Jalan-jalan ke Rangkasbitung lagiii (cakep 😀 ). Tapi, nggak naik sepatu roda, iniihh, melainkan naik commuter line a.k.a KRL, haha 😀 .
Nggak nyangka, butuh empat tahun lamanya saya membawa anak-anak menginjakkan kaki ke Rangkasbitung lagi. Agak ucul aja, gitu, karena faktanya waktu tempuh dari stasiun KRL terdekat rumah ke Stasiun Rangkasbitung hanya 50 menit saja. Sama seperti waktu tempuh ke Jakarta (Stasiun Tanah Abang) yang lebih sering kami datangi.
Alasan jalan-jalan ke Rangkasbitung
Maksud saya, ini tuh deket aja, gitu, tapi sebelum-sebelumnya entah mengapa belum kepikiran ke sana lagi. Sampai akhirnya, belakangan banyak konten-konten di sosmed yang menceritakan liburan deket-deket aja, pakai moda transportasi KRL. Ada yang ke Bogor, Sukabumi, Purwakarta, juga ke Rangkasbitung, bahkan nyambung ke Merak.
Nah, liburan kemarin, saya tuh kepengen ngajakin keluarga saya ngikutin ke-FOMO-an itu, hehe. Akhirnya, nyobain yang paling dekat dengan rumah dahulu, deh, yakni jalan-jalan ke Rangkasbitung, yang merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.
Jembatan ikonik di Stasiun Rangkasbitung.
Terakhir, saya dan anak-anak ke sana tuh, empat tahun lalu. Waktu itu kami mengunjungi Museum Multatuli dan Perpustakaan Saidjah Adinda. Kalau jalan-jalan ke Rangkasbitung yang terbaru kemarin, kami memilih kulineran saja, yakni ke Rumah Makan Ramayana.
Sebenarnya, kalau mantengin video orang-orang masih ada banyak kulineran lain yang mereka rekomendasikan. Namun, kali itu jalan-jalan ke sana tuh sebenarnya baru testing aja, sehingga cukup satu tempat dulu, lha, yaaa. Ntar, balik ke sana bawa bapake, wkwk 😀 .
Stasiun Rangkasbitung berubah total
Kami sampai Stasiun Rangkasbitung jam 11.55 persis. Disambut dengan suasana stasiun yang tak kami kenali, sebab stasiun ini direnovasi besar-besaran mulai 2024 dan selesai di tahun 2025. Namanya pun berubah menjadi Stasiun Rangkasbitung Ultimate.

Terdapat 9 track (jalur rel).
Kata “ultimate” ini disematkan, karena stasiun ini mengalami perluasan dan modernisasi menjadi hub trasportasi terbesar di Provinsi Banten. Kapasitas tampung stasiun pun melonjak drastis hingga tiga kali lipat dari sebelumnya. Dahulu stasiun ini hanya melayani 26.000 penumpang, setelah direnovasi bisa menampung hingga 85.000 orang per harinya.

Sudah ada eskalator dan lift-nya.
Cuma, sayang, waktu itu saya tidak sempat berkeliling stasiun, sehingga tidak bisa melihat fasilitas apa saja yang ada di sana. Saya hanya sempat mengetahui lokasi mushola, karena letaknya ada di depan gate keluar. Untuk toilet dan lain-lain, saya belum tahu di mana persisnya.
Trus, dahulu tuh ada Indomaret, gitu, tempat saya membeli bakpao yang rasanya mayan enak, menurut saya, hehe. Kemarin, tuh, saya tidak tahu di mana lokasi minimarketnya. Entah pindah atau masih di posisi yang sama. Entahlah.

Mirip kayak di Stasiun Palmerah/ Kebayoran nggak, sih, atapnya?
Soalnya, kan, stasiunnya sekarang udah dua lantai, sementara dahulu semua ada di bawah, jadi terlihat jelas di mana posisi fasilitas-fasilitas pendukungnya. Dulu, Indomaret ini ada di sisi yang sekarang menjadi peron kereta lokal antar kota yang pemberhentian terakhirnya di Merak.
Nggak nanya ke petugas juga, karena memang buru-buru mau makan. Udah laper, hehe.

