Jalan-jalan ke Rangkasbitung lagiii (cakep 😀 ). Tapi, nggak naik sepatu roda, iniihh, melainkan naik commuter line a.k.a KRL, haha 😀 .

Nggak nyangka, butuh empat tahun lamanya saya membawa anak-anak menginjakkan kaki ke Rangkasbitung lagi. Agak ucul aja, gitu, karena faktanya waktu tempuh dari stasiun KRL terdekat rumah ke Stasiun Rangkasbitung hanya 50 menit saja. Sama seperti waktu tempuh ke Jakarta (Stasiun Tanah Abang) yang lebih sering kami datangi.

Alasan jalan-jalan ke Rangkasbitung

Maksud saya, ini tuh deket aja, gitu, tapi sebelum-sebelumnya entah mengapa belum kepikiran ke sana lagi. Sampai akhirnya, belakangan banyak konten-konten di sosmed yang menceritakan liburan deket-deket aja, pakai moda transportasi KRL. Ada yang ke Bogor, Sukabumi, Purwakarta, juga ke Rangkasbitung, bahkan nyambung ke Merak.

Nah, liburan kemarin, saya tuh kepengen ngajakin keluarga saya ngikutin ke-FOMO-an itu, hehe. Akhirnya, nyobain yang paling dekat dengan rumah dahulu, deh, yakni jalan-jalan ke Rangkasbitung, yang merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.

Jembatan ikonik di Stasiun Rangkasbitung.

Terakhir, saya dan anak-anak ke sana tuh, empat tahun lalu. Waktu itu kami mengunjungi Museum Multatuli dan Perpustakaan Saidjah Adinda. Kalau jalan-jalan ke Rangkasbitung yang terbaru kemarin, kami memilih kulineran saja, yakni ke Rumah Makan Ramayana.

Sebenarnya, kalau mantengin video orang-orang masih ada banyak kulineran lain yang mereka rekomendasikan. Namun, kali itu jalan-jalan ke sana tuh sebenarnya baru testing aja, sehingga cukup satu tempat dulu, lha, yaaa. Ntar, balik ke sana bawa bapake, wkwk 😀 .

Stasiun Rangkasbitung berubah total

Kami sampai Stasiun Rangkasbitung jam 11.55 persis. Disambut dengan suasana stasiun yang tak kami kenali, stasiun ini direnovasi besar-besaran mulai 2024 dan selesai di tahun 2025. Namanya pun berubah menjadi Stasiun Rangkasbitung Ultimate.

Terdapat 9 track (jalur rel).

Kata “ultimate” ini disematkan, karena stasiun ini mengalami perluasan dan modernisasi menjadi hub trasportasi terbesar di Provinsi Banten. Kapasitas tampung stasiun pun melonjak drastis hingga tiga kali lipat dari sebelumnya. Dahulu stasiun ini hanya melayani 26.000 penumpang, setelah direnovasi bisa menampung hingga 85.000 orang per harinya.

Sudah ada eskalator dan lift-nya.

Cuma, sayang, waktu itu saya tidak sempat berkeliling stasiun, sehingga tidak bisa melihat fasilitas apa saja yang ada di sana. Saya hanya sempat mengetahui lokasi mushola, karena letaknya ada di depan gate keluar. Untuk toilet dan lain-lain, saya belum tahu di mana persisnya.

Trus, dahulu tuh ada Indomaret, gitu, tempat saya membeli bakpao yang rasanya mayan enak, menurut saya, hehe. Kemarin, tuh, saya tidak tahu di mana lokasi minimarketnya. Entah pindah atau masih di posisi yang sama. Entahlah.

Mirip kayak di Stasiun Palmerah/ Kebayoran nggak, sih, atapnya?

Soalnya, kan, stasiunnya sekarang udah dua lantai, sementara dahulu semua ada di bawah, jadi terlihat jelas di mana posisi fasilitas-fasilitas pendukungnya. Dulu, Indomaret ini ada di sisi yang sekarang menjadi peron kereta lokal antar kota yang pemberhentian terakhirnya di Merak.

Nggak nanya ke petugas juga, karena memang buru-buru mau makan. Udah laper, hehe.

Gate-nya.

