Pagi itu, setelah memastikan anak saya, Maxy, menemukan ruang ujiannya, saya bergegas menuju Satu Juni Coffee Bintaro. Alasan utamanya, tentu saja mencari tempat ngopi yang nyaman, biar nggak kelihatan gabut-gabut amat nongkrong di cekulahan haha 😛 .

Waktu Maxy ujian di SMM hub Bintaro.

Oh ya, cerita menunggu anak ujian di Satu Juni Coffee ini sebenarnya udah agak lama, ya, bulan April dan Mei lalu. Total dari empat hari ujian, saya tiga kali nongkrong di Satu Juni Coffee ini. Dua kali di bulan April dan sekali di bulan Mei.

Satu Juni Coffee, kafe dekat SMM hub Bintaro

Sebenarnya, nggak sengaja, sih, menemukan Satu Juni Coffee ini. Ceritanya, akhir April lalu, Maxy kan ada ujian Tes Kemampuan Akademik (TKA) di daerah Bintaro, Tangerang Selatan (Tangsel), jadi mau nggak mau kami pagi-pagi bener udah berangkat ke sana. Untung naik commuter line (KRL) bisa ditempuh 30 menit saja.

Bangunan kafe Satu Juni Coffee.

Kalau ada pertanyaan, mengapa kok ujiannya jauh bener ke Bintaro? Jadi, anak saya tuh selama ini belajarnya di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), bukan sekolah formal. Nama PKBM-nya Sekolah Murid Merdeka (SMM).

Biasanya, kalau belajar tatap muka, anak-anak saya ke hub SMM yang ada di BSD City. Namun, untuk ujian formalnya, semua siswa yang belajar di seluruh hub SMM se-Tangerang Raya (Kota/ Kab. Tangerang, Tangsel, BSD City dll) diarahkan ke hub SMM Bintaro ini.

Pintu masul ke kafe.

Nah, setelah mengantar Maxy, saya bingung tuh mau nungguin di mana. Sebenarnya di tempatnya ujian ada bangku buat duduk-duduk ortu/ penunggu, sih, tapi kan kek gabut gitu, ya. Mana yang nungguin keknya juga sedikit dan tidak saling kenal, haha.

Yawda, akhirnya saya googling saja, kali-kali ada kafe/ rumah makan/ warung dekat sana. Sebenarnya di sana tuh dekat dengan banyak rumah makan, bahkan ada yang buka 24 jam, kalau nggak keliru. Tap ikan kepengen nyari experience lain, yak 😀 . Singkat cerita, searching-searching nemulah Satu Juni Coffee ini. Jaraknya cuma 800 meter saja dari hub PKBM anak saya di Bintaro.

Bagian depan kafe.

Karena hari masih pagi, maka saya jalan kaki saja ke Satu Juni Coffee ini. Alhamdulillah, cukup gampang menemukannya karena tinggal jalan lurus saja ngikutin jalan.

Jadi, para ibu-ibu yang anaknya di SMM, jika tahun depan nungguin anaknya TKA atau ujian-ujian lain di hub SMM Bintaro, bisa nih njujug ke Satu Juni Coffee ini 😀 .

Suasana pagi di Satu Juni Coffee

Ketika saya sampai, baru ada sedikit sepeda motor terparkir di halaman teras kafe. Ada mobil juga, sepertinya. Lumayan, lha, kalau buat parkir sepeda motor, sih, kafenya cukup proper. Kalau bawa mobil, mungkin 2-3 mobil muat kali ya?

Begitu saya masuk, yang jagain di balik meja bar ada mas-mas pegawai. Kemudian, saya menanyakan menunya apa saja. Masnya memberikan buku menu kepada saya sambil berkata, “Maaf, Kak, tab-nya masih diperbaharui menunya, jadi sementara pakai ini dulu.”

Langsung order di sini.

Ketika saya membuka halaman buku menunya, masnya menunjuk ke dinding, yang kalau nggak keliru ada poster atau tulisan gitu, yang menginformasikan bahwa kafe mereka ada menu bundling buat sarapan pagi. Salah satunya adalah menu mie goreng dengan kopi americano. Tanpa pikir panjang saya langsung memilih menu sarapan itu.

Lantai 2.