Gate-nya.
Namun sempat mengabadikan jembatan stasiun (skybridge) yang juga menjadi salah satu daya tarik stasiun iini, sekarang. Konon katanya, jembatan ini menjadi satu-satunya jembatan yang mengadopsi struktur modern minimalis, yakni berwujud rangka baja ekspos, sekaligus berbalut kaca transparan, untuk bangunan stasiun kereta di Indonesia.
Atapnya sangat mencolok, berbentuk seperti atap rumah Suku Baduy, yang memang tinggal di Lebak. Jadi, jembatan ini juga sekaligus memperkenalkan adat budaya setempat di sana.

Jembatan dekat sisi pasar arah kalau mau ke Niceso.
Itulah sebabnya, mereka yang datang ke Rangkasbitung biasanya menyempatkan berfoto di jembatan ini. Tak ketinggalan saya dan anak-anak. Waktu itu kami pepotoannya ketika pulang, sih. Minta tolong dipotoin sama mas-mas petugas stasiun, hehe.
Oh ya, jembatan ini memiliki dua fungsi, yakni untuk keluar masuk peron, serta buat jembatan penyeberangan, karena ada perlintasan sebidang di dekat pasar yang sekarang ditutup.
Makan sate di Rumah Makan Ramayana
Cuma kami, nggak lewat sisi itu, melainkan sisi satunya yang masih ada perlintasan kereta apinya, yakni ke arah toko bernama Niceso, yang sering jadi jujugan, kalau mau naik kendaraan online (berdasarkan pengalaman 4 tahun lalu 😀 )
Seperti yang saya bilang sebelumnya, kami ke sananya udah siang sekali. Mana mataharinya terik banget saat itu. Makanya, begitu sampai Stasiun Rangkasbitung, saya langsung mengajak anak-anak naik mobil online menuju rumah makannya.

Di depan Rumah Makan Ramayana.
BTW, kalau melihat online map, sebenarnya dari stasiun menuju rumah makan ini tuh bisa jalan kaki saja. Luruuuusss aja, lalu nyeberang jalan. Sampai, deh. Mungkin sekitar 10 menit saja.
Cumaaaa, seperti yang saya bilang tadi, mataharinya udah panas ngetang-ngetang, akhirnya saya mengajak anak-anak naik mobil saja. Ketimbang, mereka mencureng, yak, haha. Kalau pagi, sih, nggak pa pa, jalan kaki.
Malah enak, kok, karena driver-nya jalan memutar, sehingga kami bisa dapat experience ngliatin jalanan dan bangunan yang kami lewati sebelum sampai Rumah Makan Ramayana.
Perlu saja jelasin, nih, soalnya banyak yang nanya, kok, nggak jalan kaki saja, wkwk.

Makan sate ayam kampung dan sop kambing.
Namun, kalau misalnya teman-teman berkesempatan ke Rangkasbitung, trus mau jalan kaki, juga OK, kok, karena beberapa lokasi ikonik di sana, seperti alun-alun, perpustakaan, museum, toren air yang udah ada sejak era Belanda, dll, semuanya rata-rata dekat. Sekilo, dua kilo, lha. Saran saya, datang pagi atau sore saja, sehingga santuy jalannya 😀 .
BTW, kalau mendengar kata “Ramayana” kebanyakan dari kita keknya kepikiran department store itu kaaan? Lha, sama 😀 . Tadinya, saya pikir Rumah Makan Ramayana tuh berada di kawasan belanja itu. Nempel atau di dalam gedungnya. Ternyata, bukan. Rumah Makan Ramayana ini punya bangunan sendiri, ya 😀 .

Approve nih makanannya, hehe.
Sampai Rumah Makan Ramayana, alhamdulillah, masih kebagian meja buat duduk, sehingga bisa langsung memesan tanpa menunggu.
Di rumah makan ini, kami menikmati sate ayam kampung dan sop kambing. Cerita lengkap soal kulineran di Rumah Makan Ramayana ini bisa teman-teman baca di tulisan saya sebelumnya ya (klik aja linknya).
Numpang ngadem di Masjid Agung Al A’raaf
Kami tuh berada di rumah makan itu ada kali sejam lebih, maklum emaknya (baca: saya) ngonten, dulu. Wajib hukumnya, kalau ke mana-mana, walau tidak beli buah tangan, minimal banget bawa oleh-oleh foto atau video, yekaaan 😀 .

Masjid Agung Al A’raaf.
Setelah puas makan dan foto-foto, saya memutuskan mengajak anak-anak sholat Dhuhur. Ehmmm, sebenarnya bisa saja, sih, sholat di stasiun, tetapi kan saying ya, udah sampai sana nggak mampir ke masjid agungnya. Akhirnya, saya order mobil online lagi menuju masjid agung yang lokasinya persis di seberang Alun-alun Rangkasbitung.