Namun sempat mengabadikan jembatan stasiun (skybridge) yang juga menjadi salah satu daya tarik stasiun iini, sekarang. Konon katanya, jembatan ini menjadi satu-satunya jembatan yang mengadopsi struktur modern minimalis, yakni berwujud rangka baja ekspos, sekaligus berbalut kaca transparan, untuk bangunan stasiun kereta di Indonesia.

Atapnya sangat mencolok, berbentuk seperti atap rumah Suku Baduy, yang memang tinggal di Lebak. Jadi, jembatan ini juga sekaligus memperkenalkan adat budaya setempat di sana.

Jembatan dekat sisi pasar arah kalau mau ke Niceso.

Itulah sebabnya, mereka yang datang ke Rangkasbitung biasanya menyempatkan berfoto di jembatan ini. Tak ketinggalan saya dan anak-anak. Waktu itu kami pepotoannya ketika pulang, sih. Minta tolong dipotoin sama mas-mas petugas stasiun, hehe.

Oh ya, jembatan ini memiliki dua fungsi, yakni untuk keluar masuk peron, serta buat jembatan penyeberangan, karena ada perlintasan sebidang di dekat pasar yang sekarang ditutup.

Makan sate di Rumah Makan Ramayana

Cuma kami, nggak lewat sisi itu, melainkan sisi satunya yang masih ada perlintasan kereta apinya, yakni ke arah toko bernama Niceso, yang sering jadi jujugan, kalau mau naik kendaraan online (berdasarkan pengalaman 4 tahun lalu 😀 )

Seperti yang saya bilang sebelumnya, kami ke sananya udah siang sekali. Mana mataharinya terik banget saat itu. Makanya, begitu sampai Stasiun Rangkasbitung, saya langsung mengajak anak-anak naik mobil online menuju rumah makannya.

Di depan Rumah Makan Ramayana.

BTW, kalau melihat online map, sebenarnya dari stasiun menuju rumah makan ini tuh bisa jalan kaki saja. Luruuuusss aja, lalu nyeberang jalan. Sampai, deh. Mungkin sekitar 10 menit saja.

Cumaaaa, seperti yang saya bilang tadi, mataharinya udah panas ngetang-ngetang, akhirnya saya mengajak anak-anak naik mobil saja. Ketimbang, mereka mencureng, yak, haha. Kalau pagi, sih, nggak pa pa, jalan kaki.

Malah enak, kok, karena driver-nya jalan memutar, sehingga kami bisa dapat experience ngliatin jalanan dan bangunan yang kami lewati sebelum sampai Rumah Makan Ramayana.

Perlu saja jelasin, nih, soalnya banyak yang nanya, kok, nggak jalan kaki saja, wkwk.

Makan sate ayam kampung dan sop kambing.

Namun, kalau misalnya teman-teman berkesempatan ke Rangkasbitung, trus mau jalan kaki, juga OK, kok, karena beberapa lokasi ikonik di sana, seperti alun-alun, perpustakaan, museum, toren air yang udah ada sejak era Belanda, dll, semuanya rata-rata dekat. Sekilo, dua kilo, lha. Saran saya, datang pagi atau sore saja, sehingga santuy jalannya 😀 .

BTW, kalau mendengar kata “Ramayana” kebanyakan dari kita keknya kepikiran department store itu kaaan? Lha, sama 😀 . Tadinya, saya pikir Rumah Makan Ramayana tuh berada di kawasan belanja itu. Nempel atau di dalam gedungnya. Ternyata, bukan. Rumah Makan Ramayana ini punya bangunan sendiri, ya 😀 .

Approve nih makanannya, hehe.

Sampai Rumah Makan Ramayana, alhamdulillah, masih kebagian meja buat duduk, sehingga bisa langsung memesan tanpa menunggu.

Di rumah makan ini, kami menikmati sate ayam kampung dan sop kambing. Cerita lengkap soal kulineran di Rumah Makan Ramayana ini bisa teman-teman baca di tulisan saya sebelumnya ya (klik aja linknya).

Numpang ngadem di Masjid Agung Al A’raaf

Kami tuh berada di rumah makan itu ada kali sejam lebih, maklum emaknya (baca: saya) ngonten, dulu. Wajib hukumnya, kalau ke mana-mana, walau tidak beli buah tangan, minimal banget bawa oleh-oleh foto atau video, yekaaan 😀 .

Masjid Agung Al A’raaf.

Setelah puas makan dan foto-foto, saya memutuskan mengajak anak-anak sholat Dhuhur. Ehmmm, sebenarnya bisa saja, sih, sholat di stasiun, tetapi kan saying ya, udah sampai sana nggak mampir ke masjid agungnya. Akhirnya, saya order mobil online lagi menuju masjid agung yang lokasinya persis di seberang Alun-alun Rangkasbitung.

Menara masjid.

Seperti yang saya jelaskan sebelumnya, beberapa tempat ikonik di Rangkasbitung ini sebenarnya masih OK ditempuh dengan jalan kaki. Salah satu alasannya, karena letaknya tuh berdekatan.

Jadi, alun-alunnya tuh berada di tengah, sementara di sekelilingnya ada museum, perpustakaan, hingga masjid agungnya. Maka, kalau jalan ke alun-alun, kita yang “turis” ini bisa dapat banyak tempat untuk didatangi 😀 .

Kalau dari Rumah Makan Ramayana ke masjid agungnya tuh sebenarnya keknya sekiloan aja, jaraknya. Namun, kami naik mobil lagi aja, deh, haha 😀 . Eh, dapat driver yang sama pula 😀 .

Area teras masjid yang semi outdoor.

Masjid agungnya bernama Al A’raaf. Bangunannya terdiri dari dua lantai dengan halaman/ teras di bagian bawah yang cukup luas. Hal yang paling mencolok dari masjid ini adalah memiliki menara yang lumayan tinggi. Saya tidak tahu menara ini bisa dinaikin apa tidak.

Waktu kami tiba, banyak sekali orang-orang duduk-duduk di sana. Kebanyakan berombongan. Mungkin “turis” juga kek kami, karena nggak sengaja mendengar sebagian dari mereka ngobrolin tentang jadwal kereta api 😀 .

Area sholat ada di lantai 2.

Kami kemudian langsung mencari tempat wudhu, karena waktu sudah menunjukkan hampir pukul 2 siang WIB. Eh iya, saya dan Dema sempat keliru wudhu di tempat cowok, karena niruin beberapa ibu-ibu yang wudhu di sana. Untung pas itu nggak ada cowok wudhu, hanya ada Maxy, anak saya saja.

Nah, ibu-ibu itu tuh ternyata sholatnya di teras terbuka tadi. Ini nggak saya tiruin lagi, karena saya pengen sholat di masjidnya. Nebak-nebak, sepertinya ada di lantai dua.

Akhirnya, kami mencari tangga. Lagi-lagi keliru masuk dari sisi shaf cowok hehe. Namun, tidak masalah karena ruangan sholatnya menyambung.

Foto-foto di depan masjid.

Jadi, ternyata masjid ini memiliki dua tangga. Satu tangga yang saya naiki tadi, satu lagi tangga di sisi satunya, yang ternyata ada di dekat ruang wudhu cewek, yang kalau naik dari situ langsung ke shaf-nya jamaah perempuan.

Kondisi di masjid saat itu cenderung sepi. Hanya ada beberapa jamaah. Kayaknya, malah lebih banyak yang berada di teras bawah, deh, hehe.

Setelah sholat, kami menuju ke bawah lagi. Anak saya Dema kepengen jajan, karena tadi sebelum naik ke atas sempat melihat pedagang es krim jualan di teras.

Ada beberapa pedagang jajanan di pelataran masjid.

Sayangnya pas kami sudah turun ke teras, pedagangnya sudah pergi. Untungnya di area halaman tuh ada beberapa pedagang jajanan lain. Kami pun membeli es doger yang harganya kalau nggak keliru Rp5.000,-/ cup dan telur gulung yang harganya Rp1.000,-/ tusuk.

Jajan dulu.

Kami pun numpang makan di area teras, dekat tangga, tempat kami menaruh sandal kami. Pengunjung-pengunjung yang lain juga terlihat ada yang makan, sepertinya bawa bekal. Kayaknya petugas juga mengizinkan ya, asal tidak bikin kotor.

Cumaaa, yang bikin bete tuh, ada saja orang merokok di teras itu. Hadeeeh.  Padahal, banyak anak-anak kecil juga, lho, di terasnya, tuh. Semoga bisa menjadi perhatian lagi agar petugas melarang perokok ini di sana, Heuheu.

Foto-foto di Alun-alun Rangkasbitung

Setelah jajanan kami habis, saya mengajak anak-anak menyeberang ke Alun-alun Rangkasbitung. Dibandingkan empat tahun lalu, alun-alun ini juga mengalami perubahan. Pastinya jadi lebih bagus, donk.

Alun-alun Rangkasbitung di seberang masjid.

Empat tahun lalu, setelah mengunjungi Museum Multatuli, saya juga sempat ke alun-alun ini. Kebetulan waktu itu ada pameran atau festival kopi. FYI, Lebak tuh salah satu daerah penghasil kopi yang terkenal sejak era panjajahan Belanda.

Spot foto wajib kalau ke alun-alun hehe.

Dibandingkan dahulu, Alun-alun Rangkasbitung ini sekarang makin lengkap fasilitasnya. Saat itu memang mataharinya masih menyengat, tetapi berkat pepohonan di pinggiran, saya dan anak-anak pun melihat sekeliling alun-alun lewat bagian pinggirannya hehe.

Dari pantauan saya, fasilitas yang tersedia di sana antara lain, ada bangunan semacam pendopo, gitu. Kemudian, ada lapangan basket yang berpagar di sudut alun-alun. Ada pula jogging track, skate park, playground anak. Lapangan berumputnya juga sangat luas.

Kami pun memanfaatkan momen untuk mengambil beberapa foto dan video. Selain kami, saya juga melihat rombongan ibu-ibu juga berpoto-poto. Saya nyontek mereka saja. Mereka berfoto di spot mana, selesai, gentian saya ikutin, wkwk.

Foto-foto duluuuu.

Kemudian, di seberang lapangan basket tadi, di luar area alun-alun, ternyata sekarang ada pujasera. Kalau empat tahun lalu belum ada kayaknya, karena saya inget banget dulu kesulitan mencari tempat makan. Akhirnya, saya dan rombongan anak-anak makan di warung bakso yang lokasinya berjalan ke arah belakang museum. Nggak tahu, deh, warung baksonya masih ada atau tidak.

Menara masjid terlihat dari alun-alun.

Dulu tuh memang ada beberapa warung makan, tetapi kayak tutup, gitu, sehingga kami berjalan kakimayan agak jauh ke jalanan belakang museum.

Ini pendopo atau apa ya, soalnya tidak terlalu luas dan memanjang gitu?

Kalau sekarang, alhamdulillah udah jelas ada pujasera seberang alun-alun ya, jadi tidak susah mencari makanan. Oh ya, kalau tidak keliru di perpustakaan tuh ada kantin juga, tetapi barangkali mau mencari menu makanan lain, yekan?

Ketika kami pulang, kami septa melewati pujasera ini, karena kami berjalan menuju kantor Kejaksaan/ SDN, gitu. Dari pertigaan dekat sana, bisa lurus langsung menuju stasiun.

Pujasera alun-alun.

Nah, waktu jalan, saya sempat mengintip menu-menu makanan pujasera yang tertera di spanduknya. Mereka menjual camilan hingga makanan berat yang sepertinya enak-enak. Nyaaamm, keknya, kapan-kapan kulineran di sana asyik juga, nih 😀 .

Tak berapa lama, mobil online yang saya pesan untuk mengantar saya dan anak-anak ke Stasiun Rangkasbitung pun sampai. Kami pun berpamitan kepada Rangkasbitung. Semoga dalam waktu dekat bisa kembali lagi ke sana?

Nggak tahu kenapa Rangkasbitung bagian pusat kota ini, vibes-nya bersahaja tetapi menyenangkan, gitu. Orang-orangnya juga ramah-ramah. Cuma geser dari stasiun ke stasiun saja tetapi udah berasa ke luar kota yang jauhan, gitu, hehe. Mayan, lha, Rangkasbitung ini, buat pelesir tipis-tipis.

Ada yang mau ramean ke Rangkasbitung, nggak, kapan-kapan, next time? Hehe 😀 .

April Hamsa

Categorized in: