengurangi kuota atau bagaimana. Apalagi, kalau kegiatannya di sekitar BSD baru, area-area Perumahan Mozia tuh biasanya suka ramai pelari. Kalau yang lari dari komunitas ini banyak udah berasa kek mau demo aja, katanya, haha. Namun, mudah-mudahan tidak, sih, ya, soalnya sistem yang sekarang menurut saya udah nyaman sekali 😀 .
Perdana lari bareng Slow Girls Society
Setelah dua kali lari di sekitaran Mozia, Sabtu kali ini, Slow Girls Society memilih Eastvara. FYI, buat yang belum tahu, Eastvara ini merupakan mall yang berada di jalan barunya BSD. Jadi, ada perumahan-perumahan baru yang makin mepet ke area Legok/ Parung Panjang gitu, nah, mungkin supaya “menjual” maka dibangunlah mall Eastvara ini.
Saat ini tuh sekeliling Eastvara kebanyakan masih lahan kosong, meskipun beberapa perumahan sudah jadi. Namun, kalau soal jalan rayanya udah mulus sekali, hehe. Apalagi jalannya lebar-lebar.
Banyak warga sekitar memanfaatkan jalan tersebut buat berlari juga. Bahkan baru-baru ini, Eastvara juga membuat jogging track bernama Green Pathway. Lintasannya rapi, mulus, dan estetik. Punya semacam sungai buatan gitu yang membuat suasananya serasa di Jepang atau Korea. Walaupun masih agak panas, ya, karena sekelilingnya masih lahan kosong dan pohon-pohonnya belum terlalu tinggi, karena baru ditanam.

Bukti berlari, wkwkwk.
WAG Slow Girls Society menginformasikan bahwa peserta diharapkan berkumpul start pukul 05.45 buat pemanasan dan jam 06.10 mulai berlari.
Di waktu normal (maksudnya nggak pagi-pagi banget), waktu tempuh dari rumah saya ke Eastvara tuh biasanya 20 menit saja naik mobil. Perkiraan saya bisa lebih cepat lagi kalau naik sepeda motor (saya berencana naik ojol).
Setelah subuhan, saya bersiap berangkat, eh, nggak tahunya susah nyari motor, huhu. Padahal, kalau ke stasiun sebelum Subuh biasanya banyak, lho, yang mau ngambil. Apa mungkin babang-babang ojol-nya ngrasa kejauhan ya. Apalagi, jalan baru itu memang masih sepi sekali, sih, kalau pagi-pagi buta.
Saya sempat mau mengalihkan rute ke Stasiun Parung Panjang yang terdekat dari rumah saja, lalu berencana naik KRL menuju Stasiun Jatake, baru lanjut naik ojol dari sana. Namun, untungnya, ada yang mau menerima order saya, tepat jam setengah 6.
Sayangnya, bapaknya nggak terlalu paham Eastvara di mana. Padahal, saya dah bilang, kalau nanti saya tunjukkin jalannya. Kalau dari rumah saya tuh keluar gerbang tinggal lurus saja, belok ke arah yang ada pabrik-pabriknya (apaan dah tu?), belok kiri mengikuti jalan baru sampai ketemu jalan layang, udah deh terlihat tuh Eastvara.

Sesi pendinginan.
“Ooo ini AEON, ya? Kalau AEON saya tahu,” kata Si Pak Driver.
“Iya, Pak, tapi bukan yang di Cisauk ya. Ini di jalan barunya BSD,” jelas saya.
Eh, keluar dari perumahan, melewati perkampungan, kami malah ke arah area Cisauk. Saya pastikan lagi, kalau AEON-nya bukan di Cisauk, wkwk.
Sampai akhirnya, bapaknya ngebelokin ke Perumahan Hyera, udah mulai tenang, tuh. Jadinya nelat, deh, tidak ikut pemanasan sejak awal, cuma dapat sesi terakhirnya saja. Yoweslah.
Untungnya, budhe-budhe 40 tahun plus-plus ini sadar diri. Seminggu sebelum join lari hari ini, saya makin rajin nyoba jogging di track dan olahraga angkat beban hasil nonton video YouTube. FYI, saya suka nontonin channel “Eh Olahraga, Yuk” itu, lho. Jadi, alhamdulillah, badan tidak kaget buat berlari 5 km lebih. Bahkan, menurut jam tangan saya, jaraknya udah 6 km, lho.
Kali ini beneran banyakan larinya ketimbang jalannya. Bahkan, saya merasa, larinya lebih lambat dari kecepatan saya nyoba-nyoba berlari sebelumnya (syombong amat wkwk 😛 ). Bahkan, banuak juga yang jalan cepat/ jogging, yang penting bergerak. Lha, ternyata, saya bisa, haha. Mungkin, karena larinya rame-rame kali, ya, jadi semangat 😀 .