Menara masjid.
Seperti yang saya jelaskan sebelumnya, beberapa tempat ikonik di Rangkasbitung ini sebenarnya masih OK ditempuh dengan jalan kaki. Salah satu alasannya, karena letaknya tuh berdekatan.
Jadi, alun-alunnya tuh berada di tengah, sementara di sekelilingnya ada museum, perpustakaan, hingga masjid agungnya. Maka, kalau jalan ke alun-alun, kita yang “turis” ini bisa dapat banyak tempat untuk didatangi 😀 .
Kalau dari Rumah Makan Ramayana ke masjid agungnya tuh sebenarnya keknya sekiloan aja, jaraknya. Namun, kami naik mobil lagi aja, deh, haha 😀 . Eh, dapat driver yang sama pula 😀 .

Area teras masjid yang semi outdoor.
Masjid agungnya bernama Al A’raaf. Bangunannya terdiri dari dua lantai dengan halaman/ teras di bagian bawah yang cukup luas. Hal yang paling mencolok dari masjid ini adalah memiliki menara yang lumayan tinggi. Saya tidak tahu menara ini bisa dinaikin apa tidak.
Waktu kami tiba, banyak sekali orang-orang duduk-duduk di sana. Kebanyakan berombongan. Mungkin “turis” juga kek kami, karena nggak sengaja mendengar sebagian dari mereka ngobrolin tentang jadwal kereta api 😀 .

Area sholat ada di lantai 2.
Kami kemudian langsung mencari tempat wudhu, karena waktu sudah menunjukkan hampir pukul 2 siang WIB. Eh iya, saya dan Dema sempat keliru wudhu di tempat cowok, karena niruin beberapa ibu-ibu yang wudhu di sana. Untung pas itu nggak ada cowok wudhu, hanya ada Maxy, anak saya saja.
Nah, ibu-ibu itu tuh ternyata sholatnya di teras terbuka tadi. Ini nggak saya tiruin lagi, karena saya pengen sholat di masjidnya. Nebak-nebak, sepertinya ada di lantai dua.
Akhirnya, kami mencari tangga. Lagi-lagi keliru masuk dari sisi shaf cowok hehe. Namun, tidak masalah karena ruangan sholatnya menyambung.

Foto-foto di depan masjid.
Jadi, ternyata masjid ini memiliki dua tangga. Satu tangga yang saya naiki tadi, satu lagi tangga di sisi satunya, yang ternyata ada di dekat ruang wudhu cewek, yang kalau naik dari situ langsung ke shaf-nya jamaah perempuan.
Kondisi di masjid saat itu cenderung sepi. Hanya ada beberapa jamaah. Kayaknya, malah lebih banyak yang berada di teras bawah, deh, hehe.
Setelah sholat, kami menuju ke bawah lagi. Anak saya Dema kepengen jajan, karena tadi sebelum naik ke atas sempat melihat pedagang es krim jualan di teras.

Ada beberapa pedagang jajanan di pelataran masjid.
Sayangnya pas kami sudah turun ke teras, pedagangnya sudah pergi. Untungnya di area halaman tuh ada beberapa pedagang jajanan lain. Kami pun membeli es doger yang harganya kalau nggak keliru Rp5.000,-/ cup dan telur gulung yang harganya Rp1.000,-/ tusuk.

Jajan dulu.
Kami pun numpang makan di area teras, dekat tangga, tempat kami menaruh sandal kami. Pengunjung-pengunjung yang lain juga terlihat ada yang makan, sepertinya bawa bekal. Kayaknya petugas juga mengizinkan ya, asal tidak bikin kotor.
Cumaaa, yang bikin bete tuh, ada saja orang merokok di teras itu. Hadeeeh. Padahal, banyak anak-anak kecil juga, lho, di terasnya, tuh. Semoga bisa menjadi perhatian lagi agar petugas melarang perokok ini di sana, Heuheu.
Foto-foto di Alun-alun Rangkasbitung
Setelah jajanan kami habis, saya mengajak anak-anak menyeberang ke Alun-alun Rangkasbitung. Dibandingkan empat tahun lalu, alun-alun ini juga mengalami perubahan. Pastinya jadi lebih bagus, donk.

Alun-alun Rangkasbitung di seberang masjid.
Empat tahun lalu, setelah mengunjungi Museum Multatuli, saya juga sempat ke alun-alun ini. Kebetulan waktu itu ada pameran atau festival kopi. FYI, Lebak tuh salah satu daerah penghasil kopi yang terkenal sejak era panjajahan Belanda.

Spot foto wajib kalau ke alun-alun hehe.
Dibandingkan dahulu, Alun-alun Rangkasbitung ini sekarang makin lengkap fasilitasnya. Saat itu memang mataharinya masih menyengat, tetapi berkat pepohonan di pinggiran, saya dan anak-anak pun melihat sekeliling alun-alun lewat bagian pinggirannya hehe.
Dari pantauan saya, fasilitas yang tersedia di sana antara lain, ada bangunan semacam pendopo, gitu. Kemudian, ada lapangan basket yang berpagar di sudut alun-alun. Ada pula jogging track, skate park, playground anak. Lapangan berumputnya juga sangat luas.
Kami pun memanfaatkan momen untuk mengambil beberapa foto dan video. Selain kami, saya juga melihat rombongan ibu-ibu juga berpoto-poto. Saya nyontek mereka saja. Mereka berfoto di spot mana, selesai, gentian saya ikutin, wkwk.

Foto-foto duluuuu.
Kemudian, di seberang lapangan basket tadi, di luar area alun-alun, ternyata sekarang ada pujasera. Kalau empat tahun lalu belum ada kayaknya, karena saya inget banget dulu kesulitan mencari tempat makan. Akhirnya, saya dan rombongan anak-anak makan di warung bakso yang lokasinya berjalan ke arah belakang museum. Nggak tahu, deh, warung baksonya masih ada atau tidak.

Menara masjid terlihat dari alun-alun.
Dulu tuh memang ada beberapa warung makan, tetapi kayak tutup, gitu, sehingga kami berjalan kakimayan agak jauh ke jalanan belakang museum.

Ini pendopo atau apa ya, soalnya tidak terlalu luas dan memanjang gitu?
Kalau sekarang, alhamdulillah udah jelas ada pujasera seberang alun-alun ya, jadi tidak susah mencari makanan. Oh ya, kalau tidak keliru di perpustakaan tuh ada kantin juga, tetapi barangkali mau mencari menu makanan lain, yekan?
Ketika kami pulang, kami melewati pujasera ini, karena kami berjalan menuju kantor Kejaksaan/ SDN, untuk memesan mobil online dari sana. Dari pertigaan dekat gedung Kejaksaan bisa lurus langsung menuju stasiun.

Pujasera alun-alun.
Nah, waktu jalan, saya sempat mengintip menu-menu makanan pujasera yang tertera di spanduknya. Mereka menjual camilan hingga makanan berat yang sepertinya enak-enak. Nyaaamm, keknya, kapan-kapan kulineran di sana asyik juga, nih 😀 .
Tak berapa lama, mobil online yang saya pesan untuk mengantar saya dan anak-anak ke Stasiun Rangkasbitung pun sampai. Kami pun berpamitan kepada Rangkasbitung. Semoga dalam waktu dekat bisa kembali lagi ke sana?
Nggak tahu kenapa Rangkasbitung bagian pusat kota ini, vibes-nya bersahaja tetapi menyenangkan, gitu. Orang-orangnya juga ramah-ramah. Cuma geser dari stasiun ke stasiun saja tetapi udah berasa ke luar kota yang jauhan, gitu, hehe. Mayan, lha, Rangkasbitung ini, buat pelesir tipis-tipis.
Ada yang mau ramean ke Rangkasbitung, nggak, kapan-kapan, next time? Hehe 😀 .
April Hamsa


Dari kantor kejaksaan/SDN, order Gocar, dapat Driver yg sama kayak sebelumnya apa nggaaak?
kalo dapat yg sama, bisa bisa kamu dikasih piring cantiik ama dia wkqkqwk
aku blum pernah explore ke sini . Kayaknya vibes nya agak agak mirip Sidoarjo atau Gresik kali yha
semacam kota satelit, tapi menyenangkan buat didatengin sesekali.
Enggak, dapat driver beda wkwk.
Kyknya lebih mirip kota2 kek Nganjuk, Tulungagung gitu apa ya, nggak tahu sih, karena belum pernah eksplore segitunya, paling jauh dulu dari stasiun ke Baduy Dalam aja, tapi kyk banyak lewat bukit dan batu2an gitu. Kyknya dulu bekas laut yang mengering, kalau area ke sana2.
Alun-alun Rangkasbitung udah banyak berubah ya. Stasiun nya juga…. Wah sak Iki t banget ya
Dulu boro² dua lantai dengan fasilitas lengkap
Secara krl aja belum sampai sana. Sekarang udah bisa wara wiri makin cepat ya…
Oya, soal menara masjid agung Rangkasbitung, itu secara umum, menara Masjid Agung Al-A’raf Rangkasbitung bisa dinaiki. Terdapat fasilitas tangga besi dan lift untuk mencapai ruang kecil di puncak menara yang berfungsi untuk pemeliharaan. Namun, akses nya itu terbatas ya. Pengunjung atau jamaah harus meminta izin terlebih dahulu kepada pengurus masjid dan lift terkadang tidak beroperasi.
Selain itu, perlu diingat bahwa masjid ini sempat mengalami musibah plafon ambruk pada Januari 2026 dan direncanakan untuk direnovasi oleh Pemerintah Kabupaten Lebak
Gak tahu deh apakah renovasi plafon nya itu sudah selesai?
Dulu ada kereta lokal gitu ke Merak, kekinget tahun 2013an keknya aku nyari rumah area Tigaraksa bisa naik itu hehe.
Soal masjid agungnya keknya nggak ada yang rusak, mungkin udah diperbaiki, cuma kondisi masjidnya kek kurang terawat, kyk ada beberapa spot usang. tapi tetep resik sih, mungkin kurang dana apa ya 🙁
Ini adalah tulisan kedua tentang Raskasbitung yang pernah saya baca. Yang masih saya inget tuh Pak Bambaaaang, yang waktu itu kesana pas awal-awal banget pembukaan kayaknya deh.
Salut si, pembenahannya beneran masif ya, sampe kapasitasnya naek hampir 3 kali lipat. Dari 26 ribuan sampe jadi 85 ribuan. Ajegileee…
Sayangnya saya agak jauh euy posisinya kalo mau kesana. Berhubung deketnya ke LRT, jadi kudu transit di Cikoko-Cawang dulu, terus pas di KRL nya pun masih transit 2 kali lagi. Kalo saya sendiri sih kayaknya masih hayu hayu aja. Lha istri saya ni tenaganya suka layu, beraatttt kalo diajakin line sono, hahahahaha.
Tp makasih lho mbak, aku jadi nandai spot alun-alun rangkasbitung ini sebagai next wishlist. hihihi
Kalau ngajak anak bisa masuk ke perpus seberang alun2 persis mas, ada ruang baca anak sendiri dan ada mainan2 lucu2 gitu (tahun 2022 yak hehe, belum cek lagi).
Main2 mas, nyari hotel, nginep semalam, anggap aja ke luar kota dengan “ongkir” murceeee. Eh naik KRL aja dari Bekasi siihh cus langsung Rangkasbitung, hanya transit sekali di TA.
Mbaaaa aku ikutaaaan dong kalau mau kesana lagiiii. Ini mah nunggu suamiku ngajarin cara naik KRL, bisa sampe THN depan juga ga jadi2…
Pengeeen kesana, tp aku blm PD kalau naik KRL sendiri ????????. Krn belum pernah samasekali. Udh minta ajarin ke suami, tp msh sibuk Mulu. Kalaupun kesana, ujung2 nya naik mobil.
Sebenernya yg bikin aku tertarik, Krn baca ttg sate Ramayana yg kemarin. Duuuuh kliatan enaaak itu sih. Tp sekalian aja kalau udh kesana jalan2 juga kaaan ????. Nah pujasera nya pun menarik. Biasanya Nemu aja kuliner yg enak2 dan murah di sana.
Kabarin yaaak kalau mau jalan ramean ke Rangkasbitung ????
Pas lihat foto-foto stasiunnya, aku langsung keinget perjalanan ke Rangkasbitung tahun 2014, waktu mau lanjut trip ke Baduy Dalam. Waktu itu keretanya masih jauh banget kondisinya dibanding sekarang. Belum ber-AC, masih pakai karcis, pedagang juga bebas hilir mudik di dalam gerbong. Jadi lihat Stasiun Rangkasbitung sekarang rasanya pangling banget lho. Apalagi bagian jembatan dan langit-langitnya yang estetik itu, keren banget sekarang.
Baca cerita April ini jadi kepikiran juga, ternyata Rangkasbitung enak ya kalau memang dijadikan tujuan jalan-jalan, bukan cuma tempat transit sebelum lanjut ke Baduy kayak pengalamanku dulu. Bisa kulineran, mampir ke masjid, alun-alun, museum, perpustakaan, dan ternyata tempat-tempatnya juga nggak berjauhan. Bisa jalan santai ke sana-sini kalau cuacanya mendukung.
Dan bener juga, jalan-jalan tuh nggak harus selalu jauh dan ribet. Kadang naik KRL, turun di kota yang jarang kita datangi, terus keliling dan nyobain makanan lokal aja udah seru. Apalagi kalau perginya santai begini, nggak diburu harus datang ke banyak tempat.
Jadi pengin kapan-kapan naik KRL ke Rangkasbitung lagi, nyoba kulineran kayak April ????
Ihiiiw seru kak!…. jadi pengen ikutan pelesiran tipis-tipis naik KRL. Ternyata Stasiun Rangkasbitung sekarang makin keren dan modern ya, ada skybridge beratap khas Suku Baduy segala.
Emang bener ya, kadang tempat yang deket justru suka terlewat cuma gara-gara bingung mau ke mana. Tapi pas nemu rute santai kayak gini, jalan sebentar, kulineran, terus ngadem di masjid agung rasanya udah lumayan banget buat refreshing.
Boleh juga tuh kapan-kapan diagendakan rame-rame ke sana lagi bareng bapake sekalian!
Kadang kita terlalu sibuk mencari destinasi yang jauh, padahal tempat yang hanya berjarak sekitar satu jam naik KRL saja bisa memberikan pengalaman baru yang menyenangkan. Saya jadi inget postingannya Mas Bams yang cerita tentang museum multatuli di rangkasbitung. Asli nggak nyangka ada museumnya mbak. Selama ini tahunya cuma bukunya aja. Hehehe.. 😀
Sebenarnya aku ini ndak terlalu familiar sama kota rangkasbitung. Ternyata kota ini bisa juga dijadikan short trips karena kemana-mana deket. Apalagi buat warga Djekerdah yang butuh tempat escape ya.. 😀
Hadeeh paling bikin bete itu kalau pas lagi jalan ketemu aja sama yang ahli hisap (pakai p, bukan pakai b, kalau pakai b adalah hati akhir huhu).
Keknya susah juga ya buat menikmati perjalanan tanpa adanya asap rokok.
Namun demikian, sekitaran Rangkasbitung ini asik-asik spotnya. Masjidnya yang enak, dan unik pula pengalamannya Kak April sampai masuknya ke area pintu cowok, eh tapi daku pernah kek gitu juga sih di masjid lain haha. Alhamdulillah-nya karena masih terhubung ya saf cowo dan cewe jadi masih aman aja.
Siip dah, bisa kelilingan di sekitaran Stasiun Rangkasbitung, sambil jajan enak. Btw, harga es dogernya sama dengan es doger di deket rumah daku, 5K wkwkwk
Dari kemarin, saya baca artikel Mbak April yang jalan-jalan ke Rangkasbitung. Jujur saya jadi pengin main ke sana lagi. Beberapa bulan lalu saya ke sana. Dan stasiunnya sudah keren. Ga pipis di toilet plastik lagi hehehe. Terus jembatannya itu ikonik sekali memang. Dari Stasiun, saya jalan kaki lho ke alun-alun Rangkasbitung, Mbak. Dekat aja rasanya. Eh, Mbak April kok ga foto di bola biru di alun-alun Rangkasbitung? Itu ikonik juga hehehe.
Wah alun-alunnya luas dan lumayan rindang ya, masjidnya juga megah. Tapi jujur saya malah penasaran dengan perpustakannya, apakah mereka buka setiap hari? sama fasilitasnya juga. Semoga nanti ada jodoh untuk eksplore ke sana. Banayk sekali tempat yang ingin saya jadikan tujuan m,bolang he..he…
Bener2 udh keren bgt nih Stasiun Rangkasbitung. Kapasitasnya sampe ditingatin jadi 3x lipat. Beneran udh rame sekali sih area sini. Pantesan jadi hub lintas provinsi ini mah.
Aku blm pernah ke sini sih. Apalagi sampe jalan ke Museum Multatuli. Museumnya dan ceritanya sih udh denger lama. Tapi datang lgsg ke museumnya blm pernah.
Smg suatu saat bs dtg ke tempat2 yg udh didatengin kak April ini, sekalian makan sate di Ramayana, ngadem di masjid Al A’Raf, JJS di Alun2 dan menikmati sore/mlm yg indah di Rangkasbitung ini.
Seru banget nih perjalanannya dan enaknya itu dekat stasiun ada banyak tempat menarik buat dikunjungi ya, Pril. Jadinya nggak perlu modal banyak kalau mau pelesiran sama anak-anak aja. Tapi kalau aku sampai sekarang masih belum berani eh ngajak anak jalan bertiga aja selain naik motor bolak balik Banjarmasin – rumah
tak disangka ternyata di banten ada tempat yang cukup bagus dan bisa diagendakan bersama keluarga. cobalah mbak sekali-kali menyoroti aneka jalan-jalan diperbatasan yang kemarin viral ketika disadingkan dengan jalan di jawa barat, setidaknya sebagai teguran dan sanksi sosial bahwa banten bisa maju perkembangan akses jalan seperti di jawa barat
Seru tuh mbak April, kalau mau ramean ke Rangkasbitung. Ternyata secakep itu ya Rangkasbitung sekitaran stasiun. Rumah makan Ramayana apakah namanya diambil dari tokoh wayang? Penasaran euy. Menu makanannya sepertinya menggugah selera yaaa, nampak enak gitu.
Bener, kalau sampainya tengah hari better naik mobil biar nggak kepanasan. Kalau memutar dulu jadi lumayan nambah pengalaman ngeliat area sekitar.
Ekh, aku suka suasana masjidnya. Tampak tenang, saking tenangnya pengunjung di area atas malah sedikit, yaaa maklum udah jam 2 juga sih.
Nah, alun-alun nya luas dan tertata. Nggak semrawut yaa. Jadi bakalan enakeun buat nyantai. Bener kata mbak, area Rangkasbitung sekitaran stasiun nampak ramah dan nyaman.
Wah senangnya, stasiun rangkas sudah bagus ya
Eksplore Rangkasbitung seru juga ya
Banyak tempat yang bisa dikunjungi
Seru juga yaa jalan-jalan dan piknik tipis naik kereta api, sering lihat orang piknik begini di Bogor dan Sukabumi.. pengen cobain ah kalau pas anak-anak liburan.. kotanya nyan dan bersih ya..
Aku masih belum familiar Rangkasbitung itu di mananya Jakarta. Hahaha…
Ntar deh coba aku buka maps ya. Yang jelas jalan-jalan nggak perlu yang jauh-jauh banget dari rumah ya mbak.
Stasiun Rangkasbitung rapi dan bagus. Tapi aku paling terkesan sama Alun-alun dan Masjid Agungnya. Senang banget lihat Alun-alun kota-kota lain. Apalagi alun-alun Rangkasbitung ini kesannya bersih dan rapi.
Eeeh.. diajakin main ke Rangkasbitung ama ka April.. MAUMAUMAAUUU..
Seru yaah.. explore sebuah kota beginiii… akutu kadang genggesan orangnya yaa.. ga itchy feet gituloo..
Kalo uda nyaman, lebih milih dieemm aja di sana sampe lamaa… trus barru lanjut pulang. Huhhu..
Yang exploring tuh suami sama anakku yang pertama.
Jadi seneng ngliat Maxi sama Dema kompak!
Paling berkesan ngliat stasiunnya yaah..
Cangtiipp sangaatt.. estetikanya dapet dan semua orang menikmati gimana lega sekaligus teduhnya stasiun Rangkasbitung ini.
…tapi asaaa tenant-nya ga banyak yaah?
Affa betul??
Mauuu ikutan dong kak seru ya ramean sama teman teman blogger main ke Rangkas Bitung gini banyak wisata maupun kuliner
Bagus yaa kota Rangkasbitung,,,dan kenapa yaa konsep alun-alun di Indonesia tuh pasti sama semua. Alun-alun pasti dekat dengan masjid dan pusat pemerintahan. Turunan dari desain sistem kolonial dulu sepertinya. Tapi bagus jadi deket dengan pusat ibadah, Jadi setelah keliling alun-alun langsung bisa solat. Banyak jajanan juga yaa,,,aduuh enaak. Rangkas tuh meski jauh tapi karena ada stasiun kereta jadi seperti dekat soalnya terjangkau sarana transportasi kereta jaid perjalanan gak macet