Berawal dari perut yang udah keroncongan banget, setelah facial di Klinik Larissa, akhirnya nyari-nyari makan, deh, di sekitar sana (area Gading Serpong). Ketemulah resto Ayam Goreng Gegeran dari postingan orang di Threads.
Yes, hari itu (11 Agustus 2026) rencananya cuma nemenin anak saya Maxy facial, eh, emaknye ikutan, jadilah facial berdua. Sementara anak saya satu lagi, Dema, nungguin hehe 😛 . Selesai-selesai, eh, jam 1 siang lebih. Untung inget kalau dulu pernah baca postingan orang soal restoran halal di Gading Serpong, salah satunya adalah resto Ayam Goreng Gegeran. Cek-cek di online map, lokasinya nggak terlalu jauh juga dari Larissa, Cuma 7-8 menit naik kendaraan bermotor. Akhirnya, saya memutuskan membawa anak-anak ke sana.
BTW, FYI, wilayah Gading Serpong tuh memang salah satu ara yang terkenal banyak ruko-ruko yang disulap menjadi restoran. Namun, di sana tuh juga kek terkenal banyak makanan non halal-nya, gitu. Maka, kalau makan di area sini tuh saya lumayan berhati-hati memilih resto-nya. Kalau udah mentok ragu banget, mending memilih restoran cepat saji yang terkenal. Bisa juga belok ke mall terdekat, seperti Summarecon Mall Serpong, yang udah pasti banyak tenant-tenant makanan bersertifikasi halal.
Mengapa nggak makan aja di BSD yang udah jelas banyak pilihan makanan halal? Yaaa, seperti yang saya bilang tadi, anak-anak udah pada kelaparan, kalau OTW dulu ke BSD bisa-bisa riwil duluan, deh, hehe. Apalagi, kalau jam-jam siang tuh jalur yang menghubungkan Gading Serpong dengan BSD terkenal sering macet.
Sampai resto Ayam Goreng Gegeran tak langsung makan
Nggak sampai 10 menit dari Larissa, kami pun sudah pindah tempat di Ayam Goreng Gegeran. Lokasinya ada di sebuah komplek ruko, yang alhamdulillahnya, kendaraan bebas keluar masuk tanpa perlu bayar parkir. Ya, maklum, soalnya ada beberapa ruko di area Gading Serpong yang ribet, dipagerin gitu sepanjang halaman ruko, akibatnya kendaraan walau cuma ngedrop doank, wajib bayar parkir. Nah, kalau ruko yang ada resto Ayam Goreng Gegeran ini nggak, gitu.

Bangunan resto Ayam Goreng Gegeran ini ternyata sebuah ruko tiga lantai yang sepertinya tidak terlalu besar ukurannya. Ruang dine in-nya terbagi menjadi dua, di lantai bawah dan atas. Kalau mau order langsung di meja pemesanan yang menyatu sama meja kasir. Jadi, setelah order langsung bayar saja.

Waktu saya sampai sana, ternyata ada antrean. Mereka yang mengantre bisa duduk di semacam kursi bakso yang memang disediakan di teras resto.
Untungnya, waktu itu yang mengantre cuma satu grup, sekumpulan cowok-cowok  Chindo, gitu. Jadi, kami antrean kedua. Nah, setelah kami, ternyata ada beberapa orang lagi yang datang, baik individu maupun grup juga.

Oh ya, FYI, Ayam Goreng Gegeran ini menurut review orang-orang memang terkenal enak. Maka, tidak heran pas jam makan tuh banyak yang datang dan ngantre. Katanya terkenalnya karena bumbu ayam gorengnya terkenal lezat, meresap sampai ke daging dan kulit. Klaimnya, resto ini menggunakan resep kuno warisan keluarga owner sejak tahun 1980 yang memadukan 16 rempah.
Kembali ke antrean, eh, alhamdulillah, rezeki, ada satu grup yang duduk di meja paling dekat dengan pintu berdiri, karena sudah selesai makan. Nah, meja itu diberikan ke saya dan anak-anak, karena grup koko-koko sebelum kami tadi jumlahnya lebih banyak dari kursi di mejanya. Mereka butuh kursi lebih banyak dan prefer di atas.
Belakangan, saya baru mengetahui kalau di atas tuh ruangan ber-AC, gitu, sehingga mungkin menurut mereka lebih nyaman. Kalau ruang dine in di lantai bawah pintu ruko-nya terbuka lebar-lebar tanpa sekat gitu, makanya nggak pakai AC.
Makanan dan minuman yang kami pesan di Ayam Goreng Gegeran
OK, setelah kami dapat meja, saya kemudian memesan beberapa makanan dan minuman. Karena, sesuai namanya ini adalah restoran ayam goreng, maka sudah pasti kami memesan ayam goreng 😀 .
Saya memesan dua ayam goreng saja, karena melihat (meja tetangga) ukuran ayam gorengnya cukup besar. Khawatir tidak habis kalau pesan tiga ayam. Saya memesan bagian dada dan paha. Harganya sama saja, sih, masing-masing @Rp26.000.
Untuk ayam gorengnya tuh bukan paketan ya, sehingga belum sama nasi. Ada dua pilihan nasi, yakni nasi putih biasa dan nasi gegeran alias nasi uduk sehat.
Apa bedanya nasi uduk di Ayam Goreng gegeran ini dengan resto lain, kok, mereka mengklaim nasi uduuknya sehat? Ternyata, karena mereka tidak pakai santan buat nasi uduknya, melainkan memakai VCO, yang membuat nasi uduk itu tetap terasa gurih tanpa kandungan lemak jenuh tinggi dari santan.
Saya memesan satu nasi uduk untuk saya dan dua nasi putih biasa buat anak-anak. Baik nasi uduk maupun nasi putih harganya sama, yakni #Rp8.000/ porsi.

Kemudian, saya juga memesan pelengkap berupa ampela goreng yang harganya Rp9.500 dapat tiga  potong ampela. Sama memesan satu mangkuk sayur asem seharga Rp16.000. Untuk minumnya, saya memesan es teh manis buat Maxy, air mineral buat Dema, dan es teh tawar buat saya. FYI, es teh tawarnya boleh refill. Saya suka yang refill-refill’an gini, haha 😀 .
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya pesanan kami diantarkan ke meja. Beneran, deh, potongan ayam gorengnya cukup besar. Untung tadi hanya memesan dua ayam.
Pasalnya, saya pribadi kurang suka makan daging ayam banyak-banyak. Biasanya kalau belanja dan masak ayam, saya lebih sering makan bagian kulit, kepala, ceker, dan jeroannya, heuheu, ndableg saya yah? 😛 Tapi, nggak sering-sering, kok 😛 .
Bersama ayam gorengnya, tersaji lalapan mentimun dan sambal bawang. Oh ya, sambal ini boleh refill juga.
Review ayam goreng ala resto Ayam Goreng Gegeran
Bagaimana pendapat saya mengenai ayam gorengnya?
Okey, pertama untuk daging ayamnya, daging bagian dalamnya juicy tetapi kulitnya tetap kering. Baik bagian dada maupun paha benar-benar digoreng empuk, sehingga kami tuh makannya kek tanpa effort. Saat dipotong dan digigit, dagingnya gampang sekali lepas dari tulangnya. Wah, ayam goreng seperti ini comfort food, sih, menurut saya, apalagi buat bocil yaaa 😀 . Rasanya gurih, asin, dan sedikit ada manis-manisnya.

Paling enak dicocol dengan sambal bawangnya tadi. Rasa sambalnya mantab pedasnya. Ada sedikit rasa asem, mungkin dari jeruk nipis? Tadinya saya berniat akan nambah sambal, tetapi karena porsi yang diberikan cukup banyak (satu piring nasi, satu sambal, jadi dapat tiga sambal) dan cuma saya yang makan, ya, nggak jadi hehe. Apalagi sambalnya memang pedeeeesss, nggak pedas formalitas 😀 .

Untuk ampela gorengnya, sepertinya bumbu yang digunakan sama dengan ayam gorengnya. Ampela ini juga tidak alot, kenyal, mudah dikunyah, dan yang paling penting tidak berbau amis.

Lalu, pendapat saya tentang nasi gegeran atau nasi uduknya rasanya gurih lite. Wangi, pulen, dan porsinya cukup buat saya.


Terakhir adalah sayur asemnya. Sayur asem ini berisi potongan jagung, labu siam, karang panjang, kacang tanah, juga biji melinjo. Kuahnya tidak terlalu butek (keruh), rasanya segar, dan dominan gurih asam, juga tidak terlalu manis.
Sebenarnya, mereka juga memiliki sayur lodeh, yang sepertinya isiannya mirip-mirip juga. Namun, karena anak-anak saya nggak terlalu suka lodeh dan lagi-lagi khawatir tidak habis, akhirnya tidak jadi memesannya, deh.

Buat rasa tehnya yaaa gitu, lha. Paling saya hanya mengomentari kalau ternyata satu gelas es teh tawarnya cukup buat makan satu piring makanan, sehingga saya tidak jadi refill, haha. Udah kenyaaaang 😀 .

Yaaah, jadi itulah teman-teman, cerita makan siang di resto Ayam Goreng Gegeran yang ada di Gading Serpong, Tangerang. Maaf, struk-nya hilang, jadi saya nggak bisa memberitahu berapa total biaya makan siang hari itu 😛 . Namun, menurut saya untuk ayam goreng seharga Rp26.000 di kawasan Gading Serpong, harganya masih ramah kantong, sih.
Oh ya, denger-denger selain di Gading Serpong, resto Ayam Goreng Gegeran ini juga ada di Bintaro Sektor 9, dan area Fatmawati, Jakarta Selatan.
Buat yang mampir ke resto Ayam Goreng Gegeran Gading Serpong, alamatnya di sini ya:
Restoran Ayam Goreng Gegeran ini buka setiap hari pukul 11.00-14.30 WIB, kemudian buka lagi sore hari pukul 17.00-22.00 WIB. Ayam Goreng Gegeran ini lumayan cukup ramai, oleh karena itu saran saya sebaiknya datang jangan di jam-jam makan siang atau makan malam, ya. Bisa agak pagian atau sorean atau malam sekalian hehe 😀 . Yawda, cukup segini ceritanya, semoga bermanfaat 😀 .
April Hamsa


Comments