Waktu dan jarak berlari kemarin.
Oh ya, sepanjang jalan tuh rombongan kami bertemu dengan “pelari beneran”. Saya mengamati cara mereka berlari. Wow, kakinya yaaa, pace-nya manteb. Entah kapan saya bisa kayak gitu.
Tapi, saya tidak mau bikin target, ah. Soalnya, saya penganut sabda dr. Tirta, yang bilang kalau lari atau olahraga lainnya adalah kegiatan rekreasional buat release stress. Apalagi, sebagai WNI yang disuguhi dengan berita dar der dor setiap waktu, niat saya berlari memang cuma untuk mengurangi beban stress ini, hehe. Cuma, manusia kan disarankan untuk selalu menjadi sosok yang lebih baik dari sebelum-sebelumnya, kali aja ntar-ntar lari saya bisa lebih kenceng lagi, yekan? 😀
Kegiatan lari kami selesai 1 jam, lalu kami kembali lagi ke pelataran Eastvara. Setelah lari, ada kegiatan pendinginan dan doa bersama. Trus, ada pembagian sticker Slow Girls Society dan post run mingle. Lumayan, banget, nggak hanya berlari tetapi juga dapat teman-teman baru. Ada yang seusia saya, tetapi sepertinya lebih banyak anak-anak muda genzi, hihihi 😀 .
Jajan kopinya Haechan NCT
Sekitar pukul 8 pagi, kegiatan pun sudah bubar. Beberapa orang masih melanjutkan ngobrol sambil menunggu coffee shop yang ada di Eastvara buka.
Saya dan beberapa orang lainnya memutuskan duduk di area luar Kopi Kenangan, sambil memandangi poster Haechan NCT yang menawarkan tiga jenis kopi, haha. Ternyata, beberapa orang itu ada yang suka Haechan. Katanya juga mau membeli kopinya Haechan.
Pukul 08.15, mas-mas pegawai Kopi Kenangan mempersilakan kami masuk ke dalam, lalu kami pun order kopi, deh.
Tak lama kemudian, pesanan kopi kami jadi. Beberapa orang ada yang berpamitan mau pulang atau mau kerja, sebagian lain lanjut mengobrol. Termasuk saya 😀 . Yang kami bicarakan macem-macem, sih, tapi kebanyakan soal event-event lari.

Jajan kopi setelah lari.
Kalau soal lomba lari, jujur, saya belum berani ikut ya. Ntar-ntar, aja, hihihi. Lagipula, in this economy harga-harga tiketnya mayan, yeaaa. Di atas 500 ribu hingga jutaan. Kudu pinter-pinter memilih event yang benefit-nya lumayan, lha 😀 .
Namun, satu hal yang menarik tuh ada virtual run yang harga tiketnya tidak semahal event lari offline. Cara ikutannya pun bisa dicicil. Misal, target 5 km, nanti bisa satu kali lari kita target berapa km, gitu. Ada panitia yang mengizinkan mencicil sebanyak 3 kali, dengan cara upload hasil di aplikasi kayak Strava. Nanti, kalau berhasil, kita bisa dapat medali, kaus jersey, dll. Tergantung tiket yang kita bayarkan. Mana, medalinya gemes-gemes, wkwkwk, niat ingsun ngumpulin medali 😛 .
Yaaa, begitulah, cerita pertama kali saya bisa berlari 5 km lebih bersama Slow Girls Society. Seruuuu.
Kalau teman-teman berminat ikutan lari juga bersama Slow Girls Society, ntar follow saja Threads/ Instagram-nya, ya, karena WAG-nya full. Semua info ada di sana, kok. Semangat bergerak! *Uhuuuyy 😀 .
April Hamsa


Comments