Oh ya, sistem pembayaran di sana bisa langsung membayar atau open bill. Karena, saya merasa nggak akan memesan apa-apa lagi, toh perkiraan hanya 1,5-2 jam saja saya di sana, soalnya harus jemput Maxy lagi, maka saya langsung membayar.

Rak buku dan tempat di mana kita bisa menempelkan pesan di sticky note.

Penasaran seperti apa menu makanan yang saya pesan? Nanti, dulu, ya. Mau cerita soal suasana kafenya duluuu 😀 .

Satu Juni Coffee Bintaro ini lokasinya di pinggir jalan persis, sama seperti hub SMM Bintaro. Sederetan tapi jaraknya 800 meter, hehe. Bangunan kafenya terdiri dari dua lantai. Untuk lantai satunya, tidak terlalu luas, karena sepertinya dibagi dua, antara area service plus dine in dan kitchen, gitu. Sementara, di lantai duanya, semua buat dine in, yang terbagi atas dua area, indoor dan outdoor. Bagian outdoor ini full semua lantai, bahkan ada di balkon yang berada di atas teras buat parkir kendaraan tadi.

Tersedia dua toilet (kalau nggak keliru ya), satu di lantai bawah depan tangga, satu lagi di lantai dua. Di dekat tangga juga terdapat kek hiasan-hiasan gemes gitu sama mirror selfie.

Suasananya terang karena ada jendela besar.

Kalau naik ke atas, tiba di sana langsung disambut rak buku. Di sana da hiasan dan buku-buku (ditaruh bagian rak paling bawah). Kebanyakan sepertinya novel-novel, gitu. Di  atas rak buku terdapat papan yang ditempeli banyak sticky notes, berisi harapan dan pesan/ kesan/ kritik/ saran buat kafenya. Lalu, di beberapa bagian dinding lain kafe terdapat banyak hiasan dinding berupa gambar warna-warni dan juga quotes.

Bagian outdoor.

Ada pula rak yang berisi hiasan-hiasan dilengkapi mainan seperti board game. Jadi, kalau ke kafe ini ramean keknya bisa tuh main bareng. Kalau sendirian, daripada gabut dan scroll HP mulu, bisa baca buku.

Oh ya, di tengah-tengah tangganya terdapat convex mirror atau cermin cembung. Ucul banget juga tuh buat selfie-selfie, hehe.

Baik ruangan atas maupun bawah sama-sama terang, karena bangunan kafenya memiliki jendela yang lumayan lebar-lebar. Area indoor dan outdoor yang ada di lantai atas pun dipisahkan oleh pintu dan jendela kaca.

25 April, sarapan sendiri di Satu Juni Coffee

Setelah memesan dan membayar makanan, saya langsung menuju ke lantai dua. Ketika saya sampai atas, ternyata di ruangan indoor sepi. Nggak ada orang lain, kecuali saya doank hehe. Mungkin, karena masih pagi ya, kafenya baru aja buka. Namun, ketika ngecek ke arah outdoor dari pintu kaca, ternyata ada satu pengunjung. Cowok, gitu.

Saya kemudian melihat-lihat sekeliling area dine in yang di indoor, kemudian mengabadikan beberapa spot dengan kamera. Lanjut, saya ambil sebuah novel dan membacanya, sembari menunggu pesanan saya diantarkan.

Selpie-selpie mumpung sepi hehe.

Selang beberapa lama, makanan saya diantarkan ke atas. Saat piring nasi goreng diletakkan di meja, saya membatin “Waduh!” Ternyata mie goreng yang saya pesan porsi jumbo, saudara-saudara, wkwk. Mana, sebenarnya saya tuh nggak biasa sarapan. Kalaupun sarapan porsinya dikit aja.  Yoweslah, saya terima dengan suka cita, miegor dan kopi saya.

Oh ya, buat kopi americano-nya, kafe ini menawarkan dua pilihan, yakni berrycano atau peachcano. Waktu itu saya memilih berrycano.

Ngontenin nasgor sampai nggak nyadar mas-mas yang di luar ngilang 😛 .

Mie goreng yang saya pesan rasanya gurih dan pedas, karena saya minta pedas. Selai dari lada, rasa pedasnya juga datang dari irisan cabe rawit. Kalau saya pikirkan lagi kok ya ngrasa ada gila-gilanya juga ya saya, belum sarapan pagi, malah langsung makan mie goreng pedas dan minum kopi, wkwk 😛 . Untung waktu itu perut saya selamet 😛 .

Oh ya, topping mie gorengnya termasuk rame, lho. Ada suwiran ayam yang cukup melimpah di atasnya. Ada campuran telur dan aneka sayuran seperti wortel, kol, dan kacang polong juga. Sepertinya tidak ada saus-sausan lagi yang disajikan, sehingga mie goreng itu bisa dimakan tanpa tambahan apapun lagi.

Mie goreng yang porsinya banyak bener.

Untuk berrycano-nya rasanya ada asam-asam dan manisnya kerasa dikit. Namun, rasa seperti ini malah menyegarkan, cocok dipakai buat mendampingi makanan mie goreng tadi.

Hari pertama, ke Satu Juni Coffee, cukup puas, deh, sama makanan dan minuman yang disajikan.

Berrycano.

Eh, tetapi BTW, saya tuh sempat bertanya-tanya, ke mana mas-mas yang sebelumnya saya lihat ada di area outdoor tadi, karena ketika saya mau meninggalkan lantai 2, saya lihat masnya udah nggak ada.

Bisa jadi dia turun ke bawah ketika saya sibuk memotret makanan dan minuman sebelum makan, tadi. Eh, tapi, kok, aneh, langkah kaki, bahkan bunyi pintu kaca dibuka kok nggak ada ya?

Karena penasaran, saya mencoba ke area outdoor, kan. Bisa jadi ada tangga lain di situ. Nah, saya ke area balkonnya, ternyata tidak ada tangga lain di sana.

Ada satu ruangan yang menjorok dengan jendela kaca besar, tetapi sepertinya kaca mati, deh. Trus, kacanya gelap gitu, yang sampai sekarang saya bingung, karena kemungkinan besar kalau ke situ bisa jadi tangganya berbeda. Kek ruangan lain tetapi hanya bisa diakses dari tangga lain di bawah. Au deh. Saya bener-bener penasaran Si Mas itu ke manaaaa. Nggak mungkin lompat ke bawah kaaaann haha. Atau jangan-jangan, keberadaannya hanya imajinasi saya aja, hauuhh hauuuhh wkwk 😀 .

26 April, ngemil-ngemil berat di Satu Juni Coffee

Yawdalah, lanjut hari kedua Maxy ujian TKA. Karena TKA-nya waktu itu weekend, Sabtu dan Minggu, maka di hari kedua saya mengajak seluruh rombongan sirkus saya untuk mengantarkan Maxy, alias ngajak bapake dan Dema. Biar nanti abis nganter Maxy bisa jalan-jalan sekalian ke BXChange Mall, gitu.

Untuk hari kedua ini,  kami sempat sarapan, sehingga tidak laper-laper amat. Trus, ketika nungguin di Satu Juni Coffee lagi, akhirnya hanya memesan camilan, yakni singkong goreng.

Supporter-nya Maxy.

Buat minumannya, Dema memesan es cokelat kayaknya, namanya, ya. Lupa nih saking lamanya, wkwk. Yah, tapi, kemungkinan besar itu, karena Dema cuma minum air putih sama persusuan 😛 .

Eh, bapake mendadak ngide kepengen nasgor. 

Berbekal pengalaman pengalaman porsi mie goreng kemarin yang banyak akhirnya saya memutuskan, “Sharing, ntar, yak!” Wkwk.

Akhirnyaaa, pesan menu paket sarapan lagi, kali ini nasi goreng dan minumannya americano yang berrycano juga. Nah, karena kemarin saya sudah nyicipin berrycano, kali ini saya mau mencicipi peachcano-nya.

Minuman kami bertiga.

Perbedaan berrycano dan peachcano yang terlihat adalah di toppingnya. Kalau berrycano topping-nya sepertinya bulir-bulir buah berry dan potongan romsery kali ya? Sedangkan, topping peachcano tuh seperti jeruk lemon yang dikeringkan.

Peachcano.

Untuk rasanya, yang peachcano ini lebih manis, jika dibandingkan berrycano yang ada asem-asemnya. Namun, karena keduanya disajikan dingin, maka sama-sama menyebarkan. Mana, gelas sajinya tuh lumayan besar, lho.

Sementara es cokelatnya rasanya sangat creamy, tetapi gelasnya berukuran lebih kecil 😀 . Sepertinya, kalau tidak keliru ya, Dema memesan dua kali untuk es cokelat ini, karena cepat habisnya hehe.

Singkong goreng.

Lalu, untuk singkong gorengnya, porsinya tidak terlalu banyak, tetapi rasanya gurih, crispy, dan terlihat minyaknya diritiskan dengan baik.

Oh ya, waktu itu ada semacam cocolan irisan cabe dan bawang goreng, tetapi saya lupa ini tuh pendampingnya singkong apa nasgor, ya, haha. Beginilah kalau nulisnya kelamaan 😛 .

Nasi goreng.

Soal nasi gorengnya, hmmm, ternyata tidak sebesar porsi mie goreng saya yang jumbo di ari sebelumnya. Nasi gorengnya porsi kecil saja. Nggak tahu kenapa bisa begitu. Entah karena petugasnya atau kokinya ganti atau gimana, haha. Namun, saya merasakan perbedaan yang njomplang banget, antara porsi mie goreng sama nasi gorengnya.

Cuma yaweslah, udah males mesen makanan lagi, karena tak terlalu lapar juga, sebab terbiasa makan agak siangan.

Es cokelat.

Kalau soal rasa, yaaa, lumayan lha, buat nasgor sekelas kafe. Cukup gurih, walaupun rasa rempahnya kurang kali ya? Simple aja, gitu, di lidah, seperti nasi goreng yang kita bikin sendiri kala sarapan 😀 .

Ketika hari sudah menunjukkan pukul 10.30 WIB, kami pun menjemput Maxy dan OTW ke BXChange Mall, lalu mencari makanan lagi di sana. Pas jam makan siang, hehe.

11 Mei, mencicipi butterscotch ala Satu Juni Coffee

Pada bulan Mei, Maxy ujian lagi. Kali ini ujian kelulusan atau ujian penyetaraan atau ujian paket, gitu. Lagi-lagi, saya menunggu Maxy ujian dengan numpang ngopi di Satu Juni Coffee.

Sendirian lagi.

Kali ini, saya tidak makan, melainkan hanya memesan camilan saja, yakni pisang cokelat crispy (namanya apa, sih, tepatnya? 😛 ) dan buat minumannya saya order butterscotch.

Ternyata, butterscotch-nya disajikan dalam botol kecil dan saya diberi gelas berisikan es batu. Rasa butterscotch-nya creamy, tetapi tetap ringan dan lembut, sehingga tidak eneg.

Untuk piscok-nya di atasnya sepertinya ditaburi gula bubuk. Rasanya manis, tidak terlalu berminyak. Nah, karena saya agak mengurangi makanan manis, maka saya hanya makan keknya 3 piscok saja. Sisanya saya bawa pulang haha 😛 .

Butterscoth dan piscok.

Yaaahh, itulah pengalaman saya tiga kali numpang ngopi di Satu Juni Coffee, membunuh waktu, ketika menunggu anak ujian.

Secara umum, tempatnya asyik saat pagi, masih mayan sepi, gitu. Tenang, bisa numpang nugas maupun sekadar baca buku sendiri. Sepertinya mereka ramainya lebih ke sore atau malam, gitu.

Makanannya juga lumayan, lha. Paling suka minumannya kopi americano-nya, baik peachcano maupun berrycano.

Kalau tidak keliru harga paket sarapan menu nasi goreng/ mie goreng + kopi americano tuh Rp55.000,-. Kalau makanan camilan-camilan gitu sepertinya Rp25.000,-an ya, maaf lupa. Kalau butterscotch kayaknya Rp30.000,-an apa ya? Maaf lupa juga 😛 . Yaaa, kira-kira masih standar harga kafe-kafe di Jabodetabek, lha, ya 😀 .

Buat yang kebetulan sedang maen ke Bintaro, kalau mau mampir ke Satu Juni Coffee juga, berikut alamat lengkapnya ya:

Semoga informasi mengenai Satu Juni Coffee di Bintaro ini bermanfaat 😀 .

April Hamsa

Categorized